NovelToon NovelToon
Maaf, Aku Tak Mengemis Cinta

Maaf, Aku Tak Mengemis Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Masuk ke dalam novel / Transmigrasi
Popularitas:16.1k
Nilai: 5
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

Ia masuk ke tubuh wanita yang ia anggap bodoh, dan memilih mengubah takdirnya, bukan mengulangnya

Dina, yatim piatu cerdas yang selalu diremehkan karena penampilan, meninggal dalam kecelakaan dan terbangun sebagai Belvina Laurent, sosialita cantik yang dulu ia anggap bodoh. Terjebak dalam pernikahan tanpa cinta dengan Alden Virel, pria dingin yang membencinya,

Dina dalam tubuh Belvina memutuskan berhenti mengejar cinta yang bukan miliknya.

Perubahannya membuat Alden gelisah, sementara Seraphina, wanita yang tampak lembut, perlahan menunjukkan sisi tersembunyi.

Dengan kecerdasan yang kini jadi senjata, Belvina mulai membalik keadaan, mengungkap kebohongan, dan membuktikan bahwa harga diri lebih berharga daripada cinta sepihak.

Namun semakin ia menjauh, semakin Alden tak mampu melepaskannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13. Batas yang Tidak Pernah Disepakati

Alden melangkah masuk dengan rahang mengeras. Pria yang tadi ia perintah mengikuti di belakang, lalu memberi isyarat halus. Para host saling lirik sebelum satu per satu mundur meninggalkan ruangan.

“Eh—” Belvina mengangkat alis. “Mau ke mana?”

Tak ada yang menjawab. Pintu kembali tertutup, menyisakan suasana yang tiba-tiba terasa lebih sempit.

Alden berjalan mendekat. Tatapannya tajam, langsung mengunci pada satu titik.

“Apa yang kau lakukan?” suaranya rendah, ditekan.

Belvina mendengus pelan, bibirnya mengerucut.

“Kau tidak lihat?” jawabnya ringan. “Aku sedang bersenang-senang.” Ia bersandar santai di sofa. “Dan kau… merusaknya.”

Nada itu tanpa beban, justru terlalu santai untuk situasi seperti ini.

Tangan Alden mengepal erat hingga urat-uratnya menonjol.

“Pulang.”

Satu kata, tapi jelas bukan permintaan.

Belvina memalingkan wajah, menyilangkan kakinya.

“Tidak. Aku belum selesai.”

Alden melangkah lebih dekat. Pandangannya turun ke tangan Belvina, ke jarak yang tadi nyaris terlewati batas.

“Dengan mereka?” suaranya lebih dalam sekarang.

Belvina menoleh, alisnya terangkat sedikit.

“Memangnya kenapa?”

Garis wajahnya berubah kaku, seolah menahan sesuatu.

“Karena kau sudah bersuami.”

Belvina tertawa pendek.

“Suami?” Ia memiringkan kepala. “Suami di atas kertas?”

Salah satu sudut bibirnya tertarik ke atas.

“Yang bahkan tidak peduli padaku? Tidak pernah menganggap aku istri?”

Ia berdiri perlahan, kini berhadapan langsung dengannya.

“Kalau kau tidak peduli,” lanjutnya tenang, “jangan ikut campur soal apa yang kulakukan.”

Tangannya mengarah ke pintu.

“Silakan pergi. Aku masih ingin bersenang-senang.”

Alden tidak bergerak. Tapi sesuatu di wajahnya berubah, tipis tapi jelas.

“Pulang.”

Kali ini bukan sekadar perintah. Lebih seperti keputusan yang sudah dibuat.

Belvina menggeleng kecil.

“Tidak.”

“Belvina—” suaranya mulai kehilangan kesabaran.

"Ti--"

Namun sebelum kalimat itu selesai, Alden bergerak cepat. Tanpa peringatan, ia mengangkat tubuh Belvina begitu saja.

“Hei— lepas!”

Refleks, tangan Belvina melingkar di lehernya agar tidak jatuh, sementara yang lain memukul dadanya. Namun langkah Alden tetap stabil, tidak goyah sedikit pun.

Ia berjalan keluar tanpa ragu, seolah apa pun yang terjadi di belakang tidak lagi penting.

Dari kejauhan, Seraphina berdiri dalam diam.

Matanya mengikuti pergerakan itu, memerhatikan cara Alden menggenggam Belvina, cara ia mengambil kendali tanpa memberi pilihan.

Senyumnya masih terpasang. Namun kali ini, tidak lagi terasa hangat.

***

Pintu mobil tertutup lebih keras dari biasanya. Suara dari luar langsung teredam. Menyisakan ruang sempit dengan udara yang terasa terlalu padat.

"Jalan."

Belvina belum sempat menyesuaikan duduknya ketika mobil sudah melaju.

Ia tidak protes.

Bukan tenang, lebih seperti sesuatu yang ditahan terlalu kuat.

Alden tidak langsung bicara. Giginya terkatup rapat, tapi kali ini… tidak disembunyikan.

Belvina melirik sekilas. Lalu menyandarkan punggungnya, santai. Seolah tidak ada yang perlu dibahas.

Waktu menggantung diantara mereka.

Lalu—

“Apa itu tadi?”

Nada suara Alden rendah. Tidak keras. Tapi cukup untuk menekan.

Belvina mengangkat alis sedikit. “Yang mana?”

Mata Alden langsung beralih. Tajam.

“Jangan pura-pura bodoh.”

Belvina justru tersenyum tipis. Bukan menantang. Lebih ke arah… tidak tertarik untuk mengikuti ritmenya.

“Aku cuma bersenang-senang,” jawabnya ringan. “Bukannya kamu juga?”

Kalimat itu jatuh datar. Tapi cukup untuk membuat sesuatu di dalam diri Alden bergerak.

“Dengan pria lain?”

“Dengan siapa pun yang aku mau.” Jawabannya cepat, tanpa jeda.

Sopir melirik sekilas ke kaca spion.

Mobil tetap melaju, namun atmosfernya berubah. Lebih sempit. Dan berat.

Alden tertawa pendek. Pelan, tanpa humor.

“Berani sekali.”

Belvina memiringkan kepala sedikit. “Harusnya tidak?”

Tatapan mereka bertemu. Kali ini lebih lama.

Alden menyandarkan tubuhnya ke kursi. Tapi sorot matanya tidak melepas.

“Jangan lupa posisimu.”

Nada suaranya kembali tenang. Tapi ada sesuatu yang lebih dingin di dalamnya.

Belvina tidak langsung menjawab. Telunjuknya menyentuh dagu. Seolah mempertimbangkan sesuatu.

Lalu—

“Posisiku?” ulangnya pelan.

Sudut bibirnya terangkat tipis.

“Istri?” Satu alisnya terangkat. “Yang tidak kamu inginkan itu?”

Satu kalimat, langsung. Tidak diberi ruang untuk dihindari.

Jari Alden bergerak sedikit. Menahan sesuatu yang hampir keluar.

“Jangan melewati batas.”

Sekarang nadanya lebih rendah. Lebih berbahaya.

Belvina tertawa kecil. Nyaris tak terdengar.

“Aku?” Ia bersandar lebih santai. “Kamu yang menentukan batasnya. Aku cuma… menyesuaikan.”

Mobil melambat di lampu merah. Cahaya dari luar masuk, menerangi wajah mereka sebentar.

Alden akhirnya menoleh penuh. Sorotnya tidak lagi sekadar tajam. Lebih dari itu.

“Kalau begitu,” ucapnya nyaris dingin, “jangan salahkan aku kalau caraku menyesuaikan… tidak kamu suka.”

Tidak ada ancaman yang diucapkan. Tapi cukup jelas untuk dirasakan.

Belvina tidak menghindar.

“Silakan," balasnya. Namun kali ini, bukan tantangan kosong.

Lampu berubah hijau. Mobil kembali melaju. Dan untuk pertama kalinya sejak mereka masuk, tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar memegang kendali.

 

Beberapa menit kemudian, mobil berhenti. Mesin mati. Namun tidak ada yang langsung turun.

Beberapa saat tertahan di dalam ruang sempit itu, sebelum akhirnya pintu terbuka.

Belvina keluar lebih dulu. Langkahnya tidak cepat. Tidak juga ragu. Seolah semua yang terjadi tadi… tidak cukup penting untuk mengubah ritmenya.

Pintu rumah terbuka. Para pelayan berjajar menyambut.

Belvina terus melangkah menuju kamarnya. Baru saja ia masuk dan melepas tasnya ketika—

Pintu di belakangnya terbuka, lalu tertutup.

Alden masuk. Langkahnya tenang. Terukur. Namun kali ini… tidak memberi jarak.

Belvina belum sempat berbalik sepenuhnya saat ia menyadari, pria itu sudah terlalu dekat. Jarak mereka… tidak biasa.

“Ngapai ke sini?” tanya Belvina ringan, seolah tidak ada yang berubah.

Tidak ada jawaban.

Belvina akhirnya berbalik, dan langsung berhenti.

Alden berdiri tepat di depannya. Tidak menyentuh. Belum. Tapi cukup dekat untuk membuat napas terasa berbeda.

Tatapannya turun, sempat tertahan, lalu kembali ke mata Belvina.

“Seru?” tanyanya akhirnya.

Nada suaranya rendah. Hampir datar. Tapi kali ini… terlalu dekat untuk diabaikan.

Belvina mengangkat alis sedikit.

“Lumayan.” Jawaban santai, namun ia tidak mundur. Tidak juga menjauh.

Alden tertawa pelan. Pendek.

Kepalanya sedikit miring. Seolah sedang menilai sesuatu yang baru.

“Lumayan,” ulangnya.

Tangannya terangkat. Berhenti sepersekian detik, seolah memberi kesempatan untuk ditolak.

Belvina tidak bergerak.

Jari Alden menyentuh dagunya. Ringan. Mengangkat sedikit wajah itu.

Tatapan mereka kembali bertemu,. Dan kali ini tidak ada yang mengalah duluan.

“Standarmu turun,” ucapnya pelan.

Bukan hinaan. Lebih seperti… pengujian.

Belvina tersenyum tipis. “Harusnya aku pilih yang seperti kamu?”

Nada suaranya ringan..Tapi jarak ini… membuat segalanya terasa berbeda.

Jari Alden belum dilepas..Justru sedikit menguat. Tidak menyakitkan. Tapi cukup untuk terasa.

“Kalau mau dibandingkan,” katanya nyaris seperti gumaman, “jangan setengah-setengah.”

Belvina memiringkan kepala sedikit. Masih di dalam cengkeraman ringan itu.

“Bandingkan apa?" Tarikan napasnya nyaris tak terdengar. “Semua?”

Satu kata. Namun kali ini… tidak ringan.

Belvina melipat kedua tangannya di dada.

“Masalahnya…” ucapnya dengan suara rendah, “aku tidak sedang membandingkan. Aku hanya mencoba.”

Jari Alden berhenti sepersekian detik. Cukup untuk terasa.

“Coba?” ulangnya rendah.

Belvina mengangguk kecil.

“Hal baru.”

Ia menarik dagunya sedikit. Bukan melawan, lebih seperti menguji apakah ia boleh lepas.

Alden tidak menahan. Tangannya turun. Namun tidak mundur. Ia tetap di tempatnya. Terlalu dekat untuk diabaikan.

“Kalau begitu…” suara Alden lebih rendah sekarang, “pastikan kamu tahu batasnya.”

Belvina tersenyum kecil.

“Bukannya kamu yang bilang… batas itu fleksibel?”

Alden menahan pandang padanya. Lebih lama. Dan dalam. Lalu—

“Jangan pakai kata-kataku… untuk melawanku.” Nada suaranya tidak naik, tapi kali ini, jelas.

Belvina mengangkat dagunya. "Kenapa? Karena statusmu sebagai suamiku, lalu kau bisa semena-mena padaku?"

Sebelum Alden sempat membuka mulutnya, Belvina melanjutkan,

“Kalau status itu cuma membatasi aku…” Ia berhenti sebentar. “Kita cerai saja.”

 

...✨"Ia berhenti mengejar....

...Dan untuk pertama kalinya… seseorang mulai merasa kehilangan."...

..."Bukan pengkhianatan yang paling menyakitkan,...

...tapi ketika seseorang tidak lagi peduli untuk mempertahankanmu."✨...

.

To be continued

1
Dek Sri
lanjut
sya
semangatt thorrr ga sabar nungggu up selanjutnya
Anitha Ramto
waduh kasihan kamu Al....mobilmu di bajak sang istri,,dan kamu di tinggalin begitu saja🤣
Wardi's
menarik...
Wardi's
lucccuuu..
Dek Sri
lanjut
Yunita Sophi
🤣🤣🤣🤣🤣 Belvina ngerjain...
abimasta
belvina kereen
^ã^😉
lanjut bel
Puji Hastuti
lanjut kk
Puji Hastuti
makin seru
partini
wkwkkwkw lucu,,Thor Kunti bogel kemana ko ga muncul , munculin dong kalau lihat bel sama suami nya kaya gitu behhh auto Ngenes kangen kata" pedas bell buat dia
Puji Hastuti
belvina keren
Yunita Sophi
perempuan hebat Belvina... Alden makin meleleh terpesona melihat yg luar biasa dari diri mu Bel...
Yunita Sophi
semoga aja Alden datang tepat waktu... tp kemana tuh bodyguard yg tadi ngawasin Belvina...
asih
istrimu Jadi badas setelah kau abaikan al, DIA jiwanya Dina Si Anak yatim piatu yg serba bisa 😀😀😀
Anitha Ramto
wah Wanita Badas Belvina....
orang suruhan Alden saja melongo tidak percaya dengan Nonyanya.

Alden sendiri masih bertanya tanya siapa Belvina sebenarnya,,,ia adalah Dina wanita tangguh yang tidak bisa di tindas
Yunita Sophi
buat apa pakaian lama cuma di simpan... ya lebih baik di jual uang nya bisa qta sumbang
Ma Em
Hebat Belvina meskipun bkn Belvina yg asli tapi kelakuannya membuat Alden semakin terpesona pada Belvina yg versi sekarang .
Harun Gayam
ayo Thor LG.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!