Malam kelam empat tahun lalu selalu datang menyapa benak Adrian setiap kali hening mulai menguasai sudut-sudut markas mewahnya. Sebagai seorang pemimpin jaringan bawah tanah yang disegani sekaligus ditakuti di kota ini, tak ada satu pun hal yang luput dari genggamannya—kecuali ingatan tentang malam itu. Sebuah penyesalan samar yang tak pernah terus terang ia akui, tetapi secara perlahan mengikis ketenangannya. Sampai detik ini, deretan anak buah terbaiknya yang tersebar di berbagai penjuru wilayah belum juga berhasil menemukan keberadaan wanita yang pernah hadir sejenak di hidupnya. Pria itu bahkan hanya mengingat sepenggal nama yang dibisikkan dalam kepasrahan malam: Alea.
Jauh dari hiruk-pikuk pusat kota yang dipenuhi kemewahan dan intrik kekuasaan, Alea menjalani hidup sederhana di sebuah pemukiman pinggiran. Di sana, ia bekerja membanting tulang dari pagi hingga malam tanpa pernah mengeluh. Semua keringat dan rasa lelahnya menguap setiap kali melihat senyum manis putra kecilnya,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perpisahan Diambang Fajar
Satu minggu berlalu, akhirnya hari yang mereka nanti telah tiba.
Kawasan ballroom hotel bintang lima termewah di pusat kota disulap menjadi lorong megah berkonsep glasshouse garden. Ribuan tangkai mawar putih dan baby's breath segar menghiasi setiap sudut ruangan, memancarkan aroma harum yang lembut. Lampu gantung kristal membiaskan cahaya keemasan yang hangat, menyambut para tamu undangan khusus dari kalangan pengusaha senior dan kolega terpercaya keluarga.
Di dalam kamar rias VIP, Alea berdiri anggun di depan cermin besar. Gaun pengantin putih berpotongan a-line dengan detail renda buatan tangan membalut indah tubuhnya. Polesan riasan tipis namun elegan makin memancarkan kecantikan alaminya, mengikis habis sisa-sisa pucat akibat masa pemulihan.
Pintu kamar rias berderit halus. Adrian melangkah masuk dengan setelan tuksedo hitam yang terpahat sempurna di tubuh tegapnya. Langkah kakinya sempat terhenti sejenak; sepasang mata elangnya menatap Alea tanpa berkedip dengan pendar kekaguman yang teramat dalam.
"Kamu... sangat cantik, Alea," bisik Adrian rendah, mendekat pelan lalu mengecup lembut punggung tangan Alea.
Alea merona, mengulas senyum manis yang membuat dadanya berdesir hangat. "Terima kasih, Adrian... Kamu juga sangat tampan hari ini."
Tak lama kemudian, Rian membukakan pintu untuk Azka. Bocah kecil itu tampak menggemaskan mengenakan jas hitam mungil dan dasi kupu-kupu yang senada dengan ayahnya. Ia membawa bantalan bludru berisi sepasang cincin pernikahan mereka.
"Ibu cantik sekali seperti putri raja!" seru Azka riang, membuat Alea dan Adrian terkekeh bahagia.
Acara Akad berlangsung begitu khidmat. Di hadapan penghulu dan para saksi—dengan Papa Adrian yang duduk mendampingi di barisan depan—Adrian mengalunkan janji sucinya dengan suara bass yang mantap, tegas, dan tanpa keraguan sedikit pun.
Saat kata "sah" bergaung di seluruh ruangan, tepuk tangan riuh dan rasa lega melingkupi atmosfer ballroom.
Adrian memutar tubuhnya menghadap Alea, menyelipkan cincin bermata berlian di jari manis wanita itu, lalu mengecup kening Alea begitu lama dan dalam. Kehangatan kecupan itu seolah mengunci seluruh janji setianya bahwa tidak akan ada lagi air mata kesedihan dalam hidup Alea dan Azka.
Dari barisan terdepan, Papa Adrian tersenyum tulus dengan mata berkaca-kaca. Esok hari beliau akan terbang ke Australia, membawa kedamaian di hatinya karena tahu putra dan cucunya kini berada di tangan wanita yang tepat.
Di balik kejayaan dan nama besar yang disandangnya, Adrian tahu bahwa kemenangan terbesarnya dalam hidup bukanlah kekuasaan—melainkan dekapan hangat Alea dan tawa polos Azka yang kini menjadi rumah sejatinya.
Alunan musik pesta pernikahan di ballroom berlahan mereda seiring berlalunya para tamu undangan. Namun, di area terminal penerbangan privat bandara internasional, jet pribadi milik keluarga sudah bersiap lepas landas menuju Australia.
Selesai acara, Papa Adrian meminta izin untuk langsung berangkat ke Australia sesuai keinginannya. Beliau memilih untuk tidak menunda waktu lagi, tak ingin melarutkan diri dalam bayang-bayang kenangan pahit yang tersisa di kota ini.
Di dalam executive lounge, pria tua itu berdiri tegap memegang koper kecilnya. Jas mewahnya kini diganti dengan mantel kasual berwarna abu-abu hangat.
"Papa yakin tidak mau menginap satu malam lagi?" tanya Adrian dengan suara rendah. Lengan tegapnya merangkul Alea yang masih mengenakan gaun resepsi serba putih.
Papa Adrian mengulas senyum tipis—sebuah senyuman penuh kedamaian yang sudah lama tak terlihat di wajahnya. Pria tua itu menggeleng pelan.
"Tidak, Adrian. Tugas Papa di sini sudah selesai," ucap sang ayah mantap. "Melihat kalian berdiri di altar tadi dengan senyuman Alea dan keceriaan Azka... itu sudah cukup bagi Papa untuk pergi dengan tenang."
Beliau kemudian melangkah mendekati Alea, menggenggam kedua telapak tangan menantu wanitanya itu dengan sangat hangat.
"Alea, terima kasih sudah mau memaafkan kekhilafan keluarga ini. Jaga Adrian dan bimbing dia jadi suami serta ayah yang bijaksana," tutur Papa Adrian tulus.
Alea mengangguk dengan mata yang berkaca-kaca. "Pasti, Pa. Papa juga harus menjaga kesehatan di sana. Kalau ada waktu libur sekolah, kami dan Azka akan berkunjung ke Australia."
Mendengar nama cucunya disebut, Papa Adrian berlutut pelan di hadapan Azka. Bocah kecil itu memiringkan kepalanya bingung menatap kakeknya yang membawa koper.
"Opa mau kemana? Kok bawa tas besar?" tanya Azka polos.
"Opa mau jalan-jalan sebentar ke tempat yang jauh, Jagoan," bisik sang kakek seraya merengkuh tubuh mungil Azka dalam pelukan erat. "Azka harus jadi anak pintar dan nurut sama Papa dan Ibu, ya?"
"Iya, Opa! Nanti bawakan Azka mainan kangguru yang besar ya!" celoteh Azka ceria, belum sepenuhnya paham arti perpisahan itu.
Papa Adrian tertawa pelan, lalu berdiri dan menepuk bahu tegap Adrian untuk terakhir kalinya sebelum melangkah menuju boarding gate.
Adrian, Alea, dan Azka berdiri berdampingan menatap punggung pria tua itu yang berjalan mantap meninggalkan masa lalunya, menyongsong lembaran baru di benua seberang dengan restu penuh untuk kebahagiaan keluarga kecil mereka.