Seorang pemuda bernama Devan dia adalah seorang kurir paket yang hidup sederhana, tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah menemukan sebuah gelang giok misterius.
Sejak saat itu, keberuntungan mulai menghampirinya dan satu per satu wanita cantik memasuki kehidupannya.
Namun, siapa sebenarnya mereka dan mengapa semuanya terhubung dengan Devan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Not men, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24 : Saat Takdir Memilihku
Devan membawa eyang suro menjauh dari kediaman nya, karena dia tak ingin menarik perhatian warga serta membuat warga curiga pada dirinya. Kini Devan berada di sebuah lereng gunung di dekat desa nya, bersama Malea serta yang lain nya.
"Tidak semudah itu pak tua!" ucap Devan saat Eyang suro kekeuh dengan tujuan nya itu.
"Hahaha, maka jangan salahkan aku jika aku akan mencelakaimu!" timpal Eyang Suro, di iringi tawa yang seakan meremehkan Devan
Sebuah cahaya putih melesat ke arah Devan, namun Malea segera menghalau nya.
Wooossshhh!! Duiiiiingg!! Blaarrrr!!
Suara berdenging di sertai ledakan begitu memekakan telinga, saat Malea dua energy saling beradu.
"Kau jangan terlalu ikut campur nyai!" teriak Eyang suro.
Namun Devan segera melompat ke arah Eyang suro, saat perhatian nya teralihkan.
Bughhh!! Bughh!
Devan serta Eyang Suro saling beradu ketangkasan silat mereka Malea yang melihat itu hanya waspada serta bersiap jika sesuatu terjadi pada tuan nya, begitu hal nya dengan yang lain. Namun tentu mereka tidak di biarkan diam oleh, Eyang suro. Dia memanggil peliharaan nya, yaitu empat sosok genderuwo untuk menghadapi Malea serta yang lain nya.
"Seperti mengingat masalalu!" gumam Syafir.
Rooooaaaaarrrr!!
Geraman empat mahluk tinggi hitam itu seraya menerjang ke arah Malea serta yang lain nya, namun tak terlihat Yunsi di sana, karena Devan memerintahkan nya untuk menjaga ibu nya di rumah. Sementara Devan masih sibuk menghadapi Eyang suro, dirinya mulai kewalahan, karena pengalaman nya bertarung sangatlah minim, sehingga hal itu membuat nya sedikit kerepotan.
Duaaarrr!!! Duaarrr!!
Suara ledakan layak nya petir saling bersahutan, di tengah pertarungan Malea serta yang lain nya, awan seketika mendung, membawa kegelapan yang begitu mengerikan di tengah hutan di bawah sebuah lereng gunung itu.
Bugghhh!! Hoooeeegghh!
Devan terhuyung ke arah belakang saat dia terkena tendangan dari Eyang Suro.
"Kau tak bisa melawan ku bocah ingusan!" teriak Eyang suro.
Namun sebuah kabut putih tiba-tiba mengintari Devan, Devan yang tengah terengah kebingungan, dengan kabut putih yang mengintarinya itu. Dan tak berselang lama muncul lah sosok pria tua berjubah putih, berjanggut panjang serta menakai sebuah ikat kepala berwarna senada, dengan jubah nya itu.
"Ki Amar!" gumam Devan
Sosok yang muncul di hadapan Devan itu ternyata Ki Amar, sosok yang muncul saat Devan berada di alam spiritual milik nya. namun Eyang suro terkejut saat melihat siapa yang ada di hadapan nya itu, dua melangkah mundur mewaspadai sosok Ki Amar.
"Ternyata itu kau!" ucap Eyang Suro.
Ki Amar hanya tertawa kecil, sudah lama sekali rasanya dia tak melihat sosok yang ada di hadapan nya kini. "Sudah lama sekali suro!, kenapa kau mengganggu pewaris ku! Bukan kah kau tau bahwa gelang itu, tidak bisa sembarangan di miliki oleh siapapun, termasuk dirimu?" ucap Ki Amar.
Eyang suro memang tau, akan hal itu namun dia sepertinya terobsesi dengan galang milik Devan itu. "Aku tidak peduli akan hal itu Amar!" teriak Eyang Suro.
Lalu dua cahaya putih melesat keudara, di iringi kilatan petir yang bergemuruh hebat. Devan hendak memulihkan dirinya, namun melihat Malea dan yang lain nya masih keadaan bertarung, Devan segera membantu mereka.
Dia melompat seraya menendang ke arah salah satu mahluk hitam, yang di hadapi Malea.
Wushhh!! Bughh!! Roooooaaaarrr!
Sosok bertaring panjang dengan mata merah menyala dan bulu tebal menghiasi, terhuyung hinggga terjatuh.
"Terimakasih tuan!" ucap Malea, karena dirinya juga sudah mulai kelelahan.
Para genderuwo mulai tersudut, mereka pun kini melarikan diri, lalu hilang di tengah kabut tebal di hutan itu. Keadaan sudah mulai gelap, Devan luruh hampir terjatuh menahan tubuh nya dengan lutut, seraya memegangi dada nya.
Hoooeegghh!! Uhuk! Uhuk!!
Devan memuntahkan seteguk cairan merah kehitaman, dirinya mulai tak sadarkan diri, namun Malea segera mendekati nya dan menompang tubuh nya agar tak terjatuh ke tanah.
"Kita bawa tuan kembali!" ucap Malea.
Syafir, Meylin dan Ayumi segera mengikuti arahan dari Malea. Di iringi hujan lebat mengguyur hutan itu serta desa tempat dimana Devan tinggal. Penomena alam yang jarang terjadi itu membuat warga ketakutan serta berlindung di dalam rumah, hujan lebat di sertai angin kencang itu hampir saja meluluh lantahkan desa.
Sementara dimana Ki Amar serta Eyang suro berada, yaitu alam ghoib dimana alam tempat para jin tinggal. Terlihat Eyang Suro tergeletak berusaha bangkit dan berdiri.
"Sialan kau Amar!" teriak Eyang Suro.
"Sudah ku bilang kau jangan berani mengusik pewarisku! kini kau tau akibat nya bukan!" jawab Ki Amar.
Namun Saat Ki Amar hendak mendekat, Eyang suro di selimuti kabut hitam lalu menghilang.
"Kau tak akan bisa melarikan diri dari ku Suro!" gumam Ki Amar.
Lalu diapun ikut menghilang dari tempat itu. Pertarungan tentu di menangkan oleh Ki Amar karena ilmu kesucian nya dapat mengalahkan ilmu kegelapan dari Eyang Suro.
Sementara kini di kamar Devan, Malea sedang berusaha memulihkan kondisi tuan nya yang sudah dalam keadaan tak sadarkan diri. Dia di bantu oleh yang lain nya, mereka bekerjasama mengalirkan energi untuk tuan nya itu.
Uhukk!! Uhuk!
"Syukurlah tuan sudah sadar!" ucap Malea.
Tak berselang lama sosok Ki Amar datang di tengah-tengah mereka, membuat semua yang ada disana menoleh ke arah Ki Amar.
"Salam ki Amar!" ucap ke lima selir milik Devan itu.
ki Amar tersenyum dia segera menghampiri Devan. "Bangkitlah anak muda!" ucap Ki Amar.
Devan yang sedang berbaring, lantas berdiri, saat melihat kedatangan sesepuh nya itu. "Salam Ki Amar!" ucap Devan
"Minum lah ini dan pulihkan kondisi energy mu nak!" ucap Ki Amar seraya memberikan sebuah kendi berisi sebuah air.
"Apa ini ki?" tanya Devan, seraya menperhatikan isi kendi kecil itu
"Minum lah itu obat untuk mu!" timpal Ki Amar.
Tanpa ragu Devan pun meminum nya hingga habis. Tubuh nya mendadak menjadi segar serta luka di tubuh nya mulai menghilang perlahan. Kini Devan mulai bersemedi, untuk memulihkan kondisi nya serta meningkatkan kekuatan nya.
"Untuk kalian, pulihkan lah energi kalian sebelum, anak ini sadar kembali" ucap Ki Amar.
Malea serta yang lain nya pun. Mengerti dan segera menghilang, untuk masuk ke dalam. Gelang di tangan Devan itu.
Kini Ki Amar sendiri berdiri menatap ke arah Devan "Kau anak yang hebat!" gumam Ki Amar.
Devan tenggelam dengan tapaan nya itu, Devan fokus di alam spiritual nya itu. Semakin dalam dan semakin larut, kini hujan sudah mulai mereda, cuaca kembali cerah di desa itu.