NovelToon NovelToon
CINTA YANG JATUH LEBIH DULU

CINTA YANG JATUH LEBIH DULU

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / CEO / Cintapertama / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ratna Jivana

Kirana, mantan putri sultan yang kini harus bekerja demi bertahan hidup, selalu bentrok dengan Rangga, CEO dingin dan galak yang tak pernah menemukan karyawan seberani dirinya.

Tanpa Kirana sadari, Rangga justru jatuh cinta lebih dulu. Di balik sikap kerasnya, ia diam-diam selalu melindungi dan memperhatikan Kirana. Sementara Kirana perlahan melihat sisi lembut pria yang selama ini dianggapnya sebagai bos toxic.

Namun cinta mereka diuji oleh kesalahpahaman, mantan kekasih, konflik keluarga, serta perjuangan Kirana membangun kembali hidupnya tanpa kemewahan. Dari pertengkaran dan cinta yang awalnya bertepuk sebelah tangan, keduanya akhirnya menyadari bahwa mereka adalah tempat pulang satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jivana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2 — Ditolak Berkali-kali

Kirana belajar satu hal baru dalam hidupnya di minggu-minggu pertama sebagai pencari kerja: dunia di luar sana tidak peduli bahwa nama belakangnya Wibowo.

"Maaf, Kak, posisi ini butuh pengalaman minimal dua tahun," kata seorang HRD muda di sebuah perusahaan periklanan, matanya sekilas melirik CV Kirana yang—jujur saja—memang kosong melompong selain gelar sarjana dan satu baris "Junior Consultant di Wibowo Group" yang kalau ditelusuri lebih jauh akan ketahuan bahwa jabatan itu sebenarnya cuma formalitas dari ayahnya sendiri.

Kirana mengangguk, tersenyum kaku, lalu keluar dari ruangan ber-AC itu menuju siang Jakarta yang panasnya menempel di kulit seperti tidak mau pergi. Ia berdiri di depan gedung, menatap layar ponselnya yang menunjukkan saldo rekening yang kian menipis, dan menghela napas panjang.

Itu penolakan ketujuh dalam dua minggu.

Sebelumnya ia ditolak di perusahaan konsultan karena "kualifikasi tidak sesuai." Ditolak di sebuah bank karena "posisi sudah terisi." Ditolak di agensi digital karena—ini yang paling menyakitkan—pewawancaranya berkomentar pelan pada rekannya, cukup keras untuk didengar Kirana, "Anak orang kaya ngapain sih ngelamar kerja beneran? Paling juga iseng doang, nanti keluar juga kalau capek."

Kirana ingin membantah. Ingin berteriak bahwa ia sudah bukan anak orang kaya lagi, bahwa rekeningnya kini lebih kurus dari rekening magang, bahwa satu-satunya alasan ia duduk di kursi wawancara itu adalah karena ia benar-benar butuh, bukan iseng. Tapi ia hanya diam, tersenyum sopan, lalu keluar ruangan sambil menahan air mata sampai ia benar-benar sendirian di dalam angkot.

Ya, angkot. Satu lagi hal baru yang harus dipelajari Kirana: naik angkutan umum.

Hari pertama ia mencoba naik angkot, ia berdiri kebingungan di pinggir jalan selama dua puluh menit, tidak tahu bagaimana cara menyetop kendaraan yang lewat, sampai seorang ibu-ibu penjual sayur di sampingnya berkata, "Neng, itu lambai tangan aja, jangan diem doang, kayak nunggu jodoh."

Kirana tertawa getir mengingat momen itu. Ia, yang dulu bahkan tidak tahu cara membuka pintu mobil sendiri karena selalu ada Pak Slamet yang membukakan, kini harus belajar segala hal paling dasar dalam hidup—cara naik angkot, cara menawar harga di warung, cara memasak mi instan karena uangnya tidak cukup untuk makan di luar setiap hari.

Hari kedelapan mencari kerja, ia mencoba peruntungan di sebuah perusahaan ritel besar. Kali ini ia berhasil lolos sampai tahap wawancara kedua, sempat merasa optimis, bahkan sudah membayangkan seragam kerja seperti apa yang akan ia kenakan. Namun di tahap akhir, HRD-nya berkata dengan nada menyesal, "Maaf ya, Kirana, sebenarnya kamu kandidat yang bagus. Tapi bos kami khawatir kamu nggak akan betah lama-lama di sini, gajinya standar UMR soalnya, dan biasanya orang dengan latar belakang kayak kamu... ya, kamu tahu sendiri lah."

Kirana ingin tertawa getir. Latar belakang kayak kamu. Seolah-olah rekening bank yang sekarang menyedihkan itu masih menempel padanya seperti label harga di baju branded—terlihat jelas oleh siapa pun yang mau repot-repot mengecek nama keluarganya di Google.

Ia mulai belajar untuk tidak lagi mencantumkan nama lengkap "Aurelia Kirana Wibowo" di beberapa lamaran, cukup "Kirana W." saja, berharap tidak ada yang mengenali marga itu dan langsung berasumsi macam-macam sebelum sempat menilai kemampuannya.

"Kamu yakin nggak mau tinggal di rumahku aja dulu?" tanya Dewi suatu sore, saat mereka bertemu di sebuah warung kopi kaki lima—jauh, sangat jauh dari kafe mahal tempat mereka biasa nongkrong dulu. Sekarang Kirana lebih sering memesan kopi paling murah di menu, sementara dulu ia bahkan tidak pernah melihat harga sebelum memesan.

"Nggak, Dew. Makasih banget udah nawarin, tapi aku... aku harus belajar sendiri," jawab Kirana, mengaduk kopinya pelan. "Kalau aku terus-terusan numpang, aku nggak akan pernah belajar apa-apa. Lagian kamu juga udah kerja, rumahmu kecil, masa aku nambahin beban."

Dewi menghela napas, tapi tidak memaksa. Ia tahu keras kepala sahabatnya itu—dulu keras kepala soal hal-hal remeh seperti memilih warna cat kuku, sekarang keras kepala soal harga diri dan kemandirian. Entah yang mana yang lebih melelahkan untuk dihadapi.

"Ya udah, tapi kalau butuh apa-apa, telepon aku. Jangan sok kuat sendirian," kata Dewi sambil menyodorkan kantong plastik berisi nasi bungkus. "Ini dari ibuku, katanya kamu harus makan yang bener. Jangan mi instan mulu."

Kirana menerima kantong itu dengan mata berkaca-kaca. Kebaikan sederhana seperti ini—yang dulu tidak pernah ia sadari nilainya karena terlalu terbiasa dikelilingi kemewahan—kini terasa seperti harta paling berharga yang ia miliki.

"Dew," ucap Kirana pelan, menatap kantong nasi bungkus itu, "kamu tahu nggak, dulu aku suka mikir orang-orang kayak kamu itu 'kurang beruntung' karena nggak punya apa yang aku punya. Sekarang aku baru sadar... kamu jauh lebih kaya dari aku. Kamu punya keluarga yang saling jaga, punya teman-teman yang bener-bener peduli. Aku dulu punya segalanya secara materi, tapi pas semuanya ambruk, ternyata yang tersisa cuma kamu."

"Ih, jangan baper gitu deh," Dewi menjitak kepala Kirana pelan, meski matanya juga berkaca-kaca. "Udah, makan dulu. Abis itu lanjut cari kerja lagi. Aku yakin kamu bakal dapet kerjaan yang cocok, cepat atau lambat."

Malam itu, sepulang dari bertemu Dewi, Kirana kembali ke kamar kosnya yang sempit. Ia duduk di lantai beralas karpet tipis, membuka laptop tua bekas yang ia beli dari uang hasil menjual salah satu tas branded terakhirnya, dan kembali membuka portal lowongan kerja. Kipas angin tua di sudut kamar berputar dengan suara berdecit khas, seperti mengiringi kelelahannya malam itu.

Ia sudah kehilangan hitungan berapa banyak lamaran yang ia kirim—puluhan, mungkin sudah mendekati seratus. Matanya lelah, kepalanya pening karena terlalu lama menatap layar, dan sesekali ia harus menahan diri agar tidak menangis lagi. Ia bahkan mulai hafal skrip penolakan standar dari berbagai perusahaan—"terima kasih atas partisipasinya," "kandidat lain dinilai lebih sesuai," "semoga sukses di kesempatan berikutnya"—kalimat-kalimat sopan yang lama-lama terasa seperti pukulan halus yang berulang.

Suatu malam, ia bahkan sempat menangis di kamar mandi kos yang sempit dan lembap, air keran ia nyalakan sekencang mungkin agar suara tangisnya tidak terdengar tetangga sebelah. Ia duduk di lantai kamar mandi, memeluk lutut, membiarkan air matanya bercampur dengan percikan air keran.

"Kenapa sih hidup harus sesusah ini," bisiknya pada dirinya sendiri, suaranya nyaris tak terdengar di tengah deru air. "Aku cuma pengen kerja. Aku cuma pengen buktiin aku bisa."

Tapi setiap pagi, meski matanya masih bengkak dari tangisan semalam, Kirana selalu memaksa diri untuk bangun, mandi seadanya dengan air yang kadang tidak terlalu hangat, mengenakan blazer satu-satunya yang mulai terlihat agak lusuh karena terlalu sering dipakai wawancara, dan kembali melangkah keluar mencari peruntungan baru.

Ia belajar menghemat ongkos dengan berjalan kaki jika jaraknya masih memungkinkan. Ia belajar makan sekali sehari kalau memang terpaksa, menyisihkan uang untuk membeli pulsa data agar bisa terus mencari lowongan dan membalas email. Ia belajar untuk tidak lagi malu ketika perutnya berbunyi di tengah wawancara karena belum sempat sarapan.

Sampai malam itu, saat ia hampir menyerah dan mempertimbangkan untuk menelepon Dewi, menyerah pada tawaran menumpang di rumahnya, matanya berhenti pada satu lowongan yang baru saja diunggah beberapa jam lalu di sebuah portal pencari kerja:

"Dibutuhkan: Staf Junior Divisi Marketing — Arka Corporation. Fresh graduate dipersilakan melamar. Tidak memerlukan pengalaman kerja formal, diutamakan yang memiliki inisiatif tinggi dan kemauan belajar cepat."

Kirana membaca deskripsi itu berulang kali. Arka Corporation—ia pernah dengar nama itu sekilas dulu, salah satu perusahaan properti dan investasi terbesar di Indonesia, gedungnya menjulang tinggi di kawasan Sudirman, salah satu yang paling megah di antara deretan gedung pencakar langit lainnya. Dulu, saat masih menjadi putri Wibowo Group, ia bahkan pernah menghadiri satu dua acara gala yang disponsori perusahaan itu, meski ia tidak ingat detailnya karena saat itu ia lebih sibuk memperhatikan gaun siapa yang paling bagus malam itu, atau siapa yang membawa pasangan paling tampan.

Ia juga samar-samar ingat pernah mendengar nama pemiliknya disebut-sebut di kalangan pebisnis—seorang CEO muda yang dianggap jenius sekaligus ditakuti karena caranya bekerja yang keras dan tanpa kompromi. Tapi nama itu tidak benar-benar melekat di ingatannya; saat itu dunia bisnis hanyalah latar belakang samar dari kehidupannya yang penuh gemerlap.

Dengan tangan yang sedikit gemetar—entah karena gugup atau karena harapan yang mulai tumbuh lagi setelah sekian lama padam—Kirana mengisi formulir lamaran dengan teliti, membaca ulang setiap kalimat yang ia tulis di kolom motivasi, memastikan tidak ada kesalahan ketik, dan mengunggah CV seadanya yang sudah ia perbarui berkali-kali. Ia menekan tombol kirim, lalu menatap layar laptopnya beberapa saat, seolah berharap sebuah balasan ajaib akan muncul seketika.

Tentu saja tidak.

Semoga kali ini beda, batinnya, sebelum akhirnya menutup laptop dan merebahkan diri di kasur tipisnya, tubuhnya lelah tapi pikirannya masih berputar memikirkan berbagai kemungkinan. Ia tertidur dengan doa kecil terselip di hatinya, doa yang sederhana namun sungguh-sungguh: Tuhan, tolong kasih aku satu kesempatan lagi.

Cuma satu.

Tiga hari kemudian, ponsel Kirana berdering di tengah ia sedang menghitung sisa uang di dompetnya—cukup untuk makan sampai akhir minggu, kalau ia hemat, dan mungkin sedikit tersisa untuk membeli sabun cuci yang sudah hampir habis.

"Halo, dengan Aurelia Kirana?" suara di seberang telepon terdengar formal, profesional, tanpa nada menghakimi sedikit pun—hal yang membuat Kirana lega di detik pertama mendengarnya.

"Iya, benar, saya sendiri," jawab Kirana, jantungnya berdegup kencang, tangannya yang bebas mencengkeram tepi kasur.

"Saya dari HRD Arka Corporation. Kami ingin mengundang Anda untuk wawancara kerja besok pukul sepuluh pagi. Apakah Anda bersedia?"

Kirana nyaris menjatuhkan ponselnya saking terkejutnya. Jantungnya berdebar begitu kencang hingga ia bisa mendengarnya sendiri di telinga. "I-iya! Bersedia, Kak! Saya akan datang!"

Setelah menutup telepon, Kirana melompat-lompat kecil di kamar kosnya yang sempit, tertawa dan menangis bersamaan—campuran emosi yang aneh tapi begitu nyata, seperti bendungan yang akhirnya jebol setelah berminggu-minggu menahan kekecewaan demi kekecewaan. Untuk pertama kalinya sejak dunia lamanya runtuh, ia merasakan secercah harapan yang nyata, bukan sekadar harapan kosong yang selalu berujung kecewa.

Ia segera mengirim pesan ke Dewi: "DEW! AKU DIPANGGIL WAWANCARA BESOK! ARKA CORPORATION!"

Balasan Dewi datang tidak sampai semenit kemudian, penuh dengan emoji tepuk tangan dan konfeti. "YA ALLAH KIR AKHIRNYA! Semangat ya besok, jangan lupa siapin diri baik-baik. Aku doain dari sini!"

Malam itu, meski tubuhnya lelah setelah seharian mencari kerja, pikiran Kirana terlalu sibuk untuk tidur nyenyak. Ia bangun beberapa kali, memeriksa ulang persiapan dokumen yang harus dibawa, membaca sekilas informasi tentang Arka Corporation dari internet menggunakan sisa kuota data yang ia miliki, mencoba menghafal sedikit sejarah perusahaan itu agar tidak terlihat buta informasi saat wawancara nanti.

Ia tidak tahu bahwa wawancara esok hari akan menjadi gerbang menuju babak baru dalam hidupnya—babak yang akan mempertemukannya dengan seorang pria bernama Rangga Arka Wijaya, sosok yang kelak akan mengguncang seluruh dunia emosinya dengan cara yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

1
Rian Moontero
mampiiirr👍
moana family: terima kasih kk🥰
total 1 replies
moana family
hiii readers mohon dukungan yaa...🥰🥰
ini novel saya pertama🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!