Karina, gadis yatim piatu berusia tujuh belas tahun, kehilangan nyawanya setelah menyelamatkan seluruh penumpang bus yang terjun ke jurang. Namun, kematiannya bukan akhir. Sebuah sistem misterius memberinya kesempatan hidup kembali dengan satu syarat: mengumpulkan 100.000 Poin Kehidupan dengan menyelamatkan para antagonis pria dari takdir tragis mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kirana_euforia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dunia Pertama — 04
Terdengar keributan terjadi sebelum Karina memasuki gerbang sekolah.
"Serius Bu, kemarin masih ada, sekarang kok tiba tiba ilang?" Suara Naura terdengar panik dari arah keras.
Karina mempercepat langkahnya menuju kelas san mendapati hampir seluruh aiswa kelas XI IPA 2 sudah berkumpul disekitar meja guru, dimana Bu Retno berdiri disana dengan wajah serius sambil memegang sebuah kotak kayu kecil yang biasanya untuk menyimpan uang kas kelas.
"Uang kas kelas kita hilang, delapan ratus ribu rupiah buat persiapan classmeet minggu depan." Jelas Tika yang duduk didekat pintu begitu melihat Karina masuk.
"Hilang gimana?" Tanya Karina sambil meletakkan tasnya dibangkunya.
"Naura kan yang pegang kunci lemari, trs kemarin sore katanya dia taruh disitu sebelum pulang, trs pas dibuka pagi ini kotaknya kosong." Jelas Fajar.
Bu Retno mengakat tangan meminta perhatian seluruh kelas. "Oke tenang dulu semuanya, ini masalah serius, tapi kita nggak boleh main tuduh sembarangan. Naura coba ceritakan lagi kejadiannya dari awal."
Naura tampak sedikit gemetar segera menarik nafas sebelum berbicara.
"Kemarin setelah bulang sekolah saya hitung uangnya dikelas, trus saya taruh dikotak itu dan kuncinya saya taruh dilaci meja guru, karna memang bisanya juga disimpan disitu. Terus saya bulang bareng Refan dan Vina."
"Siapa saja yang masih ada dikelas waktu kamu nutup lemari?" Tanya Bu Retno.
Naura terdiam sejenak, mencoba mengingat ingat. "Waktu itu... Masih ada beberapa anak kuga, Saya, Refan, Vina, trus.... Bram juga masih dikelas, duduk sendirian dibangkunya."
Seketika seluruh mata dikelas itu berpindah kearah bangku pojok belakang, tempat Bram duduk dengan ekspresi datar seperti biasanya. Namun kali ini sorot matanya menunjukkan sedikit kelelahan karna terlalu sering mengalami situasi seperti ini.
"Kenapa lo masih dikelas sendirian." Tanya Dimas dengan suranya penuh kecurigaan yang tidak disembunyikan sama sekali.
"Nunggu hujan reda." Jawab Bram singkat tanpa menoleh.
"Trus kamu lihat siapa saja yang masuk kekelas setelah itu?" Bu Retno bertanya, mencoba tetap bersikap netral meski suasana kelas sudah mulai memanas.
"Nggak ada yang masuk, saya keluar duluan sebelum hujan bener bener reda, sekitar setengah lima." Jawab Bram datar.
"Trus siapa yang buktiin lo nggk ambil uangnya sebelum keluar?" Celentuk Vina sambil bersedekap dada.
Kelas kembali riuh, beberapa anak mulai berbisik bisik, sebagian menatap Bram dengan tatapan yang sudah familiar bagi Karina.
Tatapan yang sama persis seperti saat pertama kali ia datang kekelas ini, tatapan menghakimi yang sudah memutuskan siapa pelakunya sebelum ada bukti apapun.
"Ini nggak adil." Ucap Karina cukup keras hingga membuat seluruh pasang mata menatap kearahnya.
"Kalian nuduh dia cuma karna dia yang terakhir keliatan dikelas? Itu bukan bukti, itu cuma waktu kebetulan."
"Alya, lo kan baru disini, nggak tau gimana track record dia." Sahut Vina dengan nada sedikit tajam.
"Justru karna aku nggak tau track recordnya, aku bisa liat ini dari sudut pandang yang lebih objektif." Balas Karina mencoba menjaga intonasi suaranya tetap tenang meskipun jantungnya berdegup kencang.
"Track recordnya nggak bisa jadi bukti buat kejadian yang spesifik kayak gini."
"Alya benar, kita semua tidak hisa menuduh tanpa bukti yang jelas. Saya akan laporkan ini kepada pihak sekolah supaya cctv dikoridor diperiksa. Untuk sementara, jangan ada yang boleh saling tuduh dulu." Sela Bu Retno mengangkat tangan untuk meredakan suasana.
Kelas kembali tenang, meski tatapan curiga masih mengarah kebelakang, tempat Bram duduk dengan tangan yang mengeras diatas meja.
...----------------...
Saat jam istirahat, Karina menemukan Bram ditaman belakang gedung olahraga, tempat yang sudah menjadi pelarian sejak hari pertama mereka bertemu.
"Kamu nggak papa?" Tanya Karina sambil duduk disampingnya tanpa izin seperti sebelumnya.
"Udah biasa." Jawab Bram
"Setiap ada masalah, nama gue disebut duluan. CCTV kalopun ada paling juga nunjukin gue duduk dikelas, trus orang orang bakal bilang gue yang paling punya kesempatan." Sambungnya lagi.
"Kamu yakin nggak ada cctv didalem kelas?" Tanya Karina.
"Nggak ada, cuma dikoridor sama gerbang." Ucap Bram sambil menggelengkan kepalanya.
Karina berbikir sejenak. "Berarti yang bisa buktiin cuma siapa yang masuk keluar kelas kewat koridor itu kan? Kalo semisal ada otang lain yang masuk setelah kamu keluar, pasti keliatan."
"Trus siapa yang bakal repot repot cek itu buat gue?" Ucapnya sambil tertawa getir.
"Guru guru juga biasanya males, ujung ujungnya juga nyerah, nganggep gue pelakunya karna nggak ada bukti kiat buat nyalahin orang lain."
Karina menatapnya lekat lekat. " Aku yang cek."
Bram menoleh kearahnya. "Buat apa? Ini bukan urusan lo."
"Ya.... Nggak adil aja, aku... Aku juga percaya kamu nggak ngambil uang itu." Jawab Karina tegas.
Ada jeda cukup lama sebelum Bram menjawab, matanya menatap Karina dengan ekspresi campur aduk antara keheranan dan sedikit haru, dan sesuatu yang lebih dalam yang belum sepenuhnya ia pahami sendiri.
"Kenapa lo selalu percaya sama gue? Padahal lo belum lama kenal gue." Tanyanya pelan.
"Yaa... Aku udah liat cukup banyak buat tau kamu bukan orang yang kayak mereka pikirin, lagian kadang orang cuma butuh satu orang yang percaya, buat mulai percaya lagi sama diri mereka sendiri." Jawab Kirana sederhana.
Bram terdiam sambil menundukkan kepalanya menatap tangannya sendiri. "Gue nggak tau harus bilang apa."
"Nggak usah bilang apa apa, cukup percaya aja kalau ini bakal kelar dengan cara yang bener." Balas Karina sambil tersenyum tulus.
...----------------...
Sepulang sekolah Karina memberanikan diri menemui staff tata usaha untuk menanyakan soal rekaman cctv dikoridor, mengaku sebagai perwakilan kelas yang ingin membantu menyelesaikan masalah uang kas.
Setelah berdebat singkat dengan petugas tata usaha yang awalnya enggan, akhirnya Karina diizinkan melihat rekaman didampingi Bu Retno yang kebetulan lewat dan turut penasaran.
Rekaman itu menunjukkan dengan jelas, pukul empat lewat tiga puluh fua menit, Bram keluar kelas sendirian dan berjalan kearah gerbang sekolah.
Lima menit kemudian, seseorang lain terlihat masuk kekelas yang sama dari arah koridor. Seorang siswa berseragam yang setelah diperbesar dan diperjelas kualitasnya ternyata adalah Dimas.
"Itu.... Dimas?" Gumam bu Retno sambil mengernyitkan dahinya.
Karina menahan diri untuk tidak langsung berkomentar, membiarkan bukti yang berbicara sendiri.
...----------------...
Keesokan harinya setelah dikonfrontasi langsung oleh Bu Retno dan kepala sekolah, Dimas akhirnya mengaku, bukan karna ingin sepenuhnya mencuri.
Melainkan hanya pinjam fulu untuk membayar hutang taruhan bola online yang sudah menumpuk, dengan niatan akan mengembalikannya sebelum classmeet dimulai.
Seluruh kelas terdiam mendengar pengakuan itu, dab satu persatu mata yang tadinya menatap curiga kearah Bram kini berpaling dengan canggung, tidak ada yang berani menatap langsung kesudut bangku belakang yempat Bram duduk.
"Maaf, aku sempet mikir yang enggak enggak juga kemarin. Sorry yaa..." Kata Naura mendekat kebangku Bram dengan wajah menyesal yang tulus.
Bram tidak langsung menjawab, hanya mengangguk pelan. Tapi kali ini ada sesuatu yang berbeda dalam cara menerima permintaan maaf itu, bukan lagi sinis atau menjaga jarak sepenuhnya, melainkan semacam keterbukaan kecil yang baru pertama kali ia tunjukkan didepan orang orang selain Karina.
...----------------...
Sore itu ditaman belakang gedung olah raga uang sudah menjadi tempat favorit meteka, Bram duduk sambil menatap langit uang mulai memerah menjelang senja.
"Thanks." Katanya tanpa menoleh kearah Karina yang duduk disampingnya.
"Sama sama." Jawabnya sambil tersenyum tulus.
"Gue nggak pernah nyangka bakal ada yang mau repot repot ngecek cctv segala guma buat mastiin gue nggak salah" Ucap Bram dengan suaranya yang lebih lembut dari biasanya.
"Karna kamu emang pantes dapet itu." Ucap Karina.
"Semua orang pantes dapet kesempatan buat dibela kalo mereka emang nggak salah, nggak perduli apa kata orang lain tentang mereka sebelumnya." Lanjutnya lagi.
Bram menoleh menatap Karina dengan tatapan yang lama lama sulit ia sembunyikan lagi. Tatapan seseorang yang mulai merasakan sesuatu yang lebih jangat daripada sekedar rasa terimakasih biasa.
"Al... Kenapa lo baik banget sama gue?" Ucapnya pelan.
Karina terdiam sejenak memikirkan jawaban yang jujur tapi tidak membuka rahasia yang tidak bisa ia ungkapkan.
"Yaa... Karna aku pikir semua orang butuh minimal satu orang yang nggak ninggalin mereka waktu keadaan lagi susah. Dan aku pengen jadi orang itu buat kamu, at least selama aku ada disini."
Kalimat terakhir itu keluar lebih jujur dari yang Karina rencanakan, sebuah pengakuan tidak langsung bahwa keberadaannya didunia ini tidak akan selamanya.
Tapi Bram yang tidak tau apa apa tentang itu, hanya bisa menerima kalimat itu sebagai janji sederhana yang entah kenapa membuat dadanya terasa hangat.
...----------------...
Malam itu saat kembali kekamar kosnya, tiba tiba layar tembus pandang muncul di hadapan Karina.
[Pembaruan status.]
[Poin Kehidupan: 890 / 100.000.]
[Poin besar diberikan atas keberhasilan mengungkap kebenaran secara signifikan memulihkan kepercayaan subjek terhadap keadilan dan hubungan sosial dilingkungannya.]
[Catatan: Tingakt kepercayaan emosional subjek terhadap pengguna mencapai level yang belum pernah tercatat sejak subjek mengalami trauma masa kecil.]
Karina tersenyum melihat angka itu, meskipun disudut hatinya ada sedikit kekhawatiran tentang apa yang akan terjadi pada Bram nanti ketika ia harus pergi dari dunia ini.
"Tapi itu urusan nanti". Pikirnya mencoba menepis kekhawatirannnya itu.
"Sekarang yang terpenting Bram mulai belajar percaya lagi, itu udah langkah besar."
Ia memejamkan matanya, tanpa menyadari bahwa perjalanan yang baru saja ia mulai akan segera membawanya pada babak uang jauh lebih rumit, dimana perasaan bukan lagi sekedar keadilan yang menjadi ujian sesungguhnya.
(Menurut kalian happy ending kagak nich si Karina sama Bram?)
buang aja,karina mati lagi aja