NovelToon NovelToon
Kali Ini Aku Mau Pilih Pangeran Kulkas

Kali Ini Aku Mau Pilih Pangeran Kulkas

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Fantasi
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: PhepipoOrevi

"Aku telah mati karena cinta, kali ini aku ingin hidup untuk diriku sendiri" atau begitulah yang diucapkan Evelyn awalnya sebelum dia mengenal kepribadian Matthew si Pangeran Kulkas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PhepipoOrevi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5. Ngobrol sama Kulkas Brrrr Semriwing

Evelyn masih sibuk menenangkan jantungnya yang berdegup kencang, saat suara langkah kaki sepatu kulit kembali terdengar mendekat ke arah tempat duduknya.

Bukannya langsung berjalan keluar kedai, Matthew justru menarik kursi kayu persis di hadapan Evelyn, lalu duduk di sana dengan santai. Ia meletakkan cangkir iced americano miliknya di samping piring kecil Evelyn.

Evelyn berkedip beberapa kali, sedikit tak percaya. "Lho... Kak Matthew nggak langsung berangkat?"

"Kelas pertamaku masih sejam lagi," sahut Matthew tenang. Pria itu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, melipat kedua tangannya di atas meja. "Lagian, meja lain di sini penuh."

Evelyn refleks mengedarkan pandangannya ke sekeliling kedai. Memang ada beberapa meja yang terisi, tapi masih ada dua meja kosong di dekat pintu masuk. Evelyn menyipitkan mata, kembali menatap Matthew.

Matthew yang ketahuan berbohong hanya menaikkan satu alisnya tanpa rasa bersalah sedikit pun, lalu menyesap kopi dinginnya pelan.

"Aneh ya," gumam Evelyn memecah keheningan, mencoba mencairkan suasana agar tidak terlalu canggung. "Setahu aku, Sang Pangeran Kulkas dari Fakultas Kedokteran itu terkenal paling anti nongkrong, apalagi duduk berdua sama cewek yang bahkan nggak pernah ngobrol sama sekali kayak aku."

Matthew terkekeh pelan—sebuah tawa samar dan rendah yang hampir tak terdengar kalau Evelyn tidak memperhatikannya dari dekat.

"Tidak pernah ngobrol bukan berarti aku tidak tahu kamu, Evelyn," balas Matthew. Mata keemasannya menatap Evelyn lurus, cukup hangat walau raut wajahnya tetap datar. "Lagian aku ini manusia woy, bukan kulkas. Aku juga sering lihat kamu di cafe dekat kampus sini. Biasanya kamu duduk di pojokan sambil nungguin anak Ashworth itu."

Evelyn agak kaget mendengar penuturan itu. Jadi selama ini... Matthew memang secara tidak langsung memperhatikan keberadaannya?

"Oh... jadi Kakak selama ini ngefans sama aku ya?" goda Evelyn tipis, mencoba bercanda agar groginya berkurang. Matthew menjitak kepala Evelyn sambil terkekeh.

"Idih siapa yang ngefans. Kebetulan lihat saja. Soalnya muka kamu kalau lagi nungguin dia itu melas banget," cibir Matthew santai. "Tapi hari ini beda. Muka kamu tadi pas lihat aku... beneran kayak lagi lihat hantu. Bikin penasaran. Pas aku yang masuk lagi. Masa iya aku hantu?" celotehnya.

Evelyn tertawa pelan, membuang mukanya sebentar ke luar jendela sebelum kembali menatap mata keemasan Matthew. "Aduh, maaf ya, Kak. Habisnya sang kulkas yang biasanya dingin tiba-tiba ngajak ngomong dan bercanda."

"Kulkas lagi," gumam Matthew seraya menggelengkan kepala, tapi ada kerutan jenaka di sudut matanya. "Baru kali ini ada yang berani sebut aku begitu di depan muka secara langsung."

"Kan emang bener," sahut Evelyn jujur.

Suasana di antara mereka mendadak terasa jauh lebih rileks. Tensi kaku dan ketakutan yang sempat mengimpit dada Evelyn pelan-pelan terkikis oleh cara bicara Matthew yang ternyata cukup terbuka dan menyenangkan.

"Tapi serius, Eve," Matthew memajukan sedikit tubuhnya, menaruh kedua lengannya di atas meja. Raut wajahnya mendadak sedikit lebih serius. "Kamu benar-benar tidak apa-apa? Kalau ada masalah atau ada yang mengganggumu, kamu gak harus menanggungnya sendirian."

Pertanyaan itu meluncur begitu tulus. Evelyn menatap mata keemasan Matthew cukup lama. Ada kehangatan tersembunyi di sana—kehangatan yang sama persis dengan yang ia rasakan saat Matthew merengkuh tubuh dinginnya di bawah remang malam hutan pinus.

Jantung Evelyn berdesir aneh.

"Apa kakak tuh pernah meluk aku di hutan?" celetuk Evelyn pelan. Tapi ketika Evelyn ingat kalau mungkin cuma Evelyn aja yang ingat kejadian itu. Kemudian dengan nada lantang dia bilang, "Aku nggak apa-apa kok, Kak," jawab Evelyn pelan tapi mantap. "Cuma lagi belajar buat tegas sama diri sendiri aja. Mulai hari ini... aku nggak mau lagi bergantung sama orang lain. Dan gak lagi nungguin si Ashworth,"

Matthew pura-pura tidak mendengar suara pelan Evelyn tadi. Hmm hutan bisiknya pelan. Matthew kemudian menatapnya dalam-dalam selama beberapa detik, seolah sedang membaca kejujuran di balik mata Evelyn. Lalu, sebuah senyuman tipis—sangat tipis tapi begitu tampan—terukir di bibirnya.

"Bagus kalau begitu," ucap Matthew pelan. "Setidaknya versi kamu yang sekarang jauh lebih hidup. Jadi mulai sekarang kamu nongkrong aja ama aku, Eve." kata Matthew sambil terkekeh.

Matthew melirik jam tangan perak di pergelangan tangannya, lalu menghabiskan sisa kopi dinginnya dalam satu tegukan. Ia berdiri anggun, merapikan kemeja hitamnya.

"Aku harus ke laboratorium sekarang," kata Matthew seraya menatap Evelyn. "Minum kopinya sampai habis. Kalau si Cedric itu mengganggu atau bikin kamu pusing lagi... kamu tahu kan harus cari aku di mana?"

Evelyn mendongak, tersenyum tulus untuk pertama kalinya pagi ini. "Siap, Kak. Makasih ya buat obrolan dan candaannya."

"Sama-sama. Sampai ketemu di kampus, Eve."

Matthew berbalik dan melangkah keluar dari kedai kopi. Evelyn memperhatikan punggung tegap pria itu dari balik jendela kaca saat Matthew berjalan menuju mobilnya.

Untuk pertama kalinya setelah terbangun dari tragedi kematian yang mengerikan, Evelyn merasa ada setitik cahaya dan rasa aman yang hadir di kehidupannya yang baru.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!