Seorang pemuda yang memiliki rasa haus akan mimpi menjadi orang kaya, berangkat merantau penuh harapan tinggi.
Tapi, sesampainya dikota, tamparan keras menghantamnya.
Ternyata hidup dikota tidak semudah yang dia bayangkan.
Sampai pada akhirnya sistem datang seperti malaikat yang jatuh dari langit, memberi jalan baru baginya untuk melawan kerasnya hidup didunia orang dewasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gen-1, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17. Hadiah Skill Mengemudi Tingkat Dewa
Sementara Yuda fokus memeriksa berkas dan berbincang santai dengan pengemudi berjas hitam, 2 satpam tadi masih berdiri kaku di tepi halaman.
Meskipun pandangan mereka menyapu sekeliling demi menjaga keamanan, namun mata mereka terus-menerus tertarik secara magnetis ke arah tiga kendaraan fantastis di garasi tersebut.
Rasa penasaran yang sudah menumpuk sejak di pos pemeriksaan akhirnya tak sanggup ditahan lagi oleh salah satu satpam—sebut saja Bambang.
Dengan gerakan sangat pelan dan canggung, Bambang berpura-pura memegang ponsel di dadanya seolah sedang membaca pesan.
Padahal, ibu jarinya bergerak cepat membuka aplikasi kamera.
Cklik! Cklik!
Tanpa menyalakan lampu kilat, Bambang berhasil mengambil foto tersembunyi Koenigsegg Jesko Attack putih, Rolls-Royce Cullinan hitam, serta motor sport BMW yang berdiri sejajar.
"Ngapain kamu, Mbang?" bisik rekan satpam di sebelahnya, tetap berusaha mempertahankan gestur siaga.
"Ssst... Diam dulu. Aku sudah penasaran dari tadi sama harga kendaraan itu," bisik Bambang cepat tanpa menoleh. "Seumur-umur kerja di BSD city untuk mengawal mobil penghuni kaya, aku belum pernah lihat bentuk mobil yang warna putih itu. Mirip pesawat jet."
Bambang segera membuka fitur pencarian gambar di aplikasi perambanan.
Ia mengunggah foto Koenigsegg Jesko Attack.
Hanya butuh waktu dua detik hingga barisan artikel otomotif dan situs lelang internasional muncul di layarnya.
Mata Bambang menyipit membaca nama yang tertera: Koenigsegg Jesko Attack.
Lalu, pandangannya turun ke bagian estimasi harga pasar beserta kalkulasi konversi mata uang ke Rupiah.
Harga: USD 3,4 Juta - USD 4 Juta.
Estimasi Masuk RI (Termasuk Pajak Barang Mewah & Impor): Rp110.000.000.000 – Rp130.000.000.000.
Seketika, tubuh Bambang membeku.
Jarinya yang berada di atas layar sentuh mendadak kaku.
Napasnya tertahan di tenggorokan.
Ia mengedipkan matanya beberapa kali, mengira penglihatannya kabur karena silau sinar matahari.
Ia mendekatkan layar ponsel itu ke wajahnya, lalu mulai menghitung deretan angka nol yang berjejer di sana.
"Satu... dua... tiga... empat... sepuluh... sebelas..."
Deretan angka nol itu seolah melompat keluar dari layar dan menghantam dadanya secara beruntun.
Rp110.000.000.000,-
Seketika, kepala Bambang serasa kesemutan hebat!
Rasa dingin dan kebas mendadak merayap deras dari pangkal leher, naik membungkus seluruh ubun-ubunnya hingga ke pelipis.
Seratus sepuluh miliar rupiah! Untuk satu unit mobil saja!
Itu belum dihitung dengan Rolls-Royce Cullinan Black Badge di sebelahnya yang tertera seharga puluhan miliar, serta motor BMW yang bernilai satu miliar rupiah lebih!
Jika ditotal, nilai kendaraan di garasi ini bisa dipakai untuk membeli belasan unit vila mewah di NavaPark!
Rekannya sebut saja Jaya, yang sedari tadi ikut menatap layar HP Bambang juga membeku.
"S-seratus miliar lebih...?" desis Jaya suaranya gemetar parah.
Keduanya perlahan menoleh bersamaan, menatap ke arah Yuda yang sedang menyerahkan kembali pulpen ke pengemudi ekspedisi Kilat Kuning.
Pemuda berusia awal dua puluhan yang tadi siang datang menunggangi Honda Beat.
kini berdiri santai mengenakan kaos kasual di depan garasi, menjadi pemilik sah dari kendaraan bernilai ratusan miliar rupiah.
Rasa tegang, segan, dan takjub yang teramat sangat bercampur menjadi satu.
Namun, seiring sirnanya rasa tegang, muncul sensasi baru yang mendadak meletup hangat di dada mereka—sebuah kebanggaan dan rasa kehormatan yang luar biasa.
Tidak semua satpam, bahkan di kawasan ter-elite di negri sekalipun, mengawal hypercar bernilai ratusan miliar rupiah yang mungkin hanya ada satu-satunya di tanah air.
Hari ini, mereka bukan sekadar menjalankan tugas shift biasa.
Mereka baru saja menjadi saksi sejarah dari momen paling prestisius di BSD city.
"Mbang..." bisik Jaya pelan, senyum tipis muncul di bibirnya yang tadinya sempat pucat. "Seumur-umur kita kerja, ini pengawalan paling berharga yang pernah kita lakukan."
Bambang mengangguk setuju.
Rasa lelah dan ketegangan yang sempat menguras tenaganya tadi, mendadak berganti menjadi kebanggaan murni.
Kedua satpam itu membetulkan posisi berdiri mereka, membusungkan dada dengan postur yang makin tegap.
Pandangan mata mereka kini dipenuhi rasa hormat yang begitu mendalam saat menatap Pak Yuda dari kejauhan.
Bagi mereka berdua, mengawal pengiriman kendaraan milik Pak Yuda sore ini bukan lagi sekadar Prosedur Operasional Standar (SOP) pekerjaan, melainkan sebuah kehormatan besar yang bakal jadi cerita kebanggaan seumur hidup.
Setelah seluruh proses pemeriksaan dokumen rampung, Rudi membungkuk hormat.
"Semua dokumen dan kunci cadangan sudah diserahkan, Pak Yuda. Jika ada kebutuhan perawatan berkala atau garansi khusus, tim kami siap melayani 24 jam."
"Terima kasih banyak, pak. Hati-hati di jalan," balas Yuda sambil menjabat tangannya.
Truk car carrier raksasa itu perlahan bergerak mundur dan melaju meninggalkan pelataran vila.
Kini, tersisa Yuda dan dua satpam yang masih berdiri tegap di tepi carport dengan gestur siaga, meskipun raut wajah mereka masih menyisakan ketakjuban yang tak bisa disembunyikan.
Yuda melangkah mendekati kedua satpam tersebut.
Sambil tersenyum santai, ia merogoh dompetnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang kertas berwarna merah.
"Pak Bambang, Pak Jaya, terima kasih banyak sudah mengawal pengiriman mobil saya dari gerbang depan. Sangat tertib dan aman,"
Yuda menyodorkan uang tunai tersebut. "Ini ada sedikit uang kopi dan rokok premium buat temen-temen di pos."
Mata Bambang dan Jaya membelalak.
Uang di tangan Yuda setidaknya bernilai dua juta rupiah—jumlah yang sangat fantastis hanya untuk tugas pengawalan singkat di dalam kompleks!
"A-astaga, Pak Yuda... tidak usah repot-repot, ini sudah memang tugas kami," kata Bambang gagap, berusaha menolak dengan sopan meski tangannya bergetar.
"Terima saja, Pak. Hitung-hitung rezeki sore," paksanya lembut sambil menyelipkan uang itu ke tangan Bambang.
"Nanti kalau saya butuh bantuan lagi di kompleks, saya minta tolong ke Pak Bambang dan Pak Jaya."
"Siap, Pak Yuda! Terima kasih banyak! Kami siap melayani 24 jam jika Pak Yuda butuh bantuan apapun di NavaPark!" Jaya menjawab dengan suara lantang, matanya berbinar penuh rasa hormat.
Bagi mereka, Yuda bukan hanya pemuda terkaya yang pernah mereka temui, tetapi juga sosok yang sangat ramah dan menghargai orang lain.
Matahari sore mulai bergeser ke ufuk barat, memancarkan warna jingga keemasan yang menawan.
Yuda yang sudah tak sabar ingin merasakan performa monster barunya segera memegang kunci unik berbentuk tameng perak milik Koenigsegg Jesko Attack.
Sret!
Pintu dihedral synchro-helix terangkat secara otomatis ke atas dengan gerakan futuristik yang sangat halus.
Yuda melangkah masuk dan meluncur ke dalam kokpit berbalut Alcantara dan serat karbon murni.
Jemarinya mengusap lembut lingkar kemudi.
Sensasi nyata bahwa hypercar mahakarya dunia senilai ratusan miliar ini resmi menjadi miliknya mengalir deras, memicu lonjakan emosi bahagia dan kepuasan luar biasa yang membuncah hebat di dalam dadanya.
Ini bukan lagi sekadar mimpi.
Seketika, sebuah antarmuka transparan berkedip halus di benaknya.
[Ding! Terdeteksi Tuan Rumah dalam suasana hati sangat bahagia.]
[Hadiah:]
Uang Tunai: Rp100.000.000 (Telah ditransfer ke rekening Tuan Rumah)
[Skill Pasif: Skill Mengemudi Tingkat Dewa]
Wuuush!
Sensasi hangat mendadak menjalar di kepalanya.
Pengalaman mengemudi puluhan tahun, memori otot tingkat pebalap profesional dunia, pemahaman mendalam tentang limit gesekan ban, manuver drifting presisi mikro, hingga insting kontrol dinamika beban hypercar menyatu secara instan dalam otaknya.
Pandangannya saat menatap kokpit dan jalanan di depannya berubah total—ia tidak lagi sekadar melihat sebuah mesin buas bertenaga 1.600 horsepower, melainkan perpanjangan dari jiwanya sendiri.
Yuda mengangkat sudut mulutnya lebar-lebar, ketika selesai menerima hadiah skill mengemudi tingkat dewa.
"Sistem yang sangat perhatian, aku suka."
Dengan rasa percaya diri mutlak, jemarinya menekan tombol engine start.
VROOOMMM!
Begitu tombol engine start ditekan, mesin V8 twin-turbocharged 5.0 liter menyalak garang!
Denting raungan knalpot titaniumnya menggelegar diudara sekitar.
Yuda mengarahkan Jesko Attack putih itu keluar dari area gerbang utama NavaPark dibawah tatapan hormat satpam, menuju ke arah pintu masuk Tol Serpong–Balaraja.
Begitu meluncur di jalur tol yang mulai lengang menjelang petang, integrasi Skill Mengemudi Tingkat Dewa dalam tubuh Yuda bekerja secara otomatis.
Inderanya menjadi sangat tajam; setiap jengkal pergerakan ban, traksi jalanan, hingga hembusan angin terasa menyatu sempurna dengan refleks tubuhnya.
Tap!
Yuda menginjak pedal gas sedikit lebih dalam.
Monster bertenaga 1.600 tenaga kuda itu langsung melesat bagai anak panah yang dilepaskan dari busurnya!
Kecepatan di spidometer digital melonjak dari 80 km/jam ke 200 km/jam dalam hitungan detik tanpa hambatan berarti.
Di bawah langit sore yang memerah, Jesko Attack putih itu melesat mulus di lajur kanan Tol Serbaraja.
Cat putih bersihnya berkilau tersorot sinar matahari terbenam, terlihat kontras dan mencolok di atas aspal jalan tol.
Meski spidometer menyentuh angka 200 km/jam, bodi mobil tetap menempel stabil di jalanan tanpa ada getaran berarti.
Yuda sengaja tidak menekan pedal gas lebih dalam lagi.
Sebagai pengemudi tingkat dewa, ia tahu persis batas antara menikmati performa kendaraan dan membahayakan pengguna jalan lain.
Lagipula, jalan tol umum di sore hari bukanlah tempat yang tepat untuk melepas seluruh keganasan monster Swedia ini.
Ia menyimpan potensi liar Jesko Attack tersebut untuk momen yang lebih pas nanti.
Suara raungan mesin V8 di belakang kabin terdengar padat dan responsif setiap kali pedal gas disentuh sedikit saja.
Yuda bersandar santai di jok Alcantara, mengemudikan mobil ratusan miliar itu dengan satu tangan penuh kendali.
Menikmati kecepatan, performa mesin, dan pemandangan sore jalanan BSD yang melintas cepat di sampingnya.
Bab Berakhir.