Rafa Arya Prasetio adalah tipe lelaki kolot di zaman yang serba canggih ini. Dia itu hidupnya terlalu lurus, hanya dihabiskan untuk bekerja dan keluarga. Percaya gak, jika dia belum pernah pacaran di usia yang ke 28 tahun ini? Tapi dia sudah tidak perjaka. Enggak, dia bukan penganut *** before married. Tapi sipolos ini pernah meniduri seorang gadis saat tengah mabuk.
Dimasa depan, tiba-tiba ada seorang anak kecil yang datang ke kantornya dan mengaku anaknya. Kemana mamanya? Tidak tahu, anak itu bungkam dan mau tinggal sama Papa katanya. Yah, yang jadi Papanya itu dia.
Terus, kemana sosok ibunya? Masa kabur? Apa benar Rafa ayahnya anak itu? Tapi bagaimana bisa?
Ayo temukan kisah mereka di sini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Billa Hamkah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sakit
##
Rafa pernah merawat orang yang sedang sakit, itu juga dia hanya menunggu karena saat itu ada mama, dia hanya bergadang menunggu Alexa adiknya yang sedang sakit. Tapi sekarang, tengah malam tiba-tiba dirinya dibangunkan oleh suara ringisan anak kecil di sampingnya.
Awalnya Rafa mau mencoba mengabaikannya, karena mungkin seperti biasa Elvan pasti sedang bermimpi buruk seperti bermimpi dikejar dinosaurus lagi. Dia lelah, tidak ada tenaga untuk membasmi dinosaurus itu. Tapi lama-lama, ringisan itu terdengar semakin keras.
"Please ... ini tengah malam, kamu jangan aneh-aneh, deh!"
Rafa berusaha membuka mata, melirik ke samping seketika langsung dibuat terkejut saat melihat tubuh Elvan yang sudah penuh dengan keringat. Mata anak itu masih terpejam, tapi mulutnya tidak berhenti meringis kesakitan.
"Mama ... Elvan sakit ...."
"Mama ...."
"Mama ... peluk Elvan ...."
Entah mengapa mendengar gumaman Elvan, membuat sesuatu dalam diri Rafa ikut terluka. Sebulan hidup dengan bocah itu, membuat dia telah tanpa sadar menyayangi anak itu. Dia anak yang kuat. Tidak pernah mengatakan tentang ibunya, padahal untuk anak seumurannya, ibu harusnya adalah orang yang selalu dicari tapi anak itu kuat atau terpaksa kuat karena kondisi kedua orangtuanya yang seperti itu. Jadi, saat Elvan terus menyebut mamanya berarti anak itu benar-benar sedang sakit. Sekuat apapun seorang anak, pada saat sedang sakit pasti akan selalu mencari ibunya, bukan.
"Mama ... hiks ...."
Rafa kemudian memeriksa kening Elvan yang terasa sangat panas. Ini salahnya karena tadi saat hujan berlari menggendong Elvan dari minimarket ke mobilnya.
Sekarang Rafa bingung harus melakukan hal apa terlebih dahulu untuk merawat Elvan. Tidak mungkin, dia menelepon keluarganya dan menanyakan cara merawat seorang anak yang sedang sakit. Itu sama saja dengan menggali lubang kuburannya sendiri lebih cepat.
"Mama ...."
"Ok ... tenang ada Papa," balas Rafa sambil terus mengelus kening Elvan. Sebenarnya masih terasa asing saat menyebutkan dirinya sendiri dengan panggilan itu.
Dia memilih mencari ke internet cara merawat orang yang sedang sakit karena itu satu-satunya cara yang aman.
"Tunggu sebentar, yah!"
Setelah mengatakan itu, Rafa segera ke dapur untuk menyeduh air panas yang akan digunakan untuk kompres. Saat tengah duduk menunggu air panas, tiba-tiba ponselnya berbunyi.
Saat melihat ternyata nomer baru yang menelepon, Rafa memilih mengabaikannya. Dia tidak mau saat dalam situasi seperti ini, harus juga melayani drama yang kemungkinan para penipu. Tapi nomer itu berkali-kali meneleponnya untuk yang kesekian kalinya. Takut itu ada hal penting, dia akhirnya terpaksa mengangkatnya.
"Siapa? Gue lagi gak ada tenaga tengah malam begini buat menghadapi penipu."
"Elvan sakit?"
"Eh, siapa nih? Bukan modus penipuan?" Rafa benar-benar tidak mengenali suara wanita di seberang telepon, tapi kenapa dia mengetahui keberadaan Elvan yang sedang bersamanya?
"Kurang kerjaan banget gue, nipu orang kaya lo." Terdengar hembusan napas kasar. "Elvan sakit, yah?"
"Kalau kurang kerjaan, kenapa lo nelepon gue?" tanya Rafa mulai terpancing emosi. Akhir-akhir ini, dia memang seperti wanita yang sedang datang bulan yang emosinya setipis tisu.
"Kok, gue jadi khawatir yah, Elvan di sana diurus sama lelaki setres kaya lo." balas wanita itu di sebrang telepon tak kalah emosi.
"Siapa yang setres? Mau Lo apa, hah? Kalau tujuan lo nelepon cuman buat gue emosi, gue ma--"
"Tunggu, jangan dimatiin!" Terdengar teriakan wanita itu panik. "Gue mama-nya Elvan. Gue tiba-tiba merasakan sesuatu sepertinya terjadi sesuatu dengan Elvan. Dia sakit, yah?"
"Oh ... mama-nya, iya dia sa--eh, lo bilang barusan apa? Lo mama-nya? Jadi, lo oknum ibu yang udah gak bertanggungjawab dan buang anaknya gitu aja tanpa ngomong apapun ke gue?" teriak Rafa emosi karena ternyata wanita di teleponnya ini adalah penyebab semua setres dia belakangan ini.
"Lo bilang siapa yang gak bertanggungjawab?" teriak wanita di seberang telepon tak kalah emosi. "Gue udah hamil di luar nikah, ngandung dia selama 9 bulan, rawat dia selama 5 tahun. Sekarang gue titipin bentar karena ada urusan, lo bilang gue gak bertanggungjawab? Ngaca woi! Peran lo apa sebagai papa dia selama ini? Cuman nyumbang sperma doang!"
Rafa meringis mendengar fakta wanita itu jabarkan, dia menang merasa sangat tidak bertanggungjawab separah itu tapi itu juga bukan salahnya, memangnya dia tahu jika mempunyai seorang anak? Rafa bahkan sempat mencari keberadaan wanita yang menghilang bagai ditelan bumi itu. Emang kecebong-kecebong dia yang dilepas ke wanita itu, kasih tahu pas udah menang tender? Tidak, lah.
"Kenapa diam, sadar salah? Gue cuman nitip bentar anak kesayangan gue, nanti kalau urusan gue udah beres nanti diambil lagi. Anggap aja sekarang sebagai penebusan dosa lo!"
"Yang salah di sini bukan gue doang, yah! Inget, siapa yang menghilang padahal gue mau bertanggungjawab kalau lo datang minta. Lo nyadar lo juga salah, gak?"
"Gue gak--"
"Mama .... papa ... huwaaa!"
"Itu siapa yang nangis? Anak gue itu, sana lihat kenapa?" tanya wanita itu panik, Rafa juga tak kalah panik.
"Anak gue juga!" ujar Rafa sewot sempat-sempatnya membalas, setelahnya berlari ke kamar.
Sesampainya di kamar, Rafa menemukan Elvan sudah terduduk bersandar dengan wajah merah sambil terisak. Kemudian, Rafa segera menghampirinya Elvan, anak yang biasanya ceria sekarang terlihat tidak berdaya, dia merasa jadi tidak tega.
"Kenapa? Apa yang sakit?" tanya Rafa panik, tapi Elvan hanya terus menangis.
"Sayang ... ini Mama," panggil wanita itu, seketika tangisan Elvan terhenti, terlihat mencari-cari sumber suara yang sangat dirindukannya.
Rafa yang melihatnya tak kuasa merasa sedih, kemudian dia mendekatkan ponselnya ke arah Elvan. "Mama di sini."
Rafa menunjuk teleponnya yang akhirnya dimengerti oleh anak ini, sementara tangan dia yang lain memijit kening Elvan, berusaha sekecil apapun untuk mengurangi rasa sakitnya.
"Mama ...," panggil Elvan kembali terisak.
"Iya Sayang, ini Mama. Kamu sakit?" tanya wanita itu yang langsung diangguki Elvan, padahal wanita itu tidak melihatnya. "Hei ... kamu yang katanya papa-nya?"
"Iya, kenapa kamu yang katanya mama-nya?" jawab Rafa sangat malas.
"Coba cek suhu Elvan berapa?"
"Panas. Gue gak punya alatnya, pokoknya panas," balas Rafa setelah mengecek kening Elvan. Dia mulai terlihat tenang saat berbicara, tidak se-emosi tadi.
Sekarang yang lebih penting Elvan, anak mereka bukan emosi mereka. Apalagi sekarang Elvan sedang sakit, mereka harus bisa berdamai menanganinya, tidak mungkin terus bertengkar.
"Ada obat penurun panas, kan?"
"Kayaknya ada, ade gue pernah beli buat anaknya yang sakit, lupa dibawa waktu itu," jawab Elvan tak yakin, apakah ingatannya benar, yah?
"Ada gak?" tanya wanita itu mulai tak sabaran
"Iya, ada," balas Rafa masih tak yakin, tapi wanita itu terlalu berisik.
"Bagus. Bisa bikin bubur, gak?"
"Rafa mengangguk, kemudian menggeleng lupa jika wanita itu tidak melihatnya. "Bisa lah, gue kan cowok multitalenta."
"Bodo, gak penting," jawab wanita itu ketus. "Ya udah, sana bikin!"
"Sekarang?"
"Besok. Yah, sekarang lah, anak lo sakit sekarang bukan besok!" bentak Wanita itu kesal. "Sekalian seduh air panas buat kompres."
Rafa cemberut. "Giliran gini aja anak gue, emosian banget jadi cewek. Eh tunggu, eh ... anjir, gue kan lagi seduh air tadi. Gara-gara lo sih, berisik terus!"
"Lo aja yang Oon."
Rafa akan beranjak pergi, tapi sebuah tangan kecil menahannya. "Kenapa?"
"Papa ... jangan pergi. Temenin Elvan," rengek Elvan dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Rafa menghapus air mata anak itu. "Tunggu sebentar yah, aku bikin kompres dulu buat kamu, sekalian buat bubur juga, biar kamu makan terus nanti mam obat biar sembuh. Mau lawan dinosaurus lagi, gak? Masa pendekar sakit. Jadi tunggu sebentar, mau?"
Terlihat Elvan yang akan menggeleng. "Aku libur jadi pendekarnya soalnya dinosaurus juga lagi bobo. Aku gak mau mam obat, mau sama Papa."
Melihat Elvan seperti itu, mendengar anak itu mengatakan jika dia ingin bersamanya, rasanya dia ingin mengambil rasa sakit anak itu dan menggantikannya.
"Sayang, gak mau sama Mama, yah?" tanya Wanita itu tiba-tiba.
"Mama kan jauh, gak bisa peluk. Aku mau dipeluk," jawab Elvan sembari memeluk lengan Rafa erat.
Hati ibu mana yang tidak sedih mendengarnya, termasuk wanita itu. "Ingat gak, janji waktu itu apa? Sama Papa sebentar, nanti sama Mama lagi. Inget gak, hadiahnya apa kalau Elvan bisa melakukannya?"
Elvan mengangguk lemah. "Tamiya yang gede, Ma."
"Jadi, sekarang Papa boleh pergi dulu terus Elvan sama Mama dulu, mau Mama dongengin lagi? Boleh Papa pergi ke dapur?"
Elvan melihat Rafa, dibalas lelaki itu dengan senyuman. "Boleh Pa, aku mau dengerin dongeng."
Setelahnya, Elvan sudah melepaskan pelukannya.
"Makasih yah, udah mau nepatin janji."
"Sama-sama Ma, mau dongeng, sekarang!" teriak Elvan dengan suara lemahnya terlihat excited.
"Ya udah, Papa sana ke dapur, Elvan mau didongengin dulu sama Mama. Sana!" Diakhir seperti biasa wanita itu membentak.
Rafa yang tadi terblharu melihat interaksi ibu dan anak itu kembali sadar setelah dibentak. Dia juga senyum-senyum saat dipanggil papa oleh wanita itu, cuman lumayan geli saja. "Ok, Ma."
Wanita itu terdengar mendengung, kemudian Rafa tergelak.
"Tunggu, yah."
Setelah mendapatkan anggukan dari Elvan, Rafa menaruh ponselnya tepat di samping telinga Elvan. Kemudian, dia beranjak ke dapur.
Walaupun, satu pertanyaan terus bergelut di pikirannya. Sebenarnya, siapa sosok wanita itu sebenarnya? Wajahnya hanya teringat samar saking lamanya.
Sudah jam tiga pagi, setelah dirinya tadi sibuk di dapur dan memastikan Elvan makan bubur walau hanya lima suap, setelah itu minum obat dengan segala dramanya. Untungnya, panggilan telepon dengan wanita itu tidak mati, jadi dia tidak sendirian membujuk dan mengurus Elvan.
Entah kenapa, tadi mereka akur.
"Terimakasih, udah merawat Elvan," kata Wanita itu tiba-tiba setelah memastikan Elvan sudah kembali tidur.
Rafa tersenyum, walau wanita itu tidak melihatnya. "Gue juga makasih, tanpa lo gue juga gak bisa merawat Elvan sendirian malam ini."
Mereka sama-sama saling tersenyum, tanpa saling mengetahui. Setelahnya, keheningan menyelimuti mereka berdua, seolah saling mendengar deru nafas pertanda mereka saling menemani.
Tanpa sadar, sampai keduanya tertidur dengan panggilan yang masih tersambung. Seolah ini hal biasa. Seolah mereka memang keluarga utuh, padahal aslinya mereka tidak saling mengenal.
Elvan, anak mereka bisa menyatukan dua orang asing ini menjadi seolah tak asing.
##