NovelToon NovelToon
Transmigrasi:Aku Ingin Cerai,Suami Malah Bucin

Transmigrasi:Aku Ingin Cerai,Suami Malah Bucin

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Reinkarnasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: sopiakim

Selesai membaca novel drama yang bikin emosi, Naya malah mengalami kecelakaan dan terbangun di dalam tubuh figuran bernasib sama. Tahu alur tragisnya, ia memanfaatkan kontrak nikah 6 bulan untuk hura-hura pakai uang Damar suami kaya nan dingin yang terpaksa menikahinya lalu berniat kabur membawa uang kompensasi cerai!

​Namun, sikapnya yang berubah 180 derajat jadi cuek savage dan menganggap Damar sekadar ATM berjalan justru membalikkan alur cerita. Saat masa kontrak usai dan Naya menagih perceraian, Damar malah ngamuk tak rela dan mendadak berubah jadi suami posesif yang bucin parah!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11.Mantan aneh

Pukul lima sore tepat, sebuah mobil sedan hitam berhenti di depan mansion Diksara. Andre, sekretaris bertangan dingin yang sudah sangat terlatih menghadapi tingkah ajaib bosnya, keluar dari mobil dengan membawa dua kotak besar berlogo rumah mode ternama dari Paris.

Naya yang baru selesai berenang dan sudah mengeringkan rambutnya menyambut Andre di ruang tamu.

"Sore, Mbak Naya," sapa Andre sopan seraya membungkuk kecil. "Pak Damar meminta saya mengantarkan gaun dan perhiasan ini untuk acara makan malam nanti bersama para komisaris. Beliau juga sudah memesankan sesi make-up privat dengan MUA langganan Diksara Group."

Naya menatap kotak-kotak berkerlip emas itu dengan alis terangkat. "Wah, Mas Kulkas niat banget ya? Padahal tadi pagi bilangnya cuma 'formalitas penting demi citra perusahaan'."

Andre tersenyum bermakna, menyembunyikan tawa yang hampir meledak. "Pak Damar memang selalu menggunakan kata 'formalitas' untuk menutupi rasa pedulinya, Mbak. Tadi siang saja beliau membatalkan dua rapat penting hanya untuk memelototi katalog gaun ini selama satu jam penuh."

"Beneran?!" mata Naya berbinar jahil. "Dia milihin sendiri gaun ini?!"

"Tentu saja, Mbak. Beliau bahkan sempat menolak tiga gaun pertama karena menurut beliau potongan dadanya 'terlalu terbuka dan tidak sopan untuk udara malam'," bisik Andre penuh kerahasiaan.

Naya tertawa terpingkal-pingkal. Aduh Mas Damar, makin hari makin kelihatan banget gengsi tingginya! batin Naya puas.

Dua jam kemudian, di Grand Ballroom hotel bintang lima tempat berlangsungnya jamuan makan malam para komisaris Diksara Group.

Suasana ruangan begitu megah dengan lampu-lampu kristal gantung yang memancarkan cahaya keemasan. Para pengusaha papan atas, investor asing, dan jajaran komisaris senior berjas mahal berkumpul sambil menyesap champagne mahal dalam cangkir-cangkir kaca halus.

Damar Diksara berdiri di tengah ruangan, dikelilingi oleh tiga orang komisaris senior berpakaian serba hitam. Seperti biasa, raut wajah Damar nampak dingin bagai es, wibawanya memancar kuat, dan setiap kata yang keluar dari mulutnya terdengar sangat tegas dan terukur.

Namun, meskipun matanya menatap komisaris yang sedang bicara soal proyek infrastruktur, fokus Damar sebenarnya terbagi. Matanya sesekali melirik tajam ke arah pintu masuk ballroom.

"Pak Damar, bagaimana dengan rencana ekspansi ke Singapura kuartal depan?" tanya Pak Surya, komisaris paling senior dengan rambut memutih.

"Semuanya sudah berjalan sesuai rencana, Pak Surya. Laporan analisis risiko akan dikirimkan besok—"

Ucapannya terhenti seketika.

Pintu ganda ballroom terbuka lebar, dan seluruh pandangan tamu di dekat pintu mendadak teralih ke satu titik.

Naya melangkah masuk.

Cewek itu tampil sangat memukau. Ia mengenakan gaun malam berbahan sutra berwarna navy blue potongan A-line yang sangat elegan namun tetap terkesan mewah bersahaja. Rambut hitamnya disanggul modern dengan beberapa helai dibiarkan jatuh lembut membingkai wajah cantiknya yang dipoles make-up natural merona. Di leher mulusnya, melingkar sebuah kalung berlian tipis yang berkilau lembut diterpa lampu kristal.

Damar mematung di tempatnya berdiri. Manik matanya tak berkedip sedikit pun memandangi istrinya yang melangkah anggun. Jantung di balik jas mewahnya mendadak berdentum kencang tanpa kendali.

Dia... cantik sekali, bisik hati kecil Damar.

Naya yang menyadari keberadaan Damar langsung mengumbar senyuman manis. Cewek itu melangkah mendekat, mengabaikan tatapan kagum dari beberapa tamu pria muda yang berdiri di sepanjang jalan.

"Selamat malam, Mas Kulkas," bisik Naya halus saat sudah berdiri tepat di samping Damar, baunya yang harum manis seperti bunga melati langsung menyeruak masuk ke indera penciuman Damar.

Damar berdeham keras, buru-buru menyapu raut wajah kagumnya dan menggantinya dengan ekspresi datar yang kaku luar biasa.

"Kamu terlambat lima menit," desis Damar ketus demi menutupi rasa gugupnya yang mendadak menyerang.

Naya memutar matanya geli. "Biasa lah, dandan cantik itu butuh proses, Mas. Tapi jujur deh, gaun pilihan Mas ini pas banget di badan saya. Makasih ya!"

Wajah Damar mendadak hangat. Pria itu memalingkan wajahnya sedikit ke samping. "Andre yang memilihnya. Saya cuma menyetujui."

Naya tersenyum penuh kemenangan, sudah tahu dari Andre bahwa Damar-lah yang memelototi katalog gaun itu berjam-jam. "Oh gitu? Ya udah kalau Andre yang milih, nanti saya bilang makasihnya ke Andre langsung aja deh."

"Naya," tegur Damar cepat dengan nada menajam, melirik istrinya dengan mata menyipit.

Sebelum Naya sempat menggoda Damar lebih lanjut, Pak Surya dan komisaris lainnya sudah melangkah mendekat sambil tersenyum lebar.

"Wah, Pak Damar! Jadi ini Nyonya Diksara yang baru?" puji Pak Surya penuh kekaguman. "Sungguh sangat anggun dan memesona! Sangat serasi mendampingi Direktur Utama kita."

Naya membungkuk sopan dengan senyuman ramah. "Selamat malam, Pak Surya. Terima kasih atas pujiannya."

"Ternyata Pak Damar pinter banget milih istri ya! Tidak hanya cantik, tapi kelihatannya juga sangat cerdas dan hangat," timpal komisaris muda bernama Reza yang berdiri di samping Pak Surya. Reza menatap Naya dengan binar mata penuh ketertarikan. "Mbak Naya, kalau boleh tahu, kemarin lulusan mana ya?"

Naya melayani percakapan itu dengan sangat luwes dan menyenangkan. Humor santai namun tetap sopan dari Naya membuat para komisaris tua yang biasanya kaku mendadak tertawa lepas.

Namun di samping Naya, aura Damar makin lama makin mendingin. Terutama saat melihat Reza—komisaris muda yang memang terkenal agak genit itu—terus-menerus mencoba mengajak Naya berbicara dan sesekali tertawa terlalu dekat dengan istrinya.

Rahang Damar mengetat keras. Jemari tangannya mengepal di dalam saku celananya. Ada perasaan terbakar yang asing dan sangat panas menggelitik dadanya: cemburu.

Saat Reza hendak memajukan tubuhnya untuk menawarkan segelas champagne pada Naya, Damar dengan gerakan cepat melangkah satu detik lebih maju. Tanpa sepatah kata pun, Damar merengkuh pinggang halus Naya dari samping, menarik tubuh cewek itu hingga menempel erat pada pinggulnya.

DEG!

Naya terkejut pelan, menoleh kaget pada Damar.

Damar menatap Reza dengan pandangan tajam bagaikan elang yang siap menerkam mangsanya. "Istri saya tidak minum alkohol, Pak Reza," sahut Damar dengan suara dingin menusuk yang sanggup membuat suhu ruangan mendadak turun beberapa derajat.

Reza yang menyadari tatapan mematikan dari bos besarnya itu langsung menelan ludah dengan susah payah. tangannya yang memegang gelas mendadak gemetar tipis. "O-oh... begitu ya, Pak Damar. Maaf, saya tidak tahu."

"Kalau begitu, kami permisi dulu. Istri saya butuh istirahat dan makan," potong Damar tanpa memberikan kesempatan Reza membalas.

Tanpa menunggu tanggapan para komisaris, Damar langsung membawa Naya berjalan menjauh dari kerumunan, tetap memeluk pinggang Naya dengan protektif dan sangat erat.

Damar membawa Naya menuju area balkon luar yang lebih sepi dan sejuk. Udara malam kota berhembus pelan, menerpa gaun sutra Naya.

Begitu sampai di luar, Naya langsung melipat tangannya di dada, menatap Damar dari bawah ke atas dengan senyuman paling jahil yang pernah ada.

"Mas Kulkas..." panggil Naya dengan nada menggodanya yang khas.

Damar melepas pelukannya di pinggang Naya, merapikan jasnya yang sama sekali tidak kusut dengan gerakan kaku dan salah tingkah. "Apa?"

"Tadi itu apa maksudnya ya? Kok tiba-tiba meluk pinggang saya kenceng banget di depan komisaris? Terus mukanya melotot ke Pak Reza kayak mau ngajak perang dunia ketiga gitu?" goda Naya seraya memajukan wajahnya sedikit.

Damar memalingkan wajahnya ke arah pemandangan gedung-gedung tinggi di bawah mereka, menutupi telinganya yang mulai berubah warna menjadi merah tua.

"Saya cuma menjalankan peran sebagai suami di depan publik," sahut Damar beralasan, suaranya diusahakan sedatar mungkin padahal dadanya bergemuruh heboh. "Pak Reza itu orangnya tidak sopan. Saya tidak mau citra kamu sebagai istri saya ternoda gara-gara pria seperti dia."

"Alah! Bilang aja cemburu kan?!" seru Naya riang sambil tertawa mengejek. "Mas Damar cemburu liat saya ngobrol sama cowok lain!"

"Saya tidak cemburu!" bantah Damar cepat dan ketus, menatap Naya dengan mata melebar. "Gengsi saya terlalu tinggi untuk cemburu pada pria kelas dua seperti Reza."

"Masa sih?" Naya makin gencar menggoda. Ia melangkah satu tapak lebih dekat, menatap langsung ke dalam mata cokelat pekat milik Damar. "Tapi tangan Mas tadi gemeteran loh pas megang pinggang saya. Tangan enggak bisa bohong, Mas Kulkas!"

Damar terdiam seketika. Skakmat.

Pria CEO berkharisma yang ditakuti seluruh pebisnis kota itu kini membeku di depan istrinya sendiri. Lidahnya mendadak kufur kata-kata. Rasa malu dan gengsi yang luar biasa hebat menumpuk di dadanya, beradu dengan rasa suka yang makin tidak bisa ia tahan lagi.

Melihat Damar yang mati kutu dengan wajah memerah sampai ke leher, Naya makin puas. Cewek itu menepuk-nepuk dada tegap Damar dengan penuh rasa gemas.

"Udah deh Mas, kalau suka sama saya itu bilang aja. Jangan ditahan-tahan terus pake tameng gengsi. Nanti bisul loh!" kelakar Naya tertawa renyah.

Damar menangkap pergelangan tangan Naya yang berada di dadanya. Genggamannya tidak sakit, tapi sangat hangat dan erat.

Damar menatap mata bulat Naya dengan lekat, mengikis jarak di antara mereka. Senyuman di wajah Naya perlahan pudar digantikan oleh desiran aneh saat melihat tatapan dalam dari suaminya.

"Naya," bisik Damar dengan suara beratnya yang sangat seksi. "Saya memang gengsi. Tapi bukan berarti perasaan saya bercanda."

DEG!

Gantian Naya yang dibuat kaget setengah mati. Jantung Naya yang biasanya santai kini mendadak berdegup kencang tak beraturan.

Damar yang melihat Naya mendadak diam dan salah tingkah langsung menyunggingkan senyuman tipis—sebuah senyuman penuh kemenangan yang sangat jarang terlihat di wajah dinginnya. Sang CEO gengsian itu akhirnya berhasil membalas keterkejutan istrinya!

"Kenapa diam? Muka kamu merah," goda Damar ganti menelanjangi kepanikan Naya.

Naya buru-buru menarik tangannya dari genggaman Damar, memalingkan wajahnya seraya memegangi pipinya yang terasa seperti terbakar. "A-apaan sih! Siapa yang merah?! Ini efek lampu balkon tahu!"

Damar terkekeh pelan—suara kekehan yang sangat renyah dan tampan. Pria itu melepas jas mewahnya, lalu menyampirkan jas yang masih hangat itu ke bahu Naya untuk melindungi istrinya dari angin malam.

"Ayo masuk," ajak Damar tenang, kembali ke mode kaku dan gengsiannya namun dengan binar mata yang jauh lebih hangat. "Saya lapar. Dan setelah ini, kamu harus menemani saya makan pecel lele lagi."

Naya membelalakkan matanya. "Hah?! Mas Kulkas ketagihan pecel lele beneran?!"

"Saya cuma tidak mau makanan murah itu terbuang sia-sia kalau tidak ada yang membeli," kilih Damar beralasan sambil berjalan mendahului Naya dengan langkah tegapnya.

Naya yang berjalan mengekor di belakang sambil memakai jas kebesaran milik Damar hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum lebar. Dasar Damar Diksara! Sampai akhir dunia pun gengsinya bakal tetep dibawa mati! Tapi... kok gue makin suka ya?

_Bersambung

1
Luna
toh akhirnya si damar jadi ikutan stress juga kayak naya🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Luna
🤣🤣🤣aset dua milyar🤣🤣🤣🤣🤣bangke si Naya ini
Luna
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣njir baperan kali si damar
Luna
🤣🤣🤣🤣🤣
Luna
siap siap aja mama Ratna nyetok obat darah tinggi, stroke, jantung, asma🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Penulis kentang🍠: asli suka ngakak kebayang muka mama ratna🤣
total 1 replies
Luna
🤣🤣🤣🤣🤣awal yg bagus
Bambang Suanto
lanjut
Golda
😂😂😂
Diki Nd
🤣🤣🤣
Diki Nd
🤭🤭🤭
dinda aja
sukaaa kak
Pendi Gudung
sukaaa
Fadillah Langsa
ngakak terus
Ijal Messi
makanya tante diam aha🤣🤭🤣
Ijal Messi
pliss seru banget
li za
lucuuu🤭
li za
🤣🤣🤣
li za
seruuu yahh
Tugu Opak
seruuu
Lenovo A
🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!