NOVEL INI ADALAH FIKSI (Alternate Universe) DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT
Haruma dan Harumi, dua kakak beradik yang kini sudah kuliah semester 5 di salah satu universitas yang cukup ternama di Indonesia, tak lama lagi akan mengikuti sebuah lomba seni drama yang bertempat di Candi Prambanan.
Lomba itu mengangkat tema tentang kisah cinta Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang.
Akan tetapi, momen perlombaan yang diikuti oleh Haruma-Harumi justru akan menjadi sebuah pertunjukan yang MENUMPAHKAN DARAH MANUSIA ATAS NAMA DENDAM.
Seolah, kutukan Bandung Bondowoso kepada Roro Jonggrang, menimbulkan kutukan mengerikan.
Apa yang akan terjadi dengan Harumi saat tampil di atas panggung sakral di depan Candi Prambanan itu?
Dan apa yang akan dilakukan oleh Haruma?
.
.
.
DISCLAIMER‼️
Jika ada unsur sejarah, latar tempat, seni, budaya, nama tokoh, ritual, kepercayaan, dan mitos yang sama dengan kehidupan nyata, itu semua murni hanya untuk dijadikan bagian dalam cerita saja.
SELAMAT MEMBACA... ☺
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5 KEMARAHAN SANG IBU
Lorong Instalasi Gawat Darurat yang semula hanya diisi oleh suara derau mesin pendingin ruangan dan bisikan tegang petugas medis, kini pecah oleh isak tangis yang menyayat hati.
Langkah kaki Nisa yang gontai namun dipaksakan setengah berlari bergema di atas lantai ubin putih.
Matanya yang sembap dan sedikit memerah langsung terkunci pada sosok Yuda yang masih bersimpuh lemas.
Pakaian pemuda itu yang ada sisa-sisa noda merah kehitaman menjadi pemandangan yang menghancurkan sisa-sisa kewarasan Nisa malam itu.
"YUDA!!!" jerit Nisa.
Suaranya pecah, bergetar hebat membelah udara rumah sakit.
Wanita itu menerjang maju. Ia tidak memedulikan tatapan Inspektur Bayu, Dion, maupun beberapa perawat yang berada di lorong itu.
Dengan kedua tangan yang bergetar hebat, Nisa mencengkeram ujung kaos ketat di leher Yuda yang berlumuran darah, memaksa pemuda itu untuk berdiri.
"Apa yang kamu lakukan pada anak-anakku, Yuda?! APA YANG KAMU LAKUKAN???!!!" teriak Nisa tepat di depan wajah Yuda.
Air mata Nisa tumpah menderas, membasahi pipinya yang pucat pasi.
Tangannya yang mencengkeram kuat ujung kaos ketat Yuda, kini beralih memukuli dada pemuda itu dengan pukulan-pukulan putus asa.
Bugh!!! Bugh!!!
Pukulan itu tidak keras, namun bagi Yuda, setiap hantaman dari tangan ibu angkat kekasihnya itu terasa seperti godam yang meremukkan tulang rusuknya.
Yuda tidak menghindar.
Ia tidak menepis tangan wanita itu.
Ia membiarkan Nisa melampiaskan seluruh amarah dan kesedihannya.
Air mata Yuda sendiri kembali menetes, jatuh membasahi kaos ketatnya yang masih kotor oleh darah Haruma.
"Maafkan saya, Bu... Maafkan saya..."
Hanya kalimat itu yang mampu keluar dari bibir Yuda yang bergetar. Suaranya sangat lirih, nyaris tenggelam oleh isak tangis Nisa.
"Maaf?! Kamu pikir maaf bisa mengembalikan nyawa anakku?! Kamu pikir maaf bisa membersihkan nama Harumi?!" Nisa meronta, suaranya semakin melengking.
"Darah siapa ini, Yuda?! INI DARAH HARUMA, KAN?! JAWAB IBU, YUDA!!"
Zaki, suami Nisa yang sejak tadi tertinggal beberapa langkah di belakang karena napasnya yang memburu, akhirnya berhasil menyusul istrinya.
Namun, wajah pria itu terlihat lebih tenang. Walau terasa juga kemarahan bagi Yuda dari balik sorotan mata Ayah angkat kekasihnya itu.
Dengan susah payah, Zaki melingkarkan kedua lengannya dari belakang, menarik Nisa mundur agar menjauh dari Yuda.
"Istighfar, sayang... Istighfar! Ini rumah sakit. Jangan begini," bisik Zaki dengan suara serak yang bergetar menahan tangis.
Ia memeluk istrinya erat-erat, menahan rontaan Nisa yang semakin histeris.
"Lepaskan aku, Mas! Gara-gara anak ini! Gara-gara kegiatan teater itu!" Nisa meronta dalam pelukan suaminya, menunjuk tepat ke wajah Yuda dengan jari telunjuk yang gemetar.
"Sejak awal aku sudah bilang, Mas! Aku sudah melarang mereka ikut pentas drama itu! Apalagi di tempat itu! Tapi Yuda yang terus membujuk Harumi! Yuda yang bilang semuanya akan baik-baik saja!"
Dada Yuda terasa seperti ditusuk ribuan jarum.
Perkataan Nisa adalah kebenaran yang tak bisa ia sangkal.
Dialah yang terus menyemangati Harumi saat gadis itu sempat ragu untuk ikut dalam pementasan Roro Jonggrang di Prambanan.
Dialah yang meyakinkan Harumi bahwa ini akan menjadi kenangan indah masa kuliah mereka.
Namun, kenangan indah itu kini berubah menjadi ladang pembantaian yang merenggut segalanya.
Nisa tiba-tiba merosot, lututnya tak lagi mampu menopang berat badannya. Zaki ikut berjongkok, menahan tubuh istrinya agar tidak jatuh sepenuhnya ke lantai. Wanita itu menangis tersedu-sedu, menyembunyikan wajahnya di dada suaminya.
"Mereka memang bukan darah dagingku, Mas... Tapi aku merawat mereka sejak lama! Sejak lama, Mas! Dan akhirnya kita berdua membesarkan Haruma dan Harumi dengan susah payah! Kita menjaga mereka, menyembunyikan mereka dari hal-hal gelap itu..." Nisa meracau di sela isak tangisnya, mengucapkan kalimat yang membuat Yuda dan Dion saling berpandangan dengan kening berkerut.
Menyembunyikan dari hal-hal gelap??
Apa maksudnya hal-hal gelap itu??
"Sudah, sayangku... Sudah... Cukup," potong Zaki cepat, nadanya memperingatkan. Ia mengusap jilbab istrinya dengan lembut, namun sorotan mata Zaki menatap sangat tajam ke arah Yuda.
"Kita sudah menjaga mereka, Mas... Lalu kenapa Allah membiarkan ini terjadi?" isak Nisa lagi, suaranya kini terdengar sangat melemah dan putus asa.
"Haruma sekarang meregang nyawa di dalam sana... Dan Harumi... Putri kecilku, Mas... Polisi bilang dia ditahan. Dia dipenjara karena dituduh menusuk kakaknya sendiri! Harumi tidak mungkin melakukan itu, Mas! Dia tidak mungkin membunuh kakaknya!"
Melihat situasi yang semakin tidak terkendali, Inspektur Bayu akhirnya melangkah maju. Ia berdeham pelan, menempatkan dirinya sebagai figur penengah.
"Pak Zaki, Bu Nisa, Saya Inspektur Bayu dari kepolisian. Saya sangat memahami duka dan kepanikan yang Bapak dan Ibu rasakan. Namun mohon tenangkan diri Anda. Tim dokter sedang melakukan yang terbaik untuk saudari Haruma di dalam ruang operasi," ucap sang inspektur dengan nada tenang namun tegas.
Zaki mendongak menatap polisi itu.
"Pak... Tolong bebaskan anak saya, Harumi. Dia gadis yang baik. Dia bahkan tidak pernah menyakiti siapapun. Bagaimana mungkin dia menusuk kakaknya sendiri? Pasti ada kesalahan, Pak." ucap Zaki.
"Kami sedang menyelidiki kasus ini dengan sangat teliti, Pak Zaki. Saat ini saudari Harumi harus kami amankan demi kelancaran proses hukum. Bapak dan Ibu bisa menemuinya besok pagi di kantor polisi, setelah kondisi Ibu Nisa lebih tenang," jawab Inspektur Bayu diplomatis.
Zaki mengangguk pasrah. Ia tahu berdebat dengan polisi di lorong rumah sakit tidak akan menghasilkan apa-apa.
Pria itu kemudian perlahan berdiri, memapah istrinya yang masih menangis sesenggukan menuju deretan kursi tunggu yang kosong, sedikit menjauh dari posisi Yuda.
Sebelum Zaki duduk, ia menoleh kembali ke arah Yuda.
Tidak ada amarah yang meledak-ledak seperti istrinya.
Yang ada di mata Zaki hanyalah kekecewaan yang sangat dalam, membeku, dan tak tertembus.
"Yuda," panggil Zaki dengan suara datar yang mengiris hati.
Yuda mengangkat kepalanya yang sejak tadi tertunduk, menatap wajah Ayah angkat kekasihnya itu dengan mata sembap.
"I-iya, Pak..."
"Mulai detik ini, saya minta kamu menjauh dari keluarga kami," ucap Zaki pelan namun setiap suku katanya terdengar sangat tegas.
"Jangan pernah temui Harumi lagi! Dan jangan pernah datang ke ruang perawatan Haruma. Kehadiranmu dan ambisimu di dunia teater itu... sudah menghancurkan putri-putriku."
"Pak... Tolong jangan begini, Pak! Saya mencintai Harumi! Saya akan bertanggung jawab, Pak! Saya akan cari tahu apa yang sebenarnya terjadi!" Yuda memohon, melangkah maju setengah putus asa.
Namun Zaki mengangkat tangannya, menghentikan langkah Yuda.
"Pulanglah, Yuda... Atau saya yang akan memanggil satpam untuk mengusirmu."
Kalimat itu menjadi vonis mati bagi Yuda malam itu.
Pintu hatinya remuk sepenuhnya.
Ia menatap Nisa yang membuang muka, tak sudi melihat ke arahnya, lalu beralih menatap Dion yang hanya bisa menunduk tak berdaya.
Yuda kehilangan segalanya dalam satu malam...
Kekasihnya, sahabatnya, dan kini, keluarga Haruma dan Harumi yang selama ini selalu menyambutnya dengan hangat.
.....
.....
Dengan langkah yang diseret gontai, Yuda akhirnya berbalik.
Ia berjalan meninggalkan lorong IGD, membiarkan Dion tetap di sana untuk memantau kondisi Haruma.
Setiap langkah yang diambil Yuda terasa hampa, seolah ruhnya tertinggal di atas panggung Candi Prambanan.
Ia mendorong pintu kaca otomatis rumah sakit dan melangkah keluar menuju area parkir.
Udara malam yang berembus terasa sangat menusuk tulang.
Namun, saat Yuda baru saja melewati deretan mobil ambulans yang terparkir, sebuah hawa dingin yang sangat ganjil tiba-tiba menyapu tengkuknya.
Hawa dingin yang sama persis seperti yang ia rasakan di lorong IGD sesaat sebelum jantung Haruma berdetak kembali.
Yuda menghentikan langkahnya.
Ia menoleh ke sekeliling, namun area parkir itu sepi.
Hanya ada remang cahaya lampu jalan.
Lalu... di tengah keheningan malam itu...
Tiba-tiba...
.....
.....
GWOOOOOONNNGGG...
.....
.....
Sebuah suara ketukan gong yang sangat berat dan panjang tiba-tiba menggema, bukan dari kejauhan, melainkan bergaung jelas di dalam kepalanya sendiri.
Yuda membeku.
Matanya terbelalak menatap sudut gelap di balik pohon beringin besar di sudut area parkir rumah sakit.
Di sana, di antara bayang-bayang daun yang bergoyang ditiup angin, ia melihat sesosok bayangan perempuan bergaun merah menyala.
Bayangan itu berdiri membelakanginya, dengan rambut hitam panjang yang menjuntai hingga menyapu tanah.
Sosok itu menolehkan kepalanya perlahan...
Memamerkan senyuman menyeringai yang terasa...
SAMA PERSIS DENGAN SENYUMAN MENYERINGAI DARI HARUMI SAAT DI ATAS PANGGUNG CANDI PRAMBANAN ITU.
Dan sebuah bisikan terdengar dari sosok itu...
Bisikan yang lirih, dingin, dan berbahasa Jawa kuno yang merayap masuk ke telinga Yuda, membekukan darah di nadinya.
"OJO MLAYU, MANUNGSO... SEKABEHANE DURUNG RAMPUNG!"
Dan Yuda mengerti artinya...
(JANGAN COBA-COBA LARI, WAHAI MANUSIA... SEMUANYA BELUM SELESAI!)
kira kira ntar ada plot Twitter nya nggak ya, kek pov lain bwt bantu mereka. selain yuda