Ogah jadi istri kedua aki-aki tapi tak mau rugi, Elara (22) memutar otak saat hendak dijadikan istri muda oleh Pak Broto (65). Di tengah acara lamaran yang tegang, dengan nekat dia menunjuk pria berjas hitam di seberang meja.
"Maaf Pak, saya nolak jadi istri kedua Bapak. Tapi kalau nikah sama anak Bapak yang itu... saya mau."
Arka (30), CEO sekaligus anak tunggal Pak Broto, mendadak tersedak dan langsung mengiyakan tawaran gila itu, demi menyelamatkan perasaan ibunya. Namun, niat Arka menyelamatkan rumah tangga orang tuanya justru menjadi awal dari bencana di rumah mewahnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gadis bucin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tragedi Masa Lalu
Ruang kerja CEO di lantai paling atas gedung Valora Group mendadak dicekam keheningan yang menghimpit. Hawa dingin dari, pendingin udara seolah kalah menusuk dibandingkan dengan atmosfer tegang yang menguar, dari surat kaleng beramplop hitam di tangan Arka.
Rahang Arka mengeras, urat-urat di lehernya menegang saat matanya menatap tajam foto kusam berlatar tahun delapan puluhan itu. Wanita di dalam foto yang menggendong bayi laki-laki memiliki garis wajah yang sangat mirip dengan Elara, sementara wanita di sampingnya adalah sosok ibu yang selama ini merawat dan membesarkannya.
"Mas " panggil Elara pelan. Suara lembutnya memecah keheningan. Jemari mungil Elara menyusup ke sela-sela jemari Arka yang terasa dingin. Dia menggenggamnya erat-erat untuk mengalirkan kekuatan. "Mas Arka jangan berpikiran yang aneh-aneh dulu, ya? Kita belum tahu ini ulah siapa. Bisa jadi ini cuma teror susulan dari sisa-sisa anak buah Pak Broto atau Tuan Mahendra, buat memecah konsentrasi kita."
Arka menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Tatapan matanya yang semula tajam memancarkan kegelapan perlahan melembut, ketika menatap wajah cemas Elara. Dia membalikkan telapak tangan, menggenggam balik tangan sang istri.
"Saya tidak bisa tenang sebelum mendapat jawaban pasti, Elara," tutur Arka dengan suara serak yang tertahan.
Kemudian, "Ibu saya, wanita yang selama ini merawat dan membesarkan saya adalah alasan utama saya bertahan. Jika ada rahasia besar tentang kelahiran saya yang disembunyikan selama tiga puluh tahun, saya harus mendengarnya langsung malam ini," lanjutnya.
Elara mengangguk mantap tanpa ragu. "Kalau begitu, Ara ikut. Kita temui ibunya Ara sekarang."
Arka menatap Bagas yang masih berdiri siaga di dekat pintu. "Bagas, siapkan mobil. Kita ke rumah Ibu Hastuti sekarang juga."
"Baik, Pak Arka!" jawab Bagas tegas sebelum bergegas keluar melaksanakan perintah.
Perjalanan menembus pekatnya malam kota terasa begitu cepat. Mobil yang dikendarai Bagas membelah jalanan lengang, menuju kediaman Ibu Hastuti. Di kursi belakang, Arka tak banyak bicara, pikirannya berkelana menerka-nerka kemungkinan terburuk. Elara terus menyandarkan kepalanya di bahu tegap Arka, memeluk lengan suaminya seakan menegaskan bahwa apa pun yang terjadi, dia tidak akan pernah pergi.
Sesampainya di kediaman Ibu Hastuti, suasana rumah tampak tenang. Lampu taman temaram menyinari teras depan. Ketika pelayan membukakan pintu dan menyampaikan kedatangan Arka serta Elara, Ibu Hastuti yang sedang membaca buku di ruang keluarga tampak terkejut.
"Arka? Elara? Kenapa kalian datang larut malam begini, Nak?" tanya Ibu Hastuti heran, seraya bangkit berdiri. Senyum hangat di wajah senjanya perlahan memudar ketika melihat raut wajah Arka yang begitu serius dan tegang. "Ada apa? Apa ada masalah di perayaan tadi?"
Arka tidak menjawab dengan kata-kata. Langkah kakinya mendekat ke meja kaca di tengah ruangan. Dengan gerakan perlahan namun pasti, Arka mengeluarkan foto kusam dan surat kaleng berstempel tinta emas itu dari saku jasnya. Lalu meletakkannya tepat di hadapan Ibu Hastuti.
"Tolong jelaskan pada Arka, Ibu," ucap Arka dengan suara datar namun penuh emosi. "Apa maksud dari foto ini? Dan apa maksud tragedi melahirkan tiga puluh tahun lalu, yang disebutkan dalam surat ini?"
Mata Ibu Hastuti berkedip cepat saat melihat foto tua itu. Ketika matanya membaca setiap kata dalam surat berdarah dingin tersebut, warna kulit di wajah senjanya mendadak luntur. Wajahnya pucat pasi, dan tubuhnya limbung hingga hampir terjatuh jika saja Pak Hendra, yang baru keluar dari ruang kerja, tidak siap siaga menangkap bahunya.
"Hendra, mereka... mereka sudah menemukan foto ini," bisik Ibu Hastuti gemetar hebat, dengan air mata yang langsung menetes membasahi pipinya.
Pak Hendra menatap foto di atas meja dengan tatapan serba salah dan penderitaan yang mendalam. Pria paruh baya itu menghela napas panjang, sebuah helaan napas berat yang seolah telah ditahannya selama puluhan tahun.
"Sudah waktunya, Hastuti," kata Pak Hendra pelan pada istrinya. "Kita tidak bisa menyembunyikan kebenaran ini lebih lama lagi dari Arka dan Elara."
Elara merangkul bahu Ibu Hastuti, membimbing wanita tua itu untuk duduk perlahan di sofa. "Ibu, tenang dulu. Ara sama Mas Arka ke sini bukan mau menyalahkan siapa pun. Kami cuma mau tahu kebenarannya."
Ibu Hastuti menggenggam tangan Elara erat-erat. Air matanya kian deras mengalir. Ditatapnya Arka yang berdiri kaku di depan sofa.
"Arka, maafkan Ibu, Nak. Maafkan Ibu yang menyimpan rahasia ini begitu rapat," isak Ibu Hastuti. "Wanita di dalam foto itu, wanita cantik yang menggendong bayi laki-laki itu, memang ibu kandungmu yang sebenarnya."
Kata-kata itu menghantam dada Arka bagaikan godam berat. Jantungnya seakan berhenti berdetak seketika. "Lalu, ibu yang selama ini merawar Arka, beliau siapa, Bu?"
"Beliau adalah saudara kembar dari ibu kandungmu, Arka," sambung Pak Hendra dengan nada penuh penghormatan. "Tiga puluh tahun yang lalu, saat melahirkanmu di sebuah rumah sakit kecil di pinggiran kota, terjadi komplikasi pendarahan yang sangat hebat. Ibu kandungmu tidak terselamatkan beberapa jam setelah kamu lahir ke dunia."
Ruangan itu mendadak hening. Suara hembusan angin malam di luar jendela mempertegas kepedihan yang menyelimuti mereka.
"Sebelum menghembuskan napas terakhirnya," lanjut Ibu Hastuti dengan terisak, "ibu kandungmu mempercayakan bayi kecilnya, yaitu kamu, kepada saudara kembarnya dan kepada kami. Namun, tragedi malam itu tidak berhenti di sana. Ada pihak musuh bisnis keluarga yang sengaja memicu kebakaran di klinik tempat persalinan untuk memusnahkan bukti kepemilikan saham awal Valora."
Ibu Hastuti mendongak menatap Elara dan Arka bergantian. "Ibu yang merawatmu selama ini mengorbankan jiwanya menembus kobaran api demi menyelamatkanmu dan dokumen penting. Karena kejadian tragis itulah, saraf dan ingatannya terganggu hingga beliau harus menjalani perawatan panjang sebelum pulih seperti sekarang."
Elara membelalak kaget, menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Pak Hendra menimpali. "Ibumu dan Ibu kandung Arka adalah dua sahabat karib yang sudah menganggap satu sama lain seperti saudara kandung. Itulah sebabnya Kakek kalian mengikat perjanjian perjodohan ini sejak puluhan tahun lalu. Bukan hanya untuk mengamankan aset, tapi untuk menyatukan kembali darah dan takdir keluarga yang sempat terpisah oleh tragedi."
Arka memejamkan matanya rapat-rapat. Kenyataan bahwa wanita yang selama ini merawatnya dengan penuh kasih sayang adalah pahlawan yang mempertaruhkan nyawa demi menyelamatkannya dari kobaran api, sekaligus fakta bahwa ibu kandungnya telah lama tiada."
Arka berlutut di hadapan Ibu Hastuti dan Pak Hendra, menundukkan kepalanya yang terasa begitu berat.
Elara ikut berlutut di samping Arka, memeluk pinggang suaminya erat-erat, menyandarkan wajahnya di dada Arka. "Mas Arka, kamu dengar, kan? Semua orang di sekitar kita sangat menyayangi kamu. Kamu tidak sendirian."
Arka merengkuh Elara ke dalam pelukannya, membenamkan wajahnya di ceruk leher istrinya, seraya menghirup aroma menenangkan yang selalu berhasil mendamaikan hatinya.
Namun, di tengah momen emosional itu, Arka mendongak menatap Pak Hendra dengan tatapan mata yang kembali tajam dan mematikan.
"Siapa yang mengirim surat kaleng ini, Pak Hendra?" tanya Arka dingin. "Siapa dalang utama di balik kebakaran tiga puluh tahun lalu yang masih berkeliaran sampai hari ini?"
Pak Hendra mengepalkan tangannya di atas lutut. "Seseorang yang selama ini bersembunyi di balik nama besar konsorsium luar negeri. Seseorang yang baru saja kembali ke kota ini untuk merebut kembali apa yang dia anggap miliknya."