NovelToon NovelToon
ISTRI YANG DISINGKIRKAN DI HARI ULANG TAHUN PERNIKAHAN

ISTRI YANG DISINGKIRKAN DI HARI ULANG TAHUN PERNIKAHAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:205.7k
Nilai: 5
Nama Author: Barra Ayazzio

Di hari yang seharusnya menjadi perayaan cinta, dia justru disingkirkan dari hidup mereka.

Ketika seorang istri setia berharap mendapat kejutan di hari ulang tahun pernikahannya, yang ia terima justru pengkhianatan dari orang-orang yang paling ia percayai.

Suami yang berubah. Pelakor yang datang tanpa rasa bersalah. Serta ibu mertua dan ipar yang mendukung semuanya.

Akankah ia bertahan demi rumah tangganya?

Atau memilih pergi dan membuktikan bahwa dirinya mampu hidup tanpa mereka?

Siapkan hati kalian, karena kisah ini akan menghadirkan banyak air mata, kemarahan, penyesalan, dan tentunya balas karma yang memuaskan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22. Menuju Lembaran Baru

Arini melajukan mobilnya ke arah timur dengan tatapan lurus ke depan. Jalanan siang itu tidak terlalu padat, membuat laju mobilnya terasa mulus. Tak sekali pun ia menoleh ke belakang. Baginya, rumah yang baru saja ditinggalkan bukan lagi tempat untuk pulang, melainkan lembaran hidup yang telah selesai.

Tujuannya adalah toko online miliknya. Bangunan itu memang tidak hanya difungsikan sebagai tempat usaha, tetapi juga memiliki sebuah kamar tidur sederhana di lantai atas yang biasa digunakan untuk beristirahat ketika pekerjaan menumpuk. Arini sengaja memilih tempat itu sebagai persinggahan sementara.

Selain terasa lebih aman, toko online tersebut beroperasi selama dua puluh empat jam. Selalu ada karyawan yang berjaga secara bergantian untuk menerima pesanan, membalas chat pelanggan, mengemas barang, hingga mengatur pengiriman. Dengan begitu, Arini tidak perlu merasa sendirian. Setidaknya, di sana masih ada orang-orang yang bekerja dengan tulus bersamanya, bukan orang-orang yang terus menguras kesabaran dan hatinya.

Sesampainya di depan toko, Arini memarkir mobilnya perlahan. Mobil boks yang membawa seluruh barang-barangnya berhenti tepat di belakang. Ia mengembuskan napas panjang sambil menatap toko tanpa papan nama tersebut. Bangunan dua lantai itu lebih dari cukup untuk dijadikan tempat singgah sementara. Kini, setelah meninggalkan rumah Galang, Arini merasakan sedikit ketenangan. Tempat itu mungkin bukan bangunan rumah mewah, tetapi di sanalah ia merasa memiliki kendali atas hidupnya sendiri dan bisa memulai langkah baru tanpa bayang-bayang pengkhianatan.

Begitu mobil berhenti di depan toko online miliknya, tiga orang karyawan yang sedang bertugas langsung bergegas menghampiri. Wajah mereka semula dipenuhi senyum, tetapi berubah menjadi heran ketika melihat sebuah mobil boks berhenti tepat di belakang mobil Arini.

"Mbak Arini... ini semua barang Mbak?" tanya salah seorang karyawan dengan nada bingung.

Arini mengangguk pelan. "Iya. Tolong dibantu angkat ke atas, ya!"

Tanpa banyak bertanya, mereka segera membuka pintu mobil boks. Kardus-kardus berisi pakaian, perlengkapan pribadi, peralatan memasak, hingga beberapa koper diturunkan satu per satu. Mereka membawanya ke lantai dua, menuju kamar yang beberapa minggu lalu memang telah direnovasi atas permintaan Arini.

Kamar itu kini tampak jauh lebih nyaman. Dindingnya dicat dengan warna krem yang menenangkan. Lantai keramiknya mengilap karena baru saja dibersihkan. Sebuah tempat tidur berukuran sedang lengkap dengan kasur baru telah tertata rapi. Lemari pakaian berdiri di sudut ruangan, disertai meja kerja kecil dan rak buku. Pendingin ruangan yang baru dipasang membuat kamar itu terasa sejuk.

Sebenarnya, Arini merenovasi kamar itu hanya sebagai tempat beristirahat jika pekerjaannya menumpuk hingga larut malam. Namun, tak pernah terlintas dalam pikirannya bahwa suatu hari ruangan sederhana itu akan menjadi tempat tinggalnya.

Melihat barang-barang Arini memenuhi kamar tersebut, para karyawan saling berpandangan. Mereka bisa merasakan ada sesuatu yang besar telah terjadi.

Setelah semua barang selesai dipindahkan, Arini menghela napas panjang. "Terima kasih, semuanya."

Mereka hanya mengangguk, menunggu penjelasan dari perempuan yang selama ini mereka hormati sebagai atasan yang baik hati.

Arini memandang wajah mereka satu per satu. "Mulai hari ini... untuk sementara aku akan tinggal di sini."

Ucapan itu membuat suasana seketika sunyi. "Rumah tanggaku sudah berakhir."

Beberapa karyawan spontan terkejut. "Mbak... maksudnya?" tanya Rika dengan hati-hati.

Arini tersenyum tipis, tetapi senyum itu sama sekali tidak mampu menyembunyikan luka di hatinya.

"Suamiku memilih berselingkuh. Bahkan dia sudah menikah lagi tanpa seizin dan tanpa persetujuanku sebagai istri yang sah."

Ruangan itu kembali dipenuhi keheningan.

"Sekarang aku hanya tinggal menunggu sidang perceraian digelar di Pengadilan Agama. Setelah semuanya selesai, aku benar-benar tidak akan memiliki hubungan apa pun lagi dengan keluarga mereka."

Beberapa karyawan perempuan langsung menunjukkan raut prihatin. "Ya Allah, Mbak... tega sekali," gumam seorang karyawan sambil menggelengkan kepala. "Padahal selama ini Mbak sudah berjuang buat keluarga suami."

"Iya, Mbak. Kami sering lihat bagaimana Mbak membantu ekonomi keluarga mereka. Kok masih tega berselingkuh dengan wanita lain?""

Arini menarik napas pelan. "Sudahlah. Aku tidak mau terus mengingat semuanya. Bagiku, lembaran itu sudah selesai."

Ia kemudian menatap mereka dengan wajah serius.

"Aku juga ingin minta tolong."

"Kalau suatu saat mantan suamiku, ibu mertuaku, atau siapa pun dari keluarganya datang ke sini..."

Semua karyawan memperhatikan dengan saksama.

"...jangan layani kalau mereka meminta uang, barang, atau bantuan apa pun atas namaku. Jangan percaya apa pun yang mereka katakan. Kalau perlu, bilang saja aku tidak bisa ditemui."

"Baik, Mbak," jawab mereka hampir bersamaan.

"Aku sudah menutup lembaran itu. Aku tidak mau lagi dimanfaatkan oleh orang-orang yang hanya datang ketika membutuhkan sesuatu."

Ucapan Arini membuat beberapa karyawan perempuan merasa geram. "Kalau menurut saya, Mbak sudah terlalu baik selama ini," celetuk Rika.

"Iya. Mas Galang benar-benar rugi sudah menyia-nyiakan perempuan seperti Mbak."

"Selama saya bekerja di sini, saya lihat sendiri bagaimana Mbak banting tulang dari pagi sampai malam. Hasil kerja keras Mbak justru dinikmati orang lain. Malah dibalas dengan pengkhianatan."

"Benar. Saya sebagai perempuan saja ikut sakit hati mendengarnya."

Arini hanya tersenyum tipis.

"Mungkin ini memang jalan yang Allah pilihkan untukku. Sekarang aku hanya ingin fokus membesarkan usaha ini dan menjalani hidup dengan tenang."

Semua karyawan mengangguk penuh hormat. Dalam hati mereka, rasa simpati kepada Arini semakin besar. Mereka juga bertekad akan menjaga atasannya itu sebaik mungkin, termasuk memastikan tidak seorang pun dari keluarga Galang bisa lagi memanfaatkan kebaikan perempuan yang selama ini telah dianggap seperti keluarga sendiri.

Di tengah kesibukan para karyawan menata kardus-kardus berisi barang-barang miliknya, ponsel di dalam tas Arini tiba-tiba berdering. Nama yang muncul di layar membuat alisnya sedikit terangkat.

**Rani – Asisten Bu Elsa.**

Tanpa menunda, Arini segera mengangkat panggilan itu. "Halo, assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumussalam. Selamat siang, Mbak Arini. Saya Rani, asistennya Bu Elsa."

"Iya, Mbak Rani. Ada yang bisa saya bantu?"

"Saya menghubungi Mbak karena berkas gugatan cerainya sudah kami siapkan. Ada beberapa dokumen yang harus segera ditandatangani supaya proses pendaftarannya bisa langsung kami ajukan ke Pengadilan Agama. Kira-kira sekarang Mbak sedang berada di mana? Saya bisa menemui Mbak."

Arini sempat terdiam beberapa detik. Ia tidak menyangka prosesnya bergerak secepat ini. Namun, justru itulah yang ia inginkan. Semakin cepat semuanya diproses, semakin cepat pula ia terbebas dari ikatan yang selama ini hanya menyisakan luka.

"Wah... cepat sekali, ya."

"Iya, Mbak. Bu Elsa ingin semuanya segera diproses agar tidak berlarut-larut."

Arini mengangguk pelan, meski lawan bicaranya tidak dapat melihat.

"Kalau begitu, silakan saja ke toko online saya. Alamatnya di Jalan Melati Nomor 1."

"Baik, Mbak. Saya langsung meluncur ke sana."

"Baik, Mbak Rani. Saya tunggu."

"Terima kasih, Mbak. Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumussalam."

Sambungan telepon pun terputus.

Arini menurunkan ponselnya perlahan. Tatapannya kosong beberapa saat, seolah sedang mencerna kenyataan bahwa langkah yang selama ini hanya ada dalam pikirannya kini benar-benar akan diwujudkan.

Berkas gugatan cerai. Kalimat itu menggema di dalam benaknya.

Dulu, ia selalu membayangkan akan menua bersama Galang, melewati suka dan duka hingga rambut mereka memutih. Namun, semua impian itu hancur ketika lelaki yang dicintainya memilih mengkhianati kesetiaan yang selama ini ia jaga.

Kini, tidak ada lagi keraguan. Yang tersisa hanyalah tekad untuk mengakhiri semuanya secara baik-baik melalui jalur hukum.

Arini mengembuskan napas panjang, lalu memasukkan kembali ponselnya."Sebentar lagi akan ada tamu dari kantor pengacaraku. Tolong kalau sudah datang langsung antarkan ke ruang meeting, ya."

"Baik, Mbak," jawab mereka serempak.

Arini mengangguk pelan. Dalam hitungan menit, ia akan membubuhkan tanda tangan pada berkas yang menjadi awal berakhirnya rumah tangga yang selama ini telah ia perjuangkan seorang diri.

_________________________________

Hai Readers jangan lupa mampir ke novel aku yang lainnya ya!

Rahasia Masa Lalu Suami dan Sang Ipar (sudah tamat).

Ditalak Sesaat Setelah Akad (sudah tamat)

Benang Putus Karena Cinta Pertama. (Up)

Oh iya jangan lupa beri masukan dan kritikan yang membangun yah, biar makin semangat up novelnya. Terimakasih 🙏🏼🙏🏼🙏🏼

1
Sinta Dewi
waaaww , apakah kecurangan nya udah bertahun tahun , kalo iya berarti hasil dari korupsi itu udah bisa bikin 1 resto lg tuh , penyelewengan dana & jabatan ini emang dimana mana gak pandang tempat 🤭🤭
Sinta Dewi
itulah kehidupan , alam mengajarkan bagaimana hukum tabur tuai berlaku semua ada konsekuensinya , ada harga yg harus dibayar .... terima kasih othor yg baik 🙏
Cicih Sophiana
biar pun Galang dan kluarga nya jahat jg... tp semoga pak Hardi dan si Mayang dapat karma nya...
Maria Magdalena
semoga klrg Galang pada tobat dan memulai dari bawah menerima keadaan.
Cicih Sophiana
knp ketauan nya dgn pak Hardi bukan dgn yg lain...
Cicih Sophiana
bongkar jg bapak nya yg sering anu anu dgn si pelakor🫢😀😀
Cicih Sophiana
🤣🤣🤣🤣🤣 Galang dikira kamu rumah nya mau di wariskan ke kamu... idih berharap banget ya🤣🤣
Cicih Sophiana
Alhamdulillah akhir nya bebas dari kluarga benalu Rin...
Cicih Sophiana
ayo sekarang giliran si pelakor yg tenar... masa dia udah lama belum ketauan sih... tp lebih seru lg klo lagi gancet dgn bapak mertua nya...
Cicih Sophiana
itu menantu idaman ibu lebih parah lg... menantu biar tiri itu menatu luh... kok masih mau bapak peke padahal di luaran sana jg dia gunta ganti orang🫢😅😅😅
Cicih Sophiana
ayo thor sekarang si Mayang yg ketauan jual diti... biar kapok semua termasuk bapak tiri nya yg sering make si Mayang
Cicih Sophiana
kasian jg sih si Vera... semenjak di tinggal Arini gak punya uang... uang nya di pegang si pelakor satunya.. 😀
Cicih Sophiana
wah wah Vera udah ketagihan nih... knp si Mayang gak ketauan ketauan yah... mau nya sih si Mayang dulu yg ketauan jadi pe**k
Cicih Sophiana
ya ampun si Mayang pergi knp sekali sekali dia gak ikutin .. biar tau dia kemana ? masa tiap hari pergi gak ada yg curiga
Cicih Sophiana
semoga cepat beres semua ya Rin... bebas dari benalu
Cicih Sophiana
Galang gak datang krn surat panggilan nya gak dia terima yah...
Cicih Sophiana
ya semoga aja perceraian nya lancar ya Arin
Sinta Dewi
kenapa gak pulang ke jogja aja , kok pikiran nya sempit
Sinta Dewi: oalaaahh , jd aslinya gak punya apa apa toh , segitu sombongnya gimana kalo ditakdirkan jd sultan bisa kacau dunia per novelan 😄🤣
total 2 replies
Cicih Sophiana
Vera demi duit jual diri Galang... kamu jg kan begitu lg punya duit kamu selingkuh
Arin
La.... urusan kelangsungan hidup keluarga ibu..... mikir sendiri lah. Masa mantan menantu yang sudah disakiti suruh nanggung dan ikut mikir juga. Aneh memang Ibu Sumarni ini....
Arin: iya gak nyambung. Mungkin nyambungnya kedengkul🤭🤭🤭
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!