NovelToon NovelToon
CINTA YANG JATUH LEBIH DULU

CINTA YANG JATUH LEBIH DULU

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / CEO / Cintapertama / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ratna Jivana

Kirana, mantan putri sultan yang kini harus bekerja demi bertahan hidup, selalu bentrok dengan Rangga, CEO dingin dan galak yang tak pernah menemukan karyawan seberani dirinya.

Tanpa Kirana sadari, Rangga justru jatuh cinta lebih dulu. Di balik sikap kerasnya, ia diam-diam selalu melindungi dan memperhatikan Kirana. Sementara Kirana perlahan melihat sisi lembut pria yang selama ini dianggapnya sebagai bos toxic.

Namun cinta mereka diuji oleh kesalahpahaman, mantan kekasih, konflik keluarga, serta perjuangan Kirana membangun kembali hidupnya tanpa kemewahan. Dari pertengkaran dan cinta yang awalnya bertepuk sebelah tangan, keduanya akhirnya menyadari bahwa mereka adalah tempat pulang satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jivana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6 — Senior yang Tidak Ramah

Minggu pertama kerja Kirana berjalan lebih baik dari yang ia bayangkan—setidaknya soal pekerjaan itu sendiri. Ia cepat belajar, rajin bertanya, dan tidak segan lembur sedikit lebih lama untuk memastikan tugasnya selesai dengan benar. Namun ada satu hal yang mulai terasa mengganjal: Sandra.

Sejak hari pertama, Sandra selalu punya cara halus untuk membuat Kirana tidak nyaman. Awalnya kecil-kecil saja—komentar sinis tentang "anak sultan yang jatuh miskin", tawa mengejek yang dibisikkan ke rekan lain saat Kirana lewat, atau tugas-tugas yang selalu dilimpahkan ke meja Kirana di menit-menit terakhir dengan alasan "kamu kan masih baru, belajar dong."

"Kirana, tolong rekap data penjualan bulan ini, ya. Aku mau presentasi ke Pak Rangga jam dua siang," kata Sandra suatu pagi, menyerahkan setumpuk berkas setebal dua senti dengan senyum manis yang terasa dipaksakan.

Kirana melirik jam di dinding—pukul sebelas siang. "Jam dua siang, Kak? Ini berkasnya banyak banget, saya khawatir nggak selesai tepat waktu kalau cuma tiga jam."

"Ya makanya cepetan dikerjain, jangan banyak protes," balas Sandra ketus, sebelum berjalan pergi sambil memainkan ponselnya, meninggalkan Kirana yang menghela napas panjang menatap tumpukan berkas di mejanya.

Kirana bekerja secepat mungkin, melewatkan jam makan siang, jari-jarinya mengetik tanpa henti sambil sesekali menyeka keringat dingin di dahinya. Ia berhasil menyelesaikan rekapan itu sepuluh menit sebelum jam dua, dengan napas terengah-engah karena terburu-buru, lalu menyerahkannya ke Sandra dengan bangga.

"Ini, Kak. Sudah selesai."

Sandra menerima berkas itu tanpa berterima kasih, membolak-balik sekilas, lalu mengangguk singkat. "Oke."

Sore harinya, Kirana mendengar dari salah satu rekan kerja bahwa presentasi Sandra berjalan lancar dan mendapat pujian dari Rangga karena datanya rapi dan akurat. Tidak ada satu kata pun tentang siapa yang sebenarnya mengerjakan rekapan itu.

Kirana tidak terlalu ambil pusing soal pengakuan—ia paham posisinya sebagai staf baru, wajar kalau belum dapat sorotan. Tapi yang membuatnya kesal adalah, keesokan harinya, Sandra kembali melimpahkan tugas serupa, kali ini dengan tenggat yang lebih mepet dan nada yang lebih memerintah.

"Kak Sandra, boleh saya tanya sesuatu?" Kirana akhirnya memberanikan diri bertanya, suatu siang saat mereka berdua kebetulan sendirian di pantry kantor.

"Apa?" Sandra menjawab tanpa menoleh, sibuk menuangkan kopi ke gelasnya.

"Kenapa tugas-tugas yang harusnya Kakak kerjakan sering dilimpahkan ke saya? Saya nggak keberatan belajar, tapi kadang saya jadi nggak sempat ngerjain tugas saya sendiri karena keburu ngerjain punya Kakak."

Sandra berbalik, menatap Kirana dengan alis terangkat, seolah pertanyaan itu adalah sesuatu yang lancang. "Kamu itu staf junior, Kirana. Tugas kamu ya bantu senior. Emangnya kamu pikir kamu siapa? Masih mikir kamu putri sultan yang bisa protes sana-sini?"

Kata-kata itu menusuk lebih dalam dari yang Sandra kira. Kirana menahan diri, mengatur napas sebelum menjawab. "Saya nggak lagi mikir gitu, Kak. Saya cuma pengen kerja saya dinilai adil, itu aja."

"Adil?" Sandra tertawa sinis. "Kamu pikir dunia kerja itu adil? Selamat datang di kenyataan, Non. Di sini, yang kuat yang bertahan, yang lemah ya digilas. Kamu mau bertahan, ikutin aturan mainnya."

Kirana tidak membalas lagi, memilih keluar dari pantry dengan hati yang berat. Malam itu, di kamar kosnya, ia menceritakan semuanya ke Dewi lewat telepon, suaranya bergetar menahan kekesalan yang sudah dipendam seharian.

"Astaga, itu namanya bullying, Kir! Kamu harus lapor ke atasan!" seru Dewi geram di seberang telepon.

"Nggak segampang itu, Dew. Aku kan masih baru, belum tentu dipercaya. Lagian aku nggak mau dicap tukang ngadu di minggu-minggu pertama," jawab Kirana lesu.

"Terus kamu mau diem aja dijadiin babu?"

Kirana terdiam sejenak. "Enggak. Aku cuma... butuh waktu buat mikirin cara yang tepat. Aku nggak mau kalah sama Sandra, tapi aku juga nggak mau bikin masalah besar di awal."

Hari-hari berikutnya, pola yang sama terus berulang. Sandra semakin berani melimpahkan pekerjaannya, bahkan beberapa kali sengaja "lupa" memberi tahu detail penting sebuah tugas, sehingga Kirana harus menebak-nebak sendiri dan berisiko melakukan kesalahan. Rekan-rekan kerja lain tampaknya sudah terbiasa dengan kelakuan Sandra dan memilih diam, tidak ingin terlibat.

Namun, tanpa Kirana sadari, ada sepasang mata yang diam-diam memperhatikan dinamika ini dari kejauhan.

Rangga, yang sesekali turun ke lantai delapan untuk mengecek langsung kinerja timnya—kebiasaan yang jarang ia lakukan namun belakangan makin sering, entah kenapa—mulai memperhatikan pola aneh dalam laporan-laporan yang masuk. Beberapa laporan yang diklaim Sandra ternyata gaya penulisan dan tingkat detailnya sangat berbeda dari laporan-laporan Sandra sebelumnya—jauh lebih rapi, lebih terstruktur, dengan analisis yang lebih tajam.

Ia juga tidak sengaja mendengar sepotong percakapan di pantry suatu sore, saat ia lewat untuk mengambil air minum, suara Sandra yang meninggi menegur seseorang dengan nada merendahkan yang sangat kentara. Rangga berhenti sejenak di balik dinding, mendengarkan tanpa berniat menguping, namun tetap saja menangkap cukup banyak informasi untuk membuat alisnya berkerut.

Ia tidak langsung bertindak. Rangga bukan tipe orang yang gegabah mengambil kesimpulan. Tapi mulai saat itu, ia diam-diam memperhatikan lebih seksama—bukan hanya kinerja timnya secara umum, tapi lebih spesifik lagi, memperhatikan gadis baru bernama Kirana yang belakangan tidak bisa ia hentikan untuk pikirkan, bahkan di luar jam kerja.

1
Rian Moontero
mampiiirr👍
moana family: terima kasih kk🥰
total 1 replies
moana family
hiii readers mohon dukungan yaa...🥰🥰
ini novel saya pertama🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!