Selesai membaca novel drama yang bikin emosi, Naya malah mengalami kecelakaan dan terbangun di dalam tubuh figuran bernasib sama. Tahu alur tragisnya, ia memanfaatkan kontrak nikah 6 bulan untuk hura-hura pakai uang Damar suami kaya nan dingin yang terpaksa menikahinya lalu berniat kabur membawa uang kompensasi cerai!
Namun, sikapnya yang berubah 180 derajat jadi cuek savage dan menganggap Damar sekadar ATM berjalan justru membalikkan alur cerita. Saat masa kontrak usai dan Naya menagih perceraian, Damar malah ngamuk tak rela dan mendadak berubah jadi suami posesif yang bucin parah!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35.insiden aneh
Matahari perlahan tenggelam di balik cakrawala kota Jakarta, menyisakan bias jingga keemasan yang menembus celah tirai kamar utama mansion Diksara. Di dalam kamar mandi, suara gemercik air yang beradu dengan lantai keramik baru saja berhenti.
Naya berdiri di depan cermin besar beruap, menyeka sisa-sisa air di wajahnya setelah selesai mandi dan keramas. Karena terburu-buru, ia lupa membawa baju ganti bersih ke dalam kamar mandi. Dengan santai, gadis itu melilitkan sehelai handuk putih tebal berukuran besar pas di atas dadanya, menutupi tubuhnya dari area dada hingga paha, sementara rambut panjangnya yang masih basah dibiarkan tergerai meneteskan air ke lantai.
Ah, bodo amat. Toh di kamar cuma ada aku sendiri. Si Kulkas kan biasanya masih sibuk bertelepon ria atau berkutat dengan laporan di ruang kerjanya sampai jam delapan malam, gumam Naya dalam hati, merasa aman tanpa beban.
Ia pun memutar kenop pintu kamar mandi dan membukanya lebar-lebar dengan santai sambil bersenandung kecil.
Namun, di detik yang sama, takdir sepertinya sengaja mempermainkan detak jantung Naya malam ini.
Pintu penghubung antara kamar utama dan ruang kerja tiba-tiba terbuka dari luar tanpa ada aba-aba atau ketukan sama sekali. Sosok Damar Diksara melangkah masuk begitu saja ke dalam kamar utama—pria itu berniat mengambil dokumen laporan penting yang tertinggal di atas meja rias, tanpa menyangka bahwa sang istri baru saja keluar dari kamar mandi.
Ceklek.
Langkah kaki Damar langsung terhenti seketika.
Udara di dalam kamar mendadak membeku. Sepasang mata tajam sang CEO langsung menangkap pemandangan yang membuat seluruh alur darah di tubuhnya mendadak berdesir hebat.
Di hadapannya kini, Naya berdiri terpaku di ambang pintu kamar mandi. Kulit mulusnya yang sedikit lembap akibat uap air tampak bersinar diterpa cahaya lampu kamar. Handuk putih tebal yang melilit tubuhnya memperlihatkan bahu jenjang yang terbuka, garis leher yang anggun, serta kaki jenjangnya yang terekspos sempurna. Tetesan air dari ujung rambutnya yang basah mengalir perlahan melewati leher, turun ke tulang selangka, menciptakan pemandangan visual yang membuat akal sehat Damar mendadak jungkir balik.
Naya membelalakkan matanya lebar-lebar. Mulutnya sedikit terbuka karena syok luar biasa.
"KYAAAAKKK! NGGAK SOPAN BANGET MASUK NGGAK KETUK PINTU DULU?!" teriak Naya histeris, spontan menyilangkan kedua tangannya di depan dada untuk menutupi diri sambil melompat mundur masuk kembali ke dalam kamar mandi.
Brak!
Pintu kamar mandi tertutup rapat dengan bunyi hantaman keras.
Di luar kamar mandi, Damar berdiri mematung bagaikan tersambar petir. Jantungnya bergemuruh hebat, berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya. Pria berdarah dingin itu segera mengerjap kerdip, menarik napas dalam-dalam, lalu buru-buru memalingkan wajahnya yang mendadak terasa panas. Tanpa sadar, telinganya memerah padam.
Sial... batin Damar merutuki kecerobohannya sendiri, sementara bayangan sosok Naya yang hanya dibalut handuk putih terus berputar-putar di dalam kepalanya tanpa bisa diusir. Kenapa pemandangan tadi harus terekam jelas di kepala?!
Meskipun gengsi tingkat dewanya melarangnya untuk blak-blakan mengakui perasaannya, di dalam hatinya yang paling dalam, gelombang keinginan untuk semakin memiliki Naya membuncah begitu kuat. Ia menyadari bahwa perasaannya sudah jauh melampaui batas profesionalitas kontrak. Namun, lidahnya tetap kelu. Ia tidak mungkin mengatakan kalimat-kalimat manis secara langsung. Gengsinya terlalu tinggi. Sebagai gantinya, pertahanan dingin Damar mulai runtuh dalam bentuk lain: ia jadi lebih sering mencuri-curi pandang dan mencari perhatian kecil pada sang istri.
Lima belas menit kemudian, Naya akhirnya keluar dari kamar mandi dengan mengenakan piyama tidur terusan bergambar beruang kutub yang longgar dan tertutup rapat dari leher hingga mata kaki—pakaian paling aman untuk meredam ketegangan.
Damar sudah duduk di tepi ranjang king size, berpura-pura fokus membaca lembaran dokumen di tangannya. Namun, begitu mendengar langkah kaki Naya, sudut mata Damar secara otomatis melirik ke arah istrinya. Ia mencuri-curi pandang, mengamati rambut Naya yang masih setengah basah, lalu dengan canggung meletakkan dokumennya di nakas.
"Itu..." suara Damar terdengar sedikit serak dan kaku, berusaha memasang nada datar senatural mungkin. Ia meraih pengering rambut di laci nakas lalu menyodorkannya ke arah Naya tanpa menatap langsung. "...rambut kamu basah. Nanti masuk angin. Keringkan dulu."
Naya, yang masih merasa salah tingkah dan malu setengah mati gara-gara insiden handuk tadi, mendengkus sewot. Ia melipat kedua tangannya di dada, menatap suaminya dengan curiga.
"Dih, peduli amat! Biasa juga dibiarin kering sendiri!" balas Naya ketus, berusaha menutupi rona merah di pipinya. "Nggak usah sok perhatian deh, simpan aja perhatian palsu itu buat diri sendiri!"
Damar merengut kaku. Gengsinya langsung terpukul mendengar penolakan mentah-mentah itu. Alih-alih mendebat, pria itu hanya mendengkus dingin, lalu meletakkan kembali pengering rambut itu ke atas meja dengan gerakan patah-patah.
Dasar gengsian akut! batin Naya mendengkus kesal, meski jantungnya berdebar kencang melihat sikap canggung suaminya.
Untuk membentengi dirinya dari segala kemungkinan serangan baper atau rasa canggung yang semakin menjadi-jadi malam ini, Naya mendadak punya ide brilian yang luar biasa absurd.
Ia mengambil tiga buah bantal sofa berukuran besar, dua bantal tidur tambahan, serta dua guling panjang dari lemari cadangan.
Dengan gerakan penuh determinasi, Naya menyusun seluruh bantal dan guling itu tepat di tengah-tengah kasur king size, membangun sebuah pembatas vertikal yang sangat tinggi dan tebal dari ujung kepala hingga ujung kaki tempat tidur. Benteng bantal itu menjulang tinggi bagaikan tembok pembatas, memisahkan sisi kiri tempat tidur (wilayah Damar) dan sisi kanan tempat tidur (wilayah suci Naya).
Damar, yang sedari tadi mencuri-curi pandang mengamati gerak-gerik aneh istrinya, mengangkat sebelah alisnya tinggi-tinggi. Ia menatap tembok bantal raksasa yang kini membelah tempat tidur mereka menjadi dua bagian terpisah.
"Apa yang sedang kamu lakukan dengan bantal-bantal itu?" tanya Damar dengan nada datar yang dibuat-buat tenang, padahal matanya terus melirik tajam ke arah benteng tersebut.
Naya, yang baru saja selesai merapikan benteng bantal itu hingga benar-benar kokoh, berkacak pinggang di sisi kasur. Ia menatap suaminya dengan dagu terangkat tinggi, memasang ekspresi galak.
"Mulai malam ini, ini adalah perbatasan wilayah netral!" tegas Naya tanpa ragu-ragu. "Sisi kiri adalah daerah teritorial kekuasaan Pak Direktur Utama Kulkas dua pintu, dan sisi kanan adalah wilayah kedaulatan mutlak Ratu Janda Kaya masa depan! Dilarang keras melewati batas garis imajiner ini!"
Damar terdiam sejenak, lalu mendengkus pelan. Sudut bibirnya berkedut tipis, menahan senyum melihat tingkah kekanak-kanakan Naya yang justru terlihat begitu menggemaskan di matanya.
"Kamu pikir benteng bantal konyol seperti ini bisa menghentikan saya kalau saya ingin melewati batas?" tanya Damar dengan nada rendah yang menggoda, mencuri pandang lurus ke manik mata Naya dengan sorot penuh arti.
Naya mendengkus sewot, merapatkan posisinya di sisi kanan benteng bantal, lalu menarik selimut tebal sampai menutupi dagunya.
"Coba aja kalau berani! Kalau kamu nekat nerobos tembok pertahanan ini, aku bakal lempar pakai kamus tebal!" ancam Naya galak, lalu langsung membuang muka dan memejamkan matanya rapat-rapat, pura-pura tidur cepat.
Damar menggelengkan kelapanya pelan. Ia memadamkan lampu utama kamar dan menyisakan lampu tidur yang temaram. Pria itu berbaring miring menghadap ke arah benteng bantal tersebut. Meskipun terhalang tumpukan bantal, sepasang mata Damar tidak beralih dari bayangan samar Naya di sisi seberang.
Di dalam hatinya, rasa ingin memiliki dan bayangan insiden handuk tadi terus berkelebat, membuat Damar semakin yakin bahwa ia tidak akan pernah membiarkan wanita itu pergi dari sisinya.
_Bersambung