"Satu tahun pernikahan kontrak, Levara," bisik Dante dingin di antara remang ruang kerjanya. "Kamu dapat akses dokumen ayahmu, dan saya dapat mengunci saham perusahaan dari ambisi Paman Julian Perkasa."
"Dan jika bahaya mengincarku?" tantang Levara.
Dante memajukan kursi rodanya, menatapnya tajam.
"Selama kamu menyandang nama Velmore, keselamatanmu adalah tanggung jawab saya."
Di balik kemewahan ibu kota, Levara bertaruh nyawa mengungkap misteri hilangnya sang ayah dua puluh tahun silam. Petunjuk terakhir mengarah pada dokumen rahasia milik Velmore Group. Satu-satunya jalan masuk adalah Dante Castillo Velmore, pewaris tunggal nan dingin di atas kursi roda.
Perjanjian di atas kertas berubah menjadi ancaman maut saat fakta terkuak. Di tengah gempuran teror dan perang hukum, mampukah pernikahan tanpa rasa itu bertahan ketika dendam masa lalu menuntut keadilan?
Di tambah, sosok bocah menggemaskan yang menjadi tambahan hiburan untuk mereka.
"Om cate magelan, kenapa jadi cuami?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kenz....567, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyekapan
Deru angin laut yang pekat akan bau garam dan karat bertiup kencang, menampar dinding-dinding seng bergelombang di kawasan industri tua pesisir utara. Di tengah hamparan tanah gersang yang ditumbuhi semak ilalang liar, berdiri sebuah kompleks bangunan tua bekas gudang pengolahan kayu milik Veyron Group. Bangunan raksasa yang terbengkalai selama lebih dari lima tahun itu tampak seperti raksasa besi yang mati membisu, dilapisi lumut kering, cat memudar, serta kaca-kaca jendela yang telah pecah berantakan.
Di dalam area gudang utama, suasana terasa amat gelap, dingin, dan mendinginkan bulu kuduk. Cahaya matahari siang hanya mampu menembus melalui celah-celah atap seng yang berlubang, menciptakan berkas-berkas sinar temaram yang memotong kepulan debu tebal di udara.
Di tengah ruangan lapang bermantai semen yang retak-retak, Levara terikat erat di sebuah kursi kayu tua yang tegap. Kedua pergelangan tangannya diikat erat ke belakang menggunakan tali tambang plastik yang kasar, sementara kedua kakinya dililit rapat pada kaki kursi.
"Ugh ...,"
Levara mengerang pelan. Kelopak matanya terasa amat berat saat rasa pening raksasa sisa gas pembius masih menghantam bagian belakang kepalanya. Pandangan matanya yang semula buram dan berbayang perlahan-lahan mulai memfokus secara bertahap. Bau tengik minyak mesin tua dan kayu lapuk langsung menusuk indra penciumannya.
"Sudah bangun, Nyona Velmore?"
Sebuah suara serak, berat, dan dipenuhi nada kejam bergaung memecah keheningan murni gudang tua tersebut.
Levara tersentak kaget. Ia mendongakkan kepalanya secara drastis. Berdiri beberapa meter di hadapannya, seorang pria tua bertubuh kurus dengan pakaian jas mahal yang kini tampak kusut dan kotor. Rambut putihnya berantakan, dan sepasang matanya yang cekung memancarkan kilat kegilaan serta keputusasaan yang teramat pekat.
David Veyron.
"D-David Veyron ...," bisik Levara dengan suara parau dan kering, mencoba membasahi bibirnya yang pecah-pecah.
"Ya, ini aku, Levara," sahut David seraya melangkah mendekat secara perlahan. Bunyi ketukan tongkat kayunya menyentuh lantai semen bergema amat nyaring di dalam gudang yang sepi. "Selamat datang di tempat di mana sejarah ayahmu, Edlan, diakhiri dengan sangat sempurna dua puluh tahun yang lalu."
Tubuh Levara bergetar hebat. Rasa benci dan amarah meluap seketika di dalam dadanya, mengalahkan rasa takut yang semula menyelimuti pikirannya. "Pria iblis! Kamu yang mengurung Ayahku di tempat jahat ini?!"
"Mengurung?" David tertawa terkekeh, sebuah tawa dingin yang terdengar begitu sumbang dan gila. "Ayahmu adalah pria jahat yang sangat tidak tahu diri, Levara! Dia mencoba meruntuhkan kejayaan Veyron Group yang kubangun dengan darah dan air mata! Sama seperti yang dilakukan oleh suamimu yang cacat itu pagi ini!"
"Tutup mulutmu!" bentak Levara dengan mata menyalang berani, menatap lurus ke dalam iris mata David tanpa ada keraguan sedikit pun. "Dante bukan pria cacat! Dia jauh lebih terhormat dan mulia daripada manusia kejam seperti kamu! Kamu sudah kalah, David! Sahammu hancur, rekeningmu dibekukan, dan seluruh daftar suapmu sudah berada di tangan Kejaksaan Agung!"
PLAK!
David mengayunkan telapak tangannya, menampar pipi kiri Levara dengan sangat keras. Kepala Levara terlempar ke samping, rasa panas dan nyeri menjalar seketika di pipinya, menyisakan sudut bibirnya yang sedikit berdarah.
"Jangan berani-berani mengajariku tentang kekalahan, gadis tak berguna!" raung David dengan napas terengah-engah, wajahnya merah padam dipenuhi amarah yang meledak-ledak. "Aku belum kalah! Selama aku memegang dirimu sebagai sandera, Dante Velmore akan berlutut merayap di hadapanku seperti anjing!"
Levara mengusap rasa perih di bibirnya dengan lidah, lalu menatap David dengan senyuman sinis penuh penghinaan. "Kamu sangat tidak mengenal Dante ... Dia tidak akan pernah tunduk pada ancaman murahan dari seorang penjahat yang terdesak seperti kamu."
David melangkah maju, mencengkeram rahang Levara dengan jemarinya yang kurus seperti cakar elang, memaksa Levara menatap wajahnya yang penuh kebencian.
"Oh ya?" bisik David tepat di depan wajah Levara, aromanya napasnya pekat akan tembakau dan keputusasaan. "Kau pikir Dante akan tetap tenang saat aku mengirimkan jarimu satu per satu ke rumahnya jika dia tidak menyerahkan seluruh berkas asli milik Edlan?!"
"Lepaskan tangannya dari Mbak Levara!"
Suara bentakan keras terdengar dari arah pintu besi gudang. Tiga orang pria bertubuh kekar dengan pakaian taktis serba hitam dan senjata api di tangan mereka melangkah masuk. Salah satu dari mereka adalah pimpinan kelompok penculik yang melumpuhkan pengawal Velmore di basement.
"Ada apa?!" bentak David seraya melepaskan cengkeraman rahangnya dari Levara, berpaling ke arah anak buahnya dengan raut wajah gusar.
"Tuan Veyron! Situasi di luar sangat tidak terkendali!" seru pimpinan penculik itu dengan raut wajah panik dan peluh mengucur deras di keningnya. "Seluruh akses jalan menuju kawasan industri ini sudah diblokir total oleh barikade pasukan gabungan kepolisian dan helikopter swasta milik Velmore Group! Mereka menyisir seluruh sudut pelabuhan tua ini!"
David tersentak mundur, matanya membelalak lebar. "Bagaimana mungkin?! Bagaimana bisa Dante menemukan lokasi gudang rahasia ini hanya dalam waktu kurang dari satu jam?!"
Levara tersenyum tipis di dalam hati. Ia merasakan getaran halus di balik liontin kalung logam yang tersembunyi di balik kerah dressnya, pemancar frekuensi pelacak tersembunyi buatan Riko yang terhubung langsung ke sistem taktis Dante.
"Dante sudah tahu kamu ada di sini, David," ucap Levara dengan nada suara yang begitu tenang dan yakin. "Waktumu sudah habis."
"Diam kau!" teriak David histeris. Pria tua itu meraih sebuah pistol revolver hitam dari balik jasnya dan mengarahkan moncong senjata itu tepat ke dahi Levara. "Aku tidak akan biarkan Dante menang! Jika aku harus hancur hari ini, maka kau akan ikut mati bersamaku di tempat ini, Levara!"
"Tuan Veyron, tunggu!" pangkas pimpinan penculik menahan tangan David. "Jika Nona ini mati sekarang, kita tidak punya kartu AS lagi untuk menawar jalur melarikan diri menggunakan kapal cepat di dermaga belakang!"
David bernapas memburu, tangannya yang memegang pistol bergetar hebat akibat emosi yang tak terkontrol. Ia menurunkan senjatanya perlahan, menatap Levara dengan pandangan membunuh.
"Ikat dia lebih kencang di tiang besi tengah gudang!" perintah David seraya berbalik arah menuju jendela lantai dua gudang. "Siapkan seluruh peledak rakitan di sekitar pintu masuk! Jika pasukan Dante berani menerobos masuk, kita ledakkan seluruh tempat ini!"
"Siap, Tuan!" sahut para anak buahnya tergesa-gesa.
"Arghh! lepaskan!"
Levara diseret secara kasar bersama kursinya menuju tiang besi penyangga utama gudang. Meski pergelangan tangannya terasa perih tergores tali tambang dan bahayanya peledak mengintai di sekelilingnya, Levara menatap langit-langit gudang tua itu dengan keteguhan hati yang tak tergoyahkan. Di dalam hatinya, ia menyuarakan sebuah janji yakin, Dante pasti akan datang menyelamatkannya.
kasihan edlan kenapa orang baik matinya harus se-mengerikan itu
coba aja kalau dia sendiri lawan Dante tuh pasti sudah k.o Dari dulu,