NovelToon NovelToon
Ibu Susuan Sang Mafia

Ibu Susuan Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Penyesalan Suami / Action
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Suhada Bintan

Di hari kematian putrinya, Arini justru dituduh lalai oleh Bagas dan keluarga mertuanya yang toxic. Sebagai "penebus dosa", ia dipaksa bekerja keras dan dijadikan mesin pencari uang oleh mereka.

Takdir berubah saat Arini bertemu Dikta, seorang mafia kejam yang rela membayar mahal demi mendapatkan ASI eksklusif untuk putra semata wayangnya. Arini pun masuk ke dalam kehidupan Dikta sebagai ibu susuan.

Akankah Arini mampu bertahan di bawah tekanan keluarga Bagas yang terus memanfaatkannya? Dan bagaimana reaksi Dikta—sang mafia berdarah dingin—saat mengetahui wanita yang merawat putranya ternyata sedang dihancurkan oleh suaminya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Suhada Bintan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Suara langkah kaki terdengar begitu cepat dan berat, menggema di koridor bawah tanah kediaman Bagas. Pintu besi tebal yang mengunci kamar penyekapanku dihantam dengan kasar hingga terjatuh ke lantai.

BRAAAK

Dengan napas yang memburu, wajah Salma terlihat bengis, seolah ingin memakanku mentah-mentah. Di belakangnya, Bagas menyusul dengan raut wajah yang sudah kusut, disertai keringat dingin yang terus mengucur deras dari pelipisnya. Namun, suasana di dalam ruangan menjadi jauh lebih mencekam saat sosok Arman Wijaya melangkah masuk paling akhir. Pria paruh baya itu tidak lagi memancarkan aura wibawa seorang konglomerat, melainkan iblis yang siap mencabik mangsanya hidup-hidup.

"Begitu menyedihkan!" sindir Arman, memecah keheningan.

Ia melangkah cepat mendekati ranjang, lalu merenggut map tebal berisi dokumen pengalihan tanah sektor empat dari tangan Salma. Tanpa belas kasihan, Arman melemparkan map itu tepat ke wajahku. Lembaran-lembaran kertas putih di dalamnya langsung berserakan di atas lantai. Sudut tajam map itu sempat menggores pipiku, menyisakan garis merah. Namun, segera kutahan rasa perih itu.

"Pak Arman... Mas Bagas... apa lagi yang kalian inginkan dari aku?" tanyaku dengan suara yang bergetar hebat, air mataku mulai menggenang. "Aku sudah menuruti semua kemauan kalian. Aku sudah menandatangani semua berkas itu kemarin! Tolong lepaskan aku..."

"Tanda tangan sampah! Tanda tangan sialan!" bentak Bagas. Pria itu ikut maju, menendang lembaran kertas di lantai, lalu menunjuk tepat di depan hidungku dengan telunjuk yang gemetar hebat karena panik. "Buka mulutmu, Arini! Katakan padaku, siapa yang mengajarimu melakukan trik murahan ini, hah?!"

Aku menggelengkan kepala dengan cepat. "Apa maksudmu, Mas? Aku tidak mengerti... Aku tidak melakukan apa-apa!"

"Jangan berlagak bodoh!" Bagas berteriak, suaranya meninggi. "Tanda tangan yang kau goreskan di atas meterai kemarin... tanda tangan itu justru memicu sistem blokir otomatis di bank sentral! Seluruh modal finansial, uang empat ratus miliar dari pusat yang baru saja dialirkan ke rekening anak perusahaanku, sekarang membeku total! Transaksinya dinyatakan cacat hukum karena status tanah sektor empat itu! Kau sengaja menjebakku agar aku ditangkap atas tuduhan penggelapan, iya kan?!"

"A-aku bersumpah aku tidak tahu apa-apa..." ratapku, tangisanku langsung pecah memenuhi kamar yang remang-remang itu. Aku memegangi dada yang naik turun karena sesak yang mulai menyerang. "Demi Tuhan, tanganku sangat lemas karena efek obat suntikan dari Ibu kemarin. Aku bahkan hampir tidak bisa memegang pulpen dengan benar. Aku hanya mencoretkan tanda tanganku sesuai dengan apa yang kalian perintahkan secara paksa!"

"Jangan berbohong, jalang keparat!"

PLAK

Salma melangkah maju dengan cepat dan langsung melayangkan tamparan keras tepat di pipiku. Kekuatan tamparan itu begitu besar hingga membuat tubuh kurusku terlempar, tersungkur dari atas ranjang ke lantai bawah.

"Tiga hari! Tiga hari penuh aku memberimu kelonggaran karena efek obat di tubuhmu!" bentak Salma sambil berkacak pinggang, menatap jijik gamis bernoda darah yang kukenakan berhari-hari. "Tapi kau... kau diam-diam menyisipkan klausul sengketa negara di dalam surat jaminan itu melalui pengacara sialanmu sebelum kami membawamu ke tempat ini, bukan?!"

"Ibu... aku mohon, Bu... jangan pukul aku lagi," lirihku sambil memegangi pipi yang mulai membiru. "Aku tidak punya pengacara... Aku tidak tahu apa itu klausul sengketa..."

Arman Wijaya tertawa sinis, sebuah tawa kering yang terdengar sangat kejam dan mengerikan. Ia berjalan pelan mendekatiku yang terbaring lemah di lantai. Pria paruh baya itu berjongkok, lalu dengan kasar mencengkeram rahangku dengan sangat kuat, memaksa aku untuk menatap langsung ke dalam manik matanya.

"Kau pikir kau sangat cerdas, Arini? Kau pikir kau bisa mempermainkan keluarga Wijaya?" desis Arman, suaranya begitu rendah namun sarat akan ancaman membunuh yang pekat. "Buka matamu lebar-lebar! Dikta, pria yang selalu melindungimu itu, saat ini sedang tidak berdaya di sana. Dia tidak akan pernah bisa keluar untuk menyelamatkan nyawamu. Hari ini, jika dana sektor empat itu tidak mencair dalam waktu dua puluh empat jam, aku sendiri yang akan memastikan tubuhmu membusuk di bawah tanah ini."

"Aku mohon, Pak. Jangan lakukan itu," lirihku memelas.

Arman mencengkeram lengan tanganku, lalu menyentaknya dengan kasar hingga kepalaku terbentur di lantai. "Salma, buka kotak beludru hitam itu. Berikan dia dosis yang akan membuat mulut keras kepalanya ini bicara jujur."

Salma tersenyum kejam. Ia membuka kotak beludru hitam yang dipegangnya sejak tadi, memperlihatkan sebuah alat suntik medis baru yang berisi cairan bening, jauh lebih pekat dan kental daripada dosis kemarin.

"Ini adalah dosis penuh, Arini," kata Salma dengan nada suara mengejek sembari menjentikkan ujung jarum suntik itu ke udara. "Cairan bening ini tidak hanya akan melumpuhkan seluruh sistem motorik dan sarafmu dalam hitungan detik, tapi juga akan memaksa jantungmu berdegup dua kali lebih cepat hingga dadamu terasa seperti dibakar api dari dalam. Sekarang, pilih dengan cepat... tanda tangani surat pembatalan blokir baru ini tanpa syarat, atau kau mati?!"

"Jangan, Bu! Tolong jangan lakukan itu padaku! Aku mohon!" jeritku dengan sisa tenaga yang ada. Mataku berkaca-kaca menatap jarum suntik itu sambil menggelengkan kepala pasrah. Aku menggapai ujung celana milik Bagas yang berdiri tidak jauh dari sana. "Mas Bagas... tolong aku, Mas... tolong katakan pada Ibu... jangan suntik aku lagi... Aku ini istrimu, Mas... Aku takut..."

Bagas menepis tanganku yang lemah. "Jangan sentuh aku. Aku sudah tidak peduli dengan status. Sekalipun kau mati hari ini, aku tidak akan sudi menguburmu," desisnya tanpa melihat wajahku yang ketakutan.

"Santai, Bagas." Salma tersenyum getir. Ia mulai bersiap melakukan aksi kejamnya, hingga aku ketakutan, "Baiklah, akan aku lakukan," lirihku sambil meraih pulpen. Cairan dari mata ini terus mengalir.

Namun, tepat sebelum ujung pulpen itu menyentuh permukaan kertas dokumen baru yang disodorkan Salma, Arman Wijaya menangkap sesuatu yang tidak beres. Mata elang sang konglomerat yang tajam menangkap sebuah kilatan aneh di sudut mataku yang tertunduk—bukan sebuah kilat ketakutan dari seorang korban yang kalah, melainkan sebuah senyuman menyeringai.

"Tunggu dulu!" bentak Arman dengan suara menggelegar, seketika menghentikan gerakan tangan Salma dan Bagas.

Pria paruh baya itu kembali melangkah maju dengan cepat, lalu mencengkeram daguku dengan kekuatan penuh hingga aku terpaksa mendongak tegak. "Buka matamu yang lebar, Arini! Kau tidak sedang ketakutan... Kau... kau sengaja mengulur waktu sejak awal!"

Aku tertegun selama satu detik. Menyadari bahwa akting ketakutanku kini telah mulai terendus oleh insting Arman yang jauh lebih berpengalaman di dunia kriminal, perlahan-lahan tangisan histerisku mereda. Isak tangisku hilang seketika, digantikan oleh kesunyian yang mencekam.

"Kau baru menyadarinya sekarang, Pak Arman yang terhormat?" Sebuah tawa kecil keluar dari mulutku, terdengar sangat sinis, seolah menghina pria tua di hadapanku.

"Jalang kurang ajar!" Salma yang emosinya seketika meluap melihat perubahan drastis sikapku—yang selama ini terkesan lemah dan polos—langsung menghujamkan jarum suntik berisi cairan bening dosis penuh itu tepat ke urat leher sebelah kananku.

"Aaagh... hhh... hhh...!"

Suara jeritanku langsung tercekat dan tertahan di dalam tenggorokan yang kering. Sensasi rasa dingin yang sangat ekstrem seketika menjalar dengan cepat ke seluruh jaringan pembuluh darah di tubuh ini. Hanya dalam hitungan detik, rasa dingin itu berubah menjadi rasa panas yang membakar, lebih dahsyat dari sebelumnya.

Seluruh sistem motorik di tubuhku terkunci secara paksa saat itu juga. Tanganku tidak bisa mengepal, kedua kaki ini mati rasa total. Tubuhku ambruk, tidak bisa bergerak di atas lantai.

"Bicara kau! Di mana dokumen asli pencabutan pemblokiran itu?!" bentak Bagas. Rasa paniknya tak bisa ditahan lagi. "Bicara, Arini! Ke mana pengacaramu membawa berkas penjaminan yang asli?!"

Aku tidak menjawab. Di balik rasa sakit ini, aku bersorak karena sudah berhasil mengelabui mereka.

Tiga hari waktu yang diminta oleh Dikta Dirgantara terbukti telah terpenuhi dengan sangat sempurna dari kamar penyekapan ini. Proyek besar di tanah sektor empat telah resmi berubah fungsi menjadi kuburan finansial massal bagi seluruh kekayaan Wijaya Group.

"Kalian... kalian semua... sudah sangat terlambat..." lirihku dengan deru napas yang terputus-putus. Sepasang mataku yang sayu menatap tajam ke arah Bagas. "Seluruh... modal finansial korporasi kalian... hari ini resmi terkunci mati... di tanah ilegal itu... Besok pagi... saat matahari terbit... kalian berdua... yang akan membusuk di dalam penjara..."

"Jalang keparat kau, Arini!" Arman Wijaya yang telah kehilangan kendali atas akal sehatnya akibat amarah yang meledak, langsung melayangkan satu tendangan keras tepat ke arah tulang rusukku, membuat tubuhku yang lumpuh menghantam tiang ranjang.

Napas Arman memburu hebat, dadanya kembang kempis dengan gurat kemarahan yang membuat wajahnya memerah padam. "Salma! Bagas! Jangan berdiri bodoh seperti patung di sana! Geledah seluruh sudut kamar terkunci ini sekarang juga! Cari kode enkripsi, telepon tersembunyi, atau berkas apa pun yang mungkin dia sembunyikan di bawah kasur! Jika sampai besok pagi dana empat ratus miliar itu tidak bisa dicairkan dari blokir bank sentral, seret wanita ini ke jurang hutan belakang, dan lenyapkan dia tanpa sisa!"

Bagas dan Salma tak bisa berkata-kata lagi. Mereka langsung menggeledah ruangan itu seperti orang kerasukan. Sementara aku hanya bisa menyaksikan mereka dengan lemah. Aku yakin, Marco dan yang lainnya tidak akan diam saja. Mereka pasti sedang dalam perjalanan ke sini untuk menyelamatkanku.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!