NovelToon NovelToon
Karena Itu, Aku Yang Akan Menikahi Penjahat Pria

Karena Itu, Aku Yang Akan Menikahi Penjahat Pria

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:522
Nilai: 5
Nama Author: Lady Airen

Vania hanya ingin hidup tenang. Sayangnya, ia malah terbangun di tubuh antagonis "Sinetron tahun 90an" yang ditakdirkan mati tragis di episode final. Demi selamat, ia menghindari Male Lead dan menjauh dari Kevin, sang Villain bermasalah.

Namun saat Kevin mulai merusak plot, Vania panik. Satu-satunya cara menghentikan kekacauan? Melamar pria itu!

"Daripada merebut kekasih orang lain, nikahi saya saja."

Masalahnya, Vania lupa Kevin bukan Villain biasa. Dia pria posesif yang rela membakar dunia demi istrinya. Alih-alih tenang, Vania malah terjebak drama keluarga sultan dan suami yang bucin brutal. Bagaimana caranya hidup damai, kalau suaminya adalah sumber kekacauan terbesar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Airen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TROPES "SAKIT DAN DIRAWAT" (VERSI PANIK)

Ruangan kerja di mansion Puncak itu terasa sesak, bukan karena AC yang mati, tapi karena aura posesif Kevin yang sedang memenuhi setiap sudut ruangan. Pria itu masih berdiri di depan Vania, jarak di antara mereka hanya tersisa beberapa milimeter. Napasnya yang hangat menerpa kulit wajah Vania, dan tatapan matanya yang gelap menatap bibir Vania dengan intensitas yang bisa membakar kertas.

Vania menelan ludah. Jantungnya berdegup satu kali lebih cepat dari ritme normalnya. Hanya satu kali. Itu adalah refleks biologis semata, sebuah respons tubuh terhadap pria yang secara objektif sangat tampan, berbau mahal, dan memiliki bahu selebar pintu garasi.

Tapi di otak Vania, alarm bahaya berbunyi dengan suara sirene yang memekakkan telinga.

Jika aku mencium pria ini, berarti aku masuk ke rute 'Dark Romance Ending'. Dan di sinetron 90-an, wanita yang masuk ke rute itu dengan pria se-obsesif ini, ending-nya adalah jatuh dari tebing, diculik ke luar negeri, atau mati karena tumor otak stadium akhir di episode 148. Tidak, terima kasih. Aku menolak mati lebih awal.

Dengan segenap tenaga yang dia miliki, Vania mengangkat kedua tangannya dan mendorong dada bidang Kevin.

"Jangan," ucap Vania, suaranya tegas meski pipinya sedikit merona. "Kita tidak akan melakukan ini. Ini melanggar aturan nomor tiga. Dan secara higienis, kau belum sikat gigi setelah makan foie gras tadi siang."

Kevin terkejut, matanya membelalak sejenak sebelum alisnya berkerut dalam. Dia menatap tangan Vania yang masih bertumpu di dadanya, lalu menatap wajah Vania yang keras kepala.

Tepat di detik itu, langit di luar jendela kaca raksasa berubah dari cerah menjadi hitam pekat dalam hitungan detik.

Glegar!

Petir menyambar, diikuti oleh hujan deras yang turun seketika, menghantam kaca jendela dengan suara yang dramatis dan berlebihan. Angin indoor yang misterius kembali berhembus di dalam ruangan tertutup, mengibarkan rambut bob Vania.

"Kau menolakku?" suara Kevin merendah, nadanya campuran antara tidak percaya dan amarah yang tertahan. "Di tengah hujan deras, di ruangan yang romantis ini, kau menolakku?"

Vania tidak menjawab. Tiba-tiba, hidungnya terasa geli.

"Hatchi!"

Vania bersin. Suara bersinnya nyaring dan tidak elegan sama sekali. Dia mengucek hidungnya dengan punggung tangan, merasa sedikit pusing.

Hah? Kenapa pusing? batin Vania.

Tiba-tiba, ingatan beberapa hari terakhir menyerbu otaknya. Dia ingat saat Larasati masuk ke dalam "mode adegan sedih" karena difitnah Tante Ratna. Larasati menangis di taman saat hujan turun, dan Vania, sebagai sahabat yang baik, berdiri di sampingnya memegang payung. Tapi karena efek angin sinetron, payungnya terbalik, dan Vania basah kuyup. Dia ingat juga saat dia mengikuti Larasati ke pasar becek, dan sepatu heels-nya terinjak genangan air got.

Oh, sial, batin Vania, menyadari kesalahannya. Aku berteman dengan Female Lead. Aku lupa bahwa setiap kali Female Lead menangis, cuaca pasti buruk, dan aku pasti ikut basah. Aku terkena flu. Aku, Vania, yang selalu membawa vitamin C dan hand sanitizer, terkena flu karena efek samping menjadi bestie.

Kepala Vania berputar hebat. Pandangannya mengabur. Tubuhnya yang tadi tegak berdiri tiba-tiba oleng ke depan.

"Vania!"

Kevin menangkap tubuh Vania tepat sebelum wanita itu menyentuh lantai marmer.

"Kepalaku... pusing," gumam Vania, suaranya serak. Matanya terpejam, dan dia benar-benar kehilangan kesadaran.

"VANIA!" teriak Kevin. Suara itu bukan lagi suara CEO yang dingin dan terkontrol. Itu adalah suara pria yang baru saja melihat dunianya runtuh.

Tanpa pikir panjang, Kevin merangkul tubuh Vania. Satu tangannya menopang punggung Vania, tangan lainnya menopang lutut wanita itu. Dia mengangkat Vania dengan gaya bridal carry yang sangat sinematik.

Dan tentu saja, saat Kevin berjalan keluar ruangan, waktu seolah melambat. Slow motion wajib sinetron terjadi. Hujan di luar jendela terlihat seperti butiran kristal yang jatuh perlahan. Rambut Kevin berkibar gagah. Wajahnya yang biasanya datar kini terlihat sangat panik, sangat manusiawi, dan sangat... ketakutan.

***

Mobil Mercedes-Benz 600SEL hitam itu melaju di jalanan Puncak yang licin seperti peluru yang ditembakkan dari senapan. Kevin menyetir dengan satu tangan, sementara tangan kanannya terus meremas tangan Vania yang lemas di pangkuannya.

"Kevin..." gumam Vania, setengah sadar, kepalanya bersandar di bahu Kevin. "Kau... ngebut banget. Ini... ini bukan Need for Speed..."

"Diam, Vania. Kau harus selamat," jawab Kevin, suaranya bergetar. Dia membanting setir, menyalip sebuah truk kayu dengan manuver yang mustahil secara fisika. "Tahan napas. Kita hampir sampai."

Vania hanya bisa mendengus pelan, terlalu lemah untuk memprotes pelanggaran lalu lintas yang dilakukan pria itu.

***

Lima menit kemudian, mereka tiba di UGD rumah sakit swasta paling mahal di Bogor. Kevin menendang pintu kaca UGD hingga terbuka lebar, membuat perawat di meja resepsionis hampir jatuh dari kursinya.

"DOKTER!" teriak Kevin, suaranya menggelegar di seluruh ruangan UGD yang tiba-tiba hening. "ADA DOKTER?!"

Seorang dokter umum dengan jas putih dan stetoskop di leher segera berlari mendekat, terlihat kaget oleh aura membunuh yang dipancarkan Kevin. "Tuan, ada apa? Pasien ini kenapa?"

"Dia pingsan! Dia panas! Selamatkan dia!" Kevin menggendong Vania masuk ke ruang pemeriksaan, meletakkannya dengan sangat hati-hati di atas ranjang beroda.

Dokter itu segera memeriksa Vania. Dia mengecek suhu dahi, mendengarkan detak jantung dengan stetoskop, dan memeriksa tenggorokan. "Tuan, tenang. Ini hanya demam tinggi akibat flu berat dan kelelahan. Saya akan berikan infus dan obat penurun demam. Dia perlu istirahat..."

"Berapa lama?" potong Kevin tajam, matanya menyipit.

"Eh, untuk infusnya habis sekitar satu jam, Tuan. Tapi kami sedang penuh, jadi mungkin Nona harus menunggu giliran untuk dipindahkan ke ruang rawat inap sekitar..."

"Lima menit?" Kevin menatap jam tangannya, lalu menatap dokter itu dengan tatapan yang bisa melubangi baja. "Kau menyuruhku menunggu lima menit? Lima menit itu tiga ratus detik! Tiga ratus detik di mana dia bisa saja... bisa saja..."

"Tuan, dia cuma flu, bukan—"

"Dengar baik-baik!" Kevin membanting tangannya ke meja logam di samping ranjang, membuat semua alat medis bergetar. "Jika dia tidak ditangani dan dipindahkan ke ruang VIP dalam enam puluh detik, aku akan beli rumah sakit ini. Aku akan pecat semua orang di sini, merobohkan gedung ini, dan menjadikannya tempat parkir mobil pribadiku! Kau mengerti?!"

Dokter itu pucat pasi, keringat dingin menetes di pelipisnya. "I-iya, Tuan! Segera! Perawat! Siapkan ruang VIP nomor satu! Cepat!"

Di atas ranjang, Vania yang tadinya setengah pingsan, membuka satu matanya. Dia menatap Kevin yang sedang berteriak histeris mengancam nyawa seorang dokter, hanya karena dia harus menunggu lima menit.

Vania menghela napas, suaranya serak dan lemah. "Kevin..."

Kevin langsung menoleh, wajahnya yang tadi ganas langsung melunak seketika. Dia mendekat, merapikan rambut Vania yang berantakan. "Ya, Sayang? Kau butuh apa? Air? Selimut? Aku akan suruh mereka beli satu pabrik selimut—"

"Diam," potong Vania pelan. Dia mengangkat tangannya yang dingin, menyentuh punggung tangan Kevin yang sedang meremas selimutnya. "Kau ini... berlebihan. Aku cuma flu, Kevin. Bukan kanker. Bukan tumor otak. Cuma flu."

Kevin menatap tangan Vania yang menyentuhnya. Tatapannya melembut, tapi ada kilatan ketakutan yang masih tersisa di matanya. "Kau pingsan, Vania. Kau..."

"Aku lelah," Vania memotong lagi, suaranya lebih lembut. "Dan kau... kau panik."

Kevin terdiam. Dia menatap Vania lekat-lekat.

Di dalam hati, Vania merasakan desiran aneh. Tangan Kevin yang tadi meremas selimut, kini dengan sangat lembut mengelus rambutnya. Sentuhan itu hangat. Sudah tiga tahun. Sudah tiga tahun sejak ibunya meninggal, tidak ada satu pun orang yang menatapnya dengan kekhawatiran sedalam itu. Tidak ada yang panik karena dia sakit. Di tahun 2026, saat dia sakit di apartemen sewanya, dia hanya bisa memesan obat lewat aplikasi, dan yang datang hanya kurir yang meletakkan paket di depan pintu.

Tapi ini Kevin. Pria yang baru saja mau merobohkan rumah sakit. Pria yang gila, posesif, dan sangat merepotkan.

Jangan baper, Van, batin Vania, memaksa dirinya untuk menutup mata. Dia cuma panik karena kau adalah 'properti'-nya. Jangan salah arti.

"Tidurlah," bisik Kevin, suaranya bergetar pelan. "Aku di sini. Aku tidak akan ke mana-mana."

Vania tidak menjawab. Dia membiarkan obat penurun demam yang disuntikkan perawat bekerja, dan dia akhirnya tertidur lelap, dengan tangan Kevin yang masih menggenggam tangannya erat-erat.

***

Satu jam kemudian.

Ruang VIP nomor satu itu hening, hanya diisi oleh suara detak monitor jantung dan suara AC yang mendesis pelan. Vania tertidur pulas di atas ranjang, selang infus menancap di punggung tangannya. Wajahnya terlihat lebih tenang, demamnya sudah mulai turun.

Di samping ranjang, Kevin duduk di kursi kayu. Dia tidak bergerak sedikit pun sejak Vania tertidur. Matanya yang gelap menatap wajah Vania dengan tatapan yang obsesif, protektif, dan sangat mengerikan.

Di sudut ruangan, dokter yang tadi memeriksa Vania berdiri dengan postur kaku, keringat dingin masih menggenang di pelipisnya. Dia menunggu izin untuk pergi.

Kevin perlahan menoleh. Tatapannya berpindah dari Vania ke dokter itu. Suhu di dalam ruangan seolah anjlok drastis.

"Dokter," ucap Kevin, suaranya sangat pelan, namun bergema dengan ancaman yang mutlak.

"I-iya, Tuan Kevin?" suara dokter itu bergetar.

"Jaga dia," desis Kevin, matanya menyipit, menatap dokter itu seolah sedang menatap mayat hidup. "Pastikan dia sembuh sempurna. Pastikan tidak ada komplikasi. Pastikan dia nyaman."

Kevin mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, jari-jarinya mengetuk pelan sandaran kursi.

"Karena jika ada satu saja hal yang membuatnya tidak nyaman... jika dia batuk sekali lagi... kau akan kehilangan pekerjaanmu."

Dokter itu menelan ludah, mengangguk cepat. "Tentu, Tuan. Saya akan—"

"Dan," potong Kevin, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman yang sama sekali tidak mencapai matanya. "Kau akan kehilangan jari-jarimu. Satu per satu."

Dokter itu membeku, wajahnya pucat seperti mayat.

Kevin kembali menatap Vania, mengelus punggung tangan wanita itu dengan lembut, seolah dia baru saja tidak mengancam akan memutilasi seorang dokter.

BERSAMBUNG...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!