Dia dipaksa menggantikan sepupunya yang kabur — menikah dengan pria yang ditakuti seluruh kekaisaran.
Lin Meiying hanyalah putri yang dikucilkan. Demi menyelamatkan keluarganya, ia memakai pakaian merah pengantin dan berdiri di tempat yang bukan haknya — di hadapan Wei Chen, Jenderal perkasa yang dijuluki "Dewa Perang Berdarah Dingin".
Dia tahu: suaminya tidak menginginkannya. Pernikahan ini hanya perintah kaisar. Di kediaman yang megah namun beku, Meiying diperlakukan seperti tamu asing, bukan istri.
Namun kesabaran dan kelembutan pelan-pelan meruntuhkan dinding es di hati sang jenderal. Rahasia kelam terungkap, musuh mengintai dari mana saja, dan saat cinta akhirnya tumbuh... takdir justru menguji mereka paling berat.
Akankah Meiying tetap menjadi pengantin bayangan yang terlupakan? Atau dia yang akan menaklukkan hati terkeras di seluruh kekaisaran?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dede Queen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Cahaya di Ujung Kegelapan
Gema runtuhan perlahan lenyap, berganti dengan keheningan yang dingin dan lembap. Di dalam terowongan itu, kegelapan begitu pekat seolah menelan cahaya itu sendiri. Ling Yue membiarkan dirinya meluruh ke tanah yang berdebu, tangannya menutupi wajah, bahunya berguncang tertahan.
"Rouran..." namanya keluar seperti bisikan yang hancur.
Li An berlutut di sampingnya, meletakkan tangan di bahu gadis itu, namun tak ada kata yang cukup untuk menenangkan. Ia sendiri merasakan dadanya sesak—kehilangan seseorang yang begitu berharga, di tempat yang begitu asing, tanpa sempat mengucapkan perpisahan yang layak.
"Dia menyelamatkan kita," ucap Li An pelan, suaranya berat. "Dia memberi kita kesempatan untuk hidup."
Ling Yue mengangkat wajahnya, matanya basah namun menatap tajam ke arah kegelapan. "Tapi kenapa sendirian? Kenapa dia tidak membiarkan kita berbagi beban itu?"
"Karena itu beban yang hanya dia sanggup pikul." Li An berdiri, lalu mengulurkan tangan. "Namun kita tidak boleh membiarkan pengorbanannya sia-sia. Kita harus terus berjalan—mencari jalan keluar, lalu bersiap untuk menghadapi apa yang akan datang."
Ling Yue menyambut uluran tangan itu, bangkit perlahan. Ia menyeka air matanya, menarik napas panjang, mencoba menenangkan gemetar di dadanya. "Kau benar. Rouran mempercayakan sesuatu kepada kita. Kita tidak boleh gagal."
Mereka melangkah maju, mengandalkan cahaya samar yang memancar dari dinding batu—urat-urat bercahaya biru yang seolah bernapas, memandu jalan setapak yang menurun perlahan. Udara semakin hangat, dan dari kejauhan terdengar suara gemericik air yang lembut.
"Lihat itu..." bisik Ling Yue.
Di ujung lorong, cahaya keemasan menyelinap masuk, menandakan akhir dari kegelapan. Saat mereka melangkah keluar, keduanya tertegun.
Mereka tiba di sebuah gua raksasa yang di langit-langitnya terbuka, membiarkan sinar matahari turun menyinari danau air jernih di tengahnya. Di sekeliling danau itu tumbuh bunga-bunga yang tak pernah dilihat sebelumnya—kelopak putih berkilau seolah dilapisi permata, mengeluarkan cahaya lembut yang berdenyut seirama dengan napas mereka.
Namun bukan keindahan itu yang membuat mereka terpaku.
Di tepi danau, berdiri sebuah pilar batu putih yang tinggi. Di permukaannya terukir tulisan kuno yang samar-samar dapat dibaca oleh Ling Yue—bahasa yang pernah dipelajari ibunya, bahasa yang dikatakan hanya dimengerti oleh mereka yang menjaga rahasia tertua.
"Kekuatan tidak memihak. Ia hanya menampakkan apa yang ada di dalam hati pemegangnya. Jika ia murni, ia menjadi perisai. Jika serakah, ia menjadi pedang yang memakan tuannya sendiri."
Ling Yue melangkah mendekat, jemarinya menyentuh permukaan batu yang hangat. "Ini bukan sekadar peringatan. Ini penjelasan... tentang apa yang terjadi ratusan tahun lalu."
"Dan tentang apa yang sedang terjadi sekarang," tambah Li An, berdiri di sampingnya. "Jenderal itu tidak akan berhenti. Jika dia mendapatkan kekuatan itu... tidak ada yang bisa menghentikannya."
Ling Yue menunduk, lalu matanya tertuju pada permukaan danau yang tenang. Di sana, bayangannya bukan hanya dirinya. Sesosok bayangan lain tampak samar di sampingnya—sosok yang rambutnya mengalir seperti kabut, matanya memancarkan cahaya lembut yang sama seperti bunga di tangan Rouran.
"Rouran..." napasnya tertahan.
Bayangan itu tidak bergerak, namun seolah tersenyum tipis. Sebuah suara lembut terdengar di telinganya, bukan dari luar, melainkan dari dalam hatinya sendiri:
"Jangan bersedih. Aku tidak pergi. Aku hanya berubah wujud. Kekuatan ini tidak memisahkan kita... ia menghubungkan kita. Pergilah, Ling Yue. Temukan sisa-sisa klan ini. Mereka masih hidup, bersembunyi di tempat yang aman. Dan katakan pada mereka... aku tidak menyesal."
Bayangan itu perlahan memudar, namun sebelum lenyap sepenuhnya, seberkas cahaya terbang naik dari permukaan air, mendarat di telapak tangan Ling Yue—sekelopak bunga bercahaya yang hangat dan berdetak lembut seperti jantung.
Ling Yue menggenggamnya pelan, merasakan kehadiran Rouran yang masih ada, meski tak lagi dalam wujud yang sama.
"Dia hidup," ucapnya pelan, mata berkaca-kaca namun kali ini bukan karena kesedihan. "Dia tidak tewas, Li An. Dia menyatu dengan kekuatan itu... dan dia melindungi kita dari tempat yang tak bisa kita jangkau."
Li An menghela napas panjang, rasa sedih di hatinya perlahan tergantikan oleh harapan yang baru tumbuh. Ia meletakkan tangannya di atas tangan Ling Yue, tempat kelopak bunga itu bersinar.
"Maka kita harus hidup sesuai kepercayaannya," katanya tegas. "Kita cari sisa-sisa Klan Bunga Kabut. Kita kumpulkan kekuatan yang tersisa. Dan kita pastikan pengorbanannya tidak sia-sia."
Ling Yue mengangguk, menyimpan kelopak bunga itu di dadanya, dekat jantungnya. Ia menatap cakrawala yang terbentang di mulut gua—jalan baru, tantangan baru, namun kali ini mereka tidak sendirian.
"Ke mana kita pergi?" tanyanya, menatap Li An.
"Ke arah utara," jawabnya mantap. "Menurut catatan kuno, ada tempat persembunyian terakhir klan ini di pegunungan bersalju. Di sana kita bisa mencari jawaban, dan membangun kekuatan untuk melawan."
Ling Yue menarik napas dalam, mengisi paru-parunya dengan udara segar. "Kalau begitu, mari kita berangkat."
Mereka berjalan berdampingan, meninggalkan danau bercahaya itu, melangkah menuju jalan yang masih panjang dan penuh bahaya. Namun di antara mereka, di tempat yang tak terlihat, ada cahaya kecil yang tak akan padam—penghubung, pengingat, dan janji.