6 mahasiswa KKN datang ke desa terpencil untuk pengabdian. Di gapura desa, mereka disambut warga yang ramah. Tapi aneh, semua rumahnya lapuk, tidak ada listrik, dan kuburan ada di setiap halaman rumah. Maya, yang indigo, berbisik, "Sel, kaki mereka nggak napak tanah..." Malam pertama, Riko iseng memotret gapura desa. Saat foto dilihat, yang berdiri di foto bukanlah 6 mahasiswa... tapi 6 pocong dengan wajah mereka sendiri! Ternyata desa itu sudah mati 20 tahun lalu karena wabah. Dan setiap 20 tahun, mereka butuh 6 tumbal baru untuk menggantikan mereka. Dan tahun ini... giliran kami. Jangan pernah KKN di desa ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Author Melda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5 PINTU YANG TERBUKA SENDIRI
Pintu balai desa yang sudah kami kunci dengan dua selot kayu dan kami ganjal dengan meja kayu yang berat itu terbuka sendiri. Perlahan. Berderit sangat panjang dan memekakkan telinga. KREEEKKKKK... Suara kayu tua yang bergesekan itu menggema di dalam ruangan yang sepi, membuat bulu kuduk kami semua berdiri.
Dari celah pintu yang terbuka sedikit, sekitar sepuluh senti, aku melihat kegelapan di luar. Tidak ada angin, tidak ada suara jangkrik lagi. Semua hening total. Dan dari celah itu, rambut hitam basah yang panjang, kusut, dan penuh lumpur hitam mulai masuk, merayap pelan di lantai papan balai desa yang sudah lapuk. Seperti ular, rambut itu bergerak sendiri, masuk semakin jauh ke dalam ruangan.
Bau anyir busuk yang sangat menyengat, bau lumpur sumur, bau bangkai, dan bau darah amis langsung menyeruak masuk ke dalam balai, membuat kami semua mual dan ingin muntah.
Sari yang memeluk lututnya di sudut ruangan langsung menjerit histeris tanpa suara, air matanya mengalir deras, dia menutup mulutnya sendiri dengan kedua tangannya agar tidak mengeluarkan suara. Riko masih memeluk Maya yang masih kesurupan, matanya putih semua, tubuhnya kaku, tapi dari mulut Maya keluar suara tawa kecil, tawa seorang nenek tua yang serak.
"Hehehehe... dia sudah datang... dia sudah datang untuk menjemput... satu nyawa..."
Aku berdiri di depan pintu, dengan tangan gemetar memegang sebuah kayu balok kecil yang kutemukan di dekat tungku, satu-satunya senjata yang ada. Kakiku gemetar hebat, lututku terasa lemas, tapi aku mencoba berani. Aku harus melindungi teman-temanku.
Rambut hitam itu terus merayap masuk, semakin panjang, semakin banyak, hampir memenuhi setengah lantai balai desa. Lalu, dari balik pintu yang terbuka itu, muncul sebuah tangan. Tangan seorang perempuan, pucat, kurus kering seperti tengkorak yang dilapisi kulit tipis, dengan kuku-kuku panjang hitam yang penuh tanah dan lumut. Tangan itu memegang tepi pintu, mendorongnya agar terbuka lebih lebar.
Dan kemudian, dia muncul sepenuhnya.
Sesosok perempuan berdiri di depan pintu. Rambutnya sangat panjang, menutupi seluruh wajahnya, basah meneteskan air hitam yang berbau busuk ke lantai. Bajunya adalah baju daster putih yang sudah kotor, sobek-sobek, penuh lumpur hitam pekat dan lumut hijau yang menempel. Kakinya tidak menapak tanah, dia melayang sekitar lima senti di atas tanah, dan setiap detik, air hitam terus menetes dari ujung bajunya.
Dia tidak bergerak, hanya berdiri diam di depan pintu yang sudah terbuka lebar. Kepalanya sedikit menunduk, sehingga rambutnya menutupi wajahnya sepenuhnya, kami tidak bisa melihat wajahnya sama sekali.
Hening. Tidak ada suara apapun selama hampir satu menit. Hanya suara tetesan air hitam yang jatuh ke lantai. Tes... tes... tes...
Lalu, perlahan, dia mengangkat kepalanya. Rambut yang menutupi wajahnya sedikit tersibak karena angin malam yang tiba-tiba masuk, dan untuk sepersekian detik, aku melihat wajahnya.
Ya Tuhan.
Wajahnya hancur. Tidak ada mata, hanya lubang hitam yang menganga, dari lubang itu keluar belatung-belatung kecil berwarna putih yang bergerak-gerak. Hidungnya hampir tidak ada, hanya lubang. Mulutnya menganga lebar, hitam di dalamnya, dengan gigi-gigi yang runcing tidak beraturan. Kulit wajahnya pucat kebiruan, seperti mayat yang sudah lama terendam di dalam air.
Aku langsung menjerit sekeras-kerasnya, mundur ke belakang sampai punggungku menabrak dinding.
Sari pingsan seketika melihat wajah itu.
Riko yang masih memeluk Maya, juga melihatnya, dan dia langsung membaca doa-doa yang dia ingat, dengan suara gemetar, "Astaghfirullah... Astaghfirullah... Allahu Akbar..."
Sosok perempuan itu tidak marah mendengar doa. Dia malah tertawa. Tawanya melengking, panjang, menyayat telinga, tawa perempuan yang menangis dan tertawa bersamaan. Suara tawanya membuat kaca jendela balai desa bergetar.
"Kalian tidak bisa mengusirku dengan doa kalian... kalian yang datang ke sini... kalian yang membangunkanku..."
Suara itu bukan keluar dari mulutnya, tapi terdengar langsung di dalam kepala kami, menggema di dalam otak kami.
Dia melayang masuk ke dalam balai desa, melewati pintu. Rambutnya yang panjang menyeret lantai. Dia masuk, dan pintu di belakangnya tertutup sendiri dengan keras. BRAKKK! Membuat kami semua terlonjak kaget.
Sekarang dia ada di dalam, bersama kami. Di dalam ruangan yang terkunci.
Dia melayang pelan, mendekati kami satu per satu. Pertama dia mendekati Sari yang sudah pingsan di sudut. Dia berhenti di depan Sari, menunduk, rambutnya yang basah menetes tepat di wajah Sari. Sari yang pingsan tiba-tiba kejang-kejang kecil.
"Jangan! Jangan dia! Ambil aku aja! Jangan teman saya!" teriak Riko histeris, mencoba berdiri untuk melindungi Sari, tapi tubuhnya tidak bisa bergerak, seperti ada yang menahan kakinya ke lantai. Lantai papan di bawah kaki Riko seperti menjadi lumpur hisap yang menahan kakinya.
Aku mencoba memukul sosok itu dengan balok kayu di tanganku, tapi ketika balok kayu itu mengenai tubuhnya, balok itu tembus, seperti memukul asap atau air. Tidak ada efek apapun. Malah tanganku yang terasa dingin membeku seperti dimasukkan ke dalam air es.
Sosok itu mengabaikan Sari yang pingsan, lalu berbalik, melayang mendekati Maya yang masih duduk kaku dengan mata putih. Dia berhenti di depan Maya, dan dengan tangan kurusnya yang berkuku panjang, dia menyentuh kening Maya.
Saat dia menyentuh kening Maya, Maya langsung berteriak sangat keras, tubuhnya melengkung ke belakang, matanya yang putih kembali normal, bola mata hitamnya muncul lagi, dan dia menangis histeris.
"Maya! Maya kamu sudah sadar!" teriakku.
Maya menatapku dengan air mata mengalir deras, "Aku... aku melihatnya... di dalam sumur... banyak... banyak mayat... ada lima mayat mahasiswa... mereka diikat... ditenggelamkan..."
Maya pingsan lagi setelah mengatakan itu.
Sosok perempuan itu kemudian berbalik lagi, dan kali ini dia menatap lurus ke arahku. Meskipun wajahnya tertutup rambut, aku bisa merasakan dia menatapku, tatapannya menusuk sampai ke tulang sumsumku.
"KKN... harus lunas..." bisiknya lagi, kali ini suaranya ada tepat di depan wajahku, padahal dia masih berjarak dua meter. "Kalian berempat... harus gantikan kami berlima yang dulu... hutang darah harus dibayar darah..."
Aku tidak bisa bergerak sama sekali. Tubuhku kaku, seperti dipaku ke dinding. Rambut hitamnya yang panjang mulai melilit kakiku, naik ke paha, ke perut, dingin, basah, bau busuk. Aku bisa merasakan belatung-belatung kecil bergerak di dalam lilitan rambutnya di kulit kakiku.
Aku memejamkan mata, pasrah, membaca doa sebisaku di dalam hati. Aku pikir malam itu adalah malam terakhir hidupku.
Tiba-tiba, dari luar balai desa, terdengar suara adzan. Adzan subuh. Padahal jam di HP Riko baru menunjukkan jam 2 malam lewat 30 menit. Tidak mungkin subuh. Tapi suara adzan itu sangat jelas, sangat keras, berasal dari arah masjid kecil di Dusun 06 yang jaraknya cukup jauh.
Mendengar suara adzan itu, sosok perempuan itu langsung menjerit kesakitan, jeritan yang sangat melengking, memekakkan telinga. Tubuhnya berasap, seperti terbakar. Rambut yang melilit kakiku langsung terlepas dan terbakar menjadi abu hitam.
"TIDAKKKK!!! BELUM LUNAS!!! KKN BELUM LUNAS!!!" jeritnya dengan suara yang sangat marah dan kesakitan.
Dia melayang mundur dengan cepat, menembus pintu kayu yang tertutup, dan menghilang ke dalam kegelapan malam di arah sumur belakang balai. Bersamaan dengan hilangnya dia, bau busuk itu juga perlahan hilang, dan udara dingin yang mencekam itu berubah menjadi udara malam biasa yang sejuk.
Kami semua terdiam selama beberapa menit, tidak bisa berkata-kata, hanya bisa menangis dan terengah-engah.
Pagi itu, setelah matahari terbit, kami memutuskan satu hal. Kami harus keluar dari Desa Mati ini sekarang juga, sebelum malam datang lagi. Dan kami harus membawa bukti tentang apa yang terjadi di sumur itu. Karena jika tidak, kami akan menjadi seperti mahasiswa KKN 98 itu, hilang tanpa jejak, dan menjadi penghuni baru sumur tua di belakang balai desa itu.
Tapi ketika kami membuka pintu balai untuk keluar, kami melihat sesuatu yang membuat darah kami membeku lagi.
Di halaman depan balai, tepat di depan pintu, ada empat jejak kaki yang terbuat dari lumpur hitam yang masih basah, mengarah keluar dari balai menuju ke arah jalan desa. Jejak kaki itu kecil, seperti jejak kaki perempuan.
Dan di samping jejak itu, ada tulisan di tanah yang ditulis dengan lumpur hitam, tulisan yang masih basah:
"SATU SUDAH KUBAWA"
Kami langsung menghitung jumlah kami. Aku, Riko, Sari yang baru sadar dari pingsan, dan Maya yang masih lemah. Kami berempat masih lengkap.
Lalu, siapa satu yang sudah dia bawa? Dan tulisan itu untuk siapa?
BERSAMBUNG
Warga Desa Mati, merinding gak bab ini? 😭
Aku mau tanya, menurut kalian:
Tulisan "SATU SUDAH KUBAWA" itu maksudnya siapa? Padahal kita masih berempat lengkap kan?
A. Pak RT Dusun 06 yang hilang?
B. Sosok lain yang ngikut dari sumur?
C. Salah satu dari kami yang jiwanya sudah dibawa?
Komen A/B/C ya! Yang nebak bener bakal aku jadiin cameo di Bab 6!
Dan kalau kalian jadi aku, pas rambutnya ngelilit kaki, kalian bakal BACA DOA atau PINGSAN kayak Sari? Jujur aja!
Jangan lupa Vote & Masuk Perpustakaan biar malam ini aku up Bab 6 jam 20.00! 🙏
Jawabannya adalah...
Salah satu dari seluruh anggota KKN, "sukma jiwa"nya sudah dibawa...
Aku yang sedari tadi hanya berdiri di depan pintu belakang, hanya tersenyum saat melihat semua obor-obor itu. Namun, senyumanku terlihat datar oleh seluruh teman-teman KKN ku.
Aku (saya maksudnya, hehehe...) akhirnya berjalan santai menuju ke pintu balai desa yang terkunci. Lalu, kupejamkan kedua mataku. Dan mulai bicara dengan mereka semua yang ada di luar...
🤭🤭🤭
jadi selvi itu bukan tokoh utama? si selpi siapa? kenapa tiba-tiba muncul?
terus, bukannya sinta sama bima udah meninggal di sumur ya?
terus selvi itu KKN 98??😐