Di sungai ia mendorong pacarnya, lalu ikut tenggelam. Ketika membuka mata, usianya lima belas: 1 April 2005, tiga bulan sebelum ujian, dengan ingatan penuh akan semua yang akan terjadi. Di laci rumah tua ia menemukan kotak kayu ukiran berisi tanah sakti—satu tegukannya menyembuhkan luka dan mengubah takdir. Ia membangun keluarga dari nol: gerobak es campur, bakso, juara satu se-kota, kuliah, dan cinta yang dulu ia tolak. Setelah hidup pertama berakhir pada usia seratus tahun, ia terbangun lagi—dan sadar semuanya hanya penglihatan. Ibu kritis, bisnis hilang, dan ia harus mulai dari nol sekali lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10 - Rahasia yang Kubawa Sendiri
Intan terbangun oleh dentang jam bandul di luar kamar. Ia menoleh ke arah jam; baru pukul enam. Inginnya berbalik dan tidur lagi, tetapi suara di luar terlalu bising untuk ditahan. Ia terpaksa bangun, menggosok gigi, lalu mencuci muka.
Di ruang tengah, Bapak tampak telah berangkat lebih dulu menuju lokasi proyek; mangkuk sarapannya masih basah di atas meja. Ibu sibuk membungkus bekal. Intan menatap sebentar wajah Ibu, lantas kembali ke tugasnya.
Sebelum makan pagi, ia sempat menghafal pelajaran Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Setelah sarapan — pukul tujuh belum lewat — ia bersepeda ke sekolah. Pagi itu udara masih dingin, butiran embun menempel di daun-daun di tepi jalan.
Dari rumah ke sekolah hanya sepuluh menit perjalanan. Kegiatan membaca pagi bahkan belum dimulai.
Kembali menginjakkan kaki di sekolah lamanya yang begitu akrab setelah bertahun-tahun, Intan larut dalam haru. Koridor panjang itu masih sama: lantai keramik abu-abu, deretan foto kelas dan piala di lemari kaca, serta kantin di ujung yang aromanya tetap seperti dulu. Ia mencari kelasnya dari ingatan. Sepanjang lorong itu, tidak ada lagi wajah-wajah yang benar-benar ia kenal; semua sudah lama berlalu kecuali bagi dirinya, dan perasaan itu membuat hatinya tersentak. Begitu berdiri di depan pintu, ia merasa malu: dirinya hanya ingat siapa teman sebangkunya, tetapi tidak ingat di mana ia duduk. Bertahun-tahun ia menghafal denah sekolah itu, tetapi tidak pernah membayangkan hari ketika ia akan mengulang langkah yang sama sekali lagi. Lorong yang sama, kelas yang sama, teman sebangku yang sama — semuanya kembali ke dalam pandangannya, seolah tidak ada satu hari pun yang benar-benar berlalu.
Saat ia masih ragu, teman sebangkunya itu bergegas masuk.
"Selamat pagi, cantik!" Nadia menyapa dengan senyum sumringah.
Intan tersenyum tak berdaya lalu memutar matanya. Nadia tahu Intan tipis muka dan tidak suka digoda, karena itu ia segera mundur lalu menyeret Intan ke bangkunya. Intan mengikuti kemauannya tanpa banyak bicara.
Keduanya baru saja duduk ketika teman sekelas laki-laki di sekelilingnya berdatangan meminta PR akhir pekan. Bahkan ada yang berterus terang, "Cantik, pinjam dulu kertas ulanganmu buat disalin." Ada pula yang datang dengan wajah setengah memelas, minta sekalian kunci jawaban.
Intan tidak punya pilihan, terpaksa memberinya.
Keadaan seperti ini ada di setiap sekolah dan setiap kelas, apalagi di SMP Nusantara 2 — sekolah negeri di kawasan pemukiman itu. Kualitas siswa yang masuk tidak merata; sebagian besar siswa pintar justru langka. Satu angkatan punya sepuluh kelas, dan rata-rata kurang dari setengah murid di tiap kelas yang benar-benar serius belajar. Sisanya, yang tidak belajar, sibuk membuat onar di dalam kelas: diam-diam main bola basket, atau berkelompok membicarakan kosmetik sampai dandanannya seperti cewek kelab malam. Mengharapkan mereka mengerjakan pekerjaan rumah hampir mustahil.
Intan tahu menyalin pekerjaan rumah orang lain itu salah. Namun ia tidak akan sebodoh itu sampai tega menolak dan menyinggung orang. Bagaimanapun, ujian masuk SMA tinggal tiga bulan lagi; saat itu semua akan pergi ke jalan masing-masing dan tidak akan saling berpotongan lagi. Bagi yang berniat maju, tiga bulan ini adalah jembatan emas; bagi yang lain, hanya waktu luang yang panjang. Dibiarkannya saja.
"Bukannya dulu kamu yang paling jijik kalau ada orang menyalin pekerjaan rumahmu? Sekarang kok jadi orang yang tidak berperikemanusiaan!" Nadia menatap Intan dengan menuntut. "Dulu aku minta kertas ujianmu saja tidak mau kamu beri!"
Intan terbengong. "Bukankah itu karena aku tidak ingin merepotkanmu! Percaya atau tidak, kalau kubilang jangan diberi, mereka bisa minta ke ketua kelompok untuk disalin kemudian, hasilnya sama saja!"
Nadia tercekat. Ia masih cemberut, menahan rasa tidak puas, tetapi tidak kuasa membantah pendirian Intan yang keras kepala.
Dipikirkannya lagi: orang-orang itu jahat tanpa batas, muka mereka setebal tembok kota. Meski ditolak, mereka tidak akan mengerti. Mereka tetap jalan sendiri; menyalin saat waktunya menyalin, dan kalau tidak bisa, mereka akan mencari cara. Kemampuan mereka dalam hal ini pasti melampaui bayangan siapa pun.
Setelah insiden kecil itu, suasana di sekitar Intan langsung tenang. Tentu saja, bukan karena teman-teman sekelasnya tiba-tiba menjadi penurut, melainkan delapan lembar pekerjaan rumah yang bisa "merenggut nyawa" mereka. Semua itu harus dikumpulkan pada hari itu juga. Kalau tidak kerja keras di waktu seperti ini, wali kelas bisa menguliti mereka. Beberapa orang yang mengaku suka pelajaran seni cukup menulis sesuatu yang terlihat berisi, selesai urusan; sebagian lagi sibuk menyalin dari buku milik teman dengan kepala tertunduk.
Yang membuat onar sudah berhenti. Intan pun kembali tenang, membuka buku teks, dan melanjutkan hafalan.
Tak lama kemudian, wali kelas masuk dengan langkah tinggi memakai sepatu hak tinggi. Ia seorang guru perempuan yang baru saja menikah, usianya belum genap tiga puluh tahun, bertubuh semampai, mukanya biasa saja, dan di pangkal hidungnya bertengger sepasang kacamata tebal. Matanya yang tajam seperti tak ada satu hal pun yang bisa luput darinya. Begitu ia melangkah ke depan, satu kelas tiba-tiba menahan napas. Mereka yang masih menyalin kertas buru-buru memasukkan lembaran itu ke laci dan mulai bekerja sendirian diam-diam.
"Hem."
Wali kelas berdeham, sengaja mengabaikan murid-murid yang tidak belajar. Ia melirik ke langit-langit lalu berkata dengan nada angkuh, "Ujian masuk SMA masih tiga bulan lagi. Wajib belajar sembilan tahun paling banyak melindungi kalian sampai titik ini. Tiga bulan terakhir ini kalau kalian tidak bekerja keras, begitu ujian selesai kalian akan terjun langsung ke masyarakat. Usia segini mau berbuat apa? Pinggir jalan? Kerja di proyek bangunan? Atau magang saja!"
"Kesulitannya sudah kusebut, dan hari ini aku tidak akan mengulang kalimat basi. Kalian cukup ingat satu hal: ujian ini untuk kalian, bukan untuk guru. Tiga bulan lagi kita berpisah. Aku tidak bisa menolong kalian hidup baik di masa depan. Kalau kamu, Intan, juga tidak mau menjadi baik, itu bukan masalahku. Lalu untuk apa aku repot-repot menyuruh kalian belajar? Karena aku tidak mau kalian kehilangan jalan yang terang!"
Dengan bunyi gemuruh, tumpukan bahan ajar wali kelas itu dihempaskan keras ke atas podium, lalu terlihat mata tajamnya sudah menatap anak laki-laki di sebelah Intan. Anak itu masih menyalin dengan kepala tertunduk, tanpa waspada sedikit pun.
Intan ingin menggarap jidatnya.
"Bima!"
Wali kelas berteriak. "Sedang apa kamu? Serahkan semua yang ada di mejamu! Kamu tidak belajar seharian, tingkahmu seperti preman. Kau pikir masih punya masa depan? Apa orang tuamu buta sampai membesarkan anak seperti ini? Nama saja sudah salah kamu pilih!" Wajah Bima langsung memerah sampai ujung telinga menahan malu.
"Hahaha!"
Seluruh kelas tak kuasa menahan tawa. Intan merasa wali kelas itu memang bermulut tajam, tetapi entah mengapa lucu sekali sampai sudut mulutnya ikut terangkat. Bima meremas bibirnya menahan tawa juga, tidak tahu harus membela diri atau bersyukur mendengar ejekan yang konon menyakitkan itu. Nadia di sebelahnya sudah menunduk menahan tawa di meja. Karena wali kelas masih di depan, ia tidak berani berlebihan; ia tersenyum lalu duduk tegak kembali ke sikap murid teladan.
Wali kelas menunggu kelas tenang sebelum melanjutkan. "Aku tidak peduli kalian seperti apa biasanya. Tiga bulan ke depan, semua harus ekstra keras. Kalau ada yang membuat nilai ujian simulasi kelas turun, kupatahkan kakinya!"
Walau itu hanya gurauan, murid-murid tidak bisa menahan berdebar. Si penguasa kelas itu tentu tidak akan benar-benar memukul. Cukup dengan menambah beberapa lembar pekerjaan dan menghukum mereka diam di kelas untuk berdiri, itu sudah membuat mereka kehabisan tenaga. Anak-anak yang tadi meremehkan langsung menegakkan punggung, pura-pura sibuk mencatat apa yang sebenarnya tidak penting.
Setelah itu, wali kelas menyuruh ketua kelas mengatur membaca pagi, lalu menarik beberapa murid biang keributan untuk maju menghafal. Tidak mengejutkan, mereka begitu serius sampai puisi klasik pun tidak mampu dihafalkan dengan jelas. Yang lebih parah menggumam sia-sia dan berhenti setiap dua kata. Kelompok yang sedikit lebih baik hanya mampu menghafal patah-patah, terputus-putus, tidak lancar sama sekali, dan nyaris membuat wali kelas murka; kepala wanita itu bergerak-gerak menahan kesal seperti hendak meledak.
Akibatnya, pada pelajaran pertama di hari Senin itu, kelas mereka menjadi pemandangan paling indah di koridor sekolah. Dilihat dari jauh, segolongan remaja dengan rambut disasak seperti landak berdiri rapi di luar koridor, buku di tangan, menggumam tidak jelas sampai tampak aneh. Mereka memang menggenggam buku, tetapi tidak satu pun benar-benar membaca halamannya; mulut mereka bergerak sesekali, seperti aktor yang menghafal skenario, membuat pemandangan semakin jauh dari niat belajar. Wali kelas yang sedang menjelaskan kertas sambil sesekali menoleh ke luar merasa matanya sakit melihatnya.
"Kalau nanti aku lihat lagi rambutmu berdiri seperti itu," bentaknya, "aku ambil satu baskom air panas dan kusiramkan ke kepalamu semua!"
Murid pandai tertawa lagi; sementara anak laki-laki yang tinggal di kelas dengan rambut bersasak seperti landak itu ingin bersembunyi di balik meja, takut wali kelas marah dan menghukum mereka. Yang rambutnya ikut disasak buru-buru meratakan kepala, memadamkan keangkuhan sebelum wali kelas sempat melotot.
Begitu bel berbunyi, pelajaran pertama yang ramai itu akhirnya selesai. Lorong-lorong langsung ramai oleh tawa dan obrolan anak yang berebut ke kantin. Nadia menghela napas lega, lemas rebah, lalu mengeluh kecil kepada Intan. "Mengapa wali kelas saya hari ini seperti menelan mesiu?" Baru masuk langsung memasang wajah cemberut, satu kelas tidak ada senyum. Betapa menjengkelkan ibu menopause itu! Ia menggerutu lagi, "Padahal kemarin aku lihat dia masih ramah sekali waktu memberi nilai rapor."
"Orang yang sama, kan?"
Intan hendak menjawab ketika mendengar keributan di sisi lain. Ia menoleh sambil refleks: dilihatnya Bima bergegas dari koridor seperti angin menuju bangkunya, lalu mulai menyalin kertas dengan terang-terangan, hampir menangis. "Siapa yang menyusun PR sebanyak ini? Mengapa sebanyak ini? Mau membunuh orang atau apa? Kalau tidak selesai bagaimana!" Tangannya terbang ke sana kemari, menyalin tanpa sempat membaca, seakan setiap menit yang tersisa adalah kesempatan hidupnya yang terakhir.
Melihat pemandangan menyedihkannya itu, semangat Nadia langsung membaik; ia tampak senang melihat kesialan orang. Nadia mengolok Bima beberapa kalimat sebelum berbalik serius ke Intan. "Orang tuaku kenal pimpinan SMA Mutiara. Asal aku dapat nilai yang mereka tentukan dalam ujian, aku bisa masuk. Intan, nilai kamu bagus, pasti tidak masalah. Nanti kita bisa sekolah lagi bersama di SMA Mutiara."
Nadia berpikir sangat baik. Hanya Intan yang tahu keadaan sebenarnya.
Pada kehidupan sebelumnya, mereka berdua sama-sama diterima di SMA Mutiara, tetapi tidak di kelas yang sama. Keluarga Nadia mengenal para pimpinan sekolah itu, dan orang tuanya langsung memasukkan Nadia ke kelas anak-anak orang kaya di kala itu. Di kelas tersebut, Nadia punya sahabat baru yang seangkatan dengannya.
Waktu kelas satu, mereka masih bisa berbincang sesekali di kantin atau di lorong, sekadar bertukar cerita tentang guru yang sama. Begitu duduk di kelas dua dan dibagi-bagi jurusan karena beban belajar yang berat, mereka jarang bertemu; jadwal yang padat membuat mereka hampir tidak punya waktu untuk mengobrol. Persahabatan gadis itu murni dan rapuh; tidak tahan diuji berkali-kali, apalagi ditekan oleh gerusan waktu. Sampai di kelas tiga, keduanya sudah terlalu sibuk dan tidak lagi berinteraksi; paling sering hanya saling sapa ketika berpapasan di jalan.
Terlebih lagi, Nadia masuk ke lingkaran yang tidak mungkin dijangkau Intan, dan di sana ia pun biasa membandingkan diri. Ia punya banyak pikiran kecil, hanya berteman dengan anak orang mampu. Dengan sendirinya, ia menjauh dari teman yang berlatarbelakang keluarga sederhana seperti Intan.
Padahal mereka sudah berjanji akan masuk SMA Mutiara bersama.
Intan ragu sesaat, lalu mengangguk. Namun dalam hatinya sebuah keputusan sudah bulat: ia tidak akan pergi ke SMA itu, dan ia tidak akan mencabut janji di depan Nadia. Anak seusia mereka belum dewasa; cara berpikir mereka hitam-putih. Mereka tidak peduli alasanmu apa pun; yang mereka pikirkan hanyalah kamu berjanji dengan baik-baik, lalu berubah sikap di menit terakhir. Pasti akan ada retak di antara dua sahabat.
Daripada banyak bicara, lebih baik diam.
Intan menunduk. Rahasia tentang kehidupan sebelumnya, dan pilihan yang sudah ia kunci erat di dalam hati, ia bawa sendiri tanpa menyuarakannya kepada siapa pun. Ia tahu persis apa yang akan ia lakukan: lulus dengan nilai terbaik, masuk ke sekolah negeri yang biayanya ringan dan tetap bermutu, lalu menjaga jarak dari lingkaran yang kelak membuat Nadia berubah. Biarlah Nadia menempuh jalannya yang lebar; Intan menyusuri jalannya sendiri yang sempit, tetapi pasti — dengan sebotol kecil air mustika yang ia sembunyikan di dasar ranselnya dan tekad yang menebal di dadanya. Itulah bagian terpenting dari rahasia yang ia bawa: ia bukan lagi gadis lima belas tahun yang lugu, dan tidak akan pernah menjadi korban yang sama untuk dua kali. Rahasia itu miliknya sendirian, dan di balik rahasia itulah ia mulai menapaki langkah panjang yang telah lama ia nantikan.
dia udh bisa memahami kehidupan saat di masa depan, bu...