NovelToon NovelToon
Rahasia Yang Kau Bawa

Rahasia Yang Kau Bawa

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Bad Boy / Cintamanis
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Keisha lari membawa rahasia hidupnya. Lima tahun ia bersembunyi, berpikir tak ada yang akan tahu. Tapi Arsen tidak pernah berhenti mencari. Ketika mereka bertemu kembali, dunia Keisha gemetar. Pria itu datang bukan untuk membenci, tapi untuk menuntut haknya sebagai seorang ayah dan ingin memiliki Keisha sepenuhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DUA GARIS MERAH

BAB 5 — DUA GARIS MERAH

Sejak malam di mana ia menghitung tanggal di kalender itu, hidup Keisha sepenuhnya berubah menjadi neraka kegelisahan yang tak berujung.

Ia bangun setiap pagi dengan dada yang terasa sesak, seolah ada beban berat yang menindihnya. Tidur di malam hari pun tak pernah tenang, pikirannya terus berputar kacau membayangkan hal-hal buruk yang mungkin terjadi.

Setiap kali ia menatap pantulan dirinya di cermin, ia merasa asing. Wajahnya terlihat jauh lebih pucat, lingkaran hitam mulai terbentuk di bawah matanya, dan sorot matanya yang biasanya ceria kini penuh dengan ketakutan serta kecemasan. Bahkan senyum termudah pun seakan hilang entah ke mana.

“Sha, kamu sakit?”

Pertanyaan itu terlontar dari ibunya saat mereka sedang duduk bersama di meja makan pagi itu.

Keisha yang sedang mengaduk bubur di mangkuknya langsung tersentak kaget. Tangannya berhenti bergerak.

“Enggak kok, Bu. Cuma... mungkin kurang tidur aja,” jawabnya pelan, berusaha terdengar wajar.

Ibunya menatapnya lekat-lekat, wajah penuh tanda tanya. “Kuliah terlalu berat ya sampai bikin lemas begini?”

“Iya... tugasnya banyak banget, Bu.”

Keisha menunduk dalam, menyembunyikan wajahnya yang mulai memanas. Ia berbohong. Dan rasanya perih sekali harus membohongi orang yang paling ia sayangi.

Padahal, tugas terberat dan paling menakutkan yang sedang ia hadapi saat ini sama sekali bukan berasal dari kampus.

Melainkan rasa takut yang terus menjalar dan tumbuh besar di dalam kepala dan dadanya.

 

Hari-hari berganti, dan tubuhnya seolah semakin keras memberikan jawaban yang tak bisa lagi ia bantah.

Setiap pagi, rasa mual datang menyerang dengan hebatnya.

Bau minyak goreng atau masakan yang biasanya harum, kini justru membuat perutnya bergejolak dan ingin muntah.

Payudaranya terasa nyeri dan kencang.

Tubuhnya terasa lemas dan cepat sekali capek meski hanya melakukan aktivitas ringan.

Dan yang paling jelas... jadwal bulannya masih tak kunjung datang juga.

Keisha berusaha mati-matian mencari alasan lain untuk menenangkan dirinya sendiri.

Mungkin cuma gangguan hormon.

Mungkin karena terlalu banyak pikiran dan stres.

Mungkin karena kelelahan kuliah.

Namun semakin ia berusaha menyangkal kenyataan, semakin keras pula tubuhnya memberikan sinyal bahwa ada sesuatu yang berbeda dan salah sedang terjadi di dalam sana.

 

Sore itu, seusai pulang dari kelas, Keisha berdiri mematung di depan sebuah minimarket tak jauh dari area kampus.

Sudah hampir sepuluh menit ia mondar-mandir tanpa tujuan jelas di depan rak-rak makanan ringan.

Tangannya sedingin es.

Jantungnya berdegup kencang tak karuan, seakan ingin melompat keluar dari rongga dada.

Ia tahu persis apa yang harus ia beli. Ia tahu apa yang harus ia lakukan untuk mendapatkan kepastian.

Tapi kakinya seakan terpaku di lantai, menolak untuk bergerak mendekati rak yang dimaksud.

Akhirnya, setelah menarik napas panjang dan mengumpulkan seluruh nyali yang tersisa, Keisha melangkah cepat. Tangannya meraih satu kotak kecil berwarna putih di bagian rak kesehatan, lalu segera memeluknya erat di dada seolah itu benda paling berharga sekaligus paling memalukan di dunia.

Rasanya persis seperti sedang melakukan kejahatan besar.

Ia bahkan tidak berani menatap wajah kasir saat membayar. Kepalanya tertunduk dalam, berharap bisa menghilang seketika.

Meskipun kasir itu hanya tersenyum biasa dan melayani dengan profesional, Keisha merasa seolah seluruh dunia tahu rahasia besar yang sedang ia sembunyikan.

 

Sesampainya di kamar kos, ia langsung mengunci pintu rapat-rapat.

Tasnya ia lempar sembarangan ke atas kursi.

Kotak kecil itu ia bawa masuk ke kamar mandi dan diletakkan di atas wastafel keramik yang dingin.

Jari-jemarinya gemetar hebat saat merobek kemasan plastik tersebut.

“Tenang, Keisha... tenang,” bisiknya pada pantulan dirinya di cermin, suaranya bergetar. “Pasti hasilnya negatif. Pasti cuma salah perhitungan.”

Ia mengulang-ulang kalimat itu berkali-kali layaknya doa, berharap Tuhan mendengar dan mengabulkannya.

Setelah prosedur selesai dilakukan, ia duduk di atas dudukan kloset dengan lutut ditarik ke dada, memeluknya erat-erat.

Waktu yang ditentukan hanya tiga menit. Namun bagi Keisha, tiga menit itu terasa selamanya. Terasa seperti tiga jam yang menyiksa.

Ia menatap lantai keramik, tak berani menengadah.

Takut melihat hasilnya.

Takut menghadapi kenyataan pahit yang mungkin ada di depannya.

Di kepalanya, ribuan pertanyaan dan skenario berputar kacau.

Bagaimana kalau hasilnya positif?

Bagaimana dengan kuliahnya yang baru saja dimulai?

Bagaimana reaksi orang tuanya nanti?

Bagaimana dengan masa depannya yang baru saja ia bangun?

Dan yang paling menyakitkan...

Bagaimana dengan Arsen?

Nama pria itu muncul begitu saja tanpa diundang.

Pria yang sama sekali tidak tahu apa-apa tentang kondisi ini.

Pria yang bahkan tidak bisa ia temukan keberadaannya.

Pria yang mungkin sudah lama melupakan wajah gadis bernama Keisha ini.

Ting!

Suara alarm di ponselnya berbunyi, memecahkan lamunan dan ketegangan yang mencekam.

Keisha memejamkan mata rapat-rapat sekuat tenaga.

Dengan tangan yang gemetar, ia perlahan meraih alat tes kecil itu di wastafel.

Ia membuka matanya perlahan.

Dan seketika... dunianya seakan berhenti berputar.

Dua garis merah.

Jelas sekali.

Tegas.

Terang.

Tak bisa disalahartikan sedikitpun.

Tubuh Keisha membeku kaku. Napasnya tercekat di tenggorokan, tak bisa keluar masuk.

Ia menatap benda itu berkali-kali, memicingkan mata, berharap salah satu garis itu akan hilang jika dilihat lama-kelamaan.

Tapi tidak. Hasilnya tetap sama.

Positif.

“Aku... hamil?”

Suara itu keluar dari bibirnya sangat pelan, nyaris tak terdengar, lebih seperti bisikan angin.

Dan detik berikutnya, air matanya jatuh.

Satu tetes.

Dua tetes.

Lalu berubah menjadi isak tangis yang tak bisa lagi dibendung. Tangis yang pecah, penuh keputusasaan dan ketakutan.

Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan, berusaha meredam suaranya agar tidak terdengar oleh siapa pun. Tubuhnya bergetar hebat, kakinya lemas tak kuat menopang berat badan.

Ia baru delapan belas tahun.

Baru saja resmi menjadi mahasiswa.

Baru saja mulai melangkah mengejar impian dan cita-citanya.

Dan sekarang...

Ada kehidupan lain yang sedang tumbuh dan berkembang di dalam rahimnya.

 

Malam itu Keisha tak keluar dari kamarnya sama sekali.

Rina berkali-kali menelepon dan mengirim pesan, namun tak satu pun diangkat atau dibalas.

Ia hanya duduk di lantai dingin, bersandar pada tepi ranjang, sambil memeluk lututnya erat-erat.

Pandangannya kosong menatap dinding kamar, tapi pikirannya melayang ke mana-mana.

Bayangan wajah ayahnya muncul jelas di benaknya. Pria tegas yang selalu begitu bangga menyebut-nyebut putrinya sebagai anak yang pintar dan berprestasi.

Lalu bayangan wajah ibunya. Wanita lembut yang selalu percaya penuh dan menyayanginya tanpa syarat.

Kalau mereka tahu apa yang telah terjadi... kalau mereka tahu apa yang sedang ia kandung...

Keisha menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan dan menangis lagi.

Ia benar-benar tidak sanggup membayangkan betapa kecewa dan hancurnya perasaan mereka nanti.

 

Lalu, pikirannya beralih kembali pada sosok pria itu.

Arsen.

Haruskah ia berusaha mencari pria itu lagi?

Haruskah ia memberitahu bahwa ia akan menjadi seorang ayah?

Tapi... bagaimana caranya?

Ia tak punya nomor teleponnya.

Tak tahu nama lengkapnya.

Tak tahu alamat rumah atau kantornya.

Ia tak punya apa-apa selain kenangan.

Dan bahkan jika... jika saja ia berhasil bertemu dengannya...

Bagaimana kalau Arsen menuduhnya berbohong?

Bagaimana kalau pria itu menyuruhnya untuk menggugurkan kandungan ini?

Atau yang paling buruk... bagaimana kalau Arsen menganggapnya wanita murahan yang sengaja menjebak dan mengikatnya dengan cara seperti ini?

Refleks, tangan Keisha turun dan memeluk perutnya yang masih rata itu erat-erat, seolah melindungi sesuatu yang sangat berharga.

“Enggak...” bisiknya di sela tangis. “Aku enggak bisa... aku enggak sanggup kalau harus dapat perlakuan kayak gitu.”

 

Larut malam, saat suasana sudah sangat hening, Keisha berbaring menatap langit-langit kamarnya yang gelap.

Matanya sudah bengkak dan perih. Kepalanya terasa berat dan pecah.

Namun perlahan, satu keputusan mulai terbentuk jelas di benaknya.

Ia tidak akan sanggup dan tidak mau menghilangkan nyawa di dalam perutnya ini.

Tak peduli bagaimana bayi ini hadir, tak peduli betapa besar kesalahan yang telah diperbuatnya... bayi ini tetaplah darah dagingnya. Anaknya.

Dan saat kesadaran itu muncul, rasa takut justru bertambah berkali-kali lipat.

Jika ia memutuskan untuk mempertahankan bayi ini, maka seluruh hidupnya akan berubah total dalam sekejap.

Dunia perkuliahan.

Keharmonisan keluarga.

Masa depan yang cerah.

Semuanya bisa berantakan dan hancur berkeping-keping.

Tiba-tiba, sebuah ide atau lebih tepatnya sebuah pelarian muncul di benaknya.

Pergi.

Pergi menjauh.

Jauh dari semua orang.

Jauh dari rasa malu dan tatapan sinis orang lain.

Jauh dari pertanyaan-pertanyaan yang menyakitkan.

Dan jauh... dari kenangan akan Arsen.

Keisha bangkit duduk dengan napas yang memburu.

Ia teringat akan Bibi Rina—saudara jauh dari ibunya yang sudah lama menetap di Kanada. Mereka memang jarang bertemu dan berhubungan, tapi ia tahu bibinya adalah wanita yang sangat baik hati dan penyayang.

Kalau ia memohon... kalau ia meminta bantuan...

Mungkin... mungkin masih ada sedikit harapan tersisa.

Air mata kembali menetes membasahi pipinya.

“Maafkan Mama, Nak...” bisiknya lembut sambil mengusap perutnya pelan. “Mama benar-benar belum tahu harus melakukan apa dan bagaimana...”

Namun untuk pertama kalinya sejak melihat dua garis merah yang mengubah hidup itu...

Ia merasa memiliki satu pilihan.

Dan pilihan itu berarti ia harus siap kehilangan dan meninggalkan segalanya.

Bersambung...

1
Erna Wati
ayolah keisha masak kamu LBH percaya sama org lain dari pada suami mu buka mata kamu keisa KLO Kevin itu org jahat
wiwi: iyaa nih kak, padahal kan kita harus lebih percaya suami😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!