Setelah lima tahun berjuang tanpa hasil, Ardiah akhirnya menyerah pada desakan keluarga suaminya. Ia meminta Ferdi menceraikannya demi memenuhi keinginan ibunya untuk menikah lagi.
Dengan hati hancur, mereka pun berpisah. Namun dari rasa sakit itu, Ardiah bangkit dengan penampilan baru, memakai hijab dan kembali bekerja sebagai desainer interior di sebuah perusahaan besar.
Di sana, ia bertemu Haikal Akram, CEO muda yang dulu sering mengganggunya saat kuliah. Awalnya Ardiah tak suka padanya, tapi seiring waktu, sikap Haikal berubah menjadi lebih dewasa dan penuh perhatian.
Sementara itu, Ferdi mulai menyadari kesalahannya setelah melihat Ardiah tumbuh menjadi wanita kuat dan mandiri.
Apakah cinta pertama bisa kembali? Atau justru Ardiah akan menemukan kebahagiaan sejati bersama Haikal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PELABUHAN TERAKHIR SANG HATI.
Kabut tipis sisa semalam masih menggantung rendah saat mentari pagi mulai menyembul di balik perbukitan Puncak. Ardiah melangkah keluar ke teras villa dengan segelas teh hangat di tangannya. Matanya langsung menangkap sosok Haikal yang sudah rapi mengenakan kaus santai dan celana jins, melambaikan tangan ke arahnya dari batas perkebunan teh yang terletak persis di samping pekarangan villa.
"Kak, ayo jalan-jalan pagi! Udara hari ini sangat bagus," teriak Haikal riang.
Ardiah tersenyum tipis, lalu meletakkan gelasnya dan berjalan menyusul suaminya. Mereka melangkah beriringan membelah jalan setapak di antara rimbunnya pohon teh yang basah oleh embun. Di ujung jalan, tampak beberapa ibu-ibu pekerja pemetik teh sedang beristirahat di sebuah saung kecil yang terletak di pinggir pematang sawah.
"Selamat pagi, Ibu-ibu semuanya!" sapa Haikal dengan suara lantang tanpa ada rasa canggung sedikit pun.
"Eh, Selamat pagi, Pak Haikal! Wah, jalan-jalan sama siapa ini, Pak? Cantik sekali," sahut salah seorang ibu pemetik teh dengan ramah.
Haikal langsung merangkul pundak Ardiah dengan bangga. "Ini istri saya, Bu. Namanya Ardiah. Bagaimana? Saya pintar mencari istri, kan?"
"Wah, iya, Pak! Serasi sekali, yang satu tampan, yang satu jelita," puji ibu yang lain membuat pipi Ardiah merona merah.
Ardiah memperhatikan suaminya dengan saksama. Pria di sampingnya ini adalah seorang CEO muda dari keluarga konglomerat, namun sama sekali tidak membatasi diri atau mempermasalahkan kasta sosial. Haikal justru dengan santai mendudukkan dirinya di lantai kayu saung yang beralas tikar seadanya.
"Bawa bekal apa ini, Bu? Aromanya wangi sekali," tanya Haikal penasaran, menatap sebungkus nasi liwet dengan lauk ikan asin dan sambal korek di tengah saung.
"Ini cuma masakan ala kadarnya, Pak. Masakan kampung, tidak cocok untuk lidah orang kota seperti Bapak dan Ibu," ujar seorang pekerja merasa sungkan.
"Siapa bilang? Wah, ini justru makanan mewah bagi saya," sahut Haikal. Tanpa rasa jijik, ia langsung membasuh tangannya dengan air di kendi dan mengambil sejumput nasi beserta ikan asin, lalu menyuapkannya ke dalam mulut. "Mantap! Kak Diah, ayo coba ini. Enak sekali."
Ardiah tertegun melihat ketulusan Haikal. Sikap suaminya ini sangat berbeda jauh dengan keluarga mantan suaminya dulu yang selalu memandang rendah orang lain berdasarkan materi. Sifat membumi Haikal perlahan-lahan meruntuhkan sisa dinding es yang membeku di dalam hati Ardiah.
"Ayo, Kak, buka mulutmu," ujar Haikal, menyodorkan sejumput nasi ke depan bibir Ardiah.
Ardiah menerima suapan itu dengan senyuman tulus yang kini sering terpancar di wajahnya. Namun, dasar Haikal tidak bisa diam, pria itu tiba-tiba mencolek sisa lumpur sawah yang ada di pinggir saung dan mengoleskannya ke pipi mulus Ardiah.
"Haikal! Apa-apaan ini!" seru Ardiah terkejut.
"Hahaha! Wajahmu jadi seperti kucing, Kak!" goda Haikal, lalu langsung melompat turun dan berlari ke atas pematang sawah yang sempit.
"Sini kamu! Jangan lari!" teriak Ardiah gemas. Ia langsung mengangkat sedikit ujung celananya dan mengejar Haikal yang tertawa lepas di depannya.
Mereka berkejaran di antara hamparan hijau pematang sawah, saling melempar tawa di bawah langit pagi yang cerah. Pemandangan romantis itu mengundang tawa gemas dari ibu-ibu pekerja yang menonton dari kejauhan. Sore harinya, saat Haikal membawa Ardiah kembali ke villa, wajah wanita itu tampak jauh lebih segar. Beban masa lalu yang sempat menghimpitnya seolah sirna berganti kebahagiaan yang membuncah.
Malam harinya, setelah makan malam yang hangat, mereka berdua duduk santai di balkon kamar utama. Angin malam Puncak berembus dingin, namun kehangatan menyelimuti mereka berdua yang sedang mengobrol terbuka tentang banyak hal.
Ardiah menatap cangkir tehnya, lalu beralih menatap lurus ke dalam sepasang mata elang Haikal. "Haikal..."
"Iya, Kak? Ada apa?" sahut Haikal lembut.
Ardiah menarik napas dalam-dalam, memantapkan hatinya yang kini telah seutuhnya luluh. "Aku... aku rasa aku sudah siap."
Haikal mengernyitkan dahi sejenak, mencoba mencerna maksud ucapan istrinya. "Siap untuk apa, Kak?"
"Aku siap menjadi istrimu yang sesungguhnya. Lahir dan batin," tutur Ardiah dengan nada suara yang bergetar namun sarat akan keyakinan.
Haikal seketika terpaku di tempatnya. Ia menatap lekat-lekat ke dalam mata Ardiah, mencari apakah ada keraguan atau paksaan di sana. Namun, yang ia temukan hanyalah ketulusan dan rasa cinta yang mendalam. "Kak, kamu serius? Kamu tidak sedang terpaksa, kan?"
Ardiah tidak menjawab dengan kata-kata. Ia memilih menjawab dengan tindakan. Wanita itu memajukan tubuhnya, mengikis jarak di antara mereka, lalu mendaratkan sebuah ciuman singkat tepat di bibir Haikal.
Haikal mematung selama beberapa detik merasakan sentuhan manis itu. Setelah kesadarannya kembali, ia mengunci pandangannya pada bibir ranum Ardiah yang kini sedikit terbuka. Mengabaikan udara dingin di sekitar mereka, Haikal mendekatkan wajahnya dengan perlahan, lalu meraih bibir Ardiah dan melumatnya dengan penuh kelembutan serta rasa syukur yang membuncah.
Ardiah tidak lagi menarik diri. Ia memejamkan matanya, merespon setiap lumatan lembut yang diberikan oleh suaminya. Tanpa sadar, kedua belah tangan Ardiah mulai bergerak naik, melingkar dengan erat di leher kokoh Haikal, memperdalam tautan mereka yang kian memanas.
Mendapatkan respon hangat dari sang istri, gairah yang selama ini dipendam oleh Haikal seketika membumbung tinggi. Tanpa melepaskan tautan bibir mereka, Haikal dengan sigap menyusupkan lengannya ke bawah tubuh Ardiah, mengangkat tubuh ramping istrinya dengan mudah, lalu membawanya melangkah masuk menuju ranjang besar mereka di dalam kamar.
Haikal merebahkan tubuh Ardiah di atas kasur yang empuk dengan sangat hati-hati. Saat ia menjauhkan wajahnya sebentar, napas mereka berdua tampak memburu, dan sepasang mata Haikal kini telah menggelap, dipenuhi oleh hasrat yang membara.
"Kak... bolehkah aku memilikimu seutuhnya malam ini?" tanya Haikal dengan suara serak, meminta izin demi menghormati kenyamanan istrinya.
Ardiah mengangguk perlahan dengan tatapan mata yang sayu namun penuh penyerahan. "Iya, Haikal. Miliki aku."
Mendapatkan lampu hijau yang dinantikannya, Haikal membisikkan kata terima kasih berulang kali. Ia mulai mengecup kening, pipi, dan seluruh wajah Ardiah dengan penuh rasa cinta, sebelum kembali mengunci bibir istrinya dalam lumatan yang semakin dalam dan menuntut. Sebuah lenguhan lembut lolos dari bibir Ardiah, memicu gairah Haikal hingga ke puncaknya.
Dengan gerakan cepat, Haikal membuka kemeja yang dikenakannya. Ardiah yang menyadari hal itu ikut mengulurkan tangannya, membantu melepaskan kancing-kancing kemeja suaminya hingga menampakkan dada bidang Haikal yang kokoh. Setelah itu, dengan saksama dan penuh kelembutan, Haikal mulai menanggalkan piyama yang dikenakan Ardiah, menelusuri setiap jengkal kulit dan lekuk tubuh istrinya yang tampak begitu indah di bawah temaramnya lampu kamar.
Bagi Ardiah yang sudah pernah berumah tangga, momen seperti ini bukanlah hal yang pertama kali dalam hidupnya. Namun, sentuhan Haikal terasa begitu berbeda, begitu menghargai dan penuh kasih, membuat Ardiah dengan mudah mengimbangi setiap hasrat dan permainan yang diberikan oleh suaminya. Malam itu, di dalam keheningan kamar villa yang hangat, dua jiwa yang sempat terluka dan mencari arah akhirnya benar-benar menyatu dalam laut asmara yang panas dan suci, mengikat janji suci mereka dalam dekap takdir yang tak lagi terpisahkan.
memang yah bu nurul kalau penyesalan pasti datang terlambat 😁😁😁