Setelah lima tahun berjuang tanpa hasil, Ardiah akhirnya menyerah pada desakan keluarga suaminya. Ia meminta Ferdi menceraikannya demi memenuhi keinginan ibunya untuk menikah lagi.
Dengan hati hancur, mereka pun berpisah. Namun dari rasa sakit itu, Ardiah bangkit dengan penampilan baru, memakai hijab dan kembali bekerja sebagai desainer interior di sebuah perusahaan besar.
Di sana, ia bertemu Haikal Akram, CEO muda yang dulu sering mengganggunya saat kuliah. Awalnya Ardiah tak suka padanya, tapi seiring waktu, sikap Haikal berubah menjadi lebih dewasa dan penuh perhatian.
Sementara itu, Ferdi mulai menyadari kesalahannya setelah melihat Ardiah tumbuh menjadi wanita kuat dan mandiri.
Apakah cinta pertama bisa kembali? Atau justru Ardiah akan menemukan kebahagiaan sejati bersama Haikal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GUBUK DI PINGGIR SUNGAI.
Perjalanan darat yang melelahkan membawa Haikal dan Roni tiba di sebuah desa kecil di pinggiran Wonosobo, Jawa Tengah. Namun, kenyataan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Begitu sampai, Haikal baru menyadari satu kecerobohan besarnya: ia sama sekali tidak tahu nama nenek Ardiah. Lebih parahnya lagi, saat ia bertanya ke beberapa warga desa sambil menunjukkan foto, tidak ada satu pun yang mengenali nama "Ardiah".
"Di sini panggilannya memakai nama kecil atau nama kesayangan, Mas. Kalau nama kota begitu, kami tidak tahu," ujar salah seorang perangkat desa.
Hal itu memaksa Haikal dan Roni untuk menetap di sebuah penginapan kecil di dekat pasar desa. Hari pertama dan kedua berlalu tanpa hasil, membuat keputusasaan Haikal semakin menggunung.
Hingga pada hari ketiga, saat Haikal sedang menelusuri hiruk-pikuk pasar tradisional setempat dengan sisa-sisa harapannya, netra matanya mendadak menangkap sesosok wanita berhijab instan abu-abu di kejauhan. Wanita itu sedang menawar sayuran, lalu naik ke atas sebuah becak kayu.
Kak Diah! batin Haikal bersorak. Jantungnya berdegup kencang.
Tanpa membuang waktu, Haikal menyuruh Roni, mengikuti arah becak tersebut dari jarak aman agar tidak ketahuan. Becak itu bergerak menjauh dari area pasar, membelah jalanan setapak yang semakin menyempit, hingga memasuki sebuah kampung terpencil di pinggiran desa yang berbatasan langsung dengan aliran sungai berarus tenang. Di sanalah becak itu berhenti, tepat di depan sebuah gubuk bambu sederhana yang tampak asri namun sangat bersahaja.
Ardiah turun dari becak, membawa kantong belanjaannya. Namun, baru saja ia hendak melangkah menuju pintu gubuk, sebuah bayangan tinggi tegap mendadak berdiri di hadapannya.
"Kak Diah," panggil Haikal dengan suara serak, napasnya memburu karena rasa rindu.
Ardiah tersentak hebat hingga kantong belanjaannya hampir terjatuh. Matanya membelalak tidak percaya menatap sosok suaminya yang kini berpenampilan jauh dari kata rapi—wajahnya kusam, dengan lingkaran hitam di bawah mata akibat tidak tidur berhari-hari.
"H-haikal? Bagaimana bisa kamu..." Ardiah melangkah mundur, ketakutan dan traumanya mendadak kembali naik ke permukaan. "Pergi, Haikal! Mau apa lagi kamu ke sini? Pergi! Jangan ganggu aku!" teriak Ardiah beruntun, berusaha mengusir suaminya.
"Kak, tolong dengarkan aku dulu..."
"Tidak mau! Pergi!"
Keributan di halaman depan itu rupanya mengusik ketenangan penghuni gubuk. Pintu bambu perlahan terbuka, menampilkan seorang wanita lansia berwajah teduh penuh kerutan, mengenakan kebaya lurik usang dan kain jarik. "Ada apa ini, Nduk? Siapa yang teriak-teriak di depan rumah?" tanya sang Nenek dengan logat Jawa yang kental.
Sebelum Ardiah sempat menjawab, Haikal langsung mengambil langkah seribu. Ia maju, membungkuk takzim, lalu menyalami tangan keriput sang Nenek dengan sangat hormat. "Selamat siang, Mbah. Perkenalkan, nama saya Haikal. Saya... saya adalah suami dari Ardiah, Mbah."
Ardiah langsung memotong dengan panik. "Bukan, Mbah! Jangan percaya dia! Dia bukan suamiku, Mbah!"
Mendengar sanggahan dari istrinya, Haikal tidak kehilangan akal. Dengan cepat, ia merogoh saku dalam jasnya yang sudah kusut, mengeluarkan sepasang buku nikah resmi berwarna cokelat dan hijau, lalu memperlihatkannya langsung di hadapan sang Nenek. "Ini bukti sahnya, Mbah. Kami baru saja menikah beberapa hari yang lalu."
Nenek mengambil buku tersebut, memperhatikannya dengan saksama melalui kacamata tuanya, lalu menatap Ardiah dengan pandangan menegur yang tajam. "Nduk, kamu ini bagaimana? Ini jelas-jelas suamimu yang sah. Tidak boleh kamu kasar dan mengusir suamimu seperti itu. Surga seorang istri itu sekarang sudah berpindah ada pada suamimu, tahu?"
Ardiah hanya bisa menunduk dalam, menggigit bibir bawahnya dengan perasaan campur aduk antara malu dan kesal.
Sang Nenek menghela napas panjang, lalu mempersilakan mereka berdua duduk di bangku bambu teras gubuk. Beliau menatap Haikal dan Ardiah bergantian dengan pandangan bijak khas orang tua yang kenyang makan asam garam kehidupan.
"Dengarkan Nenek, ya, kalian berdua," tutur sang Nenek dengan suara yang lembut namun berwibawa. "Dalam rumah tangga, kalau ada masalah atau sedang bertengkar, seorang istri itu tidak boleh langsung pergi meninggalkan rumah. Tindakan seperti itu bisa menutup pintu rezeki keluarga kecil kalian."
Nenek kemudian menoleh, menatap lurus ke arah mata Haikal. "Dan untukmu, Ngger, sebagai suami. Kamu tidak boleh hanya memaksakan kehendak dan keinginanmu sendiri tanpa memikirkan perasaan istrimu. Suami-istri yang baik itu harus saling menghormati, saling menyayangi, dan selalu terbuka satu sama lain. Jangan ada yang disembunyikan."
Nasihat sederhana dari sang Nenek seketika menghantam telak lubuk hati Haikal. Rasa bersalah yang sempat tertahan kini kembali membuncah. Ia menatap Ardiah yang masih menunduk kaku di sampingnya.
Haikal perlahan berlutut di lantai tanah teras gubuk, tepat di hadapan tempat duduk Ardiah. Ia meraih kedua tangan istrinya, menggenggamnya dengan sangat erat namun lembut.
"Kak Diah, aku minta maaf," ucap Haikal dengan suara yang bergetar menahan haru. "Aku benar-benar minta maaf atas kebodohanku di rumah sakit hari itu. Aku bersumpah, demi Allah, aku tidak akan pernah lagi membawamu ke rumah sakit atau pengobatan apa pun. Aku juga berjanji tidak akan pernah menuntut kehadiran seorang anak darimu."
Ardiah mendongak, matanya yang mulai berkaca-kaca menatap lekat ke dalam manik mata Haikal.
"Aku menikahimu karena aku ingin selalu bersamamu, Kak," lanjut Haikal dengan pandangan mata yang begitu tulus, air matanya sendiri mulai menggenang. "Ada atau tidak adanya anak di antara kita nanti, itu tidak akan mengurangi sedikit pun rasa cintaku padamu. Aku akan terus mencintaimu, menjaga segenap hatimu, hingga maut memisahkan kita berdua."
Ardiah tertegun diam seribu bahasa. Kalimat demi kalimat yang meluncur dari bibir Haikal terasa begitu menghunjam dadanya, meruntuhkan sisa-sisa dinding ketakutan yang selama ini ia bangun. Ia tampak bingung, hatinya bergejolak hebat antara logika yang menolak karena trauma masa lalu, dan hatinya yang mulai luluh oleh ketulusan luar biasa dari pria di depannya ini. Ia tidak bisa mengambil keputusan secepat itu.
Melihat keraguan yang masih membayang di wajah istrinya, Haikal mengulas senyum tipis yang sangat menenangkan. Ia mengusap punggung tangan Ardiah lembut.
"Kak Diah tidak perlu bingung, dan tidak perlu memaksa diri untuk secepatnya mencintaiku sekarang," ujar Haikal dengan nada pasrah namun penuh tekad. "Aku akan menunggu sampai kapan pun Kakak siap. Kakak cukup tetap berada di sisiku saja, biarkan aku yang menjalankan tugasku untuk selalu mencintaimu setiap hari."
Mendengar kalimat terakhir dari Haikal yang begitu menyentuh dan mendalam, pertahanan Ardiah akhirnya runtuh total. Air mata yang sejak tadi ia tahan kini meleleh, mengalir deras membasahi pipinya. Rasa haru dan sesak berkecamuk di dalam dadanya. Di satu sisi, hatinya terenyuh hebat oleh cinta Haikal yang begitu besar, namun di sisi lain, bayang-bayang ketakutan masa lalu masih menyisakan sedikit keraguan di sudut hatinya yang terdalam.
udah tak kasih kopi buat temen begadang...