"Aku lahir dari puncak sebuah ego yang membara, Tapi aku dikunci rapat oleh darah dan rahasia maut di malam badai.
Aku membuat dua orang yang saling mencintai menatap dengan tatapan es,
Dan aku terukir abadi sebagai garis pucat di perut sang wanita. Siapakah aku?"
Enam tahun lalu, ego memisahkan mereka.
Sebuah kecelakaan maut yang merenggut nyawa Amara, sahabat dari Vexana Valerio Dan Landon Dasmon—mengubah cinta membara menjadi kebencian pekat yang saling menyalahkan.
Kini, takdir memaksa Vexana dan Landon kembali berhadapan di koridor kampus yang sama.
Di antara dendam yang membakar dan penyesalan yang terlambat, mampukah mereka mengungkap kebenaran malam badai itu, atau justru hancur bersama puing-puing masa lalu?
~~~~~~
Happy reading 🦋🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#18
Akhir pekan berlalu seperti siksaan yang merayap lambat bagi Vexana. Setiap detik yang berputar di dalam mansion Bel-Air terasa mencekam, dipenuhi oleh bayang-bayang sepasang mata legam Landon Desmon yang memerah di parkiran, serta tawa riang AJ yang kini terasa seperti melodi rahasia yang paling berbahaya.
Vexana menghabiskan waktu dua hari itu dengan mengunci diri di kamar, meneliti setiap lembar draf proposal yang dikirimkan Aurelie, mencoba menenggelamkan rasa paniknya ke dalam tumpukan analisis manajemen bisnis.
Hingga akhirnya, hari Senin yang mendebarkan itu tiba.
Pukul 08.45 pagi. Koridor lantai empat Gedung Teknik Elektro UCLA tampak jauh lebih sepi dibandingkan lantai bawah. Di sini, atmosfer akademis terasa begitu pekat, didominasi oleh aroma besi, pelumas mesin, dan papan-papan sirkuit terpadu yang dipajang di sepanjang dinding kaca.
Vexana melangkah dengan anggun, membelah keheningan koridor. Hari ini ia sengaja memilih pakaian yang sangat formal namun tetap memancarkan aura tegas seorang putri Valerio: setelan blazer berwarna biru dongker, dipadukan dengan celana kain senada dan sepatu hak tinggi yang mengetuk lantai dengan ritme yang teratur.
Rambut panjangnya diikat rapi ke belakang, menampilkan leher jenjang dan rahangnya yang mengeras penuh ketetapan hati.
Di kedua tangannya, ia mendekap sebuah map kulit tebal berisi dokumen fisik proposal proyek mereka. Sesuai dengan perintah dingin Landon di grup pesan beberapa hari lalu, ia datang lebih awal.
"Vexa! Kau sudah sampai?"
Vexana menoleh dan mendapati Aurelie dan Katia berjalan tergesa-gesa dari arah lift. Aurelie tampak sedikit terengah-engah, sementara Katia masih sibuk merapikan tumpukan kertas di tangannya yang tampak berantakan.
"Kalian tepat waktu," ucap Vexana datar, melirik jam tangan klasiknya yang menunjukkan pukul 08.52 pagi.
"Tentu saja kami harus tepat waktu," bisik Aurelie sembari menyamakan langkah di samping Vexana.
Matanya melirik ke arah pintu ganda berbahan anti-karat di ujung lorong yang bertuliskan: LABORATORY - LANDON DESMON
"Kau membaca pesannya di grup, kan? Pria itu terdengar seolah bisa memotong nilai kelulusan kita dalam satu kedipan mata jika kita terlambat semenit saja. Aura dosen mudanya benar-benar mengintimidasi."
Katia mengangguk setuju dengan raut wajah cemas. "Iya, auranya sangat berbeda dengan dosen-dosen tua di Fakultas Bisnis. Dia terkesan... tidak tersentuh."
Tidak tersentuh? Batin Vexana tersenyum sinis.
Gadis-gadis ini tidak tahu saja bahwa pria yang mereka anggap tidak tersentuh itu beberapa hari lalu sempat menangis tergugu dan menghantam kap mobilnya sendiri seperti remaja yang kehilangan arah.
"Ayo masuk," ajak Vexana, mengabaikan debaran jantungnya yang mulai bertalu kencang di balik rongga dadanya.
Vexana melangkah maju, lalu mengetuk pintu baja tersebut tiga kali.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk."
Suara bariton yang berat, dalam, dan tanpa ekspresi terdengar dari dalam melalui pengeras suara kecil di samping pintu. Pintu baja itu bergeser terbuka secara otomatis dengan bunyi desis hidrolik yang halus.
Begitu melangkah masuk, mereka disambut oleh pemandangan sebuah laboratorium robotika yang luar biasa mutakhir.
Ruangan itu sangat luas, dikelilingi oleh dinding kaca besar yang memperlihatkan pemandangan kota Los Angeles dari ketinggian.
Di tengah ruangan, terdapat beberapa meja kerja logam panjang yang dipenuhi oleh lengan-lengan robotik prototipe, komputer dengan tiga monitor yang menampilkan barisan kode pemrograman rumit, serta jajaran piala dan piagam penghargaan internasional atas nama Landon Desmon.
Di ujung ruangan, tepat di depan meja kerja utamanya yang menghadap ke jendela besar, Landon sedang berdiri membelakangi mereka. Pria itu mengenakan kemeja hitam formal dengan lengan yang digulung hingga ke siku, menampilkan lengan bawahnya yang kokoh dan berurat tegap.
Suasana di dalam laboratorium itu sangat dingin, berkat pendingin ruangan yang disetel maksimal, membuat bulu kuduk Katia dan Aurelie meremang seketika.
"Selamat pagi, Dosen Desmon. Kami dari Fakultas Bisnis untuk penugasan proyek Manajemen Strategis," ucap Aurelie dengan nada suara yang sengaja dibuat sesopan dan seprofesional mungkin.
Landon tidak langsung berbalik. Dia meletakkan sebuah solder elektronik yang baru saja digunakannya ke atas dudukan besi, lalu mengambil selembar kain untuk menyeka jemarinya dengan gerakan yang sangat lambat dan terhitung. Ketegangan di dalam ruangan itu mendadak naik ke tingkat yang mencekam.
Ketika Landon akhirnya membalikkan tubuhnya, sepasang mata legamnya tidak melirik ke arah Aurelie maupun Katia. Pandangan matanya langsung terkunci, menghunjam lurus ke arah sepasang mata bulat milik Vexana Valerio.
Ada kilat emosi yang sangat kompleks yang melintas di balik mata dingin Landon—sebuah campuran antara luka yang belum mengering, amarah yang tertahan, dan obsesi kelam yang kini menuntut sebuah pembalasan.
Di pipi kirinya, bekas kemerahan akibat tamparan keras Vexana beberapa hari lalu sudah hilang tanpa bekas, namun ingatan akan tamparan itu jelas masih membekas kuat di dalam kesadarannya.
"Letakkan dokumen kalian di atas meja," perintah Landon, suaranya terdengar datar laksana robot-robot prototipe di sekelilingnya.
Aurelie dengan cepat melangkah maju, meletakkan map proposal mereka di atas meja kerja logam, lalu mundur kembali ke samping Vexana.
Landon mendekati meja tersebut, melipat kedua tangannya di depan dada sembari bersandar pada pinggiran meja. Dia tidak menyentuh map itu sama sekali.
Tatapannya masih tertuju penuh pada Vexana, membuat atmosfer di antara mereka berdua terasa begitu pekat hingga mengabaikan eksistensi dua mahasiswi lainnya.
"Proposal kalian secara garis besar membahas tentang analisis adaptasi makro dan manajemen portofolio karier profesional muda," ucap Landon, membuka suara setelah keheningan yang panjang.
"Sebuah topik yang cukup menarik untuk ukuran mahasiswa tingkat akhir yang biasanya hanya tahu cara membaca laporan keuangan perusahaan yang sudah matang."
"Terima kasih, Sir," ucap Katia, merasa sedikit lega dengan pujian tipis tersebut.
Namun, senyuman tipis di wajah Katia langsung lenyap ketika Landon melanjutkan kalimatnya dengan nada yang lebih tajam.
"Tapi ada satu cacat besar dalam draf yang kalian kirimkan di grup," lanjut Landon, matanya menyipit menatap Vexana.
"Kalian mencoba membedah strategi pengambilan keputusan finansial dan ekspansi karier saya di usia dua puluh empat tahun—tepat dua tahun lalu, saat saya memilih untuk meninggalkan tawaran kontrak dari Silicon Valley dan justru mengambil posisi dosen muda di universitas ini."
Landon menjeda kalimatnya, menegakkan tubuhnya hingga postur tegapnya yang menjulang tinggi memberikan tekanan psikologis yang kuat di dalam ruangan.
"Analisis kalian di bagian itu sangat dangkal. Kalian menyebut pilihan saya sebagai 'langkah akademis'. Padahal, setiap keputusan bisnis atau karier yang diambil oleh seorang profesional selalu didasari oleh sebuah motivasi internal yang besar... sebuah kehilangan, atau mungkin sebuah dendam."
Vexana mengepalkan tangannya di balik map kulit yang didekapnya. Dia tahu persis ke mana arah pembicaraan ini. Landon sedang menggunakan draf proposal ini untuk menyindir masa lalu mereka, untuk menyindir dua tahun di mana Vexana menghilang.
"Maaf, Sir," Vexana akhirnya membuka suara, memecah konfrontasi visual di antara mereka. Suaranya terdengar sangat tenang, dingin, dan penuh kendali khas seorang Valerio.
"Kami menganalisis berdasarkan data yang tersedia di publik. Jika ada motivasi internal atau... variabel tersembunyi yang belum dimasukkan, itulah alasan mengapa kami berada di sini hari ini. Kami butuh konfirmasi langsung dari Anda."
Mendengar respons berani dan menantang dari Vexana, sudut bibir Landon terangkat, membentuk seulas senyuman sinis yang sarat akan kepedihan.
Pria itu berjalan memutari mejanya, mengambil map kulit milik Vexana, lalu membukanya dengan hentakan kasar.
"Konfirmasi?" tanya Landon dengan nada suara yang merendah, berbisik namun bergaung tajam di telinga Vexana.
"Baik. Kita akan mulai konfirmasinya sekarang. Aurelie, Katia... kalian berdua silakan pergi ke ruang arsip di lantai bawah. Temui asisten laboratorium saya, minta portofolio laporan keuangan audit publik Desmon Group dari tahun 2022 hingga 2024. Kalian butuh data itu jika ingin analisis kalian tidak terlihat seperti sampah."
Aurelie dan Katia saling berpandangan dengan bingung. "Tapi Sir, bukankah data itu bisa diakses secara online—"
"Saya tidak suka dibantah," potong Landon dingin, tanpa mengalihkan pandangannya dari Vexana. "Pergi sekarang. Dan tinggalkan Vexana di sini. Seperti yang saya katakan di grup, ada bagian spesifik dari pemahaman strategisnya yang perlu saya uji secara pribadi."
Aurelie merasakan ketegangan yang tidak biasa di antara dosen muda ini dan Vexana, namun ketakutan akan nilai kelulusan membuatnya tidak memiliki pilihan lain.
"Baik, Sir. Kami permisi dulu."
Katia dan Aurelie segera melangkah cepat keluar dari laboratorium, meninggalkan pintu baja itu kembali bergeser menutup dengan bunyi desis yang final.
Kini, di dalam laboratorium yang luas dan dingin itu, hanya tersisa dua orang yang hatinya masih saling menggilai namun dikutuk oleh takdir untuk saling menghancurkan.
Landon melempar map dokumen di tangannya ke atas meja hingga menimbulkan suara benturan yang keras.
Dia melangkah lebar, mendekati Vexana hingga jarak di antara mereka tidak sampai setengah meter. Wangi maskulin mint yang tajam dari tubuh Landon langsung menyerbu indra penciuman Vexana, memicu debaran jantung yang begitu sesak.
"Sekarang mereka sudah pergi, Vexana," bisik Landon, suaranya bergetar oleh amarah dan luka yang sejak hari Jumat lalu membakarnya hidup-hidup.
Dia menunduk, menatap wajah pucat Vexana dengan pandangan mata yang menuntut jawaban. "Katakan padaku... bagaimana bisa kau berdiri di sini dengan wajah setenang itu setelah apa yang kau teriakan di parkiran beberapa hari lalu? Kau menuduhku membuangmu saat kau hamil... kau membiarkanku mengira kau membunuh anak kita... permainan gila apa lagi yang sedang dimainkan oleh mu sekarang, hah?!"
Vexana memundurkan langkahnya, namun punggungnya langsung membentur pinggiran meja kerja logam yang dingin. Dia mendongak, menantang tatapan Landon dengan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya namun menolak untuk jatuh.
"Ini bukan permainan, Landon," jawab Vexana dengan suara bergetar. "Kenyataannya memang seperti itu. Kau melepaskanku malam itu, dan hubungan kita sudah mati. Mengapa kau masih mengejar jawaban atas sesuatu yang sudah kau hancurkan sendiri?"
Landon mencengkeram pinggiran meja di kedua sisi tubuh Vexana, mengurung wanita itu di dalam ruang geraknya, menolak untuk memberikan celah bagi Vexana untuk lari lagi.
"Karena aku tidak pernah menghancurkannya, Vexa! Kau yang menghilang! Dan jika bayi itu... jika anak kita benar-benar tiada karena keegoisanmu... maka aku bersumpah, aku tidak akan pernah membiarkanmu hidup dengan tenang di kampus ini!"
Vexana menatap wajah Landon yang berjarak begitu dekat dengannya, melihat setiap guratan penderitaan yang nyata di wajah pria yang sebenarnya adalah ayah kandung dari AJ.
Hatinya menjerit histeris ingin meneriakkan kebenaran bahwa anak mereka hidup, namun sumpah pelindungnya sebagai seorang ibu menahannya kuat-kuat.
Mereka masih saling mencintai dengan intensitas yang sama besar, namun kebohongan dan rahasia besar di antara mereka kini telah menjelma menjadi labirin kaca yang siap pecah dan melukai siapa saja yang mencoba mendobraknya.