NovelToon NovelToon
Kontrak 90 Hari Sang CEO

Kontrak 90 Hari Sang CEO

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Mafia / Tamat
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Febriana Hanifah

*Sinopsis*

Evelyn Mahesa bukan orang yang percaya cinta instan.
Ia hanya percaya pada satu hal: ibunya harus sembuh.

Saat tagihan rumah sakit 200 juta menumpuk dan semua jalan buntu, muncul Matthias Virel—CEO dingin, kaya, dan paling ditakuti di dunia bisnis.
Ia menawarkan jalan keluar yang mustahil ditolak:
*4,5 miliar rupiah. Syaratnya, Evelyn harus jadi istri kontraknya selama 90 hari.*

Tanpa cinta. Tanpa sentuhan. Hanya peran di depan publik demi menenangkan nenek Matthias yang sekarat.

Awalnya, Evelyn pikir ini cuma transaksi.
Tapi tinggal serumah dengan pria yang jago bikin jengkel sekaligus bikin jantung berdebar itu… ternyata lebih sulit dari yang ia kira.

90 hari.
Cukup untuk jatuh cinta?
Atau cukup untuk saling membenci sampai akhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Febriana Hanifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Makan Malam Keluarga yang Berantakan

Malam itu, meja makan panjang di Mansion Virel dipenuhi cahaya lilin dan piring perak yang mengkilap.

Nyonya Alina bilang ini

“makan malam keluarga kecil-kecilan.”

Kecil-kecilan versi dia artinya ada 14 orang: tante, om, sepupu, dan satu pengacara keluarga yang datang bawa koper dokumen.

Evelyn duduk di sebelah Matthias.

Posisi istri resmi.

Tangannya dingin, meski AC disetel 24 derajat.

“Jadi, Evelyn,” mulai Om Dimas, saudara jauh Matthias yang paling suka nyari masalah.

"Kata Mama, kalian ketiduran sekamar malam pertama? Romantis sekali.”

Ceklek.

Sendok di tangan Evelyn berhenti di udara.

Nyonya Alina langsung batuk pelan.

“Dimas, makan saja.”

“Tapi Mama, ini penting! Kita kan keluarga. Harus saling terbuka,” balas Om Dimas sambil senyum licik.

Matthias meletakkan garpu dengan suara pelan tapi tegas.

“Kalau kamu selesai dengan urusanmu, kamu boleh pulang.”

Suasana langsung beku.

Om Dimas tertawa canggung. “Wah, galak juga suaminya ya, Evelyn.”

Evelyn menarik napas. Ia bisa diam. Bisa pura-pura nggak dengar.

Tapi ada sesuatu di mata Om Dimas yang bikin dia nggak tahan. Tatapan menilai, seperti dia cuma angka di kontrak.

“Om,” kata Evelyn pelan,

“kalau om penasaran soal malam pertama, coba tanya istri om sendiri. Kan lebih relevan.”

“Wah!” Nyonya Alina tepuk tangan kecil. “Anakku berani!”

Matthias menoleh ke Evelyn. Sekilas.

Ada sesuatu di matanya. Bukan marah. Lebih ke... kagum yang dia sembunyikan rapat-rapat.

Makan malam lanjut, tapi suasana tetap canggung.

Tante Lina mulai ngomong soal rencana cucu.

“Cepat ya, Na. Mama udah nggak sabar gendong. Mama mau cucu laki-laki dulu, biar jadi penerus Virel.”

Evelyn hampir keselek air putih.

Matthias menatap ibunya. “Mama.”

Satu kata. Peringatan.

Nyonya Alina angkat tangan.

“Iya iya, Mama diam. Tapi kan boleh berharap.”

Evelyn menaruh sendok. Perutnya mual.

Bukan karena makanannya.

Tapi karena rasanya dia cuma dinilai dari rahimnya.

“Permisi,” katanya pelan.

Ia berdiri dan berjalan keluar ruang makan.

Udara di luar lebih dingin. Ia duduk di anak tangga teras belakang, memeluk lutut.

Suara tawa dan obrolan dari dalam terdengar samar.

Beberapa menit kemudian, pintu terbuka.

Matthias keluar. Tanpa jas. Cuma kemeja putih dengan lengan digulung.

“Kamu nggak makan habis,” katanya sambil duduk dua anak tangga di bawah Evelyn.

“Ngak nafsu,” jawab Evelyn singkat.

Hening.

Suara jangkrik dari taman jadi satu-satunya suara.

“Mereka begitu ke semua menantu,” kata Matthias tiba-tiba.

“Berarti gue nggak spesial dong?” sindir Evelyn.

Matthias menatapnya. “Kamu spesial karena kamu nggak diam.”

Evelyn menoleh cepat. “Maksudnya?”

“Biasanya, mereka ngomong apa pun, orang nurut. Takut. Kamu nggak. Kamu lawan.”

Evelyn mendengus. “Lo mau gue jadi anjing penjaga lo?”

“Tidak. Aku mau kamu jadi dirimu sendiri. Di sini.”

Kata-kata itu menusuk pelan.

Evelyn menunduk. “90 hari, Matthias. Jangan bikin gue lupa.”

“Aku nggak lupa,” jawab Matthias pelan.

“Tapi 90 hari itu panjang. Cukup buat seseorang berubah.”

Evelyn menatapnya. Di cahaya redup, wajah dingin Matthias kelihatan lelah.

Lelah jadi Matthias Virel. Lelah jadi CEO. Lelah jadi semua hal yang orang mau.

Untuk pertama kalinya, Evelyn melihat pria di depannya bukan sebagai bos, bukan sebagai kontrak.

Cuma sebagai orang.

“Kenapa lo terima kontrak ini?” tanyanya pelan.

Matthias diam lama.

“Karena aku capek sendiri,” jawabnya akhirnya. Jujur.

“Dan karena... aku pikir, kalau harus pura-pura bahagia, mending pura-pura sama kamu.”

Evelyn terdiam.

Dadanya sesak, tapi bukan karena marah.

Dari dalam rumah, terdengar suara Nyonya Alina.

“Matthias! Evelyn! Balik dong! Ada kue!”

Matthias berdiri, mengulurkan tangan ke Evelyn.

“Balik. Kalau nggak, Mama akan menangis dan bilang kita nggak cinta dia.”

Evelyn menatap tangan itu. Ragu.

Lalu ia menggenggamnya.

Hangat.

Kuat.

Aman.

Mereka masuk bersama.

Om Dimas langsung nyengir melihat mereka gandengan.

“Nah gitu! Baru kelihatan suami istri!”

Evelyn cuma senyum tipis.

Tapi kali ini, senyumnya nggak palsu.

---

Malam itu, kontrak 90 hari terasa retak sedikit.

Bukan karena cinta.

Tapi karena untuk pertama kalinya, ada satu malam di mana mereka nggak pura-pura.

---

*[Bersambung ----

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!