Wan Chen tidak ingin menyelamatkan dunia.
Ia hanya ingin kaya.
Untungnya, saat berada di ambang kematian, ia memperoleh Sistem dengan kemampuan Duplikasi dan Penyimpanan Dimensional.
Dan di dunia yang kekurangan segalanya, tidak ada kemampuan yang lebih menakutkan dari itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 - Brankas Tak Terbatas
Jari telunjuknya mengetuk opsi bertuliskan 'Penyimpanan Dimensional'. Panel pasif itu seketika merespons panggilannya.
Kotak dialog virtual muncul mengambang di tengah ruang pandang. Tidak ada indikator metrik volume. Tidak ada garis ukur massa. Hanya ada sebuah ruang proyeksi hampa yang menanti perintah eksekusi.
Wan Chen mengarahkan pandangannya pada kursi kayu reyot yang sedari tadi menjadi ganjalan pintunya. Benda itu sama sekali tidak berharga, tapi bobotnya lumayan padat untuk ukuran furnitur rongsokan.
'Masuk.'
Satu detik berlalu tanpa suara. Kursi itu lenyap begitu saja.
Tidak ada kilatan cahaya. Tidak ada sisa partikel debu yang tertinggal. Benda itu terhapus secara paksa dari realitas fisik kamar ini.
Sistem antarmuka merespons tangkas. Sebuah ikon mungil berbentuk kursi kayu beresolusi rendah kini duduk manis di sudut kiri panel penyimpanan.
Wan Chen mendengus pelan. Sudut bibirnya ditarik ke atas.
Ia menoleh ke arah gelas plastik kusam sisa minumannya. 'Masuk.'
Air sisa setengah gelas beserta wadahnya raib tertelan ketiadaan.
Tatapannya kini bergulir pada tumpukan pakaian kotor yang berbau keringat asam di sudut ruangan. Masalah kebersihan dasar yang selalu mengganggunya setiap malam. Lenyap seketika menyusul dua objek sebelumnya.
Kamar pengap ini mendadak terasa jauh lebih lega. Kepadatannya berkurang drastis, menyisakan kesunyian yang sedikit mencekam.
Ia kembali menatap panel. Memusatkan niat pada ikon kursi kayu.
'Keluar.'
Suara hantaman kayu beradu dengan lantai beton langsung mengoyak sepi. Kursi reyot itu jatuh tepat di posisi awalnya berdiri, lengkap dengan serpihan kayu lepas di kaki belakangnya.
Kecepatan transfer material ini menakutkan. Tidak ada jeda persiapan atau penundaan transfer.
Deretan teks hijau perlahan merayap di layar antarmuka.
[Kapasitas Ruang Interior: Tak Terbatas. Status Garis Waktu Dimensional: Statis Absolut.]
Wan Chen membaca penjelasan singkat itu berkali-kali. Otaknya mengunyah setiap makna dari aksara yang ditampilkan tanpa sisa.
'Statis absolut.'
Ini bukan cuma masalah ruang sembunyi gaib. Ransum daging sintetis murahannya tidak akan membusuk di dalam sana. Air minum murninya tidak akan pernah menguap jadi partikel kotor.
Batas kedaluwarsa benda telah kehilangan nilainya.
Tangannya terjulur lagi. Kursi itu ia tarik masuk ke dimensi sistem. Lalu ia panggil kembali. Keluar. Masuk. Keluar lagi.
Ada godaan aneh untuk terus mencoba. Kepuasan psikologis yang nyeleneh ketika benda mati tunduk patuh pada pikiran murni tanpa perlu membuang kalori.
Namun, jasad biologis manusia punya batas toleransinya sendiri.
Tepat ketika ia berniat memindahkan kasur lantai tuanya, sebuah pukulan imajiner menghantam paksa pangkal kepalanya dari dalam.
Visinya seketika pecah menjadi bercak-bercak gelap.
"Akh... sial," rintih Wan Chen. Suaranya serak tertahan di kerongkongan.
Badannya langsung kehilangan tumpuan. Lutut kanannya menghantam ubin beton dengan suara gedebuk pelan.
Rasa mual ekstrem dari eksperimen fitur 'Duplikasi' beberapa saat lalu ternyata belum benar-benar kabur. Kelelahan itu bersembunyi, lalu menumpuk diam-diam seperti tagihan lintah darat, sebelum akhirnya mencekik paksa secara bersamaan.
Retina matanya seolah ditusuk paku. Teks peringatan darurat berwarna merah darah membanjiri ruang pandang.
[PERINGATAN DARURAT: Garis batas Vitalitas Inang memasuki fase kritis.]
[Sistem Penopang Kehidupan Krisis Otomatis: Diberlakukan.]
[Protokol Keselamatan Medis: Hentikan seluruh aktivitas intervensi materi. Paksa istirahat.]
Wan Chen memegangi pelipis kanannya dengan telapak tangan yang gemetar. Tarikan napasnya menjadi pendek-pendek, persis orang yang paru-parunya terendam kubangan lumpur.
Ia sadar dirinya terlalu larut. Terlalu naif oleh kemampuan anomali ini sampai lupa kalau sistem sarafnya masih selevel gembel distrik luar.
Jemari kirinya bergerak meraba lukanya.
Pendarahannya memang berhenti tertutup rapat. Lapisan energi tipis dari protokol sistem sukses menyumbat pembuluh darah yang pecah tersebut. Namun, penyembuhannya sebatas darurat.
Dagingnya tidak lantas kembali utuh. Rasa perih dari otot yang terkoyak masih menyengat jelas di bawah permukaan kulit luar.
'Kau ini ternyata benalu yang lumayan peduli pada inangnya,' batin Wan Chen.
Sistem ini memantau denyut kehidupannya super ketat. Menjaga aset biologis utamanya agar tidak mati konyol akibat ego tolol yang minim daya tahan.
Ia menelan ludah yang terasa amis. Memaksa tubuhnya bangkit dari lantai kotor, menolak menyerah pada rasa pening yang menusuk.
Teguran brutal sistem barusan sukses membantai habis sisa rasa penasarannya.
Semua rentetan perintah pikiran diputus.
Ia melepaskan napas panjang melalui celah bibir. Udara bau karat di kamarnya terasa sangat menyegarkan paru-parunya yang lelah.
Bertahan hidup di lingkungan penuh manusia kelaparan mengajarkan satu hukum pasti. Privasi dan keamanan adalah kebohongan terindah. Jika kau punya barang, dipastikan ada bajingan gila yang siap membedah perutmu malam itu juga.
Tapi aturannya dirombak total sekarang. Ia punya ruang penyimpanan yang mustahil ditembus maling jalanan. Brankas dimensi yang berlindung aman di balik tulang tengkoraknya.
Ketenangan yang sungguh masif merayap pelan, mengusir paksa denyut nyeri di kepalanya.
Tanpa membuang sisa waktu, Wan Chen mulai mengamankan hartanya.
Lembaran uang fisik sisa transaksinya dengan tengkulak siang tadi menghilang ditelan dimensi.
Bungkus ransum padat berkalori tinggi dari laci reyot menyusul di belakang. Raib.
Bahkan pisau tempur berkarat yang selama bertahun-tahun selalu ia dekap tepat di balik bantal tidurnya. Ikut lenyap tanpa jejak.
Ia sengaja membiarkan barang sampah tetap di luar. Kursi reyot dan meja miring dibiarkan berserakan memakan tempat.
Andaikan malam ini ada perampok kacangan yang sukses membongkar selot pintunya, mereka cuma akan dihidangkan pemandangan membosankan.
Sesosok pemuda kurus penyakitan tergeletak di ruangan lapang tak berharga.
Tidak ada aset koin. Tidak ada jatah makanan tambahan. Tidak ada pemicu pembunuhan.
Kamuflase paling absolut di tempat buangan ini adalah terlihat sama hancurnya dengan lingkungan di sekelilingmu.
Wan Chen menatap kedua telapak tangannya sendiri. Kosong melompong.
"Silakan dobrak pintunya dan carilah sampai mata kalian copot," gumamnya datar menatap tembok kusam.
Jaringan otot kakinya meronta minta diistirahatkan segera. Ia menyeret langkah berat ke arah kasur lantai yang makin menipis di ujung ruangan.
Tubuhnya dijatuhkan bebas berdebam menimpa tatanan per melar. Punggungnya menyerap rasa dingin yang merembes kaku dari ubin dasar.
Matanya menatap lurus plafon yang digerayangi noda rembesan air hujan.
Di titik inilah pola masa depannya dirakit paksa.
Mesin anomali ini sangat superior, tapi tubuh manusianya terlampau rongsok. Benang merah deduksi mulai diikat kuat dalam logikanya.
Demi menduplikasi barang langka tanpa menggadaikan nyawa, ia dituntut punya penampung energi lebih besar. Kapasitas jasmani wajib dipompa gila-gilaan lewat asupan Core monster murni.
Kendalanya, menyembelih monster demi Core butuh perlengkapan mumpuni. Bukan bermodal pisau patah dan keberanian orang putus asa.
Ia diwajibkan mencari perlengkapan tempur kelas menengah secepat mungkin esok hari.
'Besok... rotasi penderitaan ini harus berakhir.'
Udara malam perlahan merangkak turun membawa suhu dingin radiasi. Suara lolongan samar hewan mutasi mengalun menembus celah dinding seng, rutinitas harian yang menaikkan tensi urat saraf penghuni blok ini.
Tapi rutinitas itu sudah mati malam ini.
Wan Chen menutup kedua matanya perlahan.
Genggamannya tidak lagi siaga menahan gagang belati. Kewaspadaan paranoid soal lehernya digorok saat terlelap lenyap terbawa angin.
Semua modal hidupnya terkunci aman di dalam keabadian pikiran. Menolak disentuh realitas kotor ini.
Ia jatuh terlelap seketika. Sebuah kemewahan tidur paling lelap semenjak kiamat merenggut kewarasannya.
Sinar matahari pagi berwarna abu-abu buram merangsek masuk melalui ventilasi kecil, menarik kesadaran Wan Chen beberapa jam kemudian.
Ia membuka kelopak mata pelan. Visinya terasa jauh lebih terang.
Ia bangkit dari kasur lantai. Sendi bahunya bergemeretak saat diregangkan bebas.
Langkahnya melaju santai mendekati pintu baja kamarnya. Ganjalan kursi ditendang menjauh. Tangan kanannya menarik turun slot kunci karatan itu.
Bilah pintu terbuka kasar. Ia melangkah keluar, menyambut hawa koridor yang basah oleh kelembapan lumut tua.
Tatapannya terlempar dari lantai atas rumah susun pinggiran ini. Memandangi bentangan atap-atap tambal sulam yang mengisi distrik kumuh tersebut. Neraka besi yang selama ini menyuapinya lumpur dan keputusasaan setiap harinya.
Namun hari ini, tidak ada rasa pasrah yang memantul dari matanya.
Lautan besi rongsok ini dulunya lubang makam yang siap mengubur masa depannya. Kini, blok melarat ini hanyalah tambang emas pembuka rute bagi evolusi gilanya.