Di Kota Chang’an zaman modern, hiduplah seorang pemuda bernama Mu Chen. Ia berusia 22 tahun, bertubuh tegap dan gagah, tapi dikenal sebagai kutu buku yang haus akan pengetahuan sejarah dan filsafat Tiongkok kuno. Suatu sore di pasar loak, ia menemukan sebuah batu giok berwarna hijau pucat yang diukir pola Yin-Yang. Tanpa sadar, ia membawanya pulang. sebuah perjalanan yang merubah hidupnya dari jaman modern ke jaman kuno hidupnya para dewa Dewi dan iblis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon premier MT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 Pameran Jurus Unik
Bab 14: Pameran Jurus Unik yang Membuat Semua Orang Tertegun
Sejak berhasil menguasai sedikit demi sedikit energi Surgawi dan Neraka, Mu Chen makin rajin berlatih — tapi seperti biasa, tujuannya tetap aneh menurut standar orang di dunia ini.
Setiap hari, di halaman belakang asrama, ia akan mencoba berbagai cara memanfaatkan energinya. Kadang ia akan berjalan berputar-putar sambil bergumam sendiri, kadang ia mencoba melapisi benda-benda di sekitarnya, bahkan sampai para murid yang lewat sudah terbiasa melihat tingkahnya yang unik.
Suatu pagi, Tetua Chang mengumumkan bahwa akan diadakan Pertemuan Perkembangan Murid — acara di mana semua murid bisa memamerkan apa yang sudah mereka pelajari, saling bertukar ilmu, dan mendapatkan saran dari para tetua.
Semua murid bersemangat. Bagi mereka, ini kesempatan menunjukkan bakat dan mendapatkan perhatian.
"Aku akan memamerkan Teknik Pedang Angin yang sudah kuasai!"
"Aku bisa membuat perisai energi yang cukup kuat!"
"Lihat saja nanti, jurusku bisa membuat api sebesar mangkuk!"
Mereka bercerita dengan bangga, sedangkan Mu Chen yang mendengar hanya menggaruk kepalanya.
"Pamerkan jurus bertarung ya... Kalau begitu apa yang harus aku tunjukkan? Mendinginkan minuman? Memanaskan air? Atau mengangkat batu tanpa tergelincir?" gumamnya ragu.
Namun Kitab Jalan Bintang yang ada di dalam benaknya berbisik pelan:
"Tunjukkan saja apa yang sudah kau pahami. Prinsip energimu tidak salah — hanya cara penggunaannya yang berbeda."
Hari itu, halaman utama sekte dipenuhi orang — semua murid dan para tetua berkumpul. Satu per satu maju dan memamerkan kemampuan mereka: ada yang menciptakan hembusan angin kencang, ada yang menyalakan api kecil, ada yang membuat perisai energi. Semua disambut dengan tepuk tangan.
Hingga akhirnya, giliran Mu Chen dipanggil.
Semua mata tertuju padanya. Beberapa murid berbisik pelan:
"Dia kan tidak bisa mengeluarkan serangan jarak jauh. Apa yang bisa dia tunjukkan?"
"Pasti cuma kekuatan fisik seperti waktu ujian dulu."
Mu Chen berjalan ke tengah lapangan dengan santai. Ia menoleh ke penonton dan berkata polos:
"Saya tidak bisa membuat angin kencang atau api yang menyala terang. Tapi saya punya beberapa cara memanfaatkan energi dengan caraku sendiri. Kalau tidak percaya, lihat saja ya."
Jurus Pertama: "Tangan Sejuk Penyegar"
Ia mengangkat tangan kirinya, perlahan mengalirkan sedikit energi Surgawi. Seketika telapak tangannya memancarkan cahaya putih lembut, dan udara di sekitarnya terasa agak dingin.
Ia mengambil sebotol air yang sudah hangat karena terik matahari, lalu meletakkan telapak tangannya di sisi botol itu. Hanya dalam hitungan napas, asap tipis keluar dari mulut botol — air di dalamnya menjadi dingin dan segar.
Ia membuka tutupnya dan menyesap sedikit, lalu tersenyum:
"Lihat kan? Airnya jadi segar. Sangat berguna saat cuaca panas atau setelah berlatih keras. Ini namanya Tangan Sejuk Penyegar!"
Semua orang tertegun. Tetua Qingyun mengangguk: "Prinsipnya benar — energi murni bisa menyerap panas. Tapi tidak ada yang memikirkannya untuk digunakan seperti ini..."
Jurus Kedua: "Tangan Hangat Penenang"
Selanjutnya, ia mengalirkan sedikit energi Neraka — tapi dikendalikan agar tidak terlalu panas. Telapak tangan kanannya memancarkan cahaya merah gelap yang lembut.
Ia mengambil sebutir telur mentah, meletakkannya di telapak tangan, dan menutupnya perlahan. Beberapa saat kemudian, ia membuka tangannya — telur itu sudah matang sempurna, tidak pecah kulitnya dan tidak hangus.
Ia memecahkan telur itu, memakannya sedikit, dan mengangguk puas:
"Enak juga! Bisa dipakai kalau mau makan tapi tidak ada tungku. Namanya Tangan Hangat Penenang — aman, tidak membakar, hanya menghangatkan atau mematangkan makanan saja!"
Beberapa murid hampir terjatuh. "Menggunakan energi tingkat tinggi untuk memasak telur?! Ini benar-benar tidak terduga!"
Jurus Ketiga: "Lapisan Pelindung Praktis"
"Ini yang terakhir," kata Mu Chen sambil tersenyum.
Kali ini ia mengalirkan sedikit campuran kedua energinya ke seluruh permukaan kulitnya — cahaya perak kebiruan samar menyelimuti tubuhnya sebentar lalu hilang.
Ia memanggil seorang murid yang memiliki kekuatan fisik cukup baik:
"Coba pukul lengan saya dengan tenaga wajar saja, jangan terlalu keras."
Murid itu ragu-ragu, lalu memukul pelan. Namun begitu tinjunya menyentuh lengan Mu Chen, ia merasakan ada lapisan yang padat namun lentur, dan tenaga pukulannya terasa tersebar merata — tidak sakit sedikit pun.
"Wah! Rasanya seperti memukul kayu yang dibungkus kulit tebal! Tidak sakit sama sekali!" seru murid itu kaget.
Mu Chen tertawa:
"Ini Lapisan Pelindung Praktis. Tidak membuatku terbang seperti perisai orang lain, tapi melindungi tubuh agar tidak mudah tergores atau terbentur. Sangat berguna saat berjalan di hutan yang banyak duri atau batu!"
Setelah selesai, halaman menjadi hening sejenak — lalu pecah menjadi tawa dan bisikan yang bercampur kagum.
"Ini jurus yang paling aneh yang pernah aku lihat!"
"Tapi sebenarnya prinsipnya sangat tepat! Dia benar-benar memahami sifat kedua energinya!"
"Kalau dipakai untuk kehidupan sehari-hari, ini malah lebih berguna daripada jurus bertarung biasa!"
Para tetua saling pandang, lalu Tetua Agung Mo Feng tertawa lepas — sesuatu yang jarang ia lakukan.
"Anak muda, kau benar-benar melihat hal dari sudut pandang yang berbeda. Semua orang di dunia ini sibuk mencari kekuatan untuk mengalahkan orang lain, tapi kau justru memikirkan cara membuat hidup lebih nyaman. Meskipun terlihat sederhana, penguasaan energimu sudah melebihi banyak murid tingkat menengah!"
Mu Chen menggaruk kepalanya kikuk:
"Terima kasih, Tetua. Lagipula, kalau bisa hidup nyaman dan aman, kenapa harus mencari perkelahian? Dan siapa tahu, nanti kalau ada bahaya, lapisan ini juga bisa melindungiku sedikit kan?"
Di dalam benaknya, Kitab Jalan Bintang terdengar lagi — kali ini tidak terdengar pasrah, malah sedikit terhibur:
"Setidaknya kau memahami dasar dengan benar. Cara penggunaannya... memang unik, tapi tidak salah."
Setelah acara selesai, banyak murid yang malah mendatangi Mu Chen dengan wajah penuh rasa ingin tahu.
"Mu Chen, ajari aku cara mendinginkan air dong! Sangat berguna saat berlatih di bawah matahari!"
"Bagaimana cara membuat lapisan pelindung itu? Apakah sulit dipelajari?"
Mu Chen tersenyum lebar — merasa senang bisa berbagi sesuatu yang ia pahami. Ia pun menjelaskan sepengetahuannya dengan bahasa yang sederhana, diselingi candaan-candaan konyolnya.
Saat matahari mulai terbenam dan orang-orang mulai bubar, Lin Xiaoyao yang menyaksikan semuanya mendekatinya sambil tertawa.
"Kau benar-benar orang yang unik. Siapa yang menyangka kekuatan dari Tulang Bintang Galaksi akan dipakai untuk hal-hal seperti itu."
Mu Chen menoleh dan menjawab santai:
"Kekuatan itu ada untuk dipakai. Kalau dipakai dengan cara yang membuatku dan orang lain nyaman, bukankah itu hal yang baik? Dan siapa tahu nanti aku bisa menemukan cara menggunakannya untuk hal yang lebih besar — tapi sambil tetap bisa makan nasi goreng yang enak tentunya!"
Dan begitulah, hari itu berakhir dengan tawa dan penemuan kecil — membuktikan bahwa di dunia di mana semua orang mengejar kekuatan untuk berkuasa, ada satu pemuda yang memilih jalannya sendiri: kekuatan untuk hidup dengan nyaman, aman, dan tentu saja — perut selalu terisi
Mohon dukungannya teman teman