NovelToon NovelToon
Terpesona Oleh Bu Rt

Terpesona Oleh Bu Rt

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Single Mom / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mooniecaa_moon

Menjadi janda muda di usia 27 tahun sekaligus Bu RT membuat Jasmine kenyang digosipkan miring oleh warga kompleks, namun ia tidak pernah menyangka bahwa tantangan terbesarnya bukan berasal dari bibir nyinyir ibu-ibu PKK, melainkan dari Aldi—berondong kuliahan nakal sekaligus Ketua Karang Taruna baru yang nekat melempar pesona demi bisa masuk ke dalam hidupnya. Di tengah benturan masa lalu Jasmine yang kelam sebagai single mom dan penolakan keras dari orang tua Aldi, sebuah kepasrahan di malam yang sepi justru menjebak keduanya dalam ketegangan yang tak semestinya terjadi, menyisakan satu pertanyaan besar: mampukah Aldi mengubah obsesi liarnya menjadi sebuah pernikahan nyata, ataukah hubungan terlarang ini justru akan hancur menjadi skandal terbesar di RT 04?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooniecaa_moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20 : BERKAS PAK LURAH PEMBAWA KEBERUNTUNGAN

Matahari sore yang kemerahan perlahan tenggelam di ufuk barat, digantikan oleh keremangan senja yang membawa hawa sejuk ke gang komplek RT 04. Setelah melepas penat sejenak pasca-kuliah siang yang melelahkan, Aldi menghabiskan waktu beberapa jam di kamarnya untuk menyicil lembar kerja analisis komunikasi kelompok. Kamar yang tenang dengan kipas angin yang berputar membantunya menyelesaikan draf awal sebelum malam menjelang.

Tepat pukul delapan malam, suasana di sekitar pos ronda mulai berganti rupa. Lampu di atas tiang listrik memancarkan cahaya putih, menerangi pelataran pos yang malam ini agak berbeda dari biasanya. Di atas tikar pandan yang digelar rapi, selain ada asbak rokok dan termos berisi kopi hitam, kini berserakan tiga buah laptop yang menyala, beberapa buku literatur tebal, dan tumpukan kertas folio.

Sesuai kesepakatan di kantin kampus tadi siang, malam ini adalah jatah ronda malam bagi anak-anak muda Karang Taruna sekaligus momen bagi trio jagoan—Aldi, Kenan, dan Sendy—untuk menyelesaikan tugas kelompok mereka yang tenggat waktunya sudah mepet.

"Ini teori interaksi sosial yang ditulis Kenan udah oke sih, tinggal kita hubungin sama fenomena komunikasi antar-warga di komplek kita aja buat studinya," kata Aldi sambil mengetik beberapa baris kalimat di laptopnya, sesekali matanya melirik ke arah jalanan malam yang mulai sepi.

Kenan yang sedang membaca ulang draf di layarnya mengangguk setuju. "Nah, bener. Jadi kita gak usah nyari contoh jauh-jauh. Struktur Karang Taruna kita aja yang dijadiin objek penelitiannya."

"Gue bagian nge-print sama jilid ya besok pagi, tenang aja. Tugas mulia itu," sahut Sendy santai sambil mengunyah kacang garing, sementara tangannya sibuk membalik halaman buku referensi dengan malas.

Di tengah keasyikan mereka berdiskusi dan mencocokkan data, suara langkah kaki tegap yang mengenakan pantofel kulit terdengar mendekat dari arah jalan utama. Sosok pria paruh baya berwajah wibawa dengan kemeja batik rapi tampak berjalan tergesa-gesa memegang sebuah map jepit plastik berwarna biru tua. Itu adalah Pak Lurah, yang kebetulan sedang memantau kondisi keamanan wilayah menjelang persiapan acara agustusan tingkat kecamatan.

"Eh, Mas Aldi di sini," sapa Pak Lurah sambil tersenyum ramah, langkahnya terhenti tepat di depan undakan pos ronda. "Kebetulan sekali, baru saja saya mau melangkah ke rumah kamu tadi."

Aldi langsung meletakkan laptopnya dan bergeser sopan ke pinggir tikar. "Eh, Pak Lurah. Iya, Pak, kebetulan malam ini jatah ronda saya sama anak-anak sekalian lagi ngerjain tugas kuliah sekelompok. Ada yang bisa saya bantu, Pak?"

Pak Lurah menyodorkan map biru tua yang dipegangnya ke arah Aldi. "Ini, Mas. Saya mau minta tolong anterin dokumen ini ke rumah Bu Jasmine, Bu RT 04. Ini berkas penting mengenai pengajuan dana untuk renovasi balai warga dan taman bermain anak yang harus ditandatangani beliau malam ini juga, karena besok pagi-pagi sekali harus sudah saya bawa ke kecamatan. Saya sendiri harus segera kembali ke kantor kelurahan karena ada rapat koordinasi mendadak dengan Pak Camat."

Mendengar nama Jasmine disebut, jantung Aldi mendadak memberikan letupan kecil yang tak terduga. Rasa kantuk dan lelah yang sempat menggelayuti matanya seketika menguap begitu saja. "Oh, boleh, Pak. Sini berkasnya saya antar sekarang ke rumah Bu Jasmine."

"Terima kasih banyak ya, Mas Aldi. Maaf merepotkan malam-malam begini. Saya pamit duluan, titip ya, Mas," ucap Pak Lurah menepuk pundak Aldi dengan hangat sebelum berbalik arah menuju mobil dinasnya yang terparkir di ujung gang.

Aldi memandangi map di tangannya dengan perasaan yang campur aduk antara senang dan gugup. Ia bersiap melangkah keluar dari pos ronda ketika Kenan yang sejak tadi menyimak pembicaraan tiba-tiba mengangkat kepalanya dari layar laptop.

"Gak minta temenin, Dul? Rumah Bu Jasmine kan agak di ujung, sepi kalau jam segini," tanya Kenan dengan nada menyelidik, matanya menyipit penuh arti menatap wajah sahabatnya.

Aldi menggeleng cepat, berusaha bersikap sebiasa mungkin agar tidak memancing kecurigaan dua temannya yang terkenal jeli itu. "Gak usah, Met. Bentar doang kok, cuma nganterin berkas ini aja, gak sampai masuk rumah juga soalnya. Lu berdua lanjutin aja ketikan bab tiganya."

"Yoi, jangan lama-lama lu, Dul! Jangan sampai berkasnya berubah jadi undangan sunatan masal!" seloroh Sendy dari belakang yang hanya dibalas lambaian tangan acuh oleh Aldi.

Jalanan menuju rumah Jasmine memang terbilang cukup sunyi ketika malam beranjak menuju pukul setengah sembilan. Angin malam berembus pelan, menggoyangkan dedaunan pohon kelengkeng di sepanjang trotoar. Aldi berjalan dengan langkah konstan, tangannya memegang erat map biru titipan Pak Lurah. Pikirannya kembali melayang pada kejadian semalam di ruang tamu wanita matang itu.

Begitu sampai di depan pagar rumah bernomor 12 tersebut, Aldi melihat lampu teras depan menyala terang, namun gorden ruang tamu tertutup rapat. Suasana dalam rumah tampak sangat hening. Aldi membuka slot pagar pelan-pelan, melangkah masuk ke area teras yang asri oleh pot-pot bunga, lalu berdiri di depan pintu kayu jati yang kokoh.

Tok... tok... tok...

"Permisi... Bu Jasmine? Ini saya, Aldi," panggil Aldi dengan volume suara yang cukup terdengar dari dalam.

Hening. Tidak ada jawaban sama sekali dari dalam rumah. Hanya ada suara jangkrik di balik pot bunga yang bersahutan.

Aldi menunggu selama hampir dua menit sebelum kembali mengetuk pintu, kali ini sedikit lebih keras. "Bu Jasmine? Permisi, Bu... Ada titipan berkas penting dari Pak Lurah."

Masih belum ada tanda-tanda kehidupan dari dalam. Aldi mulai berpikir bahwa mungkin Jasmine sudah tertidur lelap bersama anaknya, Nadeo. Merasa sedikit lelah karena berdiri tegak, Aldi membalikkan badannya membelakangi pintu. Ia bermaksud menyandarkan punggungnya sejenak pada daun pintu kayu tersebut sembari merogoh ponsel di saku celananya untuk mencoba mengirim pesan singkat.

Namun, tepat saat Aldi menghempaskan bobot tubuh bongsornya untuk bersandar, ia tidak menyadari bahwa selot pintu tersebut ternyata tidak terkunci rapat dari dalam.

Klek... Sreeet!

Pintu kayu jati itu tiba-tiba terbuka lebar ke arah dalam karena dorongan beban tubuh Aldi. Kehilangan tumpukan badan secara mendadak di belakangnya membuat Aldi tersentak kaget. Keseimbangannya hilang total dalam sekejap mata. Tubuh tingginya terjerembap jatuh ke arah lantai dalam rumah yang dilapisi permadani bulu tebal.

Pada saat yang bersamaan, Jasmine ternyata baru saja melangkah keluar dari arah lorong dapur menuju ruang tamu. Ia mendengar ketukan pintu Aldi dan bermaksud membukanya dengan pakaian rumahan berupa daster sutra tipis berwarna hijau toska longgar tanpa lengan, dengan rambut hitam panjangnya yang dibiarkan terurai basah sehabis mandi malam.

Kejadian itu berlangsung luar biasa cepat, hanya dalam hitungan sepersekian detik. Aldi yang jatuh terjungkal ke depan tidak sempat menahan laju badannya, sementara Jasmine yang berada tepat di ambang batas ruang tamu terkejut setengah mati dan tidak sempat menghindar.

Bruk!!

Tubuh kekar dan tinggi Aldi mendarat dengan telak, menindih tubuh matang Jasmine di atas permadani bulu yang empuk. Benturan fisik itu membuat Jasmine reflek memekik pelan sebelum suaranya tertahan oleh sesuatu yang sama sekali tidak pernah diduga oleh siapa pun malam itu.

Akibat posisi jatuh yang tak terkendali, wajah Aldi meluncur tepat di atas wajah Jasmine. Dan dalam posisi yang sangat presisi, bibir Aldi secara tidak sengaja mendarat sempurna, menekan kelembutan bibir merah merekah milik Jasmine yang masih basah dan beraroma manis buah ceri.

Mata Aldi seketika melotot sempurna. Jantungnya seperti berhenti berdetak selama dua detik penuh. Aroma wangi sabun mandi yang menguar dari kulit leher Jasmine yang putih bersih merasuk tajam ke indra penciumannya. Di bawah kungkungan badannya, ia bisa merasakan kehangatan dan kelembutan tubuh montok sang Bu RT yang membeku karena syok yang teramat sangat. Sentuhan bibir yang tak sengaja itu terasa begitu nyata, hangat, dan mengalirkan sengatan listrik yang luar biasa dahsyat ke seluruh pembuluh darah Aldi.

Menyadari situasi gila yang baru saja terjadi, Aldi dengan kekuatan penuh langsung menyentakkan badannya bangun. Ia melompat mundur hingga terduduk di lantai dengan napas yang memburu hebat, wajahnya seketika memerah padam sampai ke ujung telinga.

Jasmine juga langsung bangkit dengan cepat, duduk sambil merapikan belahan dasternya yang sempat agak berantakan dengan tangan yang gemetar. Wajah cantiknya yang matang tampak merona merah luar biasa, matanya menatap Aldi dengan tatapan campuran antara syok, malu, dan bingung yang tak terkatakan.

"Bu... Bu Jasmine! Sumpah, Bu! Saya... saya gak sengaja! Tadi pintunya ternyata gak dikunci pas saya nyender! Saya benar-benar minta maaf, Bu! Demi Allah saya gak ada niat buruk!" cerocos Aldi panik setengah mati, suaranya gemetar hebat dengan kedua tangan yang ditangkupkan di depan dada sebagai tanda permohonan maaf yang mendalam.

Jasmine masih terpaku, tangannya perlahan menyentuh bibirnya sendiri yang baru saja terkena kecupan tidak sengaja dari pemuda di depannya. Ia mencoba mengatur napasnya yang ikut memburu. "Al... Aldi... kamu..."

Sebelum situasi menjadi semakin canggung dan membuat jantungnya copot karena debaran yang terlalu ekstrem, Aldi langsung meraih map biru tua milik Pak Lurah yang sempat terlempar ke dekat kaki meja. Ia meletakkan map itu dengan tangan gemetar di atas lantai permadani.

"I-ini... ini berkas penting dari Pak Lurah, Bu! Katanya harus ditandatangani malam ini buat dibawa ke kecamatan besok pagi! Saya... saya permisi duluan, Bu! Maaf banget, Bu!"

Tanpa menunggu jawaban atau reaksi lebih lanjut dari Jasmine, Aldi langsung bangkit berdiri, berbalik arah, dan berlari sekencang-kencangnya keluar dari rumah tersebut, mengabaikan pintu pagar yang berdentum keras karena ia tutup dengan tergesa-gesa.

Di pos ronda, Kenan dan Sendy masih fokus di depan laptop masing-masing ketika mendengar suara langkah kaki yang berlari kencang mendekat. Aldi muncul dengan napas yang tersengal-sengal seperti habis dikejar anjing gila, keringat dingin bercucuran di pelipisnya, dan ekspresi wajahnya tampak seperti orang yang baru saja melihat penampakan makhluk halus.

"Lah, Dul? Kenapa lu? Muka lu kok kusut amat kayak cucian belum kering?" tanya Sendy heran melihat sahabatnya langsung menjatuhkan diri ke atas tikar sambil memegangi dadanya yang naik turun.

Kenan menutup tabletnya, menatap Aldi dengan dahi berkerut. "Lu habis dikejar maling apa gimana, Al? Berkasnya udah dikasih ke Bu Jasmine?"

Aldi mencoba menelan ludahnya yang terasa kering, matanya menatap Kenan dan Sendy bergantian dengan pandangan kosong. Ia tahu ia tidak bisa menyimpan rahasia sebesar ini dari dua sahabatnya, apalagi jantungnya masih berdegup dengan ritme yang tidak masuk akal sampai sekarang.

"Nan... Sen... Gue... gue baru aja ngelakuin kesalahan gede," bisik Aldi dengan suara parau yang jujur.

"Kesalahan apa? Lu salah ngasih berkas?" tanya Kenan mulai penasaran.

Aldi menggeleng, lalu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan sebelum akhirnya berbicara dengan nada pasrah. "Tadi pas gue ngetuk rumah Bu Jasmine, gak ada jawaban. Pas gue nyender di pintu, ternyata pintunya gak dikunci rapat terus kebuka. Gue jatuh ke dalem... terus... gue gak sengaja nindih tubuh Bu Jasmine di lantai."

Sendy langsung meletakkan bungkusan kacangnya, badannya condong ke depan. "Terus? Cuma jatuh doang kan? Gak sampai patah tulang kan si Ibu?"

Aldi menurunkan tangannya, menatap dua temannya dengan wajah yang merah padam. "Gak cuma nindih, Sen. Pas gue jatuh... bibir gue gak sengaja... nyium bibir Bu Jasmine beneran. Pas banget di mulut."

Hening.

Suasana pos ronda seketika mendadak senyap total selama beberapa detik. Angin malam seolah berhenti berembus. Kenan yang biasanya selalu tenang dengan ekspresi wajah intelektualnya langsung melotot sempurna dengan mulut yang sedikit terbuka, sementara Sendy yang sedang mengunyah kacang seketika tersedak hingga terbatuk-batuk hebat.

"Uhuk! Uhuk! J-jancok! Lu serius, Al?!" pekik Sendy histeris setelah berhasil meneguk air minum, matanya hampir keluar dari rongganya karena saking kagetnya. "Lu gak lagi bikin plot novel fiksi di otak lu yang gesrek kan?!"

Kenan sendiri langsung memegang pundak Aldi dengan erat, memastikan bahwa sahabatnya tidak sedang berada di bawah pengaruh kantuk berat semalam. "Dul, demi apa lu?! Lu gak bohong kan? Lu beneran nyium Bu Jasmine di rumahnya?!"

"Demi Allah, Nan, Sen! Gue jujur! Itu bener-bener kecelakaan, gak ada unsur kesengajaan sama sekali! Gue juga syok setengah mati sampai langsung kabur setelah naruh berkas dari Pak Lurah!" seru Aldi dengan nada frustrasi, mengacak-acak rambutnya sendiri karena bingung harus berbuat apa setelah insiden menegangkan di ambang pintu tersebut.

1
Neny Tryana
👍🏻👍🏻
anggita
like iklan👍☝, buat bu rt.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!