Kira berasal dari masa depan tiba tiba terlempar ke zaman kerajaan. Yang berawal dari tidak punya apa apa, sampai memiliki semuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizzzz......, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21
Namun, pintunya tetap tidak terbuka setelah di dobrak.
Budi melambaikan tangannya sambil berkata,
"Jangan dobrak lagi, sudah di tahan dari dalam. Panjat dinding saja!"
Keempat bawahan itu pun berhenti mendobrak
Kemudian, mereka mulai bertumpu pada satu sama lain untuk memanjat dinding rumah Kira. Setelah melompat masuk, bawahan itu pun membukakan pintu dari dalam agar Budi bisa masuk.
Setelah melihat Budi masuk ke rumah nya, Wulan langsung berlari ke kuang utama dengan panik.
Budi melangkah dengan santai sambil berkata,
"Cantik, suamimu sudah kabur, tapi kamu masih begitu setia padanya. Bukannya lebih baik hidup bersama yang penyayang?"
"Suamiku nggak kabur! Dia pasti pulang untuk bayar utang. Kamu jangan macam-macam!"
Wulan menyeret meja di dalam ruang utama untuk menahan pintu.
"Apa bagusnya si Pemboros itu hingga kamu begitu setia padanya?"
Budi memberi isyarat pada bawahan nya, lalu dua bawahan nya langsung mendobrak pintu.
Saat pintu di dobrak, Wulan yang sedang menahan meja juga terempas ke lantai.
"Pakai tenaga!" seru Budi sambil tersenyum licik.
Setelah didobrak beberapa kali, pintu itu pun terbuka. Budi mendekati Wulan dengan ekspresi mesum sambil berkata,
"Cantik, berhubung si Pemboros itu nggak ada di rumah, kita bisa langsung masuk kamar. Menurut surat perjanjian, kamu itu sudah jadi milik ku,"
Wulan buru-buru bangkit dan berlari ke dalam kamar.
"Cantik, Jangan buru-buru dong. Baru dibilang, sudah langsung masuk kamar?"
Budi tersenyum licik, lalu membuka tirai menuju kamar tidur.
Syutt!
Sebuah gunting tiba-tiba melesat ke arah Budi. Dia langsung ketakutan dan buru-buru mundur.
Baru saja dia mundur beberapa langkah, sebilah pisau dapur menebas ke arahnya lagi.
Wulan menyerbu keluar dari kamar dengan memegang sebuah gunting dan sebilah pisau dapur.
Dia tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhnya selain suaminya. Meskipun harus mati, dia juga tidak akan tunduk pada si Tua Bangka ini.
"Ce...cepat tahan dia!"
Selesai memberi perintah, Budi buru-buru kabur ke luar.
Seorang bawahan melambaikan tongkatnya, lalu pisau dapur dan gunting di tangan Wulan langsung jatuh ke lantai. Kedua bawahan lainnya segera memungut senjata itu.
Wulan yang sudah kehilangan senjatanya pun perlahan-lahan mundur sambil menggenggam pergelangan tangan nya.
Budi menyeka keringat dingin nya dengan kesal. Tadi, dia hanya menggoda Wulan. Sebenarnya, ada tokoh besar yang sudah menginginkan Wulan. Jadi, Budi juga tidak bisa menodainya.
Namun, Budi sudah murka begitu mengalami peristiwa mengerikan seperti tadi. Dia pun kehilangan akal sehatnya dan berteriak,
"Tahan dia!"
Empat bawahan Budi langsung mengepung Wulan.
"Aku lebih rela mati dari pada di lecehkan oleh mu!"
Wulan menguatkan niatnya, lalu membenturkan kepalanya ke dinding.
Tiba-tiba, belasan warga dusun menyerbu masuk dengan memegang tongkat kayu, Mereka semua adalah warga Dusun Samadi. Ada orang yang berteriak,
"Budi, kamu mau apa! Berhenti sekarang juga! Kalau nggak, kami nggak bakal sungkan lagi!"
Wulan pun menghentikan tindakan nya. Dia mengenal orang-orang ini.
Herman dan Hamid adalah adik Paman Basan. Sementara Sofyan, Said dan Surya adalah kakak-kakak Tony. Sisanya adalah kerabat Kira yang lainnya.
Budi melirik para warga dusun itu, lalu mengikat kembali ikat pinggangnya dan mengeluarkan surat pinjaman.
"Aku datang buat tagih utang, Buat apa kalian kemari? Awas, nanti aku jebloskan kalian ke penjara pengadilan daerah!"
Setelah mendengar ucapan Budi, ekspresi beberapa warga dusun langsung berubah drastis.
Rakyat biasa paling takut pada pemerintah. Bagi mereka, yang paling bagus adalah tidak perlu berhubungan dengan orang-orang pemerintah.
Namun, kepala desa adalah penghubung warga desa dengan pemerintah. Begitu ada warga desa yang tidak bisa membayar pajak, Budi akan langsung menyuruh orang menjebloskan mereka ke penjara pengadilan daerah.
"Budi, memangnya kamu kira kamu itu pemimpin kabupaten? Seenaknya saja mau tangkap orang!"
Herman memaksakan diri untuk berkata dengan berani,
"Memang benar Kira berutang padamu. Tapi kakak ku sudah pergi menemani Kira menjual ikan. Kalau mereka pulang, utangnya sudah bisa dibayar."
Semalam, Basan menemui Herman dan menyuruhnya untuk lebih memperhatikan rumah Kira karena takut Budi datang berbuat onar. Basan juga bilang kalau Kira adalah orang baik.
"Benar!" sahut Surya.
"Semalam, Tony membawa pulang dua ekor ikan."
Sebelum pergi ke ibu kota provinsi tadi pagi, dia juga mengingatkan Surya untuk mencegah orang yang datang menagih utang ke rumah Kira untuk berbuat onar. Dengan begitu, mereka pasti bisa terus makan ikan ke depannya.
"Beraninya kalian membantah ku! Awas aku naikkan pajak kalian di musim panen tahun depan!" ujar Budi dengan kesal.
Biasanya, pajak panen yang harus dibayar penduduk desa ditentukan oleh kepala desa. Pajak itu di bayar dalam bentuk memberikan sebagian hasil dari panen mereka. Kepala desa akan membayar jumlah yang ditentukan kepada pemerintah, lalu menyimpan kelebihannya sendiri atau dibagi-bagikan kepada pejabat kecil lainnya. Jadi, ancaman ini sangat berguna bagi warga desa.
"Naikkan pajak?"
"Dasar bajingan nggak manusiawi! Asal sudah waktunya bayar pajak panen, kamu selalu hanya mengambil sedikit hasil panen warga Dusun mu, tapi malah mengambil banyak hasil panen Dusun Samadi!"
"Kalau kamu berani naikkan pajaknya tinggi-tinggi, kami nggak bakal bayar pajak! Kami bakal lapor ke pemimpin kabupaten!"
Warga desa sudah sepenuhnya marah.
Budi mengerutkan keningnya, dia hanya mengatakan hal itu untuk menakut-nakuti mereka, tetapi mereka malah percaya.
"Sudahlah, ribut apa sih!"
Tiba-tiba, Agus berjalan mendekat dan menegur warga desa,
"Nggak mau bayar pajak? Kalian mau memberontak, ya! Menurut kalian, pemimpin kabupaten bakal percaya omongan kalian atau omongan Pak Budi yang bantu dia terima hasil panen?"
Para warga menunduk. Amarah dalam hati mereka sudah berkurang begitu mendengar ucapan Agus.
Herman berkata lagi dengan berani,
"Tapi kami juga nggak bisa pergi sekarang, Kakak ku dan Kira sedang pergi jual ikan. Asal merela pulang, utangnya sudah bisa dibayar!"
"Apa kamu nggak bisa hitung? Kamu nggak tahu berapa banyak ikan yang harus dijual untuk mendapatkan 40 ribu rupiah?"
Agus menatap Herman, lalu berkata dengan meremehkan,
"Harga ikan kecil cuman 10 rupiah per setengah kilo, sedangkan ikan besar cuman 20 rupiah per setengah kilo. Dari ikan yang didapatkan Kira kemarin, ikan besar paling cuman ada 100 kilo, sedangkan ikan kecil cuman 50 kilo. Jadi, dia paling banyak juga cuman bisa hasilkan 4 ribu rupiah."
"Belum lagi harus bayar pajak ke pemerintah 10% dan ke bos pasar 20%. Uang yang tersisa nggak bakal sampai 10 ribu rupiah. Itu masih belum sampai seperempat utangnya."
Wajah Herman langsung memucat. Kalau uang yang didapatkan Kira belum mencapai 10 ribu rupiah, Kira tidak mungkin bisa membayar utang 40 ribu rupiah itu.
Wulan pun berkata,
"Meskipun uang penjualan ikan nggak cukup, aku sudah berikan sebuah gelang giok yang harganya 20 ribu rupiah untuk di gadaikan. Kalau dia pinjam uang sama kakak ku lagi, kita sudah punya cukup uang untuk bayar utang!"
Warga desa mengangguk.
Saat pernikahan mereka, ada juga keluarga Wulan yang datang. Mereka memakai baju sutra yang bagus serta menaiki kereta kuda yang cantik dan besar.
Agus berkata sambil mengelus-elus janggutnya,
"Apa kalian tahu aturan penggadaian? Giok cuman bisa digadaikan setengah harga. Jadi, giok seharga 20 ribu rupiah juga cuman bisa digadaikan seharga 10 ribu rupiah! Keluargamu memang kaya, tapi nggak ada gunanya Kira pergi. Keluarga Sunardi toh mau kamu kembali, mana mungkin mereka melewatkan kesempatan ini?"
Setelah mendengar ucapan Agus, Wulan langsung terduduk ke lantai.
Situasinya mungkin memang seperti apa yang dikatakan Agus. Kakak Wulan pasti memilih menghabiskan lebih banyak uang untuk menebusnya kembali dari pada meminjamkan uang pada Kira untuk membayar utang.
Setelah melihat situasi Wulan, para penduduk desa pun merasa kasihan terhadapnya.
Jika Kira tidak bisa membayar utang, sepasang suami istri ini harus menjadi budak pak Budi.
"Bubar lah! Kira nggak mungkin bisa bayar utang, Rumah ini bakal segera jadi milik Pak Budi. Mana sopan kalian datang dengan membawa tongkat kayu!"
Agus mengibaskan tangannya untuk mengusir warga desa. Kemudian, dia tersenyum dan mengangguk pada Budi.
Sebagai penguasa tertinggi Dusun Samadi, dia harus memiliki bubungan yang baik dengan kepala desa. Dengan begitu, pajak panen yang merea serahkan bisa menjadi lebih sedikit.
Saat pejabat kecil punya masalah, penguasa tertinggi dusun akan menolong mereka bahkan jika harus menggertak orang dusun nya.
Lagi pula, Agus juga merasa tidak senang terhadap Kira gara-gara insiden yang kemarin.
"Kepala dusun kalian juga sudah bilang kalau Kira nggak mungkin bisa bayar utang. Cepat pergi! " teriak Budi pada warga dusun.
Dengan bantuan Agus, Budi pun menjadi sombong Kembali.
"Yang harus pergi itu kamu!" Kira masuk ke dalam rumahnya dengan murka.