NovelToon NovelToon
Cinderella, Glass Slipper Syndicate

Cinderella, Glass Slipper Syndicate

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Mafia
Popularitas:487
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Setelah ayahnya hilang dalam kecelakaan mobil, Ella hidup dengan satu tujuan yaitu menemukan kebenaran tentang ayahnya.


Sementara Leo seorang jaksa muda hidup dengan satu prinsip yaitu menegakkan hukum tanpa pengecualian.


Ketika mereka bertemu di pesta dansa, keduanya tak sadar mereka berada di sisi yang berlawanan dari permainan yang sama.


Ketika perasaan mulai tumbuh, satu pertanyaan tak bisa dihindari, apa yang harus dimenangkan? Kebenaran atau cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CGS 16

Di depan cermin, Ella berhenti. Menatap dirinya sendiri. Ada sesuatu yang berbeda. Bukan hanya dari penampilan. Tapi dari cara ia melihat dirinya. Ia tidak lagi terlihat seperti gadis yang kebingungan. Ia terlihat seperti seseorang yang siap masuk ke sesuatu meski belum sepenuhnya siap menghadapi akibatnya.

Tante Rosa muncul di belakangnya, juga sudah berubah. Tidak mencolok, tapi jelas menyatu. Cara berdirinya, cara matanya bergerak semuanya menunjukkan pengalaman. Ia tidak perlu terlihat seperti orang penting. Ia hanya perlu terlihat seperti orang yang pantas berada di sana. “Kamu siap?” tanyanya pelan.

Ella tidak langsung menjawab. Ia menarik napas. Lalu mengangguk. Mereka tidak keluar bersamaan dengan Bu Vero dan Sisil. Itu terlalu berisiko. Mereka memberi jarak, menunggu hingga mobil mereka benar-benar pergi, hingga suara mesin menghilang dari halaman. Barulah Ella dan Tante Rosa bergerak.

Malam sudah turun sepenuhnya ketika mereka keluar dari rumah itu. Udara terasa lebih dingin. Lebih tajam. Seolah menyadari bahwa langkah yang mereka ambil malam ini bukan langkah biasa. Di dalam mobil, tidak banyak percakapan. Tidak perlu. Semua sudah dipahami.

Lampu-lampu kota menemani perjalanan mereka menuju tempat yang sejak tadi hanya mereka bayangkan sebuah hotel mewah, pusat dari sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar pesta.

Saat mobil berhenti dan gedung itu terlihat jelas di depan mereka, Ella kembali merasakan detak jantungnya meningkat.

Tapi kali ini ia tidak mundur. Ia membuka pintu. Turun. Dan untuk pertama kalinya, melangkah ke dunia itu bukan sebagai tamu yang diundang, tapi sebagai seseorang yang datang dengan tujuan.

Mereka berjalan berdampingan, mendekati pintu masuk yang dijaga, cahaya terang dari dalam menyambut, suara musik samar terdengar, dan bayangan orang-orang di balik pintu kaca bergerak seperti dunia lain yang menunggu.

Ella menegakkan bahunya. Menyesuaikan langkahnya. Mengunci semua keraguan di dalam. Karena malam ini ia tidak hanya hadir. Ia masuk. Dan apa pun yang menunggu di dalam sana, ia tahu tidak akan ada jalan kembali setelah ini.

"Nona, topeng anda ketinggalan!" tiba-tiba, seseorang memakai topeng seperti Batman memberikan dua topeng untuk Ella dan Tante Rosa. Lalu dalam kondisi masih kebingungan, lelaki itu mengajak masuk.

Ya. Mereka bisa masuk tanpa harus melewati akses panjang seperti tamu lainnya. Bahkan kini, Ella dan Tante Rosa sudah lebih dahulu berada di dalam area pesta ketimbang Bu Vero dan Sisil.

"Siapa dia? Kenapa dia memberi kita topeng dan mengizinkan kita masuk tanpa melewati akses?" tanya Ella sambil berbisik-bisik pada Tante Rosa.

"Psstttt, sudah. Ikuti saja. Jangan sampai kita terlalu mencolok." balas Tante Rosa. "Yang terpenting sekarang bergabung secara natural, usahakan cari informasi sebanyak-banyaknya."

***

Ballroom itu seperti dunia yang berdiri di atas lapisan yang berbeda dari kenyataan. Cahaya lampu gantung memantul di dinding marmer, musik mengalun pelan namun terukur, dan orang-orang yang hadir bergerak dengan ritme yang seolah sudah disepakati, tenang, elegan, dan terkendali. Tidak ada suara keras, tidak ada tawa berlebihan, tapi justru di balik ketenangan itulah terasa sesuatu yang lebih tajam. Ini bukan sekadar pesta. Ini panggung.

Panggung para pemangsa.

Ella melangkah masuk bersama Tante Rosa, masih dengan topeng tipis yang menutupi sebagian wajah mereka, akses yang tadi mustahil, kini terbuka hanya karena satu hal: seorang laki-laki yang muncul entah dari mana, memberikan dua topeng, lalu membawa mereka melewati pemeriksaan tanpa satu pun pertanyaan. Tidak ada penjelasan. Tidak ada perkenalan. Hanya satu kalimat singkat saat itu, “Ikuti saya.”

Dan sekarang ia masih di sana.

Berjalan sedikit di belakang mereka, tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh, tapi cukup untuk menunjukkan bahwa kehadiran Ella dan Tante Rosa bukan kebetulan. Cara ia bergerak membuatnya tampak seperti pelayan pribadi, tenang, efisien, tidak menarik perhatian namun dari cara matanya mengamati sekitar, jelas ia bukan orang biasa.

Ella merasakannya. Perlindungan atau pengawasan. Ia belum tahu.

“Jangan terlalu sering melihat ke belakang,” bisik Tante Rosa pelan tanpa menoleh. “Anggap dia bagian dari sistem di sini.”

Ella mengangguk kecil, meski pikirannya tetap waspada.

Di sekeliling mereka, percakapan berlangsung dalam nada rendah, tapi isi pembicaraannya tidak ringan. Kata-kata seperti “proyek”, “pengalihan”, “komitmen”, dan “jaminan” terdengar di beberapa sudut. Tidak ada yang menyebut angka secara terang-terangan, tidak ada yang menyebut nama lengkap, tapi bagi seseorang yang sudah melihat data seperti Ella, semuanya terasa familiar.

Ini bukan tempat orang biasa. Ini tempat keputusan dibuat tanpa tercatat.

Ella mengambil satu gelas dari nampan yang dibawa pelayan lain, hanya untuk menyatu, bukan untuk diminum. Tangannya tetap stabil, tapi matanya bekerja. Ia mulai mengenali beberapa wajah, orang-orang yang sebelumnya hanya ia lihat sebagai nama dalam data kini berdiri nyata di hadapannya, berbicara santai, tersenyum, seolah dunia tidak sedang membicarakan mereka di luar sana.

“Lihat jam sebelas,” bisik Tante Rosa.

Ella menggeser pandangannya perlahan. Seorang pria berdiri di sana, dikelilingi beberapa orang, jelas menjadi pusat. Cara orang lain mencondongkan tubuh saat berbicara dengannya menunjukkan posisi. Bukan sekadar tamu. Tapi seseorang yang penting.

“Dia ada di data,” kata Ella pelan.

“Level atas,” jawab Tante Rosa singkat.

Deg. Artinya mereka sudah masuk terlalu dalam.

Di belakangnya, laki-laki bertopeng yang membawa mereka masuk itu sedikit mendekat. Tidak menyentuh, tidak memanggil, hanya cukup dekat untuk berbicara tanpa terdengar orang lain.

“Jangan terlalu lama di satu titik,” katanya rendah.

Ella menahan napas sejenak. Suaranya tenang. Tapi jelas ia tahu. Bukan hanya tentang posisi mereka. Tapi tentang apa yang mereka lakukan. Ella tidak menoleh. Tidak langsung merespons. Tapi langkahnya berubah. Lebih mengalir. Lebih menyatu. Sekarang bukan hanya tentang mengamati. Tapi juga tidak terlihat mengamati.

Mereka bergerak lebih dalam ke dalam ruangan, melewati kelompok demi kelompok, mendengar potongan percakapan yang semakin jelas mengarah pada sesuatu yang lebih besar dari yang mereka bayangkan. Ini bukan hanya soal uang.

Ini tentang kekuasaan. Tentang kendali. Tentang siapa yang menentukan apa yang benar dan salah. Dan di tengah semua itu Ella mulai merasakan sesuatu yang baru. Bukan hanya takut. Bukan hanya tegang. Tapi marah.

Karena di tempat seperti ini, dengan semua kemewahan dan ketenangan yang dipertontonkan nama ayahnya mungkin hanya satu bagian kecil. Satu pion. Atau bahkan satu korban.

Ia mengepalkan jarinya pelan di balik gaunnya. Menahan diri. Menahan emosi. Karena di panggung para pemangsa ini yang paling bertahan bukan yang paling kuat. Tapi yang paling bisa menyembunyikan niatnya. Dan malam ini Ella tidak datang untuk dilihat. Ia datang untuk melihat segalanya.

1
Fitria
Jangan lupa tinggalkan Like dan komen. terimakasih.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!