NovelToon NovelToon
Takdir Yang Ditukar

Takdir Yang Ditukar

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan / CEO
Popularitas:879
Nilai: 5
Nama Author: Re _ ara

seorang ibu muda dari istri seorang pengusaha kaya raya sedang mengandung 9 bulan dan sedang mengalami kontraksi lalu dibawa ke rumah sakit , dan bertepatan dengan mantan pembantu rumah tangganya juga melahirkan di rumah sakit yang sama dengan motor majikannya . mereka sama-sama melahirkan bayi perempuan . pembantu rumah tangga yang ingin anak perempuan yang hidup berkecukupan mempunyai rencana licik untuk menukar anak perempuan dengan anak majikannya . sampai umur dewasa perbuatan itu tidak pernah terbongkar . bagaimana kelanjutannya ? ikutin terus novel Re _ Ara ya !

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 kecurigaan Nayla

 POV Nayla

Sejak pagi tadi, rasa curigaku makin memuncak. Mama pergi pagi-pagi sekali tanpa bilang ke mana, dan Papa cuma bisa jawab "ada urusan" setiap aku tanya. Aku merasa ada yang disembunyikan dari aku, dan aku nggak mau cuma diam menunggu jawaban.

Aku ingat cerita tentang gadis yang aku temui di mall itu yang wajahnya mirip banget sama Mama, yang bikin Mama jadi aneh-aneh belakangan ini. Aku ingat juga aku pernah mendengar Dinda menyebutkan tempat kerjanya di kafe itu saat aku marah-marah padanya dulu. Tanpa pikir panjang, aku pun memutuskan untuk pergi ke kafe itu sendirian.

Kalau benar ada sesuatu yang berhubungan dengan gadis itu, pasti aku akan menemukan jawaban di sana.

Aku tiba di kafe sekitar jam setengah sembilan. Aku parkirkan motorku agak jauh, lalu berjalan mendekat dengan hati-hati agar tidak ketahuan. Aku bersembunyi di balik tiang besar di depan kafe, lalu mengamati setiap orang yang masuk dan keluar.

Benar saja, tidak lama kemudian aku melihatnya.

Mama keluar dari dalam kafe bersama Dinda gadis yang sama yang aku temui di mall itu. Mereka berjalan berdampingan, seolah sudah saling kenal lama. Wajah Mama terlihat campur aduk antara sedih dan haru, sedangkan Dinda terlihat menunduk dengan ragu.

Jantungku berdebar kencang. "Kenapa Mama ada di sini sama dia? Apa hubungan mereka sebenarnya?"

Aku melihat mereka berjalan menuju mobil Mama yang terparkir di pinggir jalan. Mama membukakan pintu untuk Dinda, lalu masuk ke kursi pengemudi. Mobil itu pun melaju pergi, dan aku segera mengikuti dari belakang dengan motorku. Aku harus tahu ke mana mereka pergi.

Mobil Mama berjalan menuju jalan raya utama, lalu berbelok menuju arah rumah sakit besar di pusat kota. Aku terus mengikuti dengan jarak yang cukup jauh agar tidak ketahuan. Akhirnya, mobil itu berhenti di area parkir rumah sakit.

Mama dan Dinda turun dari mobil, lalu berjalan masuk ke dalam rumah sakit bersama-sama. Mereka berjalan berdampingan, sesekali Mama menoleh ke arah Dinda dan berkata sesuatu dengan lembut.

Aku berdiri di depan pintu rumah sakit, menatap punggung mereka yang semakin menjauh masuk ke dalam. Air mataku hampir jatuh. Semua potongan teka-teki mulai terangkai.

"Mama pergi pagi-pagi ke kafe itu, ketemu sama Dinda, lalu pergi ke rumah sakit berdua... Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah Dinda ini... anak Mama yang sebenarnya? Apakah aku bukan anak kandung Mama dan Papa?"

Pikiran-pikiran itu muncul begitu saja di kepalaku, membuatku merasa pusing dan tidak berdaya. Selama 17 tahun aku hidup dengan semua kemewahan dan kasih sayang dari Mama dan Papa, tapi sekarang aku mulai ragu dengan semuanya.

"Kalau benar aku bukan anak kandung mereka, lalu siapa orang tuaku yang sebenarnya? Dan kenapa Mama merahasiakan semua ini dariku? Kenapa dia lebih dekat dengan Dinda daripada aku?"

Aku tidak berani masuk ke dalam rumah sakit. Aku hanya berdiri di depan pintu itu, menahan air mata yang mau tumpah. Aku merasa seperti orang asing di dalam keluargaku sendiri. Semua yang aku yakini selama ini seolah runtuh dalam sekejap.

Saat melihat mamanya dan gadis itu keluar ,

Aku memutuskan untuk pulang. Aku harus menunggu Mama pulang, dan aku akan menanyainya dengan segala keberanian yang aku miliki. Aku harus tahu kebenaran yang sebenarnya, apa pun konsekuensinya

...****************...

 Ruang Kerja Leonardo Dewantara

Suasana di ruang kerja yang luas dan mewah itu terasa agak berbeda dari biasanya. Leonardo yang biasanya terlihat tenang dan penuh percaya diri, kini tampak gelisah. Ia duduk di kursi kerjanya, sambil memijat pelipisnya yang terasa berat.

Adrian, sahabat sekaligus asisten pribadinya yang sudah bekerja bersamanya selama lebih dari 10 tahun, duduk di hadapannya dengan wajah perhatian. Ia sudah melihat perubahan sikap Leonardo sejak beberapa hari terakhir, dan ia tahu ada sesuatu yang mengganggu pikiran sahabatnya itu.

" Leonardo, sudah hampir seminggu ini aku melihatmu tidak seperti biasanya. Ada apa sebenarnya? Kalau ada masalah, ceritakan saja padaku. Siapa tahu aku bisa membantu."

Leonardo menghela napas panjang, lalu menatap Adrian dengan tatapan yang penuh kebingungan.

"Aku juga tidak mengerti, Adrian. Selama beberapa hari terakhir ini, Liana bersikap sangat aneh. Ia seringkali diam sendiri, terlihat sedih, dan tidak mau bercerita apa pun padaku. Padahal biasanya kami tidak pernah menyimpan rahasia satu sama lain."

"Benarkah? Apa yang membuatnya bersikap begitu?" tanya Andrian penasaran.

"Aku juga tidak tahu persisnya. Tapi semuanya bermula dari cerita Nayla beberapa hari yang lalu. Anakku itu bercerita bahwa ia bertemu dengan seorang gadis di pusat perbelanjaan. Dan yang membuatku terkejut... Nayla bilang gadis itu sangat mirip dengan Liana. Bahkan caranya berbicara dan bersikap pun mirip sekali."

Adrian mengangkat alisnya dengan heran.

"Mirip dengan Liana? Itu kebetulan yang luar biasa sekali ya, Leo . Tapi mungkin hanya kemiripan biasa saja, bukan?"

"Aku juga berpikir begitu pada awalnya. Tapi Liana... ia seketika tertarik dengan cerita itu. Ia terus menanyakan detail tentang gadis itu, dan sejak saat itu ia mulai bersikap aneh. Kemarin ia pulang dengan wajah yang sangat sedih dan pucat, lalu mengurung diri di kamar seharian. Hari ini ia pergi pagi-pagi sekali tanpa memberi tahu ke mana ia akan pergi."

 "Apakah kamu , sudah menanyakan secara langsung apa yang sebenarnya terjadi?"

 "Sudah, berkali-kali. Tapi ia hanya bilang 'tidak ada apa-apa' dan 'hanya lelah saja'. Aku mengenal Liana selama bertahun-tahun, Adrian. Aku tahu ketika ia sedang menyembunyikan sesuatu. Dan aku merasa... sesuatu yang besar sedang terjadi, tapi aku tidak tahu apa itu."

Leonardo berdiri dan berjalan menuju jendela, menatap ke luar gedung yang tinggi itu.

"Yang membuatku semakin bingung... Liana pernah bercerita padaku, bahwa gadis yang dimaksud Nayla itu adalah anak dari Sari mantan pembantu kita yang melahirkan di rumah sakit yang sama dengan Liana 17 tahun yang lalu. Kamu ingat kan, Adrian?"

 "Saya ingat, Leo . Waktu itu Liana melahirkan Nayla, dan Sari juga melahirkan di hari yang sama. Saya sempat mengantar barang-barang ke rumah sakit waktu itu."

"Ya. Dan sekarang... anak Sari itu dikatakan sangat mirip dengan Liana. Apakah ini hanya kebetulan belaka? Atau ada sesuatu yang lain yang kita tidak ketahui?"

Adrian terdiam sejenak, mencoba memahami situasi yang diceritakan oleh sahabatnya itu.

"Kalau dipikir-pikir, memang ada yang aneh ya, Mas. Selama ini Nayla memang tidak memiliki banyak kemiripan dengan Mas maupun Bu Liana. Sifatnya pun agak berbeda dengan kalian berdua yang lembut dan bijaksana. Tapi saya tidak pernah berani berpikir yang tidak-tidak, karena saya yakin Nayla adalah anak kandung kalian."

"Aku juga selalu yakin itu, Adrian. Tapi setelah mendengar semua ini... aku mulai ragu. Ada sesuatu yang mengganjal di hatiku, sesuatu yang tidak bisa aku jelaskan dengan kata-kata. Rasanya seperti... ada bagian dari hidup kita yang hilang, dan sekarang mulai muncul kembali."

"Kalau begitu, apa rencana Mas selanjutnya?" tanya Andrian .

"Aku akan menunggu sampai Liana mau bercerita padaku. Aku tidak mau memaksanya, karena aku tahu ia sedang dalam keadaan yang sulit. Tapi aku juga akan mencari tahu sendiri, sedikit demi sedikit. Aku tidak mau hidup dalam ketidakpastian seperti ini."

 "Baiklah, Kalau kamu butuh bantuan apa saja, saya siap membantu. Kita akan mencari tahu kebenaran ini bersama-sama."

Leonardo menoleh ke arah Adrian, lalu tersenyum tipis.

"Terima kasih, Adrian. Kamu memang sahabat terbaik yang aku miliki."

 Sementara itu, di tempat lain...

Rahasia yang telah tersembunyi selama 17 tahun itu mulai terungkap sedikit demi sedikit. Tidak hanya Liana dan Dinda yang sedang mencari kebenaran, tapi juga Leonardo, Nayla, dan bahkan Adrian yang mulai terlibat dalam pencarian ini.

...----------------...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!