NovelToon NovelToon
Dijodohkan Dengan Presdir Arogan

Dijodohkan Dengan Presdir Arogan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

Karina Dyah Pramesti, it-girl global sekaligus putri kandung Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, harus menelan pahitnya kehancuran karier di Korea Selatan akibat skandal politik yang menjebaknya.
-
Dipulangkan paksa ke tanah air, Karina tidak punya pilihan selain tunduk pada misi terakhir ayahnya: Pernikahan Politik.
Demi menyatukan kekuatan militer dan supremasi ekonomi, Karina dijodohkan dengan Darma Mangkuluhur, pewaris klan Cendana yang dingin dan ambisius. Di tengah kemewahan yang menyesakkan dan intrik kekuasaan antara dua keluarga raksasa, Karina harus memutuskan—menjadi bidak catur yang pasrah, atau bangkit menjadi penguasa baru untuk membalas dendam pada mereka yang telah menghancurkan impiannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 19

****

Fajar di Menteng membawa keheningan yang menyesakkan bagi Karina. Saat kesadarannya perlahan terkumpul, hal pertama yang ia rasakan adalah gravitasi yang seolah menarik tubuhnya sepuluh kali lebih kuat ke atas ranjang. Tubuhnya terasa remuk, setiap inci sendinya seperti baru saja dipaksa melewati medan tempur yang brutal.

Ia mencoba menggerakkan lengannya, namun rasa ngilu langsung menjalar. Ingatannya berputar pada kejadian semalam; bagaimana "Beruang Es" itu mencair menjadi badai api yang menghancurkan seluruh logikanya.

Karina menoleh ke sisi ranjang yang kosong. Darma? Jangan ditanya. Pria itu sudah menghilang, kemungkinan besar sudah duduk di kursi kebesarannya di Menara Hutomo sebelum matahari benar-benar terbit, seolah kegiatan intens semalam hanyalah olahraga pagi rutin baginya.

"Dasar suami sialan... robot tanpa perasaan," umpat Karina kesal, suaranya parau dan hampir hilang.

Dengan perjuangan yang luar biasa dan bantuan dari pelayan yang diperintahkan Darma untuk tidak mengganggunya hingga ia bangun sendiri, Karina akhirnya berhasil menyeret tubuhnya ke kamar mandi.

Rendaman air hangat dengan aroma essential oil mawar sedikit meredakan ketegangan ototnya, meski sisa-sisa "penjajahan" Darma masih tercetak jelas di kulit pualamnya.

**

Satu jam kemudian, Karina berdiri di depan cermin besar. Ia telah merias wajahnya dengan gaya no-makeup makeup look yang alami namun tetap memancarkan kemewahan. Ia memilih gaun midi berwarna terracotta dengan potongan batik modern yang elegan. Rambut hitam panjangnya ia gerai indah, menutupi tanda-tanda merah di lehernya yang sengaja ia tutup dengan concealer ekstra.

"Perfect. Ayo Ayin, temui Papa dengan muka bahagia. Jangan biarkan dia tahu kalau menantu pilihannya itu sebenarnya predator," gumam Karina pada pantulannya.

Ia harus kuat. Semalam, sebuah pesan singkat masuk dari ajudan ayahnya: Panglima ingin bertemu pukul sepuluh pagi. Karina tahu ini bukan sekadar rindu biasa. Ayahnya pasti telah mendengar gosip tentang Darma dan Angel, dan itu berarti badai politik sedang mengintai di cakrawala.

**

Mobil Mercedes-Benz yang dikemudikan oleh supir kepercayaan klan Hutomo membelah jalanan Jakarta menuju Markas Besar TNI. Begitu mobil memasuki gerbang, suasana berubah drastis. Jika di Menteng segalanya berbau uang dan kemewahan, di sini segalanya berbau disiplin, besi, dan kehormatan.

Prajurit yang berjaga langsung berdiri tegak, memberikan hormat senjata saat mengenali plat nomor mobil keluarga strategis tersebut. Karina turun dari mobil dengan dagu terangkat, menenteng tas Dior senada yang kontras dengan seragam loreng di sekelilingnya.

"Papa ada di kantor, Om?" tanya Karina ramah kepada seorang perwira menengah yang menyambutnya.

"Siap, Sudah ada, Mbak Karina. Beliau sudah menunggu di dalam, bahkan sudah memesankan teh melati kesukaan Mbak," sahut perwira itu dengan senyum hormat.

Karina menarik napas panjang, menetralkan detak jantungnya. Ia melangkah melewati lorong-lorong panjang yang dihiasi foto-foto sejarah militer, hingga tiba di depan pintu jati besar dengan lambang bintang empat.

Tok tok tok.

"Masuk." Suara berat dan berwibawa itu terdengar dari dalam.

Karina mendorong pintu. Di sana, di balik meja kerja raksasa yang penuh dengan tumpukan dokumen rahasia negara, duduk Jenderal Agus Subiyanto. Sang Panglima tampak sedang memijat pelipisnya sebelum mendongak dan melihat putri tunggalnya.

"Ayin, kamu sudah sampai, sayang," sebuah suara lembut menyapa dari sudut ruangan.

Karina menoleh dan matanya berbinar. Di sana berdiri ibunya, Nyonya Intan, yang tampil bersahaja namun berwibawa mengenakan seragam ungu muda Darma Pertiwi. Kerudungnya tertata rapi, memancarkan aura keibuan sekaligus ketegasan istri seorang jenderal.

"Mama! Mama kapan datang ke sini? Kok Ayin nggak tahu?" Karina langsung berlari kecil dan menghambur ke pelukan ibunya, mencari perlindungan yang tidak ia dapatkan dari Darma semalam.

"Bareng Papa kamu tadi pagi. Kamu saja yang terlalu sibuk di Menteng sampai tidak ngeh kalau Mama ada di Jakarta," goda sang Ibu sambil mengelus rambut Karina.

Melihat kehadiran ibunya, nyali Karina untuk "mengadu" tentang kelakuan Darma sedikit meningkat. Ia ingin ayahnya tahu bahwa suaminya itu bisa menjadi sangat menakutkan, namun niat itu tertahan saat melihat wajah ayahnya yang kembali kaku.

"Ayo, kita berangkat sekarang. Waktu kita tidak banyak," ucap Jenderal Agus sambil berdiri dan meraih tongkat komandonya.

"Berangkat ke mana, Pa? Ayin baru saja sampai," tanya Karina bingung.

"Nanti kamu tahu sendiri. Mama dan Papa ingin kamu ikut kegiatan hari ini. Kamu pasti suka tempatnya," sahut sang Jenderal.

**

Rombongan Panglima TNI bergerak dalam barisan kendaraan taktis dan mobil hitam mengkilap dengan pengawalan yang sangat ketat. Sirene meraung sesekali, membuka jalan di tengah kemacetan Jakarta. Namun, tujuan mereka kali ini bukanlah Istana Negara atau lapangan tembak yang gersang, melainkan sebuah kawasan terbuka di pinggiran Jakarta yang telah disulap menjadi pusat acara amal besar-besaran.

Begitu rombongan sampai, suasana militer yang biasanya kaku dan penuh kedisiplinan mendadak terasa lebih manusiawi. Tenda-tenda komando berwarna hijau lumut berdiri gagah, namun di bawahnya, ratusan anak yatim dan penyandang disabilitas berlarian dengan tawa riang. Badut-badut berpakaian loreng mengocok perut anak-anak, sementara aroma makanan tradisional dari tenda-tenda UMKM memenuhi udara.

Meskipun suasananya ramai dan penuh tawa, keamanan tetap berada di level tertinggi. Para prajurit dari kesatuan elit bersiaga di setiap sudut, mata mereka waspada di balik kacamata hitam, memastikan tidak ada gangguan sekecil apa pun di acara yang dihadiri oleh orang nomor satu di militer ini.

Karina turun dari mobil mengikuti langkah ibunya. Ia sempat tertegun melihat pemandangan di depannya. Ia melihat ayahnya, Jenderal Agus Subiyanto pria yang mungkin semalam baru saja menandatangani perintah operasi intelijen yang mematikan kini sedang berjongkok di atas rumput. Dengan tangan yang biasanya memegang senjata, ia dengan lembut memakaikan tas sekolah ke punggung seorang anak kecil yang kehilangan penglihatan.

"Sini, Ayin. Jangan melamun terus. Temani Mama dan bantu anak-anak ini," panggil ibunya, Amelia, yang tampil bersahaja namun tetap berwibawa.

Karina segera bergabung. Di sini, ia bukan lagi Nyonya Hutomo yang sedang ditekan oleh gosip Angel di lapangan golf, bukan pula idol yang dikejar skandal manipulasi foto. Ia melepaskan semua atribut kemewahan itu.

"Kak Ayin! Lihat, aku dapat buku gambar baru!" seru seorang anak kecil sambil menarik ujung baju Karina.

"Wah, bagus sekali! Nanti Kak Ayin mau lihat ya kalau sudah digambar," sahut Karina dengan senyum lebar yang tulus.

Karina menjadi primadona seketika. Awalnya, warga dan para istri petinggi TNI yang hadir di sana tampak segan dan sedikit menjaga jarak, mengingat status Karina sebagai menantu klan Cendana yang eksklusif. Namun, keramahan Karina yang natural meruntuhkan dinding es itu. Ia tidak segan duduk lesehan di atas tikar, membagikan susu kotak, hingga bercanda lepas dengan ibu-ibu warga sekitar.

"Ibu, ini sembakonya. Di dalam ada sedikit tambahan pakaian untuk anak-anak, ya," ucap Karina lembut sambil menyerahkan paket besar kepada seorang janda tua.

"Terima kasih banyak, Mbak Karina. Ternyata aslinya jauh lebih cantik dan baik ya, tidak seperti yang di berita-berita itu," puji ibu tersebut tulus.

Karina hanya tersenyum getir dalam hati. Ia sadar, di sekelilingnya, banyak kamera jurnalis dan tim dokumentasi militer yang terus menyorot kegiatannya.

Di bawah sebuah tenda komando utama, Jenderal Agus sedang berdiri bersama beberapa pejabat bintang dua dan bintang tiga lainnya, lengkap dengan pasangan mereka. Jenderal Agus berdiri tegak, memegang tongkat komandonya dengan dua tangan yang bertumpu di depan tubuhnya.

Matanya tajam mengawasi setiap gerak-gerik Karina. Ada rasa bangga yang menyelinap di hatinya melihat putrinya begitu dicintai masyarakat. Namun, di balik itu, ada niat strategis. Ia ingin memastikan dunia melihat bahwa putrinya adalah wanita terhormat dan berjiwa sosial tinggi sebuah serangan balik halus untuk membersihkan nama Karina sebelum serangan hukum resmi dilancarkan.

"Izin, lapor, Jenderal. Pak Darma Mangkuluhur masih berada di kantor Hutomo. Informasi dari tim lapangan, beliau masih memimpin rapat dewan direksi," bisik seorang ajudan dengan suara sangat rendah di telinga Sang Panglima.

Rahang Jenderal Agus mengeras. Pegangannya pada tongkat komando semakin erat hingga buku-buku jarinya memutih. "Bagus. Jadi dia lebih memilih angka-angka di atas kertas daripada menemani istrinya di depan rakyat?"

"Izin, sepertinya begitu, Jenderal. Beliau belum memberikan tanda-tanda akan bergeser ke lokasi ini," tambah ajudan itu.

Jenderal Agus mendengus dingin. "Dia pikir dia bisa bersembunyi di balik gedung pencakar langitnya setelah membuat kegaduhan media kemarin? Saya ingin lihat, sampai kapan dia bisa bersikap sombong di hadapan saya."

Karina, yang sedang asyik memangku seorang anak kecil penyandang disabilitas, sempat melirik ke arah ayahnya. Ia bisa merasakan aura ketegangan yang memancar dari tenda komando itu.

"Kak Ayin, kenapa matanya sedih?" tanya anak kecil di pangkuannya, jemari mungilnya menyentuh pipi Karina.

Karina tersenyum manis, mencubit pipi anak itu untuk menutupi kegelisahannya. "Kakak nggak sedih, sayang. Kakak cuma... sedang menunggu seseorang yang hatinya lebih keras dari batu, biar kalau dia datang ke sini, udara panasnya hilang karena kedinginan dia."

Karina tahu betul, ayahnya sedang menyiapkan "panggung" khusus. Jika Darma tidak muncul, ayahnya akan menganggap itu sebagai penghinaan terhadap keluarga militer. Namun, jika Darma muncul, ayahnya pasti akan menginterogasi pria itu di depan para petinggi TNI lainnya sebuah tes mental yang luar biasa berat.

**

Sementara itu, jauh di pusat kota, di dalam ruangannya yang kedap suara, Darma Mangkuluhur masih menatap layar monitor yang menampilkan grafik saham. Ia tahu tentang acara amal itu, ia tahu istrinya ada di sana, dan ia tahu mertuanya sedang menunggunya dengan senjata lengkap.

Namun, bagi Darma, bisnis tetaplah prioritas yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja.

"Pak, Jenderal Agus sudah menanyakan keberadaan Anda untuk ketiga kalinya melalui jalur ajudan," lapor Aldi yang berdiri kaku di pintu.

Darma tidak menoleh. "Biarkan dia menunggu. Saya bukan prajuritnya yang bisa dipanggil dengan peluit. Selesaikan dulu laporan ini."

Darma tidak menyadari bahwa di pinggiran Jakarta, investasi emosionalnya sedang berjuang sendirian di tengah kerumunan, menanti apakah suaminya akan datang sebagai pelindung, atau justru sebagai orang asing yang tak peduli.

***

Bersambung...

1
Tika maya Sari
lanjut dong kak
Heresnanaa_: stay tune ya ka🙏😍
total 1 replies
Tika maya Sari
up lagi kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!