Di bawah teriknya matahari dan riuhnya masa remaja, dua insan dengan dunia yang bertolak belakang dipertemukan oleh takdir. Jenawa Adraw, seorang pemuda dengan sorot mata tajam dan nyali yang tak pernah padam, adalah sosok sentral dalam persaudaraan keras di sekolahnya. Ia hidup dalam putaran kesetiakawanan, peluh, dan perseteruan abadi antargeng SMA yang tak kunjung usai. Di seberang dunianya, berdirilah Sinaca Tina, seorang gadis dengan tutur kata yang santun, pesona yang anggun, namun memiliki pendirian sekeras karang yang tak gentar oleh gertakan siapa pun.
Kisah ini mengalun layaknya sebuah gita cinta yang syahdu namun dipenuhi riak gelombang. Hubungan Jenawa dan Sinaca tumbuh di antara letupan amarah sisa tawuran dan manisnya janji yang terucap di beranda rumah. Asmara mereka diuji dengan keras—bukan hanya oleh pedasnya cemoohan teman-teman sebaya atau ancaman dari kubu sekolah seberang, melainkan pula oleh ego darah muda yang sering kali memicu pertengkaran hebat di antara merek
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Keras Kepala di Bawah Rindang dan Jalan Ketiga
Kesunyian di perpustakaan siang itu mendadak terasa mencekik, seolah segenap oksigen telah tersedot keluar melalui celah-celah ventilasi. Sang siswa pembawa kabar buru-buru menundukkan kepala, undur diri dengan langkah gontai, menyisakan ketegangan yang menggantung pekat di antara Jenawa dan Sinaca.
Jenawa masih terpaku di kursinya. Sorot matanya yang semula teduh kini menggelap, menatap ruang kosong di hadapannya. Rahangnya mengeras sedemikian rupa hingga urat-urat di lehernya tercetak jelas. Di dalam dadanya, dua pusaran angin tengah berbenturan dengan dahsyat; janji setianya pada kedamaian yang baru direngkuh, bertabrakan hebat dengan tanggung jawab moral terhadap barisan kawan yang pernah ia pimpin.
Sinaca memperhatikan perubahan raut wajah pemuda itu dengan saksama. Sebuah ketakutan gaib merayap pelan di ulu hatinya. Ia takut sang panglima akan kembali merengkuh pedangnya, dan semua jeda yang telah mereka upayakan akan hancur menjadi debu aspal.
"Kau akan kembali kepada mereka, Jenawa?"
Suara Sinaca mengalun pelan, namun bergetar hebat. Gadis itu menautkan jemarinya di atas meja, berusaha keras menjaga posturnya agar tak terlihat terlampau rapuh.
Mendengar pertanyaan yang sarat akan kekhawatiran itu, Jenawa tersentak dari lamunannya. Ia menoleh, menatap tepat ke dalam manik mata Sinaca. Tatapannya melembut seketika, berusaha meredam kecemasan gadis tersebut.
"Aku telah meletakkan gelarku, Sinaca. Dan aku bukanlah tipe manusia yang menjilat ludahnya sendiri," jawab Jenawa dengan suara baritonnya yang menenangkan. Ia mengulurkan tangannya, menyentuh pelan jemari Sinaca yang bertaut erat di atas meja. "Aku tak akan kembali memimpin barisan itu untuk mengayunkan kepalan tangan."
"Namun raut wajahmu berkata sebaliknya," balas Sinaca. Ia tak menarik tangannya, membiarkan kehangatan telapak tangan Jenawa menyalurkan sedikit ketenangan. "Seno adalah kawan karibmu. Jika ia memimpin konfrontasi tanpa aturan esok petang, pertumpahan darah tak akan bisa dihindari. Apakah nuranimu sanggup membiarkan hal itu terjadi?"
Jenawa menghela napas panjang. Ia menundukkan pandangannya pada tautan tangan mereka. "Itulah yang membelengguku saat ini, Sinaca. Seno dibutakan oleh ego dan amarah. Jika ia maju tanpa perhitungan, komplotan Pelita akan menghancurkan mereka tak bersisa, atau lebih buruk, mereka semua akan berakhir di balik jeruji besi. Aku harus menghentikannya."
"Dengan cara apa?" cecar Sinaca lugas. "Apakah kau akan menghadapinya dan bertukar pukulan dengan kawanmu sendiri untuk memaksanya mundur?"
"Tidak," putus Jenawa tegas. Ia mengangkat wajahnya, menatap Sinaca dengan binar kecerdasan yang selama ini tertutupi oleh arogansi jalanannya. "Kau pernah berkata padaku, bahwa kekuatan sejati bukanlah tentang seberapa keras kau memukul. Aku akan menggunakan akalku, bukan aspal. Namun sebelum itu, aku harus berbicara dengan Seno. Aku harus mencoba menyadarkannya dengan kata-kata, meski aku tahu kepalanya kini sekeras batu karang."
Sinaca terdiam sejenak. Ia melihat kesungguhan yang tak main-main di mata pemuda itu. Bukan kilat amarah yang ingin menghancurkan, melainkan tekad seorang pelindung yang ingin menyelamatkan. Perlahan, Sinaca membalas genggaman tangan Jenawa.
"Temuilah dia," ucap Sinaca pelan namun penuh keyakinan. "Namun berjanjilah padaku satu hal, Jenawa. Jangan biarkan provokasi apa pun memancingmu untuk kembali meneteskan darah."
"Aku berjanji, Sinaca."
Lonceng istirahat kedua belum lama berdentang saat Jenawa melangkah tegap menuju area belakang sekolah. Tepat di bawah rindang pohon mahoni besar, Seno tengah duduk di atas tembok pembatas, dikelilingi oleh belasan anak barisan depan yang menyimak instruksinya dengan wajah beringas.
Melihat kedatangan Jenawa, percakapan mereka seketika terputus. Barisan itu membelah, memberikan jalan bagi mantan panglima mereka, namun tak ada sapaan hangat yang mengiringi. Seno melompat turun dari tembok, menatap Jenawa dengan dagu terangkat.
"Ada angin apa mantan panglima kita sudi menjejakkan kaki di wilayah para pendosa ini?" cemooh Seno, suaranya sengaja dikeraskan agar segenap barisan mendengarnya. "Bukankah kau seharusnya sedang membacakan puisi di perpustakaan?"
Beberapa anak tertawa sumbang, namun Jenawa tak sedikit pun terpancing. Ia melangkah maju hingga jaraknya hanya tersisa satu meter dari hadapan Seno.
"Aku mendengar rencanamu untuk esok petang, Seno," ucap Jenawa datar, bahasanya tak lagi menggunakan dialek jalanan yang kasar. "Tawuran terbuka tanpa aturan di simpang tiga. Itu bukan lagi peradilan jalanan. Itu adalah sebuah tindakan bunuh diri."
"Bunuh diri bagimu yang telah kehilangan nyali, mungkin," decih Seno, matanya berkilat penuh amarah. "Tapi bagi kami, ini adalah penegakan harga diri! Agam berani berkoar karena ia pikir Bangsa telah hancur setelah kepergianmu. Kami akan buktikan bahwa tanpa dirimu pun, taring kami masih tajam!"
"Taring tajam tanpa siasat hanya akan berujung pada kebinasaan," timpal Jenawa tegas. Urat kesabarannya mulai menegang. "Kau pikir Agam menantangmu di simpang tiga tanpa alasan? Itu adalah jalur lalu lintas padat. Begitu kalian saling hantam dengan rantai dan balok, polisi akan mengepung kalian dalam hitungan menit. Kau tak hanya mengorbankan nyawamu, Seno. Kau mengorbankan masa depan kawan-kawan yang berdiri di belakangmu!"
Seno maju satu tindak, mencengkeram kerah seragam Jenawa dengan kasar. Bimo dan beberapa anak lain bersiap menahan napas, mengira sebuah pertarungan antarsahabat akan pecah detik itu juga.
Namun, Jenawa tak bergeming. Ia bahkan tak mengangkat tangannya untuk menepis cengkeraman Seno. Ia membiarkan kawan karibnya itu melampiaskan amarahnya.
"Jangan pernah menceramahi kami tentang masa depan, Jenawa!" bentak Seno tepat di depan wajah sang mantan pemimpin. "Kau yang meninggalkan kami! Kau yang membuang kami demi ego pribadimu dan perempuan itu! Kau tak lagi memiliki hak untuk mendikte langkah kami. Pengecut tak berhak memberikan sabda!"
Keheningan yang teramat pekat menyelimuti pelataran belakang sekolah itu. Angin berembus, menggugurkan beberapa daun mahoni ke atas tanah.
Jenawa menatap lurus ke dalam manik mata Seno yang dipenuhi oleh kekecewaan dan keegoisan yang membuta. Ia menyadari satu hal yang teramat menyakitkan: ikatan persaudaraan yang mereka bangun selama tiga tahun ini telah benar-benar putus. Kata-kata tak akan lagi mampu menembus dinding keras kepala kawan karibnya tersebut.
Perlahan, Jenawa mengangkat tangannya, melepaskan cengkeraman Seno dari kerah seragamnya dengan tenaga yang tak tertandingi, namun tanpa unsur kekerasan. Ia merapikan kerahnya dengan tenang.
"Baiklah, Seno," ucap Jenawa pelan, suaranya menyiratkan kesedihan yang mendalam, sebuah perpisahan mutlak antara dua jalan yang tak lagi bisa bersimpangan. "Jika darah dan aspal adalah jalan yang kau pilih, aku tak akan lagi menghalangimu dengan kata-kata. Namun ingatlah, saat kalian menemui jalan buntu esok petang, jangan katakan aku tak pernah memperingatkan kalian."
Tanpa menoleh lagi ke arah barisan yang dulu mengelu-elukannya, Jenawa membalikkan badan dan melangkah pergi. Ia tak berhasil menghentikan Seno. Kepala pemuda itu kini harus bekerja dua kali lipat lebih keras. Ia telah berjanji pada Sinaca untuk tak menggunakan kepalan tangan, maka ia harus mencari jalan ketiga. Sebuah siasat untuk memadamkan api besar esok petang, tanpa ia harus ikut terbakar di dalamnya.
semangat Thor nulisnya...💪💪💪