NovelToon NovelToon
PEREMPUAN YANG TIDAK SEHARUSNYA ADA Ketika Hijrah Tak Menghapus Apapun

PEREMPUAN YANG TIDAK SEHARUSNYA ADA Ketika Hijrah Tak Menghapus Apapun

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Rumah Tangga / Penyesalan Suami
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Arjunasatria

Carisa pernah menjalin hubungan dengan Reynanda sejak masa kuliah. Awalnya terasa hangat dan penuh cinta, hingga akhirnya ditinggalkan tanpa penjelasan, bahkan saat ia mengandung anak Reynanda.

Sejak itu, hidup Carisa runtuh pelan-pelan. Ia menanggung luka yang dalam dan sempat berada di titik terendah.

Waktu berjalan, tetapi luka itu tidak benar-benar hilang. Hanya mengendap dan membuat Carisa semakin tertutup. Hingga suatu hari, ia dijodohkan dan bertemu dengan seorang pria yang tenang dan tidak banyak bertanya. Dari pernikahan itu, Carisa perlahan kembali menjalani hidup, meski trauma masa lalunya tetap ada dalam diam.

Dan ketika Carisa mulai benar-benar terbiasa hidup tanpa nama itu di kepalanya, takdir justru mempermainkannya lagi. Setelah lima tahun berlalu, mereka dipertemukan kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Langit sudah mulai cerah. Carisa berdiri lama di depan jendela kamarnya, menatap halaman rumah yang masih basah karena sisa hujan semalam. Di tangannya, cangkir teh yang sudah tidak panas, sudah sejak kapan ia memegangnya tanpa diminum, ia tidak ingat. Matanya sembab. Wajahnya pucat. Sisa tangis semalam yang ia tumpahkan sendirian dalam gelap, setelah Yuda tidur, setelah ia yakin tidak ada yang mendengar.

Di luar, seekor burung hinggap di pagar basah lalu terbang lagi. Dunia bergerak seperti biasa. Hanya ia yang masih berdiri di tempat yang sama.

Pintu kamar terbuka. Yuda masuk sudah dengan setelan kerjanya. Kemeja putih, jas abu gelap, dasi yang terikat rapi tanpa satu kerutan. Wajahnya datar, selalu seperti itu, tapi ada sesuatu di sorot matanya pagi ini yang membuat Carisa tidak bisa langsung memalingkan pandangan. Sesuatu yang tidak bisa ia beri nama.

"Aku mau berangkat," katanya singkat.

Carisa meletakkan cangkirnya di meja dekat jendela. Berjalan menghampiri suaminya, gerakan yang ia lakukan setiap pagi, rutinitas yang sudah jadi semacam upacara kecil di antara mereka.

"Yud..."

"Hm." Matanya turun ke dasi yang ia rapikan sekali lagi.

"Semalam aku..." Carisa berhenti. Kata-katanya menggantung di udara tanpa selesai.

Yuda mengangkat matanya. Menatap Carisa datar, tapi penuh dengan sesuatu yang tidak terucap. Lalu berkata pelan, "Tidak perlu cerita, kalau kamu tidak ingin. Aku tidak akan memaksamu."

Carisa diam. Hanya itu yang bisa ia lakukan. Karena Yuda benar, tidak ada yang perlu ia ceritakan. Tidak ada yang akan ia ceritakan. Kejadian kemarin akan ia kubur di tempat yang sama dengan semua hal lain yang tidak pernah ia bicarakan sejak mereka menikah. Di dalam dadanya. Di tempat yang sudah penuh sesak tapi entah kenapa masih bisa menampung lebih.

"Kamu besok ikut aku ke Bandung," kata Yuda tiba-tiba, suaranya kembali ke nada biasanya, datar, tidak memberi ruang untuk negosiasi. "Ada pertemuan keluarga."

Carisa menatapnya. "Mendadak sekali..."

"Tidak ada yang mendadak." Matanya bertemu mata Carisa. "Kalau kamu memang niat ikut."

Kalimat itu tajam. Menyimpan sesuatu di baliknya, tapi Yuda sudah kembali mengalihkan pandangan sebelum Carisa sempat membaca lebih jauh.

Carisa sadar. Selama dua tahun pernikahan ini, ia sering absen dari pertemuan keluarga besar Yuda. Selalu ada alasan, pekerjaan, proyek yang mendesak, badan yang tidak enak. Dan Yuda tidak pernah mempertanyakan. Tidak pernah mempermasalahkan. Menerimanya seperti menerima semua hal lain tentang Carisa dengan diam yang tidak bisa dibaca.

"Kali ini kamu harus ikut." Yuda menambahkan sambil merapikan jasnya, lalu mengambil kunci mobil di rak. "Keluarga besar Ayahku akan hadir semua."

Ia berjalan ke pintu depan. Carisa mengikuti langkahnya, dua langkah di belakang, seperti biasa, seperti jarak yang sudah jadi kebiasaan di antara mereka bahkan ketika berjalan di lorong rumah mereka sendiri.

Di depan pintu, Yuda berhenti.

"Carisa."

"Ya?"

Ia tidak langsung menoleh. Tangannya memegang gagang pintu, lalu pelan, ia berbalik. Menatap Carisa dengan sorot yang berbeda dari tadi. Lebih dalam. Lebih lama.

"Jaga dirimu baik-baik saat aku tidak ada di dekatmu."

Kalimat itu keluar pelan. Terlalu pelan untuk sekadar basa-basi. Tapi juga terlalu terjaga untuk disebut ancaman.

"Tentu saja," Carisa menjawab cepat. Senyumnya tipis. "Aku tidak akan macam-macam."

Yuda menatapnya satu detik lagi, lalu mengangguk. Mencium kening Carisa dengan pelan, seperti yang selalu ia lakukan setiap pagi. Singkat, dingin, tapi tidak pernah absen.

Pintu tertutup. Carisa berdiri di sana, di depan pintu yang baru saja ditutup suaminya dan untuk pertama kalinya dalam dua tahun, ia merasa takut. Bukan takut pada Yuda. Tapi takut pada ekspresi wajahnya tadi. Pada kalimat yang terasa menyimpan lebih banyak dari yang diucapkan. Pada sorot mata lelaki yang sudah dua tahun hidup bersamanya tapi tidak pernah benar-benar ia kenal.

Jaga dirimu baik-baik saat aku tidak ada di dekatmu.

Apa maksudnya?

Carisa kembali ke dalam. Berdiri di ruang tamu yang sunyi, menatap rumah yang selalu rapih.

Ia duduk di sofa. Menarik lututnya ke dada. Pikirannya kembali ke malam pertama ia bertemu Yuda.

Waktu itu ia bukan Carisa yang sekarang. Ia adalah perempuan yang baru saja merangkak keluar dari kehancuran, kuliah yang terbengkalai, teman-teman yang menghilang satu per satu karena ia sendiri yang memilih menjauh, hari-hari yang diisi dengan berdiam di kamar tanpa tujuan. Setelah kehilangan Nanda, hidup Carisa seperti bangkai kapal yang hanyut, tidak tenggelam, tapi juga tidak ke mana-mana. Hanya mengambang di permukaan, dibawa arus ke mana pun angin mau.

Dari situlah orang tuanya memutuskan. Yuda Arsan. Anak dari teman ibunya. Pengusaha sukses, mapan, tidak banyak bicara. Waktu pertama kali mereka dipertemukan di ruang tamu rumah orang tuanya, Carisa ingat betul, lelaki itu duduk tegak, tangan terlipat di atas lutut, menatapnya dengan sorot yang tidak bisa ia baca. Tidak hangat. Bahkan terkesan kaku dan kering.

Tapi justru karena itu, Carisa merasa aman. Yuda tidak banyak bertanya. Tidak mengorek. Tidak menatapnya dengan tatapan iba yang selalu membuat Carisa ingin menghilang. Dan ketika Carisa memberitahunya tentang keadaannya yang pernah hamil dan kehilangan bayinya, tentang masa lalu yang tidak bisa ia hapus, Yuda hanya mengangguk. Diam sebentar. Lalu berkata, "Aku mengerti."

Tidak bertanya lebih lanjut. Tidak meminta penjelasan. Seolah satu kalimat itu cukup baginya untuk menerima seorang perempuan dengan semua lukanya.

Yuda baginya seperti dinding kokoh, tidak bergerak, bisa ia sandari ketika badai datang. Tapi dinding itu tidak menghangatkan.

Dan itulah yang tidak pernah Carisa sadari sampai ia sudah terlanjur masuk ke dalam rumah yang dibangun di baliknya bahwa bersandar pada sesuatu yang kokoh tidak selalu berarti aman. Kadang itu hanya berarti kamu berhenti bergerak, berhenti mencari, berhenti percaya bahwa masih ada sesuatu yang lebih hangat dari sekadar tidak disakiti.

Semua kebaikan Yuda tidak pernah bisa membuatnya jatuh hati sepenuhnya. Bukan karena Yuda kurang baik. Tapi karena ada luka yang tidak bisa ditambal dengan pernikahan. Ada bagian dari dirinya yang sudah diberikan dan tidak pernah kembali kepada lelaki lain, di waktu yang lain, di kehidupan yang terasa seperti milik orang lain sekarang.

Carisa menatap pintu depan yang sudah tertutup rapat. Ia kembali terngiang kata-kata Yuda.

Jaga dirimu baik-baik saat aku tidak ada di dekatmu.

Ia tidak tahu apakah Yuda mengatakannya sebagai peringatan. Atau sebagai pengakuan bahwa lelaki itu tahu lebih banyak dari yang pernah ia tunjukkan.

Dan untuk pertama kalinya, Carisa merasa bahwa pernikahan mereka yang diam dan rapi itu mungkin menyimpan sesuatu yang jauh lebih dalam dari sekadar dua orang yang tidak saling mencintai.

Mungkin Yuda Arsan bukan sekadar dinding. Mungkin di balik diam itu, ada sesuatu yang sedang ia tunggu, dengan sabar, terkendali, seperti seseorang yang tahu bahwa kebenaran selalu punya cara sendiri untuk terungkap.

1
tifara zahra
lagi donk
Nanik Arifin
beberapa tindakan bodoh Reynanda meretakkan 2 rumah tangga & 4-5 hati. dan anak" yg paling menjadi korban
Musicart Channel
lemah.. jujur jelah dgn suami kau. dlm perkhawinan harus ada kejujuran..
Nanik Arifin
buka matamu lebar" Humaira... keluarkan suara sindiran & intimidasimu. paparkan hujjah" & penilaianmu untuk pelaku.
siapa pemeran utamanya, siapa pemeran pembantunya, ungkap ustadzah Humairah
Nanik Arifin
kan.... ego keluarga kalian semua mg luar biasa. hidup aj sendiri klo blm bisa buang ego.
geregetan deh. ingin numpuk pala Yuda pakai bakiak
Nanik Arifin
lah kan kamu, Yuda, yg dr awal kamu minta masing". sama " bingung membuka hubungan, tapi menyalahkan satu pihak. berbaiki niat, kalian akan memulai hubungan yg baru, untuk masa depan yg bahagia. jangan slg diam"an & berharap pihak lain tahu yg kamu mau. pasangan kalian bukan cenayang yg tahu tanpa pemberitahuan dlu. umur aj dewasa, tapi tindakan kalian tanda tanya
putmelyana
sumpah gw sepanjang baca cerita kesel banget Carisa knpa dia diem aja gak jujur gitu ke suaminya pdhl kalo dia jujur dan terbuka ke suaminya bakalan hidupnya baik² aja
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!