Santaka, anak dari pemilik pesantren besar di Solo—yang berprofesi sebagai chef pastry—terpaksa menikah dadakan dengan Nandini, tetangga sekaligus montir bengkel langganannya.
ini semua karena mereka tertangkap basah di mobil Santaka dalam kondisi mengundang fitnah.
"Gus Taka dan Dini tertangkap di mobil! Suaranya mencurigakan, apalagi baunya..."
Itu kesaksian pihak yang menangkap basah. Tak tanggung-tanggung, tiga orang jadi saksi.
Bisakah Santaka—gus yang lembut—menjadi imam bagi Nandini—montir bengkel yang keras?
Kini kehidupan Nandini bukan lagi tentang oli dan kunci inggris, tapi umat dan pesantren. Sanggupkah sang montir bengkel?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inna Kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35 Hukum Ganggu Rumah Tangga Orang
"Adeeek..." Mata Santaka berbinar melihat kedatangan istrinya. "Kok ndak bilang, Sayang, mau ke sini?" Santaka menghampiri Nandini yang masih berdiri di depan pintu.
Syifa mematung mendengar panggilan Santaka pada Nandini. Begitu manis. Mesra. Ia kepanasan. Ia paham itu tak patut, tapi ia tak dapat menutupi rasa cemburu ini. Harusnya ia yang dipanggil seperti itu oleh Santaka.
Santaka melingkarkan lengannya ke pinggang sang istri. Ia mengajak istrinya duduk di kursi terdekat. "Mau apa, Sayang? Biar aku siapin."
"Ih, aku bawa nasi goreng, Mas. Ndak tau sih menurut Mas enak apa ndak. Apa jangan-jangan busuk rasanya." Nandini tertawa. Ia sengaja membuat tawanya sok imut, mendayu-dayu. Biar tahu rasa si Ning Gatal, Syifa.
"Kamu masak? Wah, aku ndak sabar nyobain. Sebentar ya. Kita makannya di atas. Aku mau bilang Bu Widi pegang kasir dulu." Santaka mengelus kepala Nandini dan berjalan ke arah gudang, di lantai dua.
Syifa merasa sepertinya dapur Santaka kebakaran, dirinya seperti terpanggang di depan konter. Sudahlah dari tadi tak dianggap oleh Santaka, kini istrinya datang. Bermanja-manja dan dimanjakan. Sangat tak pandang tempat. Bermesraan di depan umum.
"Ning Syifa, ngapain ya di sini?" Nandini melangkah ke arah Syifa yang terdiam. Nelangsa dalam kecemburuan tak berdasar.
"Oh, hhmm... Belanja roti... kue... Mau ngapain lagi lah, Mbak Dini." Syifa tersenyum canggung.
"Belanja, sambil ngobrol sama suami Dini?" Nandini mengangkat sebelah alisnya sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada.
"Hah? Ndak lah... Ndak ada kayak gitu, Mbak." Syifa mode bajaj, ngeles.
"Oh, jadi ini Dini yang budheg apa Ning Syifa yang bohong?" Nandini menatap Syifa. Ternyata Syifa cantik. Wajahnya lucu, imut, ada nuansa orientalnya. Nandini jadi ingin menjambak kerudung sang ning, sudah berani coba-coba mendekati Santaka. Imut-imut berbahaya.
"Memang saya ngomong apa tho, Mbak?" Syifa menatap balik Nandini. Syifa iri pada kecantikan Nandini. Wajah itu memiliki daya tarik kuat bagi laki-laki. Sensual.
Dan walaupun sudah ditutupi kerudung panjang kali lebar, pesona itu tak hilang. Malah makin memancar. Tertutup tapi masih menarik. Pantas Santaka tunduk hatinya.
"Dini sih dengernya pas bagian nawarin suami Dini bikin buku resep. Jual jaringan banget sih, Ning?" Nandini mencibirkan bibirnya.
"Itu kan percakapan biasa. Saya ndak ada tujuan gimana-gimana. Siapa tau Gus Taka minat, kan nanti nama Gus Taka tambah bagus, SS makin terkenal. Harusnya Mbak Dini dukung omongan saya dong." Syifa tersenyum simpul sambil tetap menatap Nandini.
Santaka menghentikan langkahnya di muka tangga. Ia melihat sekeliling. SS sepi, belum ada pembeli lagi. Ia tersenyum kecil. Senang melihat aksi bak harimau mengaum Nandini.
Santaka merasa dicintai, dimiliki oleh sang istri. Itu artinya Nandini juga merasakan apa yang ia rasakan. Cintanya tak lagi bertepuk sebelah tangan.
"Gus, gimana ini? Saya ke konter ndak?" Widi berbisik pada bosnya. Ia mau menjalankan tugasnya tapi nanti melintasi kedua wanita itu. Menggangu keributan antara harimau betina dan kucing garong.
"Nanti saja, Bu. Ibu ke atas saja dulu," jawab Santaka sambil berbisik juga.
"Tapi Gus..." Mata Widi melirik ke arah depan konter. "Saya pro Mbak Dini kok, saya tetep di sini ya?" Widi meringis.
Santaka mendengus. "Ngintipnya di atas saja, Bu. Istri saya takut kagok kalau diliatin banyak orang."
Widi mengangguk dengan semangat layaknya di kala gajian. "Siap, Gus. Saya siap bantu Mbak Dini jambak kerudung perempuan itu. Sebel saya juga liatnya, sering banget ke sini."
Widi langsung berlari ke atas dan membiarkan kepalanya menyembul untuk menonton aksi nyonya bosnya. Ia siap mendukung habis-habisan.
Santaka kembali memfokuskan pandangannya pada sang istri. Tangannya bersedekap. Bibirnya ia gigit. Gemas pada Nandini.
"Ya, ndak biasa tho, Ning! Ning Syifa ini jadi marketing percetakannya? Cari penulis potensial gitu? Kalau gitu, coba tawarin Dini nulis buku montir. Kan menarik juga tuh, ukhti montir berfatwa tentang mesin!" Nandini tersenyum sinis.
Wajah Syifa mengeras. Tawa basa-basi ia keluarkan. "Sayangnya Mbak Dini kan ndak ada nama, lain sama Gus Taka. Nanti bukunya ndak laku. Penerbit ndak akan tertarik."
Nandini menatap dalam Syifa. "Ya, nama Dini kan memang cuma diteriakin sama suami Dini, Ning... Kalau malem..." Nandini berbisik lalu menggigit bibirnya.
Wajah Syifa tambah kaku dan memerah. Bak batu akik ruby jadinya. Santaka terkekeh melihat aksi istrinya. Ia benar-benar akan mewujudkan ucapan Nandini, nanti malam. Widi, sang kasir malah jadi penonton, bertepuk tangan tanpa suara.
Nandini mencebikkan bibirnya. "Nama Dini terkenal buat suami, itu cukup buat Dini. Masa suami orang harus ikut ngarepin Dini. Dosa dong Dini godain suami orang. Apa hukumnya Ning, goda suami orang, ganggu rumah tangga orang?"
Paras Syifa semakin merah. Napasnya bertambah cepat. Ia menggoyangkan rahangnya. "Mbak Dini, saya cuma berniat baik, untuk pengembangan diri Gus Taka. Hal yang mungkin ndak bisa Mbak Dini... lakuin."
Tangan Nandini mengepal. Bagian belakang kerudung Syifa yang menjuntai itu menggoda sekali untuk ditarik. Sampai lantai kalau perlu!
"Jawab Ning, pertanyaan Dini. Apa hukumnya mengganggu rumah tangga orang lain?" Nandini mendongakkan dagunya.
Syifa mengeratkan rahangnya. "Hukumnya? Dosa besar! Membuat rumah tangga orang lain berantakan." Sang Ning menatap tajam Nandini.
"Oh, sudah tau dalilnya tapi masih saja jalanin, dosanya tambah besar ndak sih, Ning?" Nandini memiringkan kepalanya.
Syifa mencebikkan bibir. "Tapi jangan lupa, ada aturan tentang bolehnya poligami. Kalau bisa beristri dua dengan cara baik-baik, masuk ke rumah tangga orang lain, bisa saja dibenarkan.
Karena misalnya, tak seimbang antara suami dan istri. Timpang, tak sekufu... Boleh-boleh saja suaminya mencari istri lain yang sekufu, setara."
Nandini membelalakkan matanya. Ia tak menyangka akan jawaban Syifa. Sungguh liar. Ia dan Santaka baru saja menikah, dan wanita ini sudah berpikir untuk menjadi istri kedua Santaka.
Santaka menggelengkan kepala. Wanita macam apa yang pernah akan dijodohkan dengannya oleh sang ibu? Bisa-bisanya bicara sefrontal itu, seperti tak memiliki ilmu. Ia lebih memilih Nandini yang mungkin fakir ilmu namun lebih lurus pemikirannya.
Terbersit dalam pikiran Santaka untuk menghentikan adegan ini. Namun, ia ingin tahu apa reaksi lanjutan istrinya.
Nandini manggut-manggut. "Wah, ternyata sehalu itu ya sampeyan, Ning Syifa. Apa reaksi Umi Lastri ya, kalau tahu ada Ning yang punya potensi jadi ular di rumah tangga anaknya?
Apa perlu Dini telpon Umi sekarang? Atau Dini kasih tau juga Ning Sarah, ada Ning yang sok akrab sama yang bukan mahromnya, di tempat umum pula. Agak-agak ndak tau malu ya...
Atau... Dini perlu kasih tau dunia, ada Ning seperti Ning Syifa? Dini rekam lho tadi waktu Ning ngajak suami Dini ngobrol." Nandini mendekatkan wajahnya pada Syifa.
Wajah Syifa berubah. Dari merah menjadi pasi. Ia tergagap. Memundurkan langkahnya. Matanya menatap tajam Nandini. Ia membalikkan badan. Ia menabrakkan tubuhnya dengan keras ke pintu, mendorongnya dan pergi dengan kaki menghentak.
Nandini tersenyum miring. "Sayaaang..." Santaka memeluk sang istri dari belakang, sejenak. Ia membalikkan tubuh Nandini.
Wajah Nandini masih keruh. "Kenapa Mas ndak pernah cerita soal Ning Syifa? Mas mau poligami ya?"
...****************...
mestinya Boy sebagai lelaki ngerti gimana cara pandang Ahsan ke Dini yg ga wajar, dan lagii...Fiona sm Boy apa saling kenal 🤔
duuuuhhh cenut² pala barbiee 🫠
kenapa pas unboxing disaat bginiii 😂🤣🤣🤣
kocak parahhhh kamu dinoooooooo 🤣🤣 menang banyak nih Santakaa malam ini dan besok dini teparrrrr 😂🤣 aiiiihhh membayangkan yg bergulat ehemm 😂🤣😂🤣
Gus Taka yg bakalan di KO Dini ...🤭🤭