NovelToon NovelToon
Roda Kultivasi: Keturunan Terakhir Sang Reinkarnasi

Roda Kultivasi: Keturunan Terakhir Sang Reinkarnasi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Balas Dendam / Kultivasi
Popularitas:186
Nilai: 5
Nama Author: Girenda Dafa Putra

Langit tidak pernah lagi memerah sejak Harmoni tumbang. Yang tersisa hanya kelabu pucat, puing kuil, dan seorang pemuda bernama Ling Xu—berambut putih bercorak warna-warna aneh, berdiri di tebing tertinggi, menyaksikan lembah yang dulu suci kini dipenuhi tiang-tiang pancang ritual mengerikan.

Mereka menyebut diri mereka Ilahi Kedua. Tapi siapa sebenarnya mereka? Dan apa yang benar-benar terjadi pada sore ketika Harmoni runtuh? Ling Xu hanya memiliki mimpi buruk yang sama, luka yang tak pernah sembuh, dan ingatan tentang ibunya yang ia goreskan kembali setiap malam. Sementara ayahnya—yang pernah berkata "jangan benci"—kini tak lagi punya kepala untuk mengucapkannya.

Di tengah sunyi yang lebih mengerikan dari jeritan, Ling Xu merangkai ritual sendirian di atas altar ayahnya yang bersisa. Ia bersumpah. Bukan untuk berduka, tapi untuk bersiap. Tapi pertanyaannya tetap menggantung di angin yang bau anyir: apakah ia benar-benar sendirian?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Girenda Dafa Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mengapa Ia Memilih Tidak Peduli

...Chapter 24...

“Jika kau diberi ribuan keping—puluhan ribu, ratusan ribu—aku tidak akan terkejut jika kau menembus batas itu lebih cepat dari perkiraan. Wabah Kanker di tubuhmu... itu bukan sekadar kutukan, Nona Racun. Itu juga mesin yang tidak pernah berhenti bekerja."

Ling Xu mengangguk pelan, lalu tiba-tiba matanya menyipit, menatap Huan Zheng dengan tatapan yang lebih tajam dari biasanya.

Bukan tatapan curiga, melainkan tatapan yang mencoba membaca sesuatu yang tersembunyi di balik topeng malas yang mulai retak. 

"Tapi sebelum itu, aku ingin tahu satu hal, Huan Zheng," ucapnya, suaranya tiba-tiba menjadi lebih berat, lebih dalam, seperti air yang mengalir ke palung yang tidak diketahui dasarnya.

"Di kedai arak itu, kau hampir meledakkan dirimu sendiri. Kau hampir membunuh kita berdua. Kenapa? Apa yang membuat seseorang seperti kau—seorang dari tiga Roda Kultivasi, seorang makhluk yang telah mencapai Supranatural Lintang Tingkat Ketiga Puluh Dua—memilih mati bersama musuh-musuhnya daripada terus hidup?" 

Huan Zheng terdiam. 

Untuk beberapa saat, hanya suara tetesan air dari langit-langit gua yang terdengar, jatuh ke genangan kecil di lantai batu dengan bunyi "tik... tik... tik..." seperti detak jam pasir yang mengukur waktu yang tidak pernah cukup. 

Kemudian, Huan Zheng menarik napas—napas yang panjang, napas yang terasa seperti mengeluarkan seluruh udara dari paru-parunya sekaligus, napas yang diikuti oleh getaran halus di sekujur tubuhnya, getaran yang tidak bisa ia sembunyikan meskipun ia berusaha keras untuk tetap tenang.

"Karena aku sudah pernah kehilangan," jawabnya akhirnya, suararnya pelan, nyaris berbisik, dan di sela-sela kata-katanya, Ling Xu bisa mendengar sesuatu yang basah, sesuatu yang pecah, sesuatu yang terdengar seperti tangisan yang ditahan di ujung tenggorokan.

"Seseorang yang sangat dekat denganku. Seseorang yang... tidak bisa aku selamatkan. Aku membiarkannya mati. Atau mungkin—aku yang menyebabkan kematiannya. Aku tidak tahu lagi. Yang aku tahu, setelah kehilangan itu, aku berjanji pada diriku sendiri: tidak akan ada lagi orang yang aku sayangi. Tidak akan ada lagi orang yang aku dekatkan. Karena jika aku kehilangan mereka sekali lagi, jika aku harus merasakan sakit itu untuk kedua kalinya...." 

Ia berhenti, menelan ludah seperti menelan duri yang tersangkut di kerongkongannya, lalu melanjutkan dengan suara yang nyaris tidak terdengar.

"Maka tidak ada gunanya aku terus hidup. Tidak ada gunanya menyandang gelar Pemalas, tidak ada gunanya berleha-leha dan bermalas-malasan, jika orang-orang yang membuat hidup terasa ringan itu tidak ada di sampingku."

Ling Xu tidak bertanya lebih lanjut.

Ia tidak bertanya apakah orang itu masih hidup atau sudah mati, tidak bertanya di mana ia sekarang, tidak bertanya mengapa Huan Zheng tidak mencarinya atau menyelamatkannya. 

Ia hanya duduk diam, membiarkan kata-kata itu mengendap di dadanya seperti batu kerikil yang dijatuhkan ke dalam sumur, tidak bergema, tidak menimbulkan gelombang besar, hanya tenggelam dan diam di dasar, menjadi bagian dari luka yang mungkin tidak akan pernah benar-benar sembuh. 

Haaah!!

Beberapa hari berlalu setelah percakapan itu—entah berapa hari, karena di dalam gua, waktu terasa seperti madu yang mengalir lambat di atas permukaan yang dingin—dan pada suatu pagi, atau malam, tidak ada yang tahu pasti, Huan Zheng yang sedang duduk di mulut gua sambil menatap laut yang bergelombang di kejauhan tiba-tiba menoleh ke arah Ling Xu yang sedang merapikan jubahnya di dalam gua. 

"Kau tampak jauh lebih sehat, Nona Racun," ucapnya, alisnya berkerut sedikit, bukan karena curiga, melainkan karena keheranan yang tulus.

"Terakhir kali aku siuman, kau terbaring dengan luka di sekujur tubuh. Sekarang kau bergerak seperti tidak pernah terluka sama sekali." 

Ling Xu tersenyum.

Senyum yang anehnya cerah, senyum yang tidak pernah ia tunjukkan selama berbulan-bulan berkelana bersama Huan Zheng, senyum yang membuat rambut putihnya yang bercorak urat warna itu terlihat seperti mahkota yang bersinar di dalam gua yang gelap. 

"Sehat sentosa, Huan Zheng," jawabnya sambil meregangkan kedua tangannya ke atas seperti kucing yang baru bangun tidur.

"Tanpa sedikit pun cedera. Luka-lukaku sembuh total. Bahkan bekasnya pun tidak ada."

Huan Zheng mengangguk perlahan mendengar jawaban Ling Xu, tetapi di dalam benaknya, suara batinnya mulai bergumam.

Bukan dengan getaran biasa, melainkan dengan nada yang lebih berat, lebih dalam, seperti lonceng tua yang berdentang di ruang bawah tanah yang gelap, di mana debu-debu berjatuhan dari langit-langit yang retak. 

"Kesembuhannya terlalu cepat," gumamnya, matanya yang malas tiba-tiba menyipit, menatap Ling Xu dengan tatapan yang tidak lagi hanya keheranan, melainkan kecurigaan yang mulai merambat seperti akar pohon di tanah yang retak.

"Terlalu cepat untuk seorang Dewi Lintang Esa. Terlalu cepat untuk makhluk yang tubuhnya baru saja meledak menjadi gumpalan daging setinggi satu meter." 

Ia mengingat kembali momen di kedai arak itu—momen ketika tubuh Ling Xu berubah, ketika daging abu-abu kehijauan itu menjulang, berdenyut, meledak, dan menyebarkan wabah Kanker ke seluruh penjuru kota laut tanpa kecuali. 

Di dalam benaknya, bayangan itu kembali muncul—sosok pria tua berjubah lusuh yang pernah diceritakan Ling Xu; pria yang di dalam gua menyerahkan satu Lintang Kemanusiaan yang masih utuh, sebelum akhirnya menghilang bagaikan debu yang tertiup angin.

"Selama ini aku berpikir bahwa pria tua itu adalah God of the Vast Cosmos," lanjut gumaman Huan Zheng, suara batinnya semakin dingin, semakin analitis, seperti seorang detektif yang sedang merangkai potongan-potongan puzzle yang berserakan di lantai.

"Tapi sekarang... sekarang aku tidak yakin lagi. Karena hawa yang kurasakan dari ledakan wabah Kanker itu—hawa yang sama persis dengan hawa yang melekat pada 51 keping Lintang Kemanusiaan milik Ling Xu. Bukan sekedar hawa keilahian. Bukan hawa harapan dan kehancuran dalam arti yang mulia. Melainkan hawa... kesengsaraan. Kesengsaraan yang dingin. Kesengsaraan yang diam. Kesengsaraan yang hanya bisa berasal dari satu sumber: wabah Kanker itu sendiri."

Ia memejamkan matanya sejenak, membiarkan kesimpulan yang mengerikan itu mengendap di dalam dadanya seperti batu yang dijatuhkan ke dalam jurang yang tidak berdasar. 

"Pria tua itu," gumamnya lebih dalam lagi, suara batinnya nyaris berbisik, seperti orang yang sedang mengucapkan mantra yang tidak boleh didengar oleh siapa pun, "bukanlah reinkarnasi dari dewa agung mana pun. Ia adalah manifestasi dari wabah Kanker. Wabah yang dulu membuat seluruh semesta gemetar. Wabah yang tidak memedulikan tingkat kultivasi. Wabah yang membuat aku, Si Pendiam, dan Si Penyanyi harus bersembunyi di gua paling dalam di ujung semesta selama berbulan-bulan, hanya untuk mencegah agar tidak terinfeksi." 

Ia membuka matanya, menatap Ling Xu yang sedang tersenyum cerah di hadapannya—gadis dengan rambut putih bercorak urat warna itu, yang tidak tahu bahwa di dalam kepala Huan Zheng sedang berlangsung perdebatan panjang antara rasa takut dan rasa ingin tahu, antara keinginan untuk lari dan keinginan untuk tetap bertahan. 

"Tapi kenapa? Kenapa wabah Kanker itu memilih Ling Xu? Kenapa ia memberikan Lintang Kemanusiaan kepada seorang dewi rendahan yang tidak punya apa-apa selain dendam dan rambut putih yang langka? Apakah Ling Xu hanya kebetulan? Atau apakah ia—" 

Huan Zheng berhenti, menelan ludah seperti menelan duri yang tersangkut di kerongkongannya.

“... Apakah ia memang diciptakan untuk menjadi inang dari wabah Kanker itu sejak awal?" 

Bersambung…. 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!