Isya adalah anak yatim piatu yang hidup sederhana bersama nenek dan adiknya. Sejak kecil ia dibekali ilmu agama, dan ketika kehilangan datang, ia dipaksa dewasa sebelum waktunya.
Ia sekolah sambil bekerja. Ia menjadi kakak, sekaligus ibu di rumah kecil yang penuh keterbatasan.
Banyak yang terpikat oleh wajahnya.
Namun yang membuat orang benar-benar jatuh hati adalah akhlaknya.
Ia tidak mudah didekati.
Bukan harta, bukan popularitas yang bisa mendapatkannya.
Hanya satu jalan.
Temukan dia dengan Bismillah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Namira Ahsya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 4 — Malam yang Panjang
Malam telah tiba.
Isya berdiri di depan rumah tetangga bersama Ba'daa. Ia mengetuk pintu pelan.
Tok… tok… tok…
“Assalamu’alaikum…”
Pintu terbuka. Seorang ibu tersenyum ramah.
“Wa’alaikumussalam, eh Isya udah mau berangkat kerja ya.”
Isya tersenyum kecil.
“Hehe… maaf ya, Bu. Isya nitip si kurcaci ini sebentar, biar nggak keluyuran di luar.”
Ibu itu tertawa ringan.
“Ah, iya tidak apa-apa. Biar dia main sama Aldi juga di dalam. Di rumah juga ada kurcaci satu lagi.”
Mereka tertawa kecil.
Ba'daa hanya berdiri sambil menunduk malu.
Isya mengusap kepala adiknya lembut.
“Baik-baik ya. Tunggu Kakak pulang. Belajar sama Aldi, jangan nakal.”
Ba'daa mengangguk pelan.
Isya melambaikan tangan.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam.”
Dengan langkah ringan, Isya berjalan menjauh.
------------------------------------------------------------------------
Ia berangkat setelah sholat Isya.
Tas kecil tersampir di bahunya. Wajahnya tertutup masker putih sederhana.
Lampu-lampu jalan mulai menyala. Angin malam terasa dingin.
Isya berjalan menuju tempat kerjanya.
Sebuah restoran yang baru beberapa hari ini menerimanya bekerja.
Restoran itu buka siang dan malam, tapi Isya hanya bekerja paruh waktu di malam hari.
Saat ia tiba, restoran terlihat ramai.
Beberapa meja dipenuhi anak-anak muda yang sedang berkumpul dan tertawa.
Isya masuk lewat pintu belakang menuju dapur.
“Pak, Isya sudah datang,” katanya pelan pada koki.
Koki hanya mengangguk singkat.
Isya masih anak baru. Baru dua hari bekerja di sana.
Selain itu ia selalu memakai masker, sehingga banyak orang bahkan belum benar-benar mengenal wajahnya.
Tanpa banyak bicara, Isya langsung mulai bekerja.
Ia mencuci sayur.
Memotong bahan.
Menyiapkan bumbu.
Membantu koki dengan penuh semangat.
Tangannya bergerak cepat tanpa berhenti.
------------------------------------------------------------------------
Tiba-tiba seorang pekerja senior datang.
Namanya Mei.
Nada suaranya sedikit arogan.
“Hei, anak baru.”
Isya menoleh.
“Iya, Kak?”
“Buang dulu itu sampah ke belakang.”
Isya melirik meja kerjanya.
“Tapi Kak… Pak Koki lagi butuh bahan. Pesanan lagi ramai…”
Mei langsung memotong.
“Hei! Masih kecil sudah berani bantah?”
Isya terdiam.
“Aku tahu kok. Makanya aku suruh kamu. Itu sampah sudah numpuk. Sana cepat!”
Ia menunjuk meja.
“Ini biar aku yang potong. Kamu buang sampah dulu!”
Isya menunduk.
“I-iya Kak… maaf.”
Ia buru-buru mengambil kantong sampah besar.
Tubuhnya yang kecil harus mengangkat kresek penuh sisa makanan.
Ia berjalan ke pintu samping dapur menuju tempat sampah di belakang restoran.
Namun ketika hampir sampai—
Isya berhenti.
Di dekat tempat sampah ada dua orang pria mabuk.
Mereka duduk sambil tertawa tidak jelas.
Isya terdiam.
Ia bingung.
Kalau mendekat, ia takut.
Tapi kalau kembali, ia takut dimarahi.
Jantungnya berdegup cepat.
Saat ia sedang kebingungan—
Tiba-tiba terdengar suara dari belakang.
“Assalamu’alaikum.”
“WAAHH!”
Isya terkejut.
“Eh… Wa’alaikumussalam…”
Seorang laki-laki berdiri di sana.
Ia tersenyum ramah.
“Hei, kamu anak baru ya? Baru lihat.”
Isya mengangguk.
“Iya… Isya baru kerja dua hari di sini.”
Laki-laki itu melihat kantong sampah besar di tangannya.
“Baru kerja sudah disuruh buang sampah?”
Isya hanya tersenyum kecil.
Laki-laki itu melirik dua orang mabuk tadi.
“Sini deh. Biar aku yang buang. Tidak baik juga kamu dekat-dekat sama orang mabuk.”
Isya langsung menggeleng.
“Eh jangan, ini kotor…”
“Sudah sini.”
Ia mengambil kantong itu dan membuangnya ke tempat sampah.
Setelah kembali, Isya terlihat khawatir.
“Duh akhi… tangan kamu nanti kotor. Kamu kan mau makan.”
Isya mengeluarkan sapu tangan kecil dari kantungya.
“Ini… cuci tangan ya. Habis itu lap pakai ini.”
Laki-laki itu terlihat kaget.
“Itu…?”
“Tenang saja. Itu sudah Isya cuci. Wangi kok.”
Isya tersenyum.
“Pegang saja. Tidak perlu dikembalikan.”
“Jazakallahu khairan yaa…”
“Isya kerja dulu.”
Ia kembali ke dapur.
Sementara laki-laki itu berdiri memandangi sapu tangan di tangannya.
Ia tersenyum sendiri.
“Heh… anak ini baik sekali.”
“Buang sampah malah dikasih sapu tangan.”
Ia mengingat nama yang tadi disebut.
“Isya…”
------------------------------------------------------------------------
Di dapur, Isya kembali ke tempatnya.
Namun wajahnya berubah pucat.
Bahan makanan yang tadi ia siapkan sudah berantakan.
Seperti sengaja dirusak.
Isya panik.
Ia tahu makanan itu tidak layak dihidangkan.
Tanpa berpikir panjang, ia menyingkirkan semuanya dan mulai menyiapkan bahan baru.
Beberapa saat kemudian—
“HEYYY!”
Suara koki menggema.
“Mana bahan buat masak?? dari tadi ko GK ada?!”
Mei langsung menyahut.
“Itu Pak Koki, yang nyiapin bahan kan anak baru.”
Ia melihat meja Isya.
Koki mendekati Isya.
Dan melihat bahan tersebut baru setengah jadi.
“Ya ampun kamu ini bisa kerja tidak?!”
“Kamu ini bagaimana sih? Dari tadi cuma segini?”
“Kalau begini pelanggan bisa kelaparan!”
Isya menahan tangis.
Matanya mulai basah.
Namun tidak terlalu terlihat karena masker menutup wajahnya.
Koki menghela napas kesal.
“Nanti setelah selesai kerja, kamu cuci semua piring sendirian!”
“Anggap saja hukuman.”
“Sekarang cepat selesaikan ini!”
Isya mengangguk pelan.
Koki pergi.
Air mata jatuh di balik maskernya.
Namun ia menahan diri.
Ia mengingat firman Allah:
“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”
(QS. Al-Insyirah: 6)
Dan ayat lain yang sering ia ingat:
“Jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu.”
(QS. Al-Baqarah: 45)
Perlahan hatinya tenang.
Namun di sudut dapur, Mei tersenyum kecil melihat semuanya.
Malam itu terasa sangat panjang.
Waktu hampir menunjukkan pukul 10 malam.
Restoran mulai tutup.
Para pekerja bersiap pulang satu per satu.
Sementara Isya berdiri di depan tumpukan piring yang sangat banyak.
Seorang pegawai mendekatinya.
“Sabar ya, Dek. Mbak mau bantu, tapi Pak Koki bilang ini hukuman.”
Isya tersenyum.
“Ah tidak apa-apa Kak. Isya juga akhir-akhir ini jarang olahraga.”
Ia terkekeh kecil.
“Anggap saja olahraga.”
Pegawai itu tertawa.
“Kamu ini ya.”
“Ya sudah, Kak pulang dulu. Kalau sudah selesai, kunci titip ke satpam ya.”
“Iya Kak.”
Pukul 10.20.
Semua sudah pulang.
Dapur hanya menyisakan lampu redup.
Isya sendirian mencuci piring.
Air mengalir.
Tangannya mulai pegal.
Pikirannya teringat Ba'daa yang menunggu di rumah.
Ia mempercepat gerakannya.
Hingga akhirnya—
Pukul 11.20. Semua selesai.
Tubuh kecilnya terasa sangat lelah.
Ia mengemas beberapa bahan makanan rusak tadi ke dalam kantong plastik agar tidak mubazir.
Kemudian ia keluar.
“Pak Satpam…”
“Eh Dek, baru selesai?”
“Hehe iya Pak.”
Satpam menyerahkan uang.
“Ini upah hari ini dari titipan bu kasir. Tiga puluh ribu.”
Isya tersenyum bahagia.
“Alhamdulillah.”
Namun ia mengembalikan sepuluh ribu.
“Pak, ini sepuluh ribu. Isya tadi pesan satu menu.”
Satpam bingung.
“Tapi… di sini tidak ada menu sepuluh ribu.”
Isya tersenyum polos.
“Itu tidak apa-apa Pak.”
Satpam hanya mengangguk bingung.
Ia tidak tahu bahwa makanan yang Isya ambil sebenarnya hanyalah bahan rusak yang ia bawa pulang agar tidak mubazir.
Bagi Isya, sekecil apa pun amanah harus dipertanggung jawabkan.
------------------------------------------------------------------------
Isya berjalan pulang.
Jalanan sudah sangat sepi.
Di samping restoran ada gang kecil tempat tadi ia melihat dua orang mabuk.
Isya menelan ludah.
Ia mempercepat langkah.
Saat melirik sekilas—
Tidak ada siapa-siapa.Hatinya pun menjadi lega.
Namun beberapa meter kemudian—
Dua orang mabuk itu muncul kembali.
Isya langsung menyeberang ke sisi jalan.
Salah satu dari mereka tersinggung.
“Hei! Kenapa kamu lari? Seolah kami ini orang jahat!”
Mereka mendekat sambil membawa botol.
Isya gemetar.
Langkahnya berhenti.
Salah satu dari mereka mengangkat botol.
Ia hendak memukul.
Isya menangis.
“MAAF PAK!”
Botol itu diayunkan—
TIBA-TIBA—
CLANGGG!
Suara kaca pecah.
Namun bukan mengenai Isya.
Seorang laki-laki berlari dan berdiri di depannya.
Botol itu menghantam kepalanya.
Darah mengalir.
Isya terkejut.
Ternyata—
Zai.
Zai mengamuk.
Ia menghajar kedua pria mabuk itu tanpa ampun.
Dalam beberapa saat mereka sudah terkapar.
Zai menoleh ke Isya yang duduk gemetar.
“Sya… kamu tidak apa-apa?”
Isya menatap darah di kepala Zai.
Semua rasa takut, lelah, dan sedih hari itu akhirnya pecah.
Ia menangis keras.
Dan malam itu menjadi terlalu berat untuk dipikul isya sendirian.
. 𝚖𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚒𝚗𝚐𝚊𝚝 𝚊𝚓𝚓 𝚛𝚞𝚙𝚊-𝙽𝚢𝚊𝚊 ,, 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚔𝚊𝚝𝚊𝚗𝚢𝚊 𝚗𝚍𝚊𝚔 𝚙𝚎𝚛𝚗𝚊𝚑 𝚕𝚒𝚊𝚝 ,, 𝚙𝚛𝚎𝚎𝚎𝚝 .
. 𝑖𝑡𝑢-𝐿𝑎ℎℎ 𝑚𝑎𝑛𝑢𝑠𝑖𝑎 ,, 𝑠𝑎𝑚𝑎 𝑑𝑖𝑟𝑖 𝑠𝑒𝑛𝑑𝑖𝑟𝑖 𝑎𝑗𝑗 𝑛𝑑𝑎𝑘 𝑚𝑎𝑢𝑢 𝑛𝑔𝑎𝑘𝑢𝑖𝑛 𝑎𝑝𝑎𝑙𝑎𝑔𝑖 𝑠𝑎𝑚𝑎 𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑙𝑎𝑖𝑛𝑛 ..
𝑠𝑒𝑏𝑎𝑖𝑘-𝑏𝑎𝑖𝑘 𝑁𝑦𝑎𝑎𝑎 𝑤𝑎𝑛𝑖𝑡𝑎 𝑑𝑦𝑎𝑎-𝐿𝑎ℎℎ 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑝𝑢𝑛𝑦𝑎 𝑟𝑎𝑠𝑎 𝑚𝑎𝑙𝑢𝑢 ..
. 𝑠𝑒𝑏𝑎𝑖𝑘-𝑏𝑎𝑖𝑘 𝑁𝑦𝑎𝑎𝑎 𝐿𝑎𝑘𝑖-𝑙𝑎𝑘𝑖 𝑑𝑦𝑎𝑎-𝐿𝑎ℎℎ 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑛𝑢𝑛𝑑𝑢𝑘-𝐾𝑎𝑛𝑛 𝑝𝑎𝑛𝑑𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛-𝑁𝑦𝑎𝑎𝑎𝑎 ..
𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐧𝐨𝐯𝐞𝐥 𝐬𝐚𝐦𝐛𝐢𝐥 𝐦𝐞𝐧𝐜𝐚𝐫𝐢 𝐢𝐥𝐦𝐮 ..
. 𝑠𝑢𝑘𝑎 𝑛𝑜𝑣𝑒𝑙-𝑁𝑦𝑎𝑎𝑎 . 😘
. 𝑚𝑒𝑠𝑘𝑖 𝑠𝑎𝑙𝑎ℎ ,, 𝑡𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑚𝑒𝑛𝑔ℎ𝑎𝑘𝑖𝑚𝑖 𝑡𝑎𝑝𝑖 𝑡𝑒𝑡𝑎𝑝 𝑑𝑖 𝑎𝑗𝑎𝑟𝑘𝑎𝑛 𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑏𝑒𝑛𝑎𝑟 ..
. 𝑘𝑎𝑟𝑒𝑛𝑎 𝑘𝑒𝑠𝑎𝑙𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑎𝑑𝑎 𝑏𝑢𝑘𝑎𝑛 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑑𝑖 𝑏𝑒𝑛𝑎𝑟𝑘𝑎ℎ 𝑡𝑎𝑝𝑖 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑑𝑖 𝑝𝑒𝑟𝑏𝑎𝑖𝑘𝑖 ..
. 𝐬𝐞𝐝𝐢𝐡 𝐛𝐚𝐜𝐚-𝐍𝐲𝐚𝐚𝐚𝐚𝐚 ..
. 𝐊𝐞𝐬𝐚𝐲𝐚𝐧𝐠-𝐍𝐲𝐚𝐚𝐚𝐚 𝐚𝐤𝐮𝐮𝐮 ,, 𝐬𝐞𝐦𝐮𝐭-𝐊𝐮𝐮𝐮 ------ 𝐧𝐨𝐧𝐠-𝐍𝐲𝐚𝐚𝐚 𝐭𝐲 .
. 𝐍𝐚𝐦𝐮𝐧 𝐬𝐞𝐤𝐚𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐬𝐮𝐫𝐚𝐡 𝐢𝐧𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐀𝐥𝐚𝐫𝐦 𝐡𝐢𝐝𝐮𝐩-𝐊𝐮𝐮𝐮𝐮 ..
. 𝐝𝐢 𝐭𝐮𝐧𝐠𝐠𝐮 𝐥𝐚𝐧𝐣𝐮𝐭𝐚𝐧-𝐍𝐲𝐚𝐚
. 𝐊𝐚𝐫𝐞𝐧𝐚 𝐝𝐢 𝐬𝐚𝐧𝐚-𝐋𝐚𝐡𝐡𝐡 𝐛𝐚𝐢𝐭-𝐛𝐚𝐢𝐭 𝐝𝐨'𝐚 𝐜𝐢𝐧𝐭𝐚-𝐊𝐮𝐮 𝐭𝐮𝐦𝐛𝐮𝐡 𝐮𝐧𝐭𝐮𝐤-𝐌𝐮𝐮𝐮 ..
. 𝐍𝐚𝐦𝐢𝐫𝐚 𝐀𝐡𝐬𝐲𝐚 . 🤭😘