Akira Ren hidup dalam dua dunia yang berbeda. Di sekolah, ia adalah siswa kelas 12 yang tampak acuh tak acuh dan sering membolos. Namun di balik pintu dapur restoran bintang lima "Ren’s Cuisine", ia adalah koki jenius yang mewarisi ketajaman rasa ayahnya dan ketangguhan fisik ibunya, seorang mantan atlet bela diri dunia.
Ren hanya ingin menjalani masa mudanya dengan tenang tanpa sorotan. Namun, takdir berkata lain saat satu per satu wanita di hidupnya—mulai dari guru matematika yang kaku hingga teman masa kecil yang kompetitif—mulai melihat celah di balik topengnya. Dengan bantuan "Insting" yang tajam (Sistem), Ren harus menyeimbangkan antara ambisi kuliner, janji masa lalu, dan perasaan tulus yang mulai tumbuh. Ini bukan sekadar cerita tentang memasak; ini adalah tentang bagaimana sebuah rasa bisa menyatukan masa depan yang retak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22.Detik-Detik Penjurian Yang Menegangkan
"Sepuluh menit tersisa!" teriak pembawa acara, suaranya tenggelam dalam riuh rendah penonton yang berdiri dari kursi mereka.
Ketegangan di stasiun nomor satu mencapai puncaknya. Ren baru saja mengangkat potongan teripang dari kuali tumisan Hana. Tekstur teripang itu kini terlihat berkilauan, berwarna cokelat keemasan gelap dengan saus yang meresap sempurna hingga ke pori-porinya. Tidak ada sedikit pun lendir yang tersisa; yang ada hanyalah potongan kenyal yang tampak sangat elegan di bawah lampu panggung.
Di sebelahnya, Ryuji sudah mulai melakukan plating. Ia menggunakan pinset medis untuk menyusun teripangnya yang berwarna abu-abu mutiara di atas piring porselen putih datar yang sangat luas. Di atasnya, ia meneteskan gel saus berwarna neon dan menaburkan bubuk emas. Piring itu terlihat seperti pameran seni kontemporer di sebuah galeri mahal.
"Ren, saus siramannya!" Yuki mengingatkan sambil menyodorkan mangkuk kecil berisi kaldu bening yang aromanya sangat menenangkan.
Ren menerima mangkuk itu. Tangannya yang biasanya stabil kini sedikit gemetar karena kelelahan fisik yang luar biasa setelah terjaga hampir tiga puluh jam. Ia mengambil sendok perak, bersiap menuangkan sentuhan terakhir.
Hana, yang menyadari gemetar di tangan Ren, segera melangkah maju. Tanpa ragu, ia meletakkan tangannya di atas tangan Ren yang memegang sendok. Ia tidak berkata apa-apa, hanya menatap mata Ren dengan tatapan yang sangat dalam—sebuah dukungan tanpa syarat yang mengatakan, 'Kita lakukan ini bersama.'
Sentuhan Hana yang hangat dan lembut seolah menyalurkan energi baru ke dalam tubuh Ren. Gemetar itu hilang. Dengan sinkronisasi yang indah, mereka berdua menuangkan saus itu secara perlahan di atas teripang. Saat cairan bening itu menyentuh daging teripang yang panas, uap wangi jeruk nipis liar dan aroma laut Karasu kembali meledak, menyelimuti stasiun mereka dalam kabut aromatik yang menggugah selera.
"Waktu habis! Letakkan alat masak kalian!"
Ryuji menoleh ke arah Ren dengan napas yang memburu. Wajahnya yang biasanya tenang kini tampak sedikit berantakan. Ia melihat kebersamaan Ren dan Hana, lalu melihat piring mereka yang terlihat sangat "sederhana" dibandingkan miliknya yang penuh teknologi.
"Kamu pikir masakan rumah tangga seperti itu bisa mengalahkan sains?" sinis Ryuji, sambil menyeka keringat di dahinya dengan sapu tangan sutra.
Ren hanya menatap piringnya sendiri. "Sains bisa menjelaskan rasa, Ryuji. Tapi sains tidak bisa merasakannya."
Proses penjurian dimulai. Ryuji maju terlebih dahulu. Lima orang juri, yang terdiri dari kritikus kuliner internasional dan pemilik jaringan hotel mewah, mulai mencicipi hidangan Asuka Jaya.
"Tekstur yang sangat konsisten. Hampir tidak seperti teripang, lebih mirip jelly kelas atas," komentar salah satu juri asing. "Sangat modern. Sangat bersih."
Ryuji tersenyum penuh kemenangan. Namun, juri paling senior—pria tua yang mencicipi masakan Ren di babak penyisihan—hanya mengangguk tanpa ekspresi. Ia membersihkan mulutnya dengan air mineral, lalu memberi isyarat agar tim Ren maju.
Ren, Hana, dan Yuki membawa tiga piring mereka ke depan. Hidangan mereka diberi nama sederhana: "Nafas Laut Karasu". Teripang itu disajikan di atas hamparan ubi ungu halus yang menyerupai terumbu karang, dengan siraman kaldu bening yang berkilau seperti air laut di pagi hari.
Juri senior itu mengambil sumpit. Ia mengangkat sepotong teripang. Saat ia menekannya sedikit, teripang itu membal dengan elastisitas yang sempurna—hasil dari pengolahan lambat di atas kayu bakau. Ia memasukkannya ke dalam mulut.
Matanya seketika terpejam.
Keheningan yang mencekam menyelimuti alun-alun. Ribuan penonton menahan napas. Hana menggenggam ujung apronnya dengan sangat erat hingga buku jarinya memutih, sementara Yuki berdiri tegak dengan dagu terangkat, meski dadanya naik turun dengan cepat.
"Ini..." juri senior itu membuka matanya. Ada genangan air mata yang sangat tipis di sudut matanya yang keriput. "Selama dua puluh tahun, saya pikir rasa ini sudah mati bersama terbakarnya restoran di distrik lama. Rasa teripang yang dimasak dengan kayu bakau, dengan keasaman jeruk nipis hutan yang memotong lemaknya secara presisi..."
Ia menatap Ren dengan sangat tajam. "Bagaimana kamu bisa tahu rasio air laut dan air tawar untuk merendam teripang ini? Itu adalah rahasia yang bahkan Asuka Jaya tidak bisa pecahkan dengan laboratorium mereka."
Ren melirik ke arah Bu Keiko di barisan depan. "Rahasianya bukan pada angka, Tuan Juri. Rahasianya adalah mendengarkan suara kayu yang terbakar. Saat apinya bernyanyi, di situlah suhunya tepat."
Juri lain mulai mencicipi. Seorang juri wanita yang dikenal sangat dingin tiba-tiba meletakkan garpunya dan menghembuskan napas panjang. "Ini bukan makanan. Ini adalah sebuah surat cinta untuk Kota Karasu. Saya bisa merasakan dinginnya kabut pagi dan hangatnya matahari pantai dalam satu suapan."
Ryuji yang berdiri tidak jauh dari sana mulai tampak pucat. Ia melihat para juri mengabaikan piring mahalnya dan terus mengambil suapan kedua dari piring Ren. Kemarahan dan ketidakpercayaan terpancar dari wajahnya.
"Ini tidak mungkin! Alat sensor kami menunjukkan bahwa tingkat keasaman jeruk nipis itu seharusnya merusak protein teripang!" teriak Ryuji, kehilangan ketenangannya di depan kamera.
Ren menatapnya dengan rasa kasihan. "Kamu menghitung protein, Ryuji. Kami menghargai bahannya. Itulah kenapa masakanmu terasa seperti plastik, dan masakan kami terasa seperti kehidupan."
Ketua juri berdiri, memegang amplop hasil akhir. Suasana menjadi sangat panas di bawah terik matahari Kota Karasu yang mulai naik. Ren merasakan Hana yang sedikit menyandarkan tubuhnya ke arahnya, mencari perlindungan di tengah ketegangan yang memuncak. Ren membiarkannya, bahkan sedikit merapatkan bahunya untuk memberikan kekuatan.
"Keputusan telah diambil," suara ketua juri berwibawa. "Pemenang Pesta Rasa Nusantara tahun ini, yang akan mewakili Kota Karasu ke tingkat nasional adalah..."