NovelToon NovelToon
Polisi & Dokter

Polisi & Dokter

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / Action
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Akmaludd

Davino Narendra seorang polisi yang trauma akan masa lalunya justru terikat dengan sebuah perjanjian perjodohan dimasa yang akan datang. Perjodohan itu mempertemukan Davino Narendra dengan seorang Dokter, yakni Alisa Widanata.

Kehidupan rumah tangga mereka tentu sangat teruji, karena di balik pernikahan tanpa didasari cinta serta dua bangsal yang berbeda harus menyatukan dua insan tersebut.

bagaimana kelanjutannya??? ikuti kisahnya.....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Akmaludd, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10

Lampu-lampu ruang operasi baru saja dipadamkan. Alisa melepas masker bedahnya dengan napas berat. Prosedur apendektomi darurat sore itu cukup menguras tenaga, namun yang lebih menguras batinnya adalah suasana di rumah yang semakin hari terasa semakin menyesakkan. Sandiwara Bhayangkari tempo hari masih menyisakan rasa lelah yang aneh di pundaknya.

Ia melirik jam tangan pintarnya. Pukul lima sore. Harusnya ia segera pulang sebelum Davino mulai menginterogasinya tentang protokol keamanan. Namun, hari ini adalah hari yang berat. Alisa merasa rindu yang teramat sangat pada satu-satunya pria yang pernah membuatnya merasa benar-benar aman tanpa perlu merasa terancam: almarhum ayahnya.

Tanpa mengabari siapa pun, bahkan Fani. Alisa mengendarai mobilnya menuju Taman Pemakaman Umum di kawasan Jakarta Timur. Ia ingin menyendiri. Ia butuh bicara tanpa harus mendengar balasan ketus atau nada perintah.

Sesampainya di makam, Alisa berjalan pelan menyusuri jalan setapak yang mulai basah oleh embun sore. Di depan nisan bertuliskan Surya Widanata, Alisa bersimpuh. Ia mengusap permukaan nisan yang dingin itu dengan lembut.

"Ayah..." bisiknya. Suaranya pecah seketika. "Alisa datang lagi. Maaf baru sempat mampir."

Alisa menundukkan kepala, membiarkan air mata yang sejak tadi ia tahan jatuh membasahi tanah pemakaman. "Hidup Alisa sekarang terasa asing, Yah. Alisa sudah menikah, tapi rasanya seperti sedang menjalankan misi militer. Pria itu... Davino... dia sangat baik di depan Bunda, tapi di rumah, kami seperti dua kutub yang saling menolak. Dia sangat kaku, Yah. Dia selalu bicara soal bahaya, soal musuh, soal keamanan... tapi dia tidak pernah bicara soal apa yang dia rasakan."

Ia terisak pelan, mencabut rumput-rumput liar yang mulai tumbuh di sekitar makam. "Alisa takut, Yah. Bukan takut pada musuh-musuhnya, tapi takut kehilangan diri Alisa sendiri dalam sandiwara ini. Ayah dulu selalu bilang kalau pernikahan itu soal perlindungan yang datang dari hati, tapi Davino memberikan perlindungan yang datang dari instruksi."

Alisa menghabiskan waktu hampir satu jam di sana, berdoa dan mencurahkan segala beban yang tidak bisa ia bagi dengan siapa pun. Ia merasa sedikit lebih ringan, meski matanya kini sembap.

Tanpa disadari Alisa, sebuah mobil jip hitam terparkir sekitar lima puluh meter dari gerbang makam. Davino duduk di balik kemudi, matanya menatap tajam ke arah sosok wanita berseragam dokter yang masih mengenakan scrub itu dari kejauhan.

Davino telah memasang pelacak pada mobil Alisa bukan untuk mengekang, tapi karena ancaman "Tahap Dua" yang ia dengar dari intelijennya sangat serius. Saat melihat koordinat mobil Alisa berhenti di TPU, Davino segera meluncur ke sana.

Ia melihat Alisa dari jauh. Ia melihat bahu istrinya yang berguncang karena tangis. Ada dorongan kuat dalam dirinya untuk turun, mendekat, dan merangkul bahu itu. Namun, kakinya seolah terpaku. Ia tahu, kehadirannya saat ini hanya akan dianggap sebagai bentuk pengawasan yang mengganggu bagi Alisa.

Jadi ini tempat pelarianmu, batin Davino.

Ia baru menyadari bahwa di balik sikap keras kepala dan kemandirian Alisa, ada luka kehilangan yang belum sepenuhnya pulih. Ia teringat kembali kata-kata Alvin: "Dia bukan tersangka, Vin. Beri dia ruang."

Davino menunggu hingga Alisa berdiri dan berjalan kembali ke mobilnya. Baru setelah mobil Alisa bergerak meninggalkan area pemakaman, Davino menyalakan mesin mobilnya dan mengikuti dari jarak yang sangat aman.

Malam harinya, suasana di meja makan terasa berbeda. Davino tampak lebih banyak diam, namun tidak dengan tatapan menginterogasi seperti biasanya.

"Besok kita harus ke rumah orang tuaku," kata Davino memecah keheningan. "Papa akan berangkat ke Singapura besok malam untuk memulai pengobatan intensifnya."

Alisa mendongak, rasa simpatinya langsung muncul sebagai seorang tenaga medis. "Berapa lama beliau akan di sana?"

"Mungkin tiga sampai enam bulan, tergantung respon tubuhnya terhadap terapi," jawab Davino. "Karena rumah akan sepi dan Mama harus menemani Papa di Singapura, Maura akan tinggal di sini sementara waktu. Dia perlu fokus pada semester akhir kuliah keperawatannya, dan lokasi rumah ini lebih dekat ke kampusnya daripada rumah orang tuaku."

Alisa tertegun. Maura akan tinggal di sini? Itu berarti sandiwara mereka harus diperpanjang 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Tidak ada lagi guling pembatas yang bisa ditinggalkan begitu saja di atas kasur jika Maura sering masuk ke kamar mereka.

"Apa Maura tahu... soal kesepakatan kita?" tanya Alisa ragu.

"Tidak ada yang tahu selain kita berdua, Alisa," tegas Davino. "Dan aku ingin tetap seperti itu. Jadi, selama Maura di sini, aku harap kamu bisa bekerja sama. Kita harus terlihat seperti pasangan normal di depannya."

Alisa menghela napas. "Lagi-lagi sandiwara."

"Ini demi ketenangan Papa sebelum dia berangkat. Aku tidak ingin dia memikirkan keretakan hubungan kita di saat dia harus berjuang melawan penyakitnya," Davino menatap Alisa dengan tatapan yang sedikit lebih lunak. "Tolong, Alisa. Lakukan ini sebagai bagian dari perjanjian kita."

Alisa mengangguk pelan. "Baiklah. Aku akan bersiap."

Keesokan harinya, mereka tiba di kediaman keluarga Narendra. Suasana di sana cukup emosional. Papa Hendra tampak lebih kurus, namun matanya berbinar saat melihat Davino dan Alisa datang bergandengan tangan—sesuai protokol sandiwara mereka.

"Alisa, titip Davino ya selama Papa tidak ada," bisik Papa Hendra saat Alisa menyalami tangannya. "Dia itu kaku, tapi hatinya tulus. Tolong sabar menghadapi dia."

Alisa hanya bisa tersenyum getir sambil mengangguk. "Papa fokus saja pada pengobatan, ya. Jangan pikirkan apa-apa di sini."

Maura sudah menyiapkan koper besarnya di ruang tamu. Gadis itu tampak sangat bersemangat. "Kak Alisa! Aku senang sekali bisa tinggal bareng kalian. Janji ya, ajari aku soal praktik klinik nanti, aku masih sering bingung soal interpretasi hasil lab."

"Tentu, Maura. Kita bisa belajar bareng di rumah," jawab Alisa tulus. Ia menyukai Maura. Energi positif gadis itu mungkin bisa mencairkan kebekuan di rumahnya.

Davino memasukkan koper Maura ke bagasi. "Ayo berangkat. Kita harus ke bandara dulu mengantar Papa dan Mama, baru setelah itu pulang."

Prosesi pelepasan di bandara berlangsung haru. Mama Sari menangis sambil memeluk Davino dan Alisa bergantian. Setelah pesawat lepas landas menuju Singapura, mereka bertiga kembali ke rumah pribadi Davino.

Sesampainya di rumah, Maura langsung berlari masuk. "Wah! Rumah Kak Davino keren banget! Lebih bagus daripada yang di foto!"

Bi Ijah menyambut dengan riang. "Aduh, Non Maura makin cantik saja. Kamarnya sudah Bibik siapkan di lantai dua, sebelah ruang kerja Den Davino ya."

"Makasih, Bi Ijah!"

Saat Maura sibuk membereskan barang di kamarnya, Alisa masuk ke kamar utama. Ia mendapati Davino sedang berdiri di depan lemari, hendak mengambil guling pembatas untuk disembunyikan.

"Simpan di laci bawah saja, Mas," bisik Alisa. "Maura sering masuk tanpa mengetuk pintu kalau dia sedang antusias. Bahaya kalau dia lihat pembatas ini."

Davino mengangguk, lalu memasukkan guling-guling itu ke dalam laci besar di bawah tempat tidur. Ia berbalik dan melihat Alisa sedang melepas perhiasannya di depan cermin.

"Alisa," panggil Davino pelan.

"Ya?"

"Terima kasih sudah mau menerima Maura di sini. Aku tahu ini akan membuatmu tidak nyaman karena harus terus berakting."

Alisa menatap pantulan Davino di cermin. "Aku melakukannya untuk Papa, Mas. Bukan untukmu."

Davino terdiam. Ia baru saja akan menceritakan bahwa ia melihatnya di makam tadi sore, namun ia mengurungkan niatnya. Ia merasa itu belum saatnya. Ia tidak ingin Alisa merasa semakin "diawasi".

Tiba-tiba, pintu kamar mereka terbuka tanpa ketukan.

"Kak! Lihat deh, aku bawa oleh-oleh dari—" Maura terhenti, melihat kakaknya berdiri sangat dekat dengan Alisa di depan meja rias. "Ups! Maaf! Aku lupa kalau kalian pengantin baru. Hehe, lanjutin aja!"

Maura menutup pintu dengan cepat sambil terkikik.

Alisa dan Davino saling pandang dengan canggung. Jarak mereka memang sangat dekat. Davino bisa mencium aroma parfum Alisa yang lembut, aroma yang sama yang terbawa angin saat ia mengawasinya di pemakaman tadi.

"Lihat? Aku sudah bilang, dia tidak punya sopan santun soal mengetuk pintu," gumam Davino, segera menjauhkan diri lalu mengunci pintu kamar dari dalam 'waspada'.

"Mulai sekarang, kita harus benar-benar waspada," sahut Alisa sambil memijat keningnya.

Malam itu, untuk pertama kalinya, mereka tidur di ranjang yang sama tanpa guling pembatas fisik di tengahnya. Meskipun ada jarak kosong yang lebar di antara mereka, ketiadaan guling itu membuat Alisa merasa sangat waspada. Ia bisa merasakan pergerakan Davino di sisi lain kasur.

Davino pun sama. Ia berbaring kaku, menatap kegelapan. Kehadiran Alisa di sampingnya—tanpa penghalang—membuatnya menyadari bahwa "misi" satu tahun ini akan menjadi misi tersulit yang pernah ia jalani. Bukan karena bahaya dari musuh, tapi karena tantangan untuk menjaga hatinya sendiri agar tidak goyah oleh kehadiran wanita yang mulai ia sadari memiliki kedalaman perasaan yang luar biasa di balik sikap mandirinya.

Di kejauhan, di luar rumah, sebuah bayangan hitam kembali terlihat di balik pepohonan seberang jalan. Pengintai itu melihat lampu kamar utama padam. Ia tersenyum tipis. "Nikmati ketenangan ini selagi bisa, Kapten Davino. Karena sebentar lagi, adikmu juga akan menjadi bagian dari permainan ini."

Bersambung

1
Rian Moontero
mampiiirr/Bye-Bye/👍👍
Akmaluddin: makasih kak, jangan lupa like kaka👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!