Shen Yuan berdiri paling DEPAN di antara puluhan ribu kultivator dengan senjatanya dia siap membelah langit jika jalanya hanya ada satu😗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Kuda Hitam dan Tiga Kelinci Gemuk
Angin yang bertiup meninggalkan gerbang utama Sekte Langit Berkabut terasa berbeda. Tidak ada lagi aroma dupa yang sakral atau tekanan spiritual dari para Tetua yang mengawasi dari puncak awan. Udara di luar sini berbau tanah basah, kebebasan yang liar, dan... bahaya yang mengintai di balik setiap bayangan pohon.
Tuk... Tuk... Tuk...
Suara tapal kuda yang beradu dengan jalanan berbatu memecah kesunyian senja. Shen Yuan menunggangi seekor kuda hitam kurus yang ia sewa dengan dua keping batu roh rendahan dari pos penyewaan sekte. Kuda itu bukanlah kuda spiritual bermata api yang biasa ditunggangi oleh para tetua, melainkan kuda beban biasa yang napasnya sering tersengal jika diajak berlari terlalu kencang.
Namun, untuk rencana Shen Yuan hari ini, kuda yang lambat adalah properti yang paling sempurna.
Ia duduk bersandar dengan santai di atas pelana. Jubah sutra putihnya—seragam kebanggaan Murid Luar—telah ia tutupi dengan mantel abu-abu kusam yang lusuh. Lengan kanannya masih terbalut perban tebal, menggantung kaku di depan dadanya. Topi bambu lebarnya menutupi separuh wajahnya, menyembunyikan sepasang mata sehitam obsidian yang sedari tadi bergerak statis, mengawasi setiap pergerakan angin di sekelilingnya.
"Ngarai Angin Melolong berjarak lima ratus mil," gumam Shen Yuan pelan, tangannya yang sehat membelai surai kuda hitam itu. "Jika aku memacu kuda ini, butuh waktu lima hari untuk sampai. Waktu yang sangat cukup bagi seekor anjing pelacak untuk menyusul mangsa yang pincang."
Shen Yuan sama sekali tidak terburu-buru. Ia bahkan sengaja mengambil jalur pinggiran hutan yang memutar, menjauhi jalan utama yang sering dilewati oleh karavan pedagang.
Logikanya sangat sederhana. Keluarga Lin baru saja dipermalukan di depan seluruh sekte. Tuan Muda emas mereka kedua lengannya hancur, dan Tetua Pengawas mereka dibungkam oleh Tetua Kepala. Amarah mereka sedang berada di puncaknya, mendidih dan membutakan akal sehat. Saat seseorang sedang marah, mereka tidak akan merencanakan intrik politik yang rumit; mereka hanya menginginkan darah. Dan darah itu harus tumpah jauh dari mata hukum sekte.
Satu jam berlalu. Matahari benar-benar tenggelam, digantikan oleh selimut malam yang dihiasi awan tebal tanpa bintang.
Kuda hitam Shen Yuan mulai memasuki wilayah Hutan Kabut Menangis, sebuah area transisi di mana kabut tipis selalu melayang setinggi lutut orang dewasa. Suara burung hantu terdengar bersahut-sahutan, menciptakan melodi kematian yang mencekam.
Telinga Shen Yuan yang telah diperkuat oleh Lapisan Keenam Kondensasi Qi tiba-tiba menangkap sebuah anomali.
Di antara suara gesekan daun dan lolongan angin, ada tiga ritme napas yang tidak berasal dari binatang buas. Napas itu sangat teratur, ringan, dan bergerak melompat dari dahan ke dahan di sisi kiri dan kanan jalan setapak yang ia lalui. Jarak mereka sekitar seratus tombak di belakangnya, namun terus memendek dengan pasti.
Satu berada di Puncak Lapisan Kelima. Satu lagi di Lapisan Keenam awal. Dan yang memimpin di tengah... Lapisan Ketujuh Kondensasi Qi.
Bibir Shen Yuan melengkung membentuk senyuman tipis yang sangat dingin.
Lapisan Ketujuh, batinnya berhitung. Keluarga Lin benar-benar menghargaiku. Mereka mengirim seorang pembunuh bayangan tingkat tinggi hanya untuk membereskan seorang murid baru yang dianggap cacat. Sangat murah hati.
Shen Yuan tidak mempercepat laju kudanya. Ia justru menarik tali kekangnya secara perlahan, menghentikan kuda hitam itu tepat di sebuah lapangan kecil berumput mati di tengah Hutan Kabut Menangis.
Ia turun dari kuda dengan gerakan yang sengaja dibuat sedikit kikuk dan lamban, seolah lengan kanannya benar-benar membebaninya. Ia mengikatkan tali kekang kudanya ke batang pohon pinus yang sudah mati, lalu berjalan ke tengah lapangan.
Alih-alih menyalakan api unggun, Shen Yuan hanya berdiri diam. Ia menghadap ke arah jalan yang baru saja ia lewati, menunggu dalam keheningan yang membeku.
Srak... wush... wush...
Tiga bayangan hitam melesat keluar dari kanopi hutan, mendarat di atas salju dan daun kering tanpa mengeluarkan suara sekecil apa pun. Mereka mengenakan pakaian ketat berwarna hitam pekat, dengan wajah tertutup topeng kain. Hanya mata mereka yang memancarkan kilatan kejam di bawah cahaya bulan yang redup.
Pria yang berdiri di tengah—sang pemimpin bersusuk Lapisan Ketujuh—melangkah maju selangkah. Ia mencabut sebilah pedang tipis yang melengkung dari balik punggungnya. Pedang itu tidak memantulkan cahaya, dilumuri oleh racun yang tidak berbau.
"Kau berhenti, Pelayan," suara pria bertopeng itu terdengar serak dan mendistorsi udara, jelas menggunakan teknik penyamar suara. "Apakah lengan cacatmu itu akhirnya membuat kudamu kelelahan? Ataukah kau akhirnya menyadari bahwa berlari dari takdir hanyalah kesia-siaan?"
Dua pembunuh lainnya berpencar ke sisi kiri dan kanan, membentuk formasi segitiga yang mematikan, mengunci setiap rute pelarian Shen Yuan.
Shen Yuan tidak langsung menjawab. Ia mengangkat tangan kirinya perlahan, melepaskan topi bambu dari kepalanya, dan membiarkannya jatuh ke atas tanah. Wajahnya yang biasa-biasa saja kini terekspos sepenuhnya. Tidak ada raut kepanikan, tidak ada keringat ketakutan.
"Aku berhenti bukan karena lelah," jawab Shen Yuan tenang. "Aku berhenti karena tempat ini cukup sepi. Tidak ada mata yang melihat, tidak ada telinga yang mendengar. Ini adalah tempat yang pantas."
Sang pemimpin tertawa hambar di balik topengnya. "Pantas untuk menjadi kuburanmu? Setidaknya kau punya kesadaran diri. Tuan Muda Lin menitipkan salam padamu. Dia meminta kami membawa kembali kepalamu, dan membiarkan tubuhmu dimakan gagak."
"Begitukah?" Shen Yuan memiringkan kepalanya sedikit, seolah sedang memikirkan sebuah teka-teki yang membosankan. "Keluarga Lin selalu pandai memberi perintah, namun selalu buruk dalam menilai mangsa mereka. Sama seperti Gou San dan dua anjing kecilnya di Lereng Utara waktu itu."
Mata sang pemimpin menyipit tajam. "Jadi tebakan kami benar. Kau yang menggunakan sihir kotor untuk membunuh Gou San! Tuan Muda Lin Hai hampir gila memikirkannya. Tapi hari ini, trik murahanmu tidak akan berhasil. Aku berada di Lapisan Ketujuh, Bocah. Bahkan jika tangan kananmu utuh, kau hanyalah serangga di hadapanku!"
"Kau benar," Shen Yuan mengangguk pelan. "Jika tangan kananku utuh, mungkin aku harus sedikit bersusah payah melawan Lapisan Ketujuh."
Saat kata-kata itu meluncur dari bibirnya, Shen Yuan mengangkat tangan kirinya. Jari-jarinya yang panjang dan kasar mencengkeram simpul perban tebal di bahu kanannya.
Sreett...
Dengan satu tarikan kasar, perban putih yang sedari tadi menggantung kaku itu robek. Kain penahan itu jatuh ke tanah bersama bau herba murahan yang selama ini menjadi tamengnya.
Tangan kanan Shen Yuan tidak lumpuh. Tangan itu utuh, sempurna, dan otot-ototnya memancarkan kilau logam kelabu yang menyiratkan kekuatan fisik yang mengerikan. Luka robek dari ledakan meridian yang seharusnya membuatnya cacat permanen, tidak terlihat sama sekali.
Lebih dari itu, tepat ketika perban itu jatuh ke tanah, segel yang selama ini mengunci Dantian Shen Yuan akhirnya hancur.
Benih Hitam yang tertidur lelap, kini membuka matanya lebar-lebar.
BZZZZTTTT!
Aura yang sedari tadi disembunyikan di Lapisan Keempat meledak bagaikan gunung berapi yang tertidur ratusan tahun. Energi emas gelap yang maha berat, purba, dan mendominasi menyapu seluruh lapangan. Kabut tipis di Hutan Menangis seketika hancur dan terdorong mundur sejauh belasan tombak.
Lapisan Keenam Kondensasi Qi!
Namun, tekanannya jauh lebih kental, lebih biadab, dan lebih mencekik daripada Lapisan Keenam milik Lin Feng.
Mata ketiga pembunuh itu membelalak hingga nyaris keluar dari kelopaknya. Langkah sang pemimpin yang tadinya penuh percaya diri, mendadak goyah dan mundur setengah langkah. Napasnya tercekat di tenggorokan.
"L-Lapisan Keenam?!" sang pemimpin berteriak, suara seraknya kini dipenuhi kepanikan yang tidak dibuat-buat. "Tanganmu... Mustahil! Tetua Yun sendiri yang mengatakan tulangmu robek! Kau... kau menipu seluruh sekte?!"
Dua pembunuh Lapisan Kelima di sisi kiri dan kanan mulai gemetar. Pedang di tangan mereka terasa seberat timah. Predator yang mereka kira kelinci cacat, kini berubah menjadi naga iblis purba yang sedang merentangkan sayapnya.
Shen Yuan memutar-mutar bahu kanannya, menikmati suara derak tulang yang telah lama tidak ia gerakkan secara bebas.
"Tetua Yun tidak berbohong, dan aku tidak menipu," ucap Shen Yuan dengan nada yang sangat ramah, sebuah keramahan yang membuat bulu kuduk ketiga pembunuh itu meremang. "Tulangku memang retak, tapi aku punya cara... 'khusus' untuk menyembuhkannya."
Shen Yuan menatap tangan kanannya sendiri, lalu menatap ketiga pembunuh itu satu per satu dengan mata sehitam jurang neraka. Di mata Shen Yuan, mereka bukanlah ancaman. Mereka adalah tiga kantong nutrisi yang dikirim tepat waktu oleh keluarga Lin untuk membantu kultivasinya.
"Papan misi mengatakan aku butuh waktu berbulan-bulan untuk mendobrak Lapisan Ketujuh," lanjut Shen Yuan, melangkah maju satu langkah. Hantaman kakinya membuat tanah bergetar pelan. "Tapi melihat tiga kelinci gemuk yang rela berlari mengantarkan esensinya kepadaku malam ini... sepertinya aku bisa mempersingkat waktu perjalananku."
Sang pemimpin pembunuh menyadari ada sesuatu yang sangat salah. Logika dan insting bertahannya menjerit. Misi ini adalah jebakan! Bocah ini sengaja mengambil misi sejauh lima ratus mil bukan untuk lari, melainkan untuk mencari alasan yang sah agar menghilang dari sekte, sekaligus memancing mereka keluar untuk dibantai!
"Mundur! Kita harus melapor ke Tuan Muda Lin! Dia monster!" teriak sang pemimpin. Tanpa ragu, ia memutar tubuhnya dan bersiap melesat kembali ke atas pepohonan. Misi dibatalkan. Nyawa lebih penting.
Namun, angin di Hutan Kabut Menangis mendadak berhenti berhembus.
"Mundur?" bisik Shen Yuan, suaranya kini terdengar menggema dari segala arah, seolah menembus langsung ke dalam pikiran mereka.
Benih Hitam di dalam perut Shen Yuan berputar dengan kegilaan absolut. Ia tidak berniat menahan diri sedikit pun. Tidak ada Tetua di sini. Tidak ada mata yang menonton.
Langkah Penghancur Bayangan.
BOOM!
Bumi di bawah pijakan Shen Yuan meledak. Salju, tanah basah, dan dedaunan mati terlempar ke udara. Dalam sepersekian kedipan mata, tubuh pemuda berbaju sutra itu menghilang sepenuhnya, meninggalkan seutas bayangan hitam yang membelah kegelapan malam lebih cepat dari sambaran petir.
Pintu neraka telah ditutup rapat, dan Shen Yuan, sang algojo, telah mengunci kuncinya dari dalam.