“Eh, Jing! Sini lu!”
“Apaan sih, Sin? Dasar Sinting!”
Di kantor, Jingga dan Sinta adalah musuh bebuyutan yang hobi cakar-cakaran. Namun di balik meja kerja, mereka menyimpan satu rahasia besar: Sebuah Buku Nikah.
Terjebak perjodohan kolot, mereka terpaksa menikah secara rahasia dengan tiga aturan maut:
Tetap jadi musuh di kantor.
Jangan campuri urusan kekasih masing-masing.
Dilarang jatuh cinta!
Sanggupkah mereka menjaga rahasia saat cemburu mulai terasa lebih nyata daripada sekadar kontrak di atas kertas?
"Pernikahan ini cuma bisnis, tapi kok gue pengen pecat pacar lu sekarang juga, ya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tumpangan yang Memancing Cemburu
Langit Jakarta di sore hari itu tampak muram, sewarna dengan suasana hati Sinta yang masih belum pulih dari sisa-sisa ketegangan piknik di Bogor. Awan mendung menggantung rendah di atas gedung-gedung pencakar langit Sudirman, menjanjikan hujan deras yang biasanya akan melumpuhkan lalu lintas dalam hitungan menit. Sinta berdiri di lobi kantor, berkali-kali memeriksa aplikasi transportasi daring di ponselnya, namun hanya menemukan ikon mobil yang berwarna merah menyala dengan tarif yang melonjak tiga kali lipat.
"Sial, semuanya high fare dan nggak ada yang mau ambil," gumam Sinta pelan. Ia melirik jam tangan pintarnya. Sudah pukul 17.45. Jika ia tidak segera mendapatkan tumpangan, ia akan terjebak dalam kemacetan horor yang bisa membuatnya sampai di apartemen lewat tengah malam.
Tiba-tiba, sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam metalik berhenti tepat di depannya. Kaca jendela otomatisnya turun perlahan, menampakkan wajah Adrian yang tampak segar meski baru saja menyelesaikan rapat maraton sepanjang hari.
"Sinta? Belum pulang? Mau bareng saya saja?" tawar Adrian dengan senyum khasnya yang menenangkan. "Cuacanya sepertinya mau badai, susah cari taksi jam segini."
Sinta ragu sejenak. Di satu sisi, ia sangat ingin segera sampai di rumah dan melepas lelah. Di sisi lain, ia tahu bahwa setiap menit yang ia habiskan berdua dengan Adrian di ruang tertutup seperti mobil hanya akan menambah beban kebohongannya. "Eh, nggak usah, Mas Adrian. Aku masih coba pesan ojek atau taksi online kok. Takut merepotkan, arah rumah kita kan agak beda."
"Nggak ada kata repot buat kamu, Sin. Lagipula, saya ada janji makan malam di daerah yang searah dengan apartemen kamu nanti. Ayo, masuk saja sebelum hujan turun," desak Adrian lembut namun tegas.
Sinta baru saja hendak membuka mulut untuk menolak lagi ketika sebuah suara bariton yang sangat ia kenal memotong dari belakang.
"Pak Adrian? Belum pulang juga?"
Sinta menoleh dan mendapati Jingga sedang berdiri di sana, menyampirkan tas laptopnya di bahu dengan gaya acuh tak acuh. Di sampingnya, Luna tampak sedang merapikan syalnya, siap untuk pulang. Namun, mata Jingga tidak tertuju pada Luna; matanya terkunci pada tangan Sinta yang sudah menyentuh gagang pintu mobil Adrian.
"Oh, Jingga. Ini, saya mau beri tumpangan untuk Sinta. Kasihan, sudah mau hujan tapi belum dapat kendaraan," jawab Adrian ramah.
Jingga menyipitkan mata. Ia bisa merasakan dadanya berdenyut panas. Pikiran tentang Sinta duduk di kursi penumpang depan, berdua dengan Adrian dalam suasana temaram kabin mobil sambil mendengarkan musik jazz, membuat saraf-sarafnya menegang. Ego dan rasa kepemilikannya sebagai suami—meski dirahasiakan—mendadak bangkit tanpa bisa dikendalikan.
"Kebetulan sekali, Pak," ucap Jingga tiba-tiba, membuat Luna di sampingnya terbelalak kaget. "Rumah saya juga searah dengan Sinta. Dan mobil saya sedang di bengkel sejak pagi tadi karena masalah aki. Boleh saya ikut menumpang juga?"
Sinta hampir menjatuhkan ponselnya. Mobil di bengkel? Bukankah tadi pagi mereka berangkat masing-masing dan ia melihat mobil Jingga terparkir rapi di basement?
Adrian tampak sedikit terkejut dengan permintaan bawahannya yang biasanya sangat menjaga jarak itu. "Oh? Mobil kamu di bengkel, Jingga? Tentu saja boleh. Silakan masuk."
"Lho, Jingga? Bukannya tadi kamu bilang mau antar aku ke toko buku dulu?" tanya Luna dengan nada kecewa yang kental.
Jingga menoleh ke arah Luna, memberikan tatapan yang seolah memohon maaf namun tetap keras kepala. "Maaf, Lun. Tiba-tiba perut saya agak kurang enak, sepertinya efek udang kemarin belum hilang total. Saya harus segera pulang dan istirahat. Kamu nggak apa-apa kan naik taksi online hari ini? Nanti saya pesankan."
Luna menggigit bibir bawahnya. Ia menatap Jingga, lalu beralih ke Sinta, dan terakhir ke Adrian. Kecurigaan yang ia tanam sejak di Bogor kini mulai tumbuh subur. "Oh... ya sudah. Nggak apa-apa, Jingga. Kamu istirahat saja."
Sinta merasa ingin menghilang dari muka bumi. Kini, ia terjebak dalam skenario yang lebih buruk: berada di dalam satu mobil sempit bersama atasannya yang menaruh hati padanya, dan suaminya yang sedang terbakar cemburu buta.
"Sinta, kamu duduk di depan saja. Biar Jingga di belakang," instruksi Adrian.
"Nggak, Pak!" potong Jingga cepat sambil membuka pintu belakang. "Biar Sinta duduk di belakang saja. Dia sepertinya kurang enak badan juga, butuh ruang lebih luas untuk bersandar. Saya yang duduk di depan menemani Bapak ngobrol agar tidak mengantuk."
Sinta hanya bisa pasrah dan masuk ke kursi belakang, sementara Jingga dengan sigap menduduki kursi penumpang depan. Adrian tampak sedikit bingung dengan perubahan formasi yang dipaksakan Jingga, namun ia hanya mengangkat bahu dan mulai menjalankan mobilnya.
Hujan deras mulai mengguyur Jakarta saat mobil keluar dari lobi kantor. Suara rintik hujan yang menghantam atap mobil menciptakan suasana yang seharusnya romantis, namun bagi ketiga orang di dalamnya, suasana itu terasa mencekam.
"Jadi, Jingga, saya baru tahu kalau rumah kamu searah dengan Sinta," buka Adrian sambil memutar kemudi dengan lihai.
"Iya, Pak. Dekat sekali. Bahkan bisa dibilang satu lingkungan," jawab Jingga tanpa ragu. Ia melirik ke spion tengah, mencoba menangkap bayangan mata Sinta yang sedang menunduk pura-pura sibuk dengan ponselnya.
"Wah, kalau begitu enak ya. Bisa saling bantu kalau ada apa-apa," komentar Adrian. "Sinta ini karyawan paling berdedikasi di divisi saya, Jingga. Saya sangat menjaganya. Kamu sebagai tetangga harus ikut menjaga dia juga kalau di luar kantor."
Jingga mendengus pelan, sebuah suara yang hampir terdengar seperti tawa sinis. "Oh, Bapak jangan khawatir. Saya menjaga dia lebih dari yang Bapak bayangkan. Saya tahu persis jam berapa dia sampai rumah, apa yang dia makan, sampai... hal-hal detail lainnya."
Sinta menendang bagian belakang kursi Jingga dengan keras. Ia ingin memberi peringatan agar pria itu berhenti bicara omong kosong sebelum semuanya terbongkar. Namun, Jingga justru semakin menjadi-jadi.
"Maksud kamu detail seperti apa, Jingga?" tanya Adrian, nadanya mulai terdengar sedikit waspada.
"Maksud saya... sebagai tetangga yang baik, kita kan harus peka, Pak. Misalnya kalau lampu teras rumahnya mati, atau kalau dia butuh bantuan angkat galon air," dalih Jingga dengan licin.
Adrian tertawa kecil, meski tawanya terdengar hambar. "Kamu perhatian sekali ya untuk ukuran orang yang biasanya terlihat cuek. Sinta, kenapa kamu nggak pernah cerita kalau punya tetangga se-siaga Jingga?"
Sinta berdehem, mencoba menstabilkan suaranya. "Eh... itu... karena kami jarang mengobrol di luar urusan sampah dan iuran keamanan, Mas Adrian. Jingga kan orangnya sibuk, jarang di rumah."
"Benar begitu, Jingga?" tanya Adrian lagi.
"Saya selalu ada di rumah kalau Sinta butuh, Pak," jawab Jingga dengan penekanan pada setiap katanya. Ia kembali melirik spion tengah, menantang mata Sinta.
Ketegangan di dalam mobil itu semakin memuncak ketika jalanan mulai macet total di daerah Semanggi. Adrian mencoba memutar musik untuk mencairkan suasana. Lagu balada romantis mengalun pelan, menambah nuansa kecanggungan yang luar biasa.
"Sinta, minggu depan kita jadi ya makan malam dengan Tante Lastri? Saya sudah kosongkan jadwal di hari Rabu," ucap Adrian tiba-tiba.
Jingga yang sedang minum air mineral dari botolnya hampir saja tersedak. "Makan malam? Dengan Tante Lastri?"
"Iya, Jingga. Tante kamu itu kan calon nasabah besar bagi Sinta. Saya mau bantu Sinta memuluskan negosiasinya," jelas Adrian.
Jingga menoleh ke arah Sinta dengan tatapan yang seolah berkata, 'Lu bener-bener gila ya?'. Sinta hanya bisa membalasnya dengan tatapan memelas.
"Saya rasa Tante Lastri lebih suka bicara berdua saja dengan Sinta, Pak," sahut Jingga. "Beliau orangnya agak tertutup dengan orang baru, apalagi pria yang terlihat... terlalu bersemangat seperti Bapak. Bisa-bisa Beliau malah tidak jadi buka rekening."
Adrian mengerutkan dahi. "Oh ya? Tapi kemarin di Bogor Beliau terlihat sangat ramah."
"Itu karena ada saya, Pak. Kalau ada saya, Beliau merasa aman," kata Jingga penuh percaya diri. "Bagaimana kalau saya ikut saja di makan malam itu? Biar saya yang menjembatani komunikasinya."
Kini giliran Adrian yang merasa terganggu. "Jingga, bukankah ini urusan profesional antara Sinta dan nasabahnya? Kamu kan beda divisi, rasanya kurang etis kalau ikut campur terlalu jauh."
"Tapi ini kan keluarga saya, Pak. Saya punya tanggung jawab moral," balas Jingga tak mau kalah.
Sinta merasa kepalanya mau pecah mendengarkan perdebatan dua pria ini. Ia merasa seperti barang rebutan di pasar loak. "Sudah, sudah! Mas Adrian, Jingga... nanti soal makan malam kita bahas lagi di kantor ya. Aku lagi pusing banget nih, tolong tenang sebentar saja."
Suasana mendadak hening. Adrian fokus menyetir, sementara Jingga bersedekap dengan wajah ditekuk. Di kursi belakang, Sinta menutup matanya, berharap ia bisa berteleportasi langsung ke kamar apartemennya.
Satu jam kemudian, mobil Adrian akhirnya memasuki kawasan apartemen Sinta. Adrian menghentikan mobilnya tepat di depan lobi.
"Sudah sampai, Sinta," ucap Adrian lembut. Ia turun dari mobil, berniat membukakan pintu untuk Sinta, namun Jingga sudah lebih dulu melompat keluar dan membukakan pintu belakang.
"Terima kasih, Pak Adrian. Mari, Sinta," ucap Jingga sambil menarik tangan Sinta agar segera keluar.
Sinta berdiri di trotoar, merasa sangat canggung. "Terima kasih banyak ya, Mas Adrian, buat tumpangannya. Maaf merepotkan."
"Sama-sama, Sinta. Istirahat yang cukup ya," jawab Adrian. Ia melirik Jingga yang masih berdiri di samping Sinta dengan protektif. "Jingga, kamu nggak turun? Katanya rumah kamu di sini juga?"
"Oh, iya Pak. Saya turun di sini. Rumah saya... masuk ke gang di sebelah apartemen ini sedikit lagi. Saya jalan kaki saja dari sini sekalian cari udara segar," jawab Jingga asal.
Adrian menatap mereka berdua selama beberapa detik, seolah sedang menimbang-nimbang sesuatu di kepalanya. "Baiklah kalau begitu. Sampai jumpa besok di kantor."
Mobil sedan hitam itu akhirnya melaju pergi, menghilang di balik tirai hujan. Begitu mobil Adrian sudah benar-benar menjauh, Sinta langsung berbalik dan memukul lengan Jingga dengan tasnya.
"Lu gila ya?! Mobil di bengkel apanya? Gue lihat mobil lu ada di basement tadi pagi!" omel Sinta dengan suara tertahan.
Jingga tidak meringis kesakitan, ia justru menatap Sinta dengan kemarahan yang tertahan. "Terus lu maunya apa? Mau asyik-asyikan berduaan sama dia di mobil? Dengerin musik romantis sambil dia pegang-pegang tangan lu?"
"Dia nggak pegang tangan gue, Jingga! Dia cuma mau kasih tumpangan karena hujan!"
"Gue nggak peduli! Lu itu istri gue, Sinta! Di atas kertas atau di bawah meja sekalipun, lu tetap istri gue!" teriak Jingga lirih, suaranya bersaing dengan bunyi hujan.
Sinta tertegun. Ini pertama kalinya Jingga mengakui status mereka dengan nada se-emosional itu. Biasanya, Jingga selalu bersikap seolah pernikahan ini adalah beban yang ingin ia buang ke tempat sampah.
"Sekarang lu mau apa? Mas Adrian makin curiga, Luna juga makin curiga. Lu malah bikin semuanya makin rumit dengan ikut di mobil tadi!" Sinta mulai merasa matanya memanas, campuran antara lelah dan frustrasi.
Jingga menghela napas panjang, mencoba meredam emosinya. Ia mendekati Sinta, hingga jarak di antara mereka sangat tipis. "Gue cuma nggak tahan lihat dia natap lu seolah lu itu miliknya, Sin. Karena yang tahu semua kebiasaan buruk lu, yang tahu lu kalau tidur mangap, yang tahu lu alergi debu... itu cuma gue. Bukan dia."
Sinta terpaku. Jantungnya berdegup kencang, namun bukan karena ketakutan seperti saat di depan Adrian. Ada sebuah rasa aneh yang menyusup di relung hatinya—sebuah rasa yang ia sendiri belum berani beri nama.
"Ayo naik. Dingin," ucap Jingga pendek, suaranya kembali datar seperti biasa. Ia berjalan mendahului Sinta menuju lift apartemen, meninggalkan Sinta yang masih berdiri mematung di tengah lobi yang dingin.
Sinta menatap punggung suaminya itu dengan perasaan campur aduk. Ia menyadari satu hal: tumpangan pulang tadi tidak hanya memicu cemburu, tapi juga telah meruntuhkan sedikit demi sedikit dinding permusuhan yang selama ini mereka bangun. Dan di balik reruntuhan itu, mulai tampak sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar ketahuan orang kantor: perasaan yang sesungguhnya.
Malam itu, di dalam lift yang bergerak naik, tak ada satu pun dari mereka yang bicara. Namun, dalam diam yang canggung itu, mereka berdua tahu bahwa perang dingin di antara mereka telah bergeser menjadi sesuatu yang jauh lebih kompleks. Dan esok hari, di kantor, mereka harus kembali mengenakan topeng masing-masing, meski kini topeng-topeng itu terasa semakin berat dan menyesakkan.