Tidak pernah terpikirkan oleh Sarah bahwa dirinya akan diberi kesempatan kedua untuk kembali hidup.
Seumur hidup, hanya ia habiskan untuk berfoya-foya dan mengajar cinta Marvin yang tak pernah ia miliki hingga akhir hayatnya. Tak segan Sarah mencelakai wanita yang dicintai Marvin, Kayla. Namun di kehidupan sebelumnya, meskipun Sarah sering membawa kesialan dan membuat hidup Marvin dan Kayla menderita, mereka masih berbaik hati memberi Sarah bantuan ketika gadis itu sedang menghadapi masalah ekonomi karena ayahnya yang bangkrut.
Di kehidupan kali ini, Sarah hanya ingin mencoba membahagiakan dirinya sendiri dan melepas cinta pertama yang begitu membekas bagi dirinya.
Tapi siapa yang sangka kehidupan keduanya ternyata lebih rumit daripada yang Sarah bayangkan. Ia ditimpa bertubi-tubi kenyataan yang membuat logikanya tidak lagi berjalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30
Sarah harus mengalami lagi yang tidak menyenangkan.
Akibat makan terlalu banyak semalam, membuat Sarah mengalami gangguan lambung di pagi hari. Sudah sepuluh menit Sarah berdiam diri di toilet dan memuntahkan semua makanan yang kemarin ia makan.
Sarah kembali memuntahkan isi perutnya. Ia memijat kepalanya yang mulai terasa pusing. Meski begitu ia tetap nekat untuk berangkat ke sekolah.
Setelah selesai bersiap, Sarah turun dari tangga dan mendapati ruang makan yang kosong. Hanya ada mbok yang sedang menyiapkan makanan. Sepertinya ibunya berangkat pagi-pagi sekali dan ayahnya tidak pernah pulang sampai hari ini.
"Sarapan dulu neng- eh neng sakit?" Terlihat raut wajah khawatir dari mbok begitu melihat wajah pucat Sarah. Padahal Sarah sudah memakai sedikit make up untuk menyembunyikan wajah pucatnya, tapi ternyata wajah pucatnya masih terlihat.
Sarah menggeleng." Engga kok mbok, ini aku cuma ada masalah sama oemcernauaku aja. Aku minta obat aja ,bok, aku gak nafsu makan."
Mbok segera memberikan apa yang diminta oleh Sarah. Mbok juga segera mengemas bekal makan untuk Sarah. Meskipun biasnya Sarah membeli makanan di kantin, tapi kali ini mbok berinisiatif menyiapkan bekal untuk Sarah karena takut jika majikannya itu tidak sempat pergi ke kantin untuk membeli makanan.
"Ini obatnya, ini juga bekalnya. Kalau neng lapar bisa langsunumakan."
Sarah tersenyum karena terharu, meski kedua orang tuanya sibuk setidaknya ia masih memiliki mbok yang setia memperhatikannya." Makasih ya mbok."
Sarah pun berangkat ke sekolah dengan diantar oleh sopirnya. Begitu sampai di sekolah ia berpamitan kemudian berjalan di koridor sekolah dengan langkah gontai, entahlah perasaannya jadi tidak enak. Sepertinya karena kondisi lambungnya yang tidak baik membuat kondisi tubuhnya seperti ini. Untuk menghindari hal yang tidak baik cara memutuskan untuk ke UKS saja.
Sesampainya di UKS, ternyata tidak ada siapapun di sana. Sepertinya petugas UKS sedang keluar sehingga ruangan ini menjadi kosong. Sarah kemudian menuliskan namanya di sebuah buku jurnal yang terletak di atas meja dan alasan dirinya berada di UKS.
Setelah itu Sarah pun berjalan ke salah satu ranjang UKS, ia memberikan tubuhnya lalu matanya perlahan-lahan tertutup. Bagaikan sebuah sihir dalam sekejap matanya merasa ngantuk. Perlahan-lahan kesadarannya memudar hingga nafas teratur mulai terdengar dari gadis itu.
Suara elektrokardiogram atau alat monitor jantung terdengar jelas di telinga Sarah, saking kerasnya suara tersebut sehingga membuat garis itu terganggu.
Mengapa suara itu sangat nyaring hingga memekakkan telinganya.
Perlahan Sarah membuka matanya, tapi mata itu tidak dapat terbuka sepenuhnya. Entah kenapa matanya terasa berat untuk dibuka. Bahkan ia tidak dapat menggerakkan tubuhnya sama sekali.
Melalui celah dari mata yang sedikit terbuka, Sarah dapat melihat dia sedang berada di ruangan yang serba putih dengan sebuah alat bantu pernapasan yang menempel di hidungnya. Bahkan berbagai alat bantu medis lainnya melekat pada tubuh Sarah.
Apa yang terjadi?
Apakah gangguan pencernaan yang tadi saraf alami bertambah parah sehingga ia harus dibawa ke rumah sakit?
Lalu mata Serang menatap pada sosok yang teramat sangat ia kenali, yang bahkan penampilannya saja tidak pernah salah lupakan sedang berdiri di balik kaca dan menatap sendu ke arah Sarah.
Dia adalah Marvin.
"Sarah!"
Sarah langsung membuka matanya dengan lebar dalam keadaan terkejut.
Terdapat desahan lega dari orang yang membangunkan Sarah.
Wajah panik Marvin yang pertama kali Sarah lihat saat dirinya membuka mata. Gadis itu terduduk lalu memeriksa tubuhnya. Tidak ada alat bantu medis yang melekat di tubuhnya, ia bahkan masih bisa menggerakkan tubuhnya. Dalam keadaan bingung ia menatap sekeliling.
Ternyata dirinya tidak berada di rumah sakit, melainkan sedang berada di UKS.
"Sar, jawab gue." Suara berikan itu menyadarkan Sarah. Ia menoleh dan mendapati Marvin yang tengah berdiri di samping ranjang dengan raut wajah khawatir.
"Marvin?"
Sarah menatap laki-laki itu dengan tatapan bingung, apakah yang tadi itu hanya sekedar mimpi.
Iya memimpikan Marvin di masa depan, karena dari perawakannya yang lebih dewasa dari Marvin yang dia lihat sekarang. Wujud Marvin yang tidak pernah salah lupakan terutama ketika laki-laki itu sedang emosi, tanpa sadar hal itu membuat reaksi tubuh saraf jadi gemetar karena takut.
"Sar." Panggil Marvin lagi karena saya dari tadi cara tidak menanggapi ucapannya.
"Gue nggak apa-apa kok. Tapi kenapa lu bisa ada di sini? Kenapa wajah lo panik?"tanya Sarah heran.
Marvin menghela nafasnya, matanya menatap lurus ke arah Sarah.
Lagi-lagi bayangan Marvin dewasa terbesit di pikiran Sarah, sepertinya efek mimpi tadi sangat kuat sehingga Sarah tidak mampu menatap laki-laki di depannya ini.
"Tadi Lo,,gak bernapas."
...
Pesan yang masuk pagi ini membuat pikiran Marvin sedikit terganggu.
Tagihan rumah sakit.
Marvin menghela nafas.
Haruskah Marvin mengambil pekerjaan yang ditawarkan orang itu supaya ia tidak sakit kepala hanya karena membutuhkan uang?
"Marvin!"
Marvin mengernyit ketika sadar bahwa ia baru saja ditabrak oleh teman kelasnya yang sedang bermain basket. Aldo, berniat ingin merebut bola yang dioper oleh temannya tapi ketika ia melompat, dia tidak sadar jika ada Marvin di dekatnya sehingga tubuh mereka bertubrukan.
Marvin yang dalam posisi melamun tidak sempat menghindar sehingga akhirnya tubuhnya menabrak kepada setiap besi.
"Sorry Vin, gue gak sengaja."ucap Aldo tidak enak.
"Vin, Lo gak apa-apa?" Teriak Alvian langsung menghampiri temannya itu.
"Gak apa-apa kok," Marvin mengisyaratkan bahwa ia baik-baik saja, tapi begitu pundaknya ditepuk oleh Alvian, terasa sakit mungkin efek dari benturan tadi.
"Wah, kayaknya ada yang memar nih."
"Kamu tidak apa-apa, Marvin?" Tanya guru olahraga yang berada di dekatnya.
"Saya-"
"Dia cidera pak," sahut Alvian heboh," tolong izinin ke UKS ya pak, kasihan Martin siapa tahu ada luka serius," lanjutnya.
Marvin mendengus dan heran Kenapa temannya yang satu itu suka sekali membesar-besarkan masalah. Padahal suka membuat di tubuhnya itu tidak seberapa baginya.
"Ya sudah kamu ke UKS aja dulu minta petugas di sana untuk memeriksa punggung kamu," ujar guru olahraganya.
"Saya izin temanin maafin ya pak," ujar Alvian lagi dengan raut wajah khawatir yang dibuat-buat.
"Iya silahkan."
Marvin hanya menatap sinis Alfian yang memanfaatkan dirinya untuk bolos. Jelas tidak mungkin Avian akan menemaninya UKS. Dan benar saja dugaannya begitu sampai di depan UKS, Alfian langsung menghentikan langkahnya.
"Yaudah deh Vin, lo baik-baik di sini ya. Gue ada urusan dulu."ucap Alvian.
"Katanya lo mau nemenin gue."
"Yaelah, masa lo nggak ngerti si, Vin. Luka kayak gitu doang kan nggak apa-apa buat lo, dulu kan Lo pernah-"
Marvin mengabaikan Alvian, dia langsung masuk dan menutup pintu ruang UKS dengan kasar.
"Sabar-sabar, punya teman kok dingin banget kayak es batu," ujar Alvain sambil mengelus dadanya.
Sementara itu Marvin yang berada di ruang UKS menatap heran ruangan yang terlihat kosong. Ke mana petugas atau dokter yang berjaga?
Maafin tidak mau ambil pusing, ya berjalan ke arah rak tempat biasa menyimpan coolpad untuk mengompres luka yang memar.
Setelah mendapatkan benda itu, ia berjalan ke arah meja petugas untuk menuliskan nama pada buku jurnal.
Sarah?
Dahi Marvin mengernyit, kenapa ada nama gadis itu di sini?
Marvin memutar kepalanya, menoleh ke arah ranjang UKS. Salah satu ranjang tertutup oleh, apa mungkin Sarah berada di sana?
Maafin mencoba mendekati ranjang yang tertutup gorden itu. Tangannya perlahan membuka gorden takut mengganggu orang yang ada di sana.
Dan benar saja, itu adalah Sarah.
Tapi ada yang aneh dari gadis itu. Wajahnya terlihat sangat pucat dengan tubuh yang berbaring sangat tenang, teramat tenang.
"Sarah,"panggil Marvin perlahan, tapi tidak ada respon dari gadis itu.
Marvin mencoba memanggil gadis itu lagi, ia juga menepuk lengan Sarah perlahan tapi lagi-lagi tidak ada respon dari gadis itu.
Marvin meletakkan jari telunjuknya di antara hidung dan bibir atas Sarah, mata laki-laki itu membulat begitu tidak merasakan hembusan nafas di sana. Segera ia mengecek denyut nadi gadis itu, ia semakin panik begitu merasakan denyut nadi yang makin melemah.
"Sar, Sarah bangun!"
Marvin semakin panik. Laki-laki itu melihat sekitar dan tidak ada tanda-tanda orang yang akan datang. Ia juga tidak ingin membuat keributan dengan kondisi Sarah yang sekarang.
Marvin berusaha untuk tenang, ia mencoba melakukan pertolongan pertama. Apabila usahanya tidak berhasil maka ia akan segera menghubungi ambulans. Tidak, mungkin ia akan segera membawa Sarah ke rumah sakit.
Marvin terus melakukan pertolongan pertama dengan memberikan napas buatan. "Sarah!" Panggil Marvin terus menerus.
Tiba-tiba kedua mata Sarah terbuka, gadis itu meraup udara sebanyak-banyaknya. Marvin sampai harus mundur sedikit karena terkejut, tapi perasaannya menjadi lega ketika mengetahui Sarah masih hidup.
"Sarah, Lo kenapa?"