NovelToon NovelToon
PEWARIS NAGA BIRU

PEWARIS NAGA BIRU

Status: tamat
Genre:Anime / Balas Dendam / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: PENALIAR

Di Klan Ryu yang telah runtuh, Ryu Seol hanyalah pemuda tujuh belas tahun dengan meridian qi rusak—sampah yang dihina sepupunya sendiri di depan seluruh keluarga. Setiap hari adalah penghinaan, hingga suatu malam ia menemukan sebuah gua terlarang di balik air terjun.

Di dalamnya menanti Gu, rubah berekor sembilan yang jiwanya terperangkap selama ribuan tahun. Dengan sarkasme tajam dan kekuatan iblis kuno, Gu menawarkan perjanjian: memperbaiki meridian Seol, mengajarkan teknik terlarang Pedang Bayangan, dan membawanya melompat dari nol menjadi pendekar dalam hitungan bulan—dengan satu syarat: suatu hari Seol harus membebaskannya.

Dari buangan klan kecil, Seol melangkah ke Sekte Pedang Surgawi, melewati ujian maut Gua Iblis, dan bertemu Seol Hwa—murid senior dingin yang perlahan mencair, serta Baek Ho—sahabat setia dari Sekte Tulang Besi. Namun kekuatannya yang tumbuh terlalu cepat menarik perhatian musuh lama: Ryu Cheonmyeong, yang kini bergabung dengan Kultus Da

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29: Perempat Final – Seol vs Kwak Jung

Matahari tepat berada di puncak langit saat babak perempat final dimulai. Lembah Naga Putih lebih ramai dari sebelumnya. Ribuan penonton memenuhi tribun, warna-warna jubah dari berbagai sekte dan klan menciptakan lautan warna yang bergelombang di bawah sinar matahari. Udara terasa panas, bukan hanya karena cuaca, tetapi karena ketegangan yang mulai memuncak. Delapan peserta tersisa. Delapan pendekar muda terbaik dari seluruh Murim. Dan hari ini, dua dari mereka akan gugur.

Seol berdiri di belakang panggung, pedang Seol Hwa tersandang di pinggangnya, matanya terpejam. Ia tidak sedang berlatih. Ia sedang menenangkan pikirannya. Hari ini, ia tidak hanya akan bertarung untuk kemenangan. Hari ini, ia akan mengungkap kebenaran.

“Pertandingan keempat! Ryu Seol dari Sekte Pedang Surgawi melawan Kwak Jung dari Sekte Pedang Surgawi!”

Seol membuka matanya. Ia melangkah ke panggung dengan langkah mantap. Di depannya, Kwak Jung sudah berdiri di tengah arena, senyum tipis menghiasi bibirnya, jari-jari panjangnya meraih gagang pedang di pinggangnya. Jubah biru murid dalam sekte berkibar tertiup angin, tetapi Seol tahu—di balik jubah itu, ada sesuatu yang gelap. Sesuatu yang tidak boleh ada di sekte ini.

“Akhirnya,” kata Kwak Jung, suaranya cukup keras untuk didengar oleh barisan depan penonton. “Aku sudah menunggu pertarungan ini sejak kau pertama kali menginjakkan kaki di sekte kita.”

Seol tidak menjawab. Ia mencabut pedangnya perlahan, bilahnya berkilat di bawah sinar matahari.

“Kau pikir dengan sedikit bakat, kau bisa menjadi lebih baik dariku?” Kwak Jung menghunus pedangnya—sebilah pedang lurus dengan sarung hitam, tidak berbeda dari pedang murid dalam lainnya. Tapi saat bilahnya keluar dari sarung, Seol merasakan sesuatu. Qi yang tidak bersih. Qi yang sama seperti yang ia rasakan di ruang bawah tanah.

“Mulai!” teriak wasit.

---

Babak Pertama – Ujian

Kwak Jung menyerang pertama.

Ia bergerak cepat—lebih cepat dari yang Seol ingat. Pedangnya berkelebat dalam pola yang rumit, sembilan tusukan dalam satu napas, masing-masing diarahkan ke titik vital yang berbeda. Teknik Pedang Angin tingkat lanjut. Teknik yang seharusnya hanya dikuasai oleh murid senior setelah bertahun-tahun latihan.

Seol menghindar. Tubuhnya bergerak dengan refleks yang sudah terlatih selama dua setengah tahun, menghindari setiap tusukan dengan gerakan minimalis. Satu, dua, tiga—ia menghindar. Empat, lima, enam—masih aman. Tapi tusukan ketujuh hampir mengenai bahunya. Ia menangkis dengan pedangnya, dan bunyi logam beradu bergema di seluruh arena.

Kwak Jung tersenyum. “Tidak buruk. Tapi itu baru permulaan.”

Ia menyerang lagi. Kali ini lebih cepat. Gerakannya tidak lagi mengikuti pola yang diajarkan di sekte. Ada sesuatu yang aneh—gerakan yang tidak alami, seperti tubuhnya bergerak lebih cepat dari yang seharusnya, seperti ada kekuatan tambahan yang mendorongnya melewati batas kemampuan manusia.

Seol mundur. Ia tidak bisa mengimbangi kecepatan itu. Setiap tebasan, setiap tusukan, datang lebih cepat dari yang ia kira. Ia hanya bisa bertahan, menangkis, menghindar, tetapi Kwak Jung terus menekan, tidak memberinya waktu untuk bernapas.

Penonton mulai bergumam. Mereka melihat kecepatan Kwak Jung yang luar biasa, tetapi beberapa dari mereka—para tetua dan pendekar senior—mulai mengerutkan kening. Ada yang tidak beres.

“Dia menggunakan teknik terlarang,” bisik Gu di kepalanya. “Lihat matanya.”

Seol memperhatikan. Di sela-sela serangan, ia melihat mata Kwak Jung. Tidak lagi hitam. Ada warna merah di sana—merah gelap, seperti darah yang mengering. Dan di sudut matanya, urat-urat halus mulai muncul, berwarna hitam, merambat seperti akar pohon ke pelipisnya.

“Ia kehilangan kendali,” kata Gu. “Jika ia terus menggunakan teknik itu, ia akan berubah. Kau harus menghentikannya sebelum itu terjadi.”

Seol menggigit bibirnya. Ia tidak bisa menghentikan Kwak Jung dengan kekuatan. Kecepatannya sudah melebihi batas manusia. Tapi ada satu cara.

Ia berhenti mundur.

Kwak Jung melihat celah itu. Ia melesat maju, pedangnya menusuk ke arah dada Seol dengan kecepatan yang tidak bisa dihindari.

Seol tidak menghindar. Ia membiarkan pedang itu masuk.

Crak!

Pedang Kwak Jung menembus bahu kiri Seol.

Darah menyembur. Rasa sakit meledak di seluruh tubuhnya, tetapi Seol sudah mengantisipasinya. Ia telah menggeser tubuhnya beberapa inci sebelum pedang itu masuk—cukup untuk menghindari titik vital, cukup untuk membuat pedang itu terjebak di tulang bahunya.

Kwak Jung terkejut. Ia mencabut pedangnya, tetapi Seol sudah bergerak. Tangan kirinya—tangan yang berlumuran darah—meraih pergelangan tangan Kwak Jung dan menggenggamnya erat.

“Apa—?” Kwak Jung berusaha melepaskan, tetapi Seol tidak membiarkannya.

Dan dalam genggaman itu, Seol mengalirkan qi-nya. Bukan qi untuk menyerang. Qi untuk membuka.

Ia mengalirkan qi ke dalam tubuh Kwak Jung—bukan melalui meridian, tetapi melalui titik-titik di mana qi iblis bersembunyi. Teknik yang diajarkan Gu. Teknik untuk mendeteksi qi yang tidak alami.

Dan di hadapan ribuan penonton, di tengah arena turnamen, qi iblis di dalam tubuh Kwak Jung merespons.

Cahaya merah menyala dari tubuh Kwak Jung. Bukan dari pedangnya, bukan dari pakaiannya, tetapi dari dalam tubuhnya. Dari pori-porinya, dari matanya, dari mulutnya yang terbuka lebar. Cahaya merah gelap yang berdenyut, yang menggeliat, yang tidak seharusnya ada di tubuh seorang pendekar.

Seluruh lembah terdiam.

---

Pengungkapan

Kwak Jung menjerit. Bukan jeritan biasa. Jeritan ini mengandung dua suara sekaligus—suaranya sendiri, dan suara lain yang lebih dalam, lebih tua, lebih mengerikan. Tubuhnya mulai berubah. Kulitnya menjadi pucat, urat-urat hitam muncul di lehernya, dan di dahinya, dua tonjolan kecil mulai terbentuk.

Seol melepaskan genggamannya. Ia mundur selangkah, tangan kirinya masih berlumuran darah, tetapi matanya tidak berkedip.

“Lihat!” teriak Seol, suaranya bergema di keheningan. “Lihat apa yang disembunyikan Kwak Jung! Ia menggunakan teknik terlarang Kultus Darah! Ia telah mengikat dirinya dengan qi iblis!”

Kerumunan bergemuruh. Para tetua dari berbagai sekte berdiri dari kursi mereka. Wajah Baek Yoon di tribun kehormatan berubah menjadi pucat. Seol Hwa, yang sedang bersiap untuk pertandingan berikutnya, membeku di tempatnya.

Kwak Jung jatuh berlutut. Tubuhnya gemetar hebat, cahaya merah masih menyala di sekelilingnya, tetapi kini mulai meredup. Matanya yang merah gelap menatap Seol dengan kebencian yang tidak manusiawi.

“Kau… kau…” suaranya serak, terputus-putus. “Kau menghancurkanku…”

Seol berdiri di depannya, pedang di tangan kanan, darah menetes dari bahu kirinya. “Aku tidak menghancurkanmu. Kau yang menghancurkan dirimu sendiri.”

Ia meraih saku bajunya dengan tangan kanan—tangan yang masih memegang pedang—dan mengeluarkan sepotong kain kecil. Kain yang ia ambil dari ruang bawah tanah Kwak Jung berminggu-minggu lalu. Kain dengan noda darah dari lingkaran ritual.

“Ini buktinya,” kata Seol, suaranya cukup keras untuk didengar seluruh arena. “Darah dari ritual pengikatan darah yang ia lakukan di ruang bawah tanah di belakang sekte. Aku menemukannya bersama kitab terlarang Kitab Darah, Jilid Tiga. Dan di ruang itu, ada simbol Kultus Darah di dinding.”

Ia melemparkan kain itu ke arah wasit. Kain merah kecil itu melayang di udara, jatuh di kaki wasit, noda darahnya masih jelas terlihat.

Keheningan yang mematikan.

Kemudian, dari tribun kehormatan, suara Baek Yoon bergema: “Tangkap dia.”

Dua murid senior dari Sekte Pedang Surgawi melompat ke panggung. Kwak Jung tidak melawan. Ia hanya berlutut di sana, tubuhnya masih gemetar, cahaya merah perlahan memudar, meninggalkan wajah pucat yang tidak lagi mirip dengan dirinya yang dulu.

“Kwak Jung,” kata Baek Yoon, suaranya dingin, “kau didakwa menggunakan teknik terlarang, berkolaborasi dengan Kultus Darah, dan mengkhianati sekte. Semua bukti akan diselidiki. Untuk saat ini, kau ditahan.”

Kwak Jung mengangkat kepalanya. Matanya yang kini kembali hitam—meskipun ada sisa-sisa merah di sudutnya—menatap Seol.

“Kau… kau pikir ini selesai?” bisiknya, hanya untuk Seol. “Kau pikir dengan mengalahkanku, kau sudah menang? Mereka… mereka sudah ada di mana-mana. Dan mereka tidak akan berhenti sampai… sampai semua orang di sekte ini mati…”

Ia tertawa. Tawa kecil, parau, dan penuh keputusasaan. Dua murid senior menariknya berdiri dan membawanya keluar dari arena.

Seol berdiri di tengah panggung, darah masih menetes dari bahunya, pedang masih di tangannya. Di sekelilingnya, ribuan pasang mata menatap dengan ekspresi yang berbeda-beda: kagum, takut, hormat, curiga.

Wasit mengangkat tangannya, suaranya sedikit gemetar. “Pemenang: Ryu Seol. Dan Kwak Jung… didiskualifikasi.”

---

Setelah Pertandingan – Pujian dari Tetua

Seol diturunkan dari panggung dengan bantuan petugas medis. Luka di bahunya cukup dalam—pedang Kwak Jung menembus otot deltoid, nyaris mengenai arteri subklavia. Jika ia tidak menggeser tubuhnya beberapa inci sebelum tertusuk, ia mungkin sudah mati.

Petugas medis membalut lukanya dengan kain bersih, mengoleskan salep yang menghangatkan dan sedikit mengurangi rasa sakit. Seol duduk di bangku area istirahat, napasnya masih terengah, ketika sesosok bayangan menaunginya.

Ia mengangkat kepalanya.

Baek Yoon berdiri di depannya. Wajah kepala instruktur itu tidak lagi datar seperti biasanya. Ada sesuatu di matanya—sesuatu yang belum pernah Seol lihat sebelumnya.

Hormat.

“Kau berani,” kata Baek Yoon, suaranya berat. “Kau menyimpan bukti itu berbulan-bulan, menunggu saat yang tepat. Kau membiarkan dirimu ditusuk hanya untuk mendekati Kwak Jung cukup dekat untuk membuka rahasianya di depan semua orang.”

Seol tidak menjawab. Ia tidak tahu harus menjawab apa.

“Itu bodoh,” lanjut Baek Yoon. “Tapi juga berani. Dan berani dalam situasi seperti itu… adalah kualitas yang tidak bisa diajarkan.”

Ia meletakkan tangannya di bahu Seol yang tidak terluka. Sentuhan yang berat, tetapi tidak menekan.

“Kau telah melakukan pelayanan besar untuk sekte ini. Bukti yang kau berikan akan cukup untuk menyelidiki jaringan Kultus Darah di dalam sekte. Mungkin juga di sekte-sekte lain.” Ia menatap mata Seol. “Terima kasih.”

Seol membungkuk, meskipun bahunya sakit. “Aku hanya melakukan apa yang seharusnya, Sabeom-nim.”

Baek Yoon mengangguk. Ia berbalik dan pergi, meninggalkan Seol di bangku itu dengan perasaan yang aneh. Selama ini, ia hanya dikenal sebagai murid luar yang berbakat, atau murid dalam yang merepotkan. Sekarang, untuk pertama kalinya, ia merasa diakui.

---

Kejutan dari Seol Hwa

Seol sedang duduk di bangku itu, mencoba mengatur napas, ketika ia merasakan kehadiran seseorang di sampingnya. Ia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa itu. Aura qi-nya yang dingin namun terkendali sudah cukup familiar.

“Kau terluka,” kata Seol Hwa, suaranya datar seperti biasa. Tapi ada sesuatu di nada suaranya—sesuatu yang tidak pernah Seol dengar sebelumnya. Kekhawatiran? Tidak. Mungkin… kelegaan?

“Hanya luka kecil,” kata Seol. “Tidak akan mengganggu pertandingan berikutnya.”

“Kau bodoh.” Seol Hwa duduk di sampingnya, jarak hanya satu langkah. “Membiarkan dirimu ditusuk hanya untuk membuka rahasianya. Apa kau tidak berpikir ada cara lain?”

“Tidak ada waktu,” kata Seol. “Ia akan kehilangan kendali sepenuhnya jika aku menunggu lebih lama. Dan jika itu terjadi, ia akan membahayakan semua orang di arena.”

Seol Hwa menatapnya untuk waktu yang lama. Matanya yang hitam pekat biasanya sulit dibaca, tetapi kali ini, Seol melihat sesuatu yang jelas.

Kekaguman.

“Kau lebih dari yang kukira,” katanya pelan.

Seol mengerjap. “Apa?”

“Ketika pertama kali kau datang ke sekte, aku mengira kau hanya murid biasa. Berbakat, tetapi biasa. Lalu kau mendengar nyanyian pedang, dan aku mulai penasaran. Lalu kau lolos dari Gua Iblis dengan rekor tercepat, dan aku mulai memperhatikan. Lalu kau mengalahkan sepuluh murid luar tanpa pedang, dan aku mulai mengakui bakatmu.”

Ia menoleh, menatap langsung ke mata Seol.

“Tapi hari ini, kau menunjukkan sesuatu yang lebih dari bakat. Kau menunjukkan keberanian. Pengorbanan. Dan kecerdikan untuk menyimpan bukti selama berbulan-bulan, menunggu saat yang tepat untuk menggunakannya.” Ia tersenyum. Senyum yang sangat langka, sangat tipis, tetapi nyata. “Itu bukan sesuatu yang bisa diajarkan. Itu adalah sesuatu yang lahir dari pengalaman. Dari penderitaan. Dari tekad yang tidak pernah padam.”

Seol tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya duduk di sana, menatap Seol Hwa yang tersenyum, dan merasakan sesuatu yang aneh di dadanya. Bukan rasa sakit dari luka. Bukan kelelahan dari pertarungan. Sesuatu yang lebih hangat, lebih dalam, lebih sulit dijelaskan.

“Terima kasih,” katanya akhirnya.

Seol Hwa tidak menjawab. Ia berdiri, merapikan jubahnya, dan berjalan meninggalkan Seol.

Tapi sebelum ia pergi, ia berhenti sejenak. “Perban lukamu. Jangan sampai infeksi. Besok kau masih harus bertarung.”

Seol tersenyum. “Aku tahu.”

Seol Hwa melangkah pergi. Seol duduk di bangku itu, memandang punggungnya yang menjauh, dan untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa ia tidak hanya diakui oleh para tetua, tetapi juga oleh seseorang yang selama ini ia anggap tidak terjangkau.

---

Malam Hari – Di Penginapan

Seol berbaring di tempat tidurnya, bahu kirinya terbalut rapi, rasa sakit mulai mereda. Ia meraih Batu Giwa di sakunya. Batu itu hangat—hangat seperti ketika Gu bangun.

“Kau melakukannya dengan baik,” bisik Gu. “Kwak Jung sudah ditangkap. Tapi ini baru awal.”

“Aku tahu,” bisik Seol. “Cheonmyeong masih di sini. Dan ada peserta Kultus Darah lain yang lebih berbahaya.”

“Tapi kau tidak sendirian lagi. Kau punya teman sekarang. Kau punya Seol Hwa. Kau punya Baek Ho. Dan kau punya aku.”

Seol tersenyum. “Terima kasih, Gu.”

“Istirahatlah. Besok, babak semifinal. Lawanmu akan lebih kuat. Tapi aku tahu kau bisa.”

Seol memejamkan mata. Kelelahan mulai merayap masuk, tetapi pikirannya jernih. Ia sudah melewati satu rintangan besar. Kwak Jung sudah tidak lagi menjadi ancaman. Tapi Cheonmyeong masih di sana. Dan di balik Cheonmyeong, ada Doksa, pemimpin Kultus Darah, yang entah di mana.

Tapi untuk saat ini, ia cukup bahagia. Ia menang. Ia mengungkap kebenaran. Dan untuk pertama kalinya dalam perjalanannya yang panjang, ia merasa bahwa ia tidak hanya berjuang untuk dirinya sendiri, tetapi untuk sesuatu yang lebih besar.

Ia memejamkan mata, dan tidur datang dengan cepat.

---

1
yos helmi
💪💪💪💪💪😍😍😍
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍👍
yos helmi
😍😍😍👍👍👍💪💪💪💪
yos helmi
💪💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍👍
yos helmi
😄😄😄😍😍💪💪💪
yos helmi
💪💪💪🤣🤣🤣👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣👍👍
yos helmi
👍👍👍👍🤣🤣💪💪
yos helmi
💪💪💪💪💪💪👍
yos helmi
💪💪💪💪👍👍👍
Daryus Effendi
sampah
R.A.N
mana author
Q. Zlatan Ibrahim: halo terimakasih sudah berkunjung
total 1 replies
R.A.N
halo
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!