Yasmin selalu percaya bahwa kerapuhannya adalah kutukan, hingga Arya datang membawa kepastian di bawah senja. Di sana, mereka mencuri satu petak langit untuk saling memiliki. Namun, ketika ikrar telah terucap dan senja mulai meredup, semesta seolah menagih kembali kebahagiaan yang mereka dapatkan.
Dan, ketika kegelapan itu datang...
Yasmin tersadar satu hal, mereka tidak sedang memiliki senja, hanya sedang meminjamnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENOLAK, TAPI TAK INGIN
Aku sudah membayarmu lebih dulu, kenapa harus Arya yang menikmati tubuhmu lebih dulu? Kamu... berhutang padaku.
Kamu harus membayarnya, sayang. Awas saja kalau sampai Arya tahu.
Setiap inci kamar yang dihias cantik dengan aroma mawar itu mendadak berubah pengap. Yasmin merasa seolah-olah mata Tama masih mengawasinya dari balik kegelapan lorong tadi, menembus dinding kamar, dan menagih janji yang belum terucap. Bisikan ancaman itu...
Arya mendekat, memotong jarak di antara mereka usai mengunci pintu kamarnya dari belakang. Suara klik kunci yang berputar pelan itu terdengar seperti vonis yang Mengurung Yasmin dalam kegelisahan.
Sambil terus melangkah, Arya melepaskan tuxedo hitam yang sedari tadi menyelimuti tubuh tegapnya, seolah ingin segera menanggalkan beban formalitas yang terasa menyesakkan seharian ini.
Ia melemparkan jas itu ke sofa kecil di sudut ruangan, lalu jemarinya mulai bergerak cekatan melepaskan satu per dua kancing kemeja bagian atasnya. Napas Arya terdengar lebih teratur sekarang, kontras dengan deru jantung Yasmin yang kian tak karuan.
Bagi Arya, ini adalah awal dari kehidupan baru mereka. Namun bagi Yasmin, setiap inci kulit Arya yang tersingkap justru mengingatkannya pada bayangan Tama yang baru saja mengancamnya di lorong gelap tadi.
Kalau Arya memiliki Yasmin. Tama pun harus memilikinya.
Logika gila itu terasa mencekik. Yasmin menatap Arya yang kini hanya berjarak beberapa senti darinya—suami sahnya, pria yang menatapnya dengan binar cinta yang tulus. Namun, di balik bayangan Arya, sosok Tama seolah ikut berdiri di sana, mengklaim hak yang sama atas dirinya dengan cara yang paling menjijikkan.
"Yasmin?" Arya berbisik, jemarinya kini menyentuh lembut tengkuk Yasmin, menariknya perlahan untuk mendekat. "Kenapa melamun terus? Kamu seperti sedang melihat hantu."
Yasmin tersentak, mencoba memaksakan sebuah senyuman yang berakhir getir. Ia ingin berteriak bahwa memang benar ada hantu di sini—hantu bernama Tama yang baru saja mengoyak ketenangannya.
Tama telah menanamkan racun di malam pengantin mereka, memastikan bahwa meskipun Arya yang memiliki tubuhnya malam ini, pikiran Yasmin akan selalu terpenjara oleh bayang-bayang kakaknya.
Yasmin kemudian membuang muka, tak sanggup membalas tatapan Arya yang begitu memuja. Setiap inci perhatian yang diberikan suaminya justru terasa seperti sembilu yang menyayat hati, karena ia tahu, di luar pintu sana, ada mata lain yang sedang mengintai kemalangan ini.
"Mas... aku... aku ingin membersihkan diri dulu," ucap Yasmin terbata, suaranya pecah di ujung kalimat. "sebentar saja ya, Mas..."
Namun, belum sempat kaki Yasmin melangkah lebih jauh, sebuah cekalan lembut namun kokoh mendarat di pergelangan tangannya. Arya menahan kepergiannya. Gerakan itu tidak kasar, tapi cukup untuk membuat Yasmin terhenti seketika di tempatnya berdiri.
"Tunggu, Yasmin."
Suara Arya terdengar lebih berat, kali ini tanpa nada menggoda. Ia menarik pelan tangan istrinya, memaksa Yasmin untuk kembali berhadapan dengannya. Jarak di antara mereka kini terkikis habis. Aroma parfum maskulin Arya menyerbu indra penciuman Yasmin, namun yang dirasakannya hanyalah sesak yang kian menghimpit.
"Kalau begitu... biar aku yang bersihkan dirimu? Hmm?" Goda Arya.
Yasmin menggeleng lemah, mencoba menarik tangannya kembali, namun Arya justru mempererat genggamannya. Ibu jari Arya mengusap punggung tangan Yasmin, sebuah gerakan menenangkan yang justru membuat Yasmin ingin berteriak histeris.
Bagaimana ia bisa menjelaskan bahwa di balik dinding kamar ini, kakak suaminya sendiri baru saja meletakkan klaim yang mengerikan atas dirinya? Bahwa setiap sentuhan Arya sekarang terasa seperti pengkhianatan yang dipaksakan oleh ancaman Tama?
"Mas, aku ... aku mohon, jangan sekarang," bisik Yasmin dengan suara yang nyaris pecah.
Ia memejamkan mata rapat-rapat, mencoba menghalau bayangan seringai Tama yang seolah sedang menertawakannya dari balik dinding kamar ini. Kalimat godaan Arya yang seharusnya terdengar romantis, kini justru terasa seperti lonceng kematian bagi ketenangannya.
"Ya udah," kata Arya pelan.
Nada suaranya berubah—bukan lagi godaan nakal, melainkan helaan napas berat yang sarat akan kekecewaan yang tertahan. Ia perlahan melepaskan cengkeraman tangannya dari pergelangan tangan Yasmin. Ada jeda panjang yang menyesakkan di antara mereka, di mana hanya suara detak jam dinding yang terdengar mendominasi sunyinya kamar pengantin itu.
Arya lalu mundur selangkah, memberi ruang yang sedari tadi Yasmin dambakan, namun anehnya, ruang itu justru terasa hampa dan dingin. Ia berbalik memunggungi Yasmin, jemarinya saling berpaut di pangkuan saat ia duduk di tepi ranjang, menunduk menatap lantai.
"Kalau memang kamu belum siap, aku nggak akan paksa," lanjut Arya tanpa menoleh. Suaranya terdengar datar, namun Yasmin bisa merasakan ada luka yang terselip di sana. "Mungkin aku yang terlalu bersemangat sampai nggak sadar kalau kamu kecapekan... atau ketakutan."
Yasmin terpaku. Ia ingin menjelaskan bahwa ketakutannya bukan berasal dari Arya, melainkan dari monster yang baru saja mereka lewati di lorong tadi. Bahkan, bayangan Tama yang berbisik 'Kamu harus membayarnya' kembali melintas, seolah pria itu sedang berdiri di sudut gelap kamar, mengawasi setiap gerak-geriknya dengan senyum kemenangan.
Setiap langkah yang ingin diambil Yasmin menuju Arya terasa seperti langkah menuju jurang. Ia terjepit dalam dilema yang menyiksa, membiarkan suaminya terluka karena penolakan ini, atau mempertaruhkan segalanya jika ia nekat membuka mulut.
"Maaf, Mas..." bisik Yasmin nyaris tak terdengar, sebelum akhirnya ia masuk ke kamar mandi dan mengunci pintunya dengan tangan yang masih gemetar hebat.
****