NovelToon NovelToon
Kaisar Pedang Penelan Surga

Kaisar Pedang Penelan Surga

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Sistem / Balas Dendam
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Di Sekte Langit Biru, Xiao Fan hanyalah murid sampah yang terdampar di Alam Kondensasi Qi lapis pertama. Dicemooh, dihina, dan nyaris diusir ke dapur luar—ia dianggap sebagai aib terbesar sekte. Namun, tak seorang pun tahu bahwa di balik tubuh lemahnya, tersimpan jiwa Kaisar Pedang yang pernah mengguncang sembilan langit. Selama tiga tahun, pedang kuno bernama Penelan Surga menggerogoti seluruh kultivasinya. Kini, pedang itu telah terbangun. Dengan teknik terlarang yang membalikkan hukum Surga dan Bumi, Xiao Fan memulai jalan sunyinya sebagai Kaisar Pedang Iblis. Misi pertamanya: menghancurkan sekte yang merendahkannya... hanya dalam seratus hari. Namun bagi Xiao Fan, tiga hari sudah lebih dari cukup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Tiga Penyusup Berjubah Merah

Langit di atas Puncak Utama berwarna jingga kelam.

Bukan karena matahari terbenam—matahari masih tinggi. Warna itu berasal dari api yang membakar Paviliun Kitab Suci. Asap hitam membubung, bercampur dengan teriakan para murid yang berlarian menyelamatkan diri.

Xiao Fan berdiri di ambang pintu gubuknya, menatap kekacauan itu dengan mata dingin. Di belakangnya, Liu Ruyan ikut menatap dengan ekspresi campur aduk antara takut dan... penasaran.

"Apa yang terjadi?" tanyanya lirih.

"Penyusup," jawab Xiao Fan singkat. "Tiga orang. Kultivasi mereka di atas rata-rata Tetua."

Ia bisa merasakannya. Qi yang terpancar dari ketiga sosok berjubah merah itu kental, liar, dan penuh niat membunuh. Bukan kultivator biasa. Mereka berasal dari jalur iblis.

Sistem di kepalanya bersuara.

[Analisis selesai.]

[Penyusup 1: Alam Fondasi Inti Puncak. Jalur Api.]

[Penyusup 2: Alam Fondasi Inti Menengah. Jalur Racun.]

[Penyusup 3: Alam Fondasi Inti Awal. Jalur Bayangan.]

[Misi sampingan: Bunuh ketiganya. Serap inti mereka untuk memulihkan fragmen Pedang Penelan Surga.]

[Hadiah tambahan: Teknik Pedang Bayangan Maut.]

Xiao Fan menyeringai tipis. Fragmen kedua. Pedang Penelan Surga di lautan kesadarannya bergetar pelan, seolah menangkap niat tuannya. Ia lapar. Lapar akan darah para penyusup itu.

"Tetap di sini," katanya pada Liu Ruyan. "Jangan keluar sampai aku kembali."

Gadis itu mengangguk, tapi matanya berkata lain. Ada keinginan untuk ikut. Untuk melihat. Untuk membuktikan bahwa ia tidak lemah.

Xiao Fan tidak menunggu jawaban. Ia melangkah keluar dan menghilang ke dalam bayangan pepohonan.

---

Puncak Utama kacau balau.

Lima murid elit tergeletak di tanah dengan luka bakar parah. Tiga pelayan tewas seketika terkena racun yang menyebar melalui udara. Bahkan dua Tetua tingkat Fondasi Inti Awal sudah mundur dengan wajah pucat.

Hanya Tetua Leng Yue yang masih berdiri tegak. Pedangnya terhunus. Napasnya terengah. Luka di bahu kirinya mengeluarkan darah hitam—tanda racun sudah mulai menjalar.

Di hadapannya, tiga sosok berjubah merah melayang di udara. Yang tertinggi di antara mereka, seorang pria botak dengan tato api di sekujur kepalanya, tertawa rendah.

"Tetua Leng Yue. Kau sudah tua. Serahkan saja Kitab Api Matahari, dan kami akan pergi tanpa membunuh lebih banyak muridmu."

Leng Yue mendesis. "Kitab itu pusaka sekte. Aku lebih baik mati daripada menyerahkannya pada sampah Jalur Iblis."

Pria botak itu mengangkat bahu. "Terserah. Tapi ingat, kematianmu tidak akan mengubah apa pun. Kami tetap akan mengambilnya dari mayatmu."

Ia mengangkat tangan. Bola api raksasa terbentuk di atas telapaknya, membesar dengan cepat. Panasnya terasa hingga puluhan meter. Para murid yang bersembunyi di kejauhan menjerit ketakutan.

Leng Yue mengangkat pedangnya untuk menangkis, tapi ia tahu itu sia-sia. Racun sudah membuat tubuhnya kaku. Gerakannya melambat. Bola api itu akan menghancurkannya.

"Teknik Langkah Bayangan Senyap."

Angin berhenti sejenak.

Pria botak itu mengernyit. Ia kehilangan jejak aura Tetua Leng Yue. Tidak—lebih tepatnya, sesuatu menutupi aura itu. Sesuatu yang gelap. Sesuatu yang dingin.

Bola api di tangannya tiba-tiba padam.

"Apa—"

Sebuah pukulan telak menghantam tulang rusuknya dari samping. Pria botak itu terpental seperti boneka kain, menabrak dinding Paviliun Kitab Suci yang sudah setengah runtuh. Debu beterbangan.

Kedua rekannya tersentak. "Siapa?!"

Dari balik debu, sesosok pemuda berjubah lusuh melangkah santai. Rambutnya tergerai menutupi setengah wajah. Matanya—satu emas, satu hitam—bersinar redup di tengah kegelapan asap.

Xiao Fan.

Di kejauhan, Tetua Leng Yue terbelalak. "Kau... Xiao Fan?!"

Pemuda itu tidak menjawab. Ia menatap dua penyusup yang tersisa dengan tatapan bosan. "Kalian dari Sekte Api Merah, ya? Aku ingat sekte itu. Dulu kalian cuma sekte kecil yang menjilat sepatu Kaisar Pedang agar tidak dimusnahkan."

Penyusup kedua—seorang wanita kurus dengan kuku panjang berwarna ungu—menyeringai. "Kaisar Pedang? Itu cuma legenda kuno, bocah. Dan kau... kau hanya sampah Kondensasi Qi. Bagaimana bisa kau memukul pemimpinku?"

Xiao Fan mengangkat bahu. "Mungkin karena pemimpinmu terlalu lemah."

Wanita itu mendengus. Kukunya memanjang seketika, berubah menjadi cakar racun. Ia melesat ke arah Xiao Fan dengan kecepatan tinggi. Udara di sekitarnya berubah menjadi kabut ungu beracun.

Xiao Fan tidak bergerak.

"Teknik Pedang Bayangan Maut."

Suara sistem bergema. Teknik baru itu langsung diunduh ke dalam otot dan sarafnya, seolah ia sudah menguasainya selama ribuan tahun.

Satu gerakan tangan. Hanya satu.

Wanita itu berhenti tepat satu langkah di depan Xiao Fan. Matanya membelalak. Mulutnya terbuka. Lalu tubuhnya terbelah menjadi dua bagian sempurna, dari kepala hingga selangkangan. Darah menyembur ke segala arah, tapi tidak setetes pun mengenai Xiao Fan.

Penyusup ketiga—pria pendek yang sedari tadi bersembunyi di bayangan—berteriak histeris. "Mustahil! Kau bahkan tidak punya pedang!"

Xiao Fan menatapnya dengan mata hitam pekatnya. "Pedang? Pedangku sedang tidur. Tapi untuk sampah sepertimu, aku bahkan tidak perlu membangunkannya."

Ia menjentikkan jari.

Pria pendek itu tiba-tiba merasa sesuatu mencengkeram jantungnya. Dari dalam. Sesuatu yang dingin. Sesuatu yang lapar.

Qi Kematian.

Ia ingin berteriak, tapi suaranya hilang. Tubuhnya mengejang, lalu ambruk ke tanah. Matanya kosong. Jantungnya berhenti.

Satu penyusup tewas terbelah. Satu tewas dari dalam. Tinggal satu lagi.

Pria botak itu merangkak keluar dari reruntuhan. Wajahnya penuh darah dan ketakutan. "Siapa... siapa kau sebenarnya?!"

Xiao Fan berjalan mendekat. Setiap langkahnya membuat pria botak itu merosot mundur. "Aku? Aku hanya juru masak di sekte ini."

Ia berjongkok di depan pria itu. Tangannya menyentuh dahi pria botak itu dengan lembut.

"Tapi di kehidupan sebelumnya, aku dipanggil Kaisar Pedang."

Serap.

Tubuh pria botak itu mengejang hebat. Inti Fondasi-nya—kristal merah menyala di pusat kultivasinya—retak dan tersedot keluar melalui sentuhan Xiao Fan. Energi itu mengalir langsung ke lautan kesadarannya, disambut oleh Pedang Penelan Surga yang bergetar kegirangan.

[Inti Api diserap. Pemulihan fragmen kedua: 33%.]

Xiao Fan berdiri. Dua mayat lagi di dekatnya mulai mengeluarkan inti mereka—ungu untuk racun, hitam untuk bayangan. Ia menyentuhnya bergantian.

[Inti Racun diserap. Pemulihan: 66%.]

[Inti Bayangan diserap. Pemulihan: 99%.]

[Diperlukan satu inti lagi untuk menyelesaikan fragmen kedua.]

Xiao Fan menghela napas. Hampir.

Ia menoleh ke arah Tetua Leng Yue yang masih terpaku, wajahnya campuran antara syok, takut, dan... harapan.

"Tetua," kata Xiao Fan datar. "Kau berhutang nyawa padaku."

Leng Yue menelan ludah. "Xiao Fan... siapa kau? Apa yang kau sembunyikan selama ini?"

Xiao Fan tidak menjawab. Ia menatap langit yang mulai gelap. Malam kedua hampir berakhir. Besok adalah hari ketiga.

"Satu hari lagi," bisiknya pada diri sendiri. "Besok, Sekte Langit Biru akan tahu siapa aku sebenarnya."

Ia berbalik dan berjalan kembali ke Puncak Pelana Kayu, meninggalkan Tetua Leng Yue yang masih berlutut di antara mayat tiga penyusup, dan langit yang mulai diguyur hujan abu.

Di gubuk reyot, Liu Ruyan menunggunya dengan mata berbinar.

"Kau... kau membunuh mereka semua sendirian?"

Xiao Fan duduk di tikar pandan dan menutup mata. "Tidur. Besok akan menjadi hari yang panjang."

Gadis itu tidak membantah. Tapi sebelum memejamkan mata, ia berbisik, "Terima kasih."

Xiao Fan tidak menjawab. Tapi sudut bibirnya terangkat tipis.

[Malam kedua selesai. Sisa waktu: 1 hari.]

[Peringatan: Tetua Pertama mendeteksi anomali energi di Puncak Pelana Kayu. Ia sedang dalam perjalanan ke sana.]

Mata Xiao Fan terbuka kembali.

Ternyata malam kedua belum benar-benar berakhir.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!