NovelToon NovelToon
Dikhianati Tunanganku, Dinikahi CEO Dingin

Dikhianati Tunanganku, Dinikahi CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Pernikahan Kilat / Selingkuh / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Puteri Bulan

Di atas karpet merah pertunangannya, Aeryn Valerine menyaksikan dunianya runtuh. Tunangannya berselingkuh dengan sang adik tiri, lengkap dengan rencana licik mencuri seluruh warisannya. Namun, Aeryn bukan wanita yang akan menangis di pojokan. Dengan gaun sutra yang memikat, ia melangkah tenang menghampiri Xavier Arkananta—sang CEO "Ice King" yang paling ditakuti.

"Nikahi aku, dan aku akan memberimu kekuasaan yang tak bisa dibeli uang," bisik Aeryn dingin.

Xavier menerima kesepakatan gila itu, tapi ia punya motif tersembunyi yang jauh lebih gelap. Saat dendam mulai terbalaskan secara elegan, Aeryn menyadari satu hal: Menikahi setan adalah cara terbaik untuk menghancurkan iblis. Tapi, bagaimana jika sang setan menginginkan lebih dari sekadar kontrak bisnis?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puteri Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21

Pagi itu, gedung Valerine Jewels tampak berbeda di mata Aeryn. Tidak ada lagi rasa bangga yang meluap seperti saat ia pertama kali mengambil alih. Yang ada hanyalah beban berat yang menghimpit pundaknya. Ia datang tanpa pengawalan Hugo, tanpa mobil mewah dari garasi Xavier. Ia memilih naik taksi, turun di lobi, dan berjalan masuk dengan kepala tegak, meskipun hatinya masih terasa perih akibat konfrontasi semalam.

Di jarinya tak ada lagi cincin berlian. Hanya ada bekas kemerahan tipis yang tersisa, sebuah pengingat fisik dari ikatan yang baru saja ia lepaskan.

"Nyonya Aeryn, Anda sudah ditunggu di ruang rapat," sekretaris lamanya, Sita, menyambut dengan wajah cemas. "Tuan-tuan dari dewan direksi sudah berkumpul sejak tiga puluh menit lalu. Suasananya... kurang baik, Nyonya."

"Terima kasih, Sita. Siapkan laporannya sekarang," jawab Aeryn singkat.

"Tapi Nyonya... Tuan Xavier menelepon pagi tadi. Beliau terdengar sangat tegas. Beliau menawarkan tim audit tambahan untuk mendampingi Anda menghadapi dewan," Sita mengekor di belakang Aeryn dengan langkah kecil yang terburu-buru.

Langkah Aeryn terhenti mendadak. Ia menoleh perlahan, menatap Sita dengan pandangan dingin yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya. "Katakan pada pihak Arkananta, aku tidak butuh pendamping. Dan jangan pernah menerima telepon dari kantor itu tanpa seizinku. Mulai hari ini, Valerine Jewels berdiri dengan kakinya sendiri. Apakah itu jelas?"

Sita tertegun, bibirnya sedikit terbuka namun ia hanya bisa mengangguk patuh. "Jelas, Nyonya."

Aeryn melanjutkan langkahnya menuju ruang rapat utama. Saat pintu terbuka, aroma cerutu yang berat dan kopi pahit menyambutnya. Enam orang pria paruh baya—sekutu-sekutu lama ayahnya—duduk melingkar dengan ekspresi meremehkan. Mereka tampak seperti burung bangkai yang sedang menunggu bangkai perusahaan ini benar-benar membusuk.

Aeryn duduk di kursi utama, meletakkan tasnya dengan suara brak yang cukup keras untuk menuntut perhatian. "Selamat pagi, Tuan-tuan. Mari kita mulai. Aku tidak punya banyak waktu."

Pria di ujung meja, Pak Hendra, berdehem keras, sengaja membuat suara yang mengganggu. "Selamat pagi, Nyonya Arkananta. Sebenarnya kami terkejut Anda datang sendiri. Tanpa asisten, tanpa pengawal. Di mana suami Anda? Bukankah Arkananta Group yang memegang kendali finansial kita sekarang?"

"Namaku Aeryn Valerine," koreksi Aeryn dengan suara tenang namun tajam. "Gunakan nama itu di dalam gedung ini. Dan soal finansial, aku sudah mengajukan pemisahan aset. Valerine Jewels akan mengembalikan modal awal yang diberikan Arkananta dalam bentuk cicilan tetap. Kita akan mandiri, tanpa intervensi pihak luar."

Gelak tawa sinis terdengar dari Pak Broto, pria paling gemuk di ruangan itu yang selalu memihak Baskara. "Mandiri? Nyonya muda, jangan bicara soal dongeng di sini. Dengan apa kita mandiri? Stok perhiasan kita hancur karena skandal Kaelan. Kepercayaan investor berada di titik nadir. Tanpa suntikan dana dari Xavier setiap bulan, gedung ini hanya tinggal menunggu waktu untuk disita bank. Anda ingin kami semua ikut jatuh miskin karena ego Anda?"

"Itu sebabnya aku menyiapkan koleksi baru. The True Heart. Aku sudah menyelesaikan sketsanya semalam. Kita akan merilisnya minggu depan sebagai simbol kebangkitan kita," sahut Aeryn, mencoba mempertahankan nada bicaranya agar tetap stabil.

"Koleksi baru butuh modal produksi yang besar, Aeryn," Hendra menimpali sambil menyandarkan punggung, memutar-mutar pena emasnya. "Kami sudah melakukan pemungutan suara kecil sebelum Anda masuk. Kami merasa kepemimpinan Anda terlalu berisiko. Anda masih emosional, terlalu muda, dan sekarang Anda malah ingin memutuskan hubungan dengan pelindung terkuat kita hanya karena masalah rumah tangga?"

Aeryn mengepalkan tangannya di bawah meja hingga kuku-kukunya menusuk telapak tangan. "Aku pemilik saham mayoritas di sini. Keputusanku adalah hukum."

"Saham mayoritas yang didapat dari hibah suami," celetuk Broto pedas, suaranya naik satu oktaf. "Kami, sebagai pemegang saham minoritas yang sudah membangun perusahaan ini bersama Baskara selama puluhan tahun, punya hak untuk mengajukan mosi tidak percaya jika kami merasa aset kami terancam. Dan saat ini, kami merasa sangat terancam oleh sikap arogan Anda."

"Kalian tidak takut aset terancam," balas Aeryn, menatap Broto tepat di matanya. "Kalian hanya takut kehilangan komisi gelap yang biasa kalian terima dari ayahku. Aku sudah melihat laporan pengeluaran tidak resmi kalian."

Wajah Broto memerah. "Beraninya Anda!"

"Kami takut bangkrut!" Hendra kembali menggebrak meja, memutus perdebatan.

"Dengar, Aeryn. Jika hari ini tidak ada jaminan dana segar yang masuk ke rekening perusahaan untuk menutupi biaya operasional bulan depan, kami akan membawa masalah ini ke pengadilan. Kami akan menunjuk kurator independen untuk mengambil alih. Anda akan kehilangan kursi itu, dan kita semua akan menjual perusahaan ini ke penawar tertinggi."

Ruangan menjadi sangat tegang. Aeryn menatap mereka satu per satu. Ia tahu mereka sengaja menekannya tepat di titik terlemah. Mereka ingin Aeryn menyerah, menangis, dan kembali merangkak pada Xavier agar Arkananta kembali menyetor uang.

"Beri aku waktu tiga hari untuk mencari investor baru," ucap Aeryn.

"Tiga hari?" Hendra tertawa dingin. "Bahkan tiga jam pun kami tidak punya. Kreditur sudah menelepon pagi ini. Pilihannya hanya dua: panggil Xavier Arkananta ke sini sekarang juga untuk menandatangani jaminan utang baru, atau serahkan surat pengunduran diri Anda. Jangan buat kami menunggu."

Aeryn terdiam. Ia merasa terjepit di sudut ruangan yang sempit. Bayangan wajah Xavier semalam kembali muncul—tatapannya yang seolah berkata bahwa Aeryn tidak akan bisa bertahan satu jam pun tanpa bayang-bayangnya. Apakah ini akhirnya?

Apakah ia harus menjilat ludahnya sendiri dan memohon pada pria yang telah membohonginya seumur hidup?

Tiba-tiba, pintu ruang rapat terbuka lebar tanpa ketukan. Semua kepala menoleh dengan kaget, termasuk Aeryn yang hampir saja kehilangan harapannya.

Seorang pria dengan setelan jas berwarna abu-abu terang dan kemeja sutra tanpa dasi melangkah masuk dengan gaya santai. Wajahnya tampan, dengan garis rahang yang tegas namun memiliki senyum yang sedikit nakal. Ia memegang sebuah map tipis di tangannya, seolah ia baru saja memenangkan lotre.

"Maaf aku terlambat," ucap pria itu dengan suara bariton yang berat namun terdengar sangat santai. "Lalu lintas Jakarta benar-benar tidak ramah pada orang baru seperti saya."

"Siapa Anda? Ini rapat tertutup! Keamanan!" bentak Hendra sambil berdiri.

Pria itu mengabaikan Hendra seolah pria tua itu hanya udara kosong. Ia berjalan langsung menuju Aeryn. Tanpa ragu, ia mengambil tangan Aeryn—tangan yang kini polos tanpa cincin—dan mengecup punggung tangannya dengan sopan namun sangat percaya diri. Sentuhannya terasa hangat, berbeda dengan genggaman Xavier yang selalu terasa seperti es.

"Aeryn Valerine, aku berasumsi? Kau jauh lebih cantik daripada yang digambarkan majalah bisnis," tanya pria itu. Matanya yang berwarna cokelat terang menatap Aeryn dengan ketertarikan yang tidak disembunyikan.

"Siapa Anda?" tanya Aeryn, menarik tangannya perlahan. Ia merasa bingung sekaligus terkejut.

Pria itu berbalik menghadap dewan direksi, lalu melemparkan mapnya ke tengah meja dengan gaya teatrikal. "Namaku Julian Vander. Dan aku baru saja membeli lima belas persen saham minoritas dari dua rekan kalian di ruangan ini yang mendadak butuh uang untuk membayar utang judi mereka pagi ini."

Hendra dan Broto saling pandang dengan wajah pucat pasi. Dua kursi di ujung meja memang kosong hari ini.

"Julian... dari Vander Group?" gumam Broto. "Rival Arkananta di Singapura?"

"Tepat sekali," Julian tersenyum lebar, menampakkan deretan gigi putih yang sempurna. "Aku mendengar ada seorang ratu yang sedang mencoba membangun kembali kerajaannya tanpa bantuan 'kaisar' yang sombong dan membosankan itu. Dan kebetulan, aku sangat suka mendukung sebuah pemberontakan yang indah."

Julian melirik Aeryn, lalu mengedipkan sebelah matanya dengan nakal. "Aku tidak butuh jaminan utang dari Arkananta untuk mempercayaimu, Aeryn. Aku membawa cek tunai senilai lima puluh miliar untuk modal awal produksi koleksi barumu. Tanpa bunga, tanpa jaminan gedung. Hanya dengan satu syarat sederhana."

"Syarat apa?" tanya Aeryn waspada, mencoba mencari tahu di mana letak perangkapnya.

"Jadikan aku sekutu terdekatmu. Biarkan aku masuk ke dalam jajaran direksi ini sebagai penyeimbang," Julian menatap para direktur lainnya dengan pandangan meremehkan.

"Dan biarkan aku membuktikan padamu, bahwa tidak semua pria kuat di dunia ini ingin mengurungmu di dalam brankas gelap."

Aeryn menatap cek yang diletakkan Julian di atas meja. Angka di sana lebih dari cukup untuk menendang pengaruh finansial Xavier keluar dari pembukuan perusahaan ini untuk selamanya. Ini adalah kemerdekaan yang ia cari, meskipun datang dari tangan orang asing.

"Kenapa Anda melakukan ini?" tanya Aeryn lagi, suaranya kini lebih stabil. "Kita tidak pernah bertemu sebelumnya."

Julian tertawa kecil, suara tawanya terdengar sangat menyenangkan namun penuh rahasia. Ia mencondongkan tubuh ke arah Aeryn, mendekatkan wajahnya hingga Aeryn bisa mencium aroma parfum citrus yang segar.

"Karena aku sudah lama sekali ingin melihat Xavier Arkananta kalah dalam permainannya sendiri," bisik Julian tepat di telinga Aeryn.

"Dan kurasa, kunci kekalahan telaknya ada di tanganmu, Aeryn. Bagaimana? Apakah kita punya kesepakatan?"

Aeryn terdiam sejenak, lalu perlahan ia mengulurkan tangannya. "Selamat datang di dewan direksi, Tuan Vander."

Di luar gedung, sebuah mobil sedan hitam dengan kaca gelap terparkir diam di seberang jalan. Di kursi belakang, Xavier Arkananta mengepalkan tangan hingga buku jarinya memutih, urat-urat di tangannya menonjol tajam. Ia menatap layar tablet yang menampilkan rekaman CCTV ruang rapat yang telah disadapnya. Ia melihat setiap detik saat Julian mencium tangan istrinya, dan ia melihat Aeryn tersenyum tipis pada rival terbesarnya itu.

"Tuan, apakah kita harus masuk?" tanya Hugo dengan suara rendah dari kursi kemudi.

"Tidak," jawab Xavier, suaranya terdengar seperti geraman serigala yang terluka. "Biarkan dia merasa bebas sebentar lagi. Aku ingin tahu sejauh mana Julian berani bermain api dengan milikku."

1
Sinta Devi
bikin ketagihan bacanya 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!