Seorang Kaisar Abadi yang berkuasa dan ditakuti di seluruh alam semesta dikhianati dan dibunuh oleh orang-orang terdekatnya. Namun, alih-alih jiwanya hancur, ia terbangun kembali sebagai seorang pemuda tak berguna di sebuah klan kecil yang hampir punah, ribuan tahun di masa depan. Dengan semua ingatan dan pengetahuannya yang luas dari kehidupan sebelumnya, ia memulai kembali perjalanan kultivasinya. Kali ini, ia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Benang Emas
Arga berjalan terseok-seok menjauhi tepian sungai yang hangus. Asap masih mengepul di belakangnya, membawa aroma daging terbakar—entah milik pemburu atau binatang-binatang kecil yang terjebak dalam amukan Naga Bumi. Ia tidak menoleh. Setiap langkah adalah perjuangan. Tulang rusuknya yang retak, bahunya yang melepuh, dan puluhan luka kecil di sekujur tubuhnya berteriak meminta istirahat. Tapi ia tidak bisa berhenti. Api hutan akan segera menarik perhatian—monster lain, pemburu lain, atau sesuatu yang lebih buruk.
Benang Perak di Dantian-nya berdenyut dengan ritme yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Sembilan ruas jari. Sempurna. Genap. Setiap denyutnya mengirimkan gelombang energi ke seluruh tubuhnya, menutupi rasa sakit dengan kehangatan yang aneh. Inti Monster Tingkat Raja di balik bajunya—kini hanya separuh dari ukuran aslinya—masih berpendar lemah, terus mengalirkan sisa energinya ke dalam tubuh Arga.
Aku harus menemukan tempat yang aman. Transformasi ini tidak bisa ditunda.
Ia teringat bagian dari kitab warisan: "Saat Benang Perak mencapai sembilan ruas jari, pemilik harus segera melakukan transformasi. Menunda hanya akan membuat energi tidak stabil dan merusak fondasi."
Setelah setengah jam berjalan, ia menemukan tempat yang dicarinya. Sebuah gua kecil di lereng bukit, tersembunyi di balik air terjun kecil yang jatuh dari tebing. Mulut gua tertutup tirai air—perlindungan alami yang akan menyamarkan auranya dari monster atau pemburu yang lewat. Arga menerobos air terjun, tubuhnya basah kuyup, dan masuk ke dalam.
Gua itu sempit, mungkin hanya selebar tiga rentangan tangan, dengan langit-langit rendah yang membuatnya harus menunduk. Tapi di bagian terdalam, ada ruang kecil yang kering, beralaskan pasir halus. Cahaya dari luar menembus tirai air, menciptakan bias pelangi di dinding-dinding batu.
Cukup.
Arga duduk bersila di atas pasir. Ia mengeluarkan Inti Monster Tingkat Raja dari balik bajunya. Bola emas itu kini hanya seukuran telur ayam, berpendar redup seperti bara api yang hampir padam. Separuh energinya sudah terserap ke dalam Benang Perak selama pertarungan tadi. Separuh sisanya—inilah yang akan menjadi katalis transformasi.
Ia meletakkan inti di pangkuannya, lalu menutup mata.
Teknik Pernapasan Kaisar Kuning.
Napasnya melambat. Dunia luar menghilang. Yang ada hanya dirinya, inti emas di pangkuannya, dan Benang Perak di Dantian-nya yang kini berdenyut semakin kencang.
Ia mulai menarik energi dari inti. Bukan seperti sebelumnya—perlahan, setetes demi setetes. Kali ini ia membuka seluruh salurannya. Energi emas mengalir deras seperti sungai banjir, membanjiri Dantian-nya.
Sakit.
Rasa sakit yang luar biasa. Seolah-olah setiap sel di tubuhnya direnggangkan, diisi dengan sesuatu yang terlalu besar untuk ditampung. Benang Perak di Dantian-nya bergerak liar, melilit energi emas yang masuk, menyerapnya dengan rakus.
Transformasi dimulai.
---
Di dalam kesadarannya sendiri, Arga melihat Benang Perak itu berubah.
Warna peraknya yang tadinya dingin kini mulai bercampur dengan emas. Bukan emas biasa—emas yang berpendar, emas yang seolah mengandung cahaya matahari terbit. Benang itu bergerak-gerak, berputar di dalam Dantian-nya, membentuk pola-pola yang rumit. Pola-pola yang tampak familiar.
Formasi? pikirnya. Benang ini... membentuk formasi di dalam Dantian-ku.
Ia mengamati lebih dekat. Pola yang terbentuk bukanlah formasi sembarangan. Itu adalah formasi kuno—formasi yang bahkan ia, dengan tiga ribu tahun pengetahuannya, hanya pernah melihatnya sekali. Di dalam kitab warisan Langit Kesepuluh.
Formasi Gerbang Langit.
Formasi ini adalah fondasi. Fondasi untuk membangun sesuatu yang lebih besar. Bukan sekadar kultivasi—melainkan sebuah jembatan. Jembatan antara dunia fana dan Langit Kesepuluh.
Benang itu terus berputar, membentuk pola yang semakin kompleks. Perak bercampur emas, menciptakan warna yang tidak bisa ia deskripsikan—seperti cahaya fajar yang pertama kali menyentuh bumi.
Lalu, tiba-tiba, semuanya berhenti.
Di dalam Dantian-nya, Benang Perak telah menghilang. Sebagai gantinya, terbentang sebuah benang tunggal—panjangnya sama, sembilan ruas jari—tapi warnanya emas murni. Berkilauan. Hidup.
Benang Emas.
Arga membuka matanya. Tubuhnya gemetar. Keringat membasahi seluruh tubuhnya, bercampur dengan air dari air terjun yang masih menetes dari pakaiannya. Tapi ia merasa... berbeda.
Ia mengepalkan tangannya. Kekuatan. Kekuatan yang jauh melampaui apa yang ia miliki sebelumnya. Ini bukan sekadar peningkatan level kultivasi. Ini adalah lompatan eksistensial.
Teknik... apakah ada teknik baru?
Ia menutup mata lagi, mencari ke dalam benaknya. Warisan dari Langit Kesepuluh biasanya memberikan teknik baru setiap kali ia mencapai tonggak tertentu. Langkah Bayangan Bulan di tahap awal. Cakaran Naga Penghancur di enam ruas jari. Perisai Langit Kesepuluh di delapan ruas jari.
Apa yang kudapatkan di Benang Emas?
Jawabannya datang tidak dalam bentuk teknik. Melainkan dalam bentuk... pemahaman.
Kendali.
Benang Emas memberinya kendali yang lebih besar atas ketiga teknik sebelumnya. Bukan teknik baru—melainkan kemampuan untuk menggunakan teknik-teknik yang sudah ia miliki dengan lebih efisien, lebih kuat, lebih lama. Perisai Langit Kesepuluh yang sebelumnya hanya bertahan tiga detik kini bisa bertahan sepuluh detik. Cakaran Naga Penghancur bisa ia gunakan tiga kali berturut-turut tanpa kehabisan energi. Langkah Bayangan Bulan bisa ia pertahankan untuk jarak yang lebih jauh.
Dan ada satu hal lagi. Sesuatu yang lebih halus. Lebih dalam.
Koneksi.
Untuk pertama kalinya, ia merasakan sesuatu di atas sana. Jauh di atas sembilan langit. Sebuah tarikan halus, seperti bisikan yang tidak bisa ia pahami sepenuhnya. Langit Kesepuluh. Ia merasakan kehadirannya. Samar, tapi nyata.
Suatu hari nanti, pikirnya. Aku akan mencapai sana.
---
Arga membuka matanya. Gua di sekelilingnya masih sama—sempit, gelap, dengan bias pelangi dari tirai air terjun. Tapi ia melihatnya dengan cara yang berbeda. Indranya lebih tajam. Ia bisa merasakan aliran air di luar, getaran langkah binatang-binatang kecil di atas bukit, bahkan detak jantungnya sendiri yang kini lebih lambat dan lebih kuat.
Ia menatap pangkuannya. Inti Monster Tingkat Raja telah menghilang. Terserap sepenuhnya.
Berhasil.
Ia bangkit. Tubuhnya masih terasa sakit—luka-lukanya belum sembuh sepenuhnya. Tapi rasa sakit itu kini terasa jauh, seperti suara dari kejauhan. Yang dominan adalah kekuatan baru yang mengalir di dalam dirinya. Benang Emas di Dantian-nya berdenyut tenang, siap digunakan.
Arga berjalan menuju mulut gua, menerobos tirai air terjun, dan keluar ke dunia luar. Matahari sudah condong ke barat—ia telah bermeditasi selama hampir seharian penuh. Hutan di sekelilingnya basah oleh percikan air terjun, hijau dan hidup.
Ia menarik napas dalam-dalam. Udara terasa berbeda. Lebih kaya. Lebih penuh dengan... sesuatu.
Qi. Tapi bukan Qi biasa. Ini adalah Qi yang telah tersentuh oleh energinya sendiri. Benang Emas di Dantian-nya tidak hanya menyerap Qi—ia juga memancarkan sesuatu ke sekelilingnya. Mempengaruhi lingkungan.
Ini... kekuatan seorang raja.
Bukan raja dalam arti politik. Melainkan raja dalam arti eksistensial. Makhluk yang berdiri di puncak rantai makanan spiritual.
Arga tersenyum. Untuk pertama kalinya sejak terbangun di tubuh ini, ia merasa benar-benar hidup.
Tapi senyumannya memudar saat ia mendengar suara itu.
Suara langkah kaki. Bukan satu orang. Banyak. Setidaknya selusin. Mereka bergerak mendekat dari arah lembah—dari arah tempat Naga Bumi dan pemburu bertarung.
Mereka datang.
Arga mengaktifkan Langkah Bayangan Bulan. Dengan Benang Emas, gerakannya kini lebih cepat, lebih senyap, lebih presisi. Ia melesat ke atas bukit, mencari posisi tinggi untuk mengamati.
Dari atas, ia melihat mereka. Dua belas orang berjubah hitam—seragam yang sama dengan pemburu yang tewas. Di depan mereka, seorang pria berjubah merah marun. Bukan Baskara. Seseorang yang lebih tua, dengan rambut putih dan tongkat berkepala ular.
Aura ranah Pondasi. Puncak. Hampir menyentuh Inti Emas.
Pria itu berhenti. Ia menatap ke arah bukit—ke arah Arga bersembunyi.
"Aku tahu kau di sana," suaranya dalam, menggema di antara pepohonan. "Kau yang membunuh anak buahku dan mencuri inti Naga Bumi. Turunlah. Kita perlu bicara."
Arga tidak bergerak.
Pria itu tersenyum tipis. "Atau kau ingin kami yang naik?"
kenangan pertama
hancurkan dia Arga