NovelToon NovelToon
Runtuhnya Tahta Langit

Runtuhnya Tahta Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Xiao Chen memiliki Tulang Patah Surga—kutukan yang membuatnya tidak mampu menyimpan Qi, dihina sebagai sampah Sekte Langit Pedang. Ketika dibuang ke jurang penuh mayat oleh tunangan yang menghianatinya, ia justru menemukan rahasia kuno: retakan di tulangnya adalah wadah kekuatan yang bahkan ditakuti para Dewa. Di dunia di mana Kaisar Langit telah mati dan Hukum Dao runtuh, Xiao Chen memulai jalan kultivasi terlarang yang akan mengguncang Tahta Surga. Ia tidak naik untuk berlutut pada takdir... ia naik untuk menghapus Langit itu sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Pemburu dari Utara

Tiga hari berlalu sejak retakan pertama di lengan kanan Xiao Chen. Setiap pagi, sebelum fajar menyingsing, ia duduk bersila dan menciptakan satu retakan baru. Satu titik setiap hari. Tidak lebih.

Hari pertama: retakan kedua di lengan bawah. Hari kedua: retakan di siku. Hari ketiga: retakan pertama di lengan atas.

Sekarang, lengan kanannya memiliki enam retakan keemasan yang membentang dari pergelangan hingga bahu. Setiap retakan adalah wadah kecil yang menyimpan Energi Chaos. Setiap retakan membuat ayunan pedangnya semakin cepat, semakin tajam, semakin jauh.

Tubuhnya mulai terbiasa dengan rasa sakit yang disengaja. Bukan berarti sakitnya berkurang—hanya saja ia belajar menerimanya. Seperti seorang pandai besi yang menempa logam, setiap pukulan palu adalah kehancuran sebelum menjadi bentuk yang lebih kuat.

"Tiga titik lagi untuk lengan kanan," kata Yue Que suatu pagi. "Lalu kau harus mulai lengan kiri. Tapi ingat, keseimbangan itu penting. Jika lengan kananmu terlalu kuat dan kiri tertinggal, Energi Chaos di tubuhmu akan miring. Seperti perahu yang berat sebelah."

Xiao Chen mengangguk. Ia baru saja menyelesaikan sesi Pernapasan Tulang pagi itu, membiarkan Energi Chaos mengalir melalui retakan-retakan barunya. Sensasinya aneh—seperti memiliki otot baru yang belum pernah ia gunakan sebelumnya.

Hui tiba-tiba menegakkan telinga. Serigala hitam itu menggeram rendah, bulu tengkuknya berdiri.

Xiao Chen segera bangkit. Tulang punggungnya menangkap getaran di tanah. Langkah kaki. Bukan satu atau dua orang. Banyak. Mungkin belasan. Dan mereka mendekat dari arah utara—bukan dari arah Sekte Langit Pedang.

"Bukan murid sekte," kata Yue Que. "Langkah mereka lebih berat. Lebih liar."

Xiao Chen menyandarkan Yue Que di bahunya, siap digunakan kapan saja. Ia melangkah keluar gua, bersembunyi di balik pohon pinus besar. Hui mengikutinya tanpa suara, menyatu dengan bayangan.

Dari balik pepohonan, mereka muncul.

Sekelompok orang berjumlah sekitar lima belas, mengenakan pakaian dari kulit binatang dan logam kasar. Mereka membawa berbagai senjata—pedang berkarat, kapak besar, tombak, dan gada berduri. Wajah-wajah mereka keras, dihiasi bekas luka dan tato suku. Mata mereka liar, seperti serigala yang kelaparan.

"Pemburu Liar," identifikasi Yue Que. "Kultivator jalur gelap. Mereka tidak terikat sekte mana pun. Hidup dari menjarah, membunuh, dan menjual apa pun yang bisa dijual—termasuk manusia."

Xiao Chen memperhatikan pemimpin mereka. Seorang pria bertubuh raksasa dengan kepala plontos dan tato naga merah di seluruh wajahnya. Ia membawa kapak besar di punggungnya, dan dari auranya, Xiao Chen bisa merasakan kultivasinya—setara dengan Fondasi Pendirian tingkat atas, mungkin menyentuh Inti Emas.

Di sampingnya, seorang wanita kurus dengan rambut gimbal dan mata kuning seperti kucing. Ia membawa sepasang belati melengkung. Kultivasinya lebih rendah, Fondasi Pendirian tingkat menengah.

"Kau yakin merasakannya di sini?" tanya si raksasa plontos.

Wanita bermata kuning itu mendengus. "Aku tidak salah, Gorak. Energi aneh itu berasal dari sekitar sini. Sangat kuat. Sangat... kuno. Apa pun yang menghasilkannya pasti bernilai tinggi di pasar gelap."

Gorak menyeringai, memperlihatkan gigi-gigi yang sebagian besar sudah tanggal. "Kalau begitu cari. Aku tidak peduli apakah itu binatang, tanaman roh, atau manusia. Temukan, bawa, jual."

Para pemburu itu menyebar, mulai mengobrak-abrik semak-semak dan memeriksa setiap sudut.

Xiao Chen menghitung. Lima belas orang. Satu Fondasi Pendirian tingkat atas. Satu Fondasi Pendirian menengah. Sisanya berkisar antara Pemurnian Qi tingkat lima hingga Fondasi Pendirian tingkat awal.

Terlalu banyak untuk dihadapi sekaligus. Bahkan dengan Lapis Ketiga yang belum sempurna.

"Mundur diam-diam," saran Yue Que. "Kau tidak perlu melawan semua orang."

Tapi sebelum Xiao Chen bisa bergerak, Hui menggeram. Salah satu pemburu—seorang pemuda kurus dengan telinga runcing—menoleh ke arah suara itu.

"Hei! Aku dengar sesuatu!"

Lima pemburu langsung berlari ke arah pohon tempat Xiao Chen bersembunyi.

"Sial," desis Yue Que.

Xiao Chen tidak panik. Ia menarik napas dalam, Energi Chaos mengalir ke lengan kanannya. Ia melangkah keluar dari balik pohon, menghadapi mereka.

Para pemburu itu berhenti, terkejut. Bukan karena takut—tapi karena yang mereka lihat tidak seperti yang mereka duga. Seorang pemuda berjubah hitam dengan pedang patah di tangan. Bukan binatang buas. Bukan tanaman roh.

"Hei, Gorak!" teriak si pemuda bertelinga runcing. "Ini hanya anak kecil!"

Gorak berjalan mendekat, wanita bermata kuning di sampingnya. Ia menatap Xiao Chen dari atas ke bawah, lalu menyeringai.

"Jubah bagus," katanya. "Pedang jelek. Tapi auranya... kau bukan kultivator biasa, kan, bocah?"

Xiao Chen tidak menjawab.

Gorak tertawa. "Tidak apa. Kau tidak perlu bicara. Kami hanya akan membunuhmu, mengambil jubahmu, dan menjual pedangmu sebagai besi tua." Ia menoleh pada anak buahnya. "Tangkap dia. Hidup atau mati."

Lima pemburu itu menyerang serempak.

Xiao Chen menggerakkan Yue Que. Lengan kanannya yang memiliki enam retakan kini menjadi saluran sempurna bagi Energi Chaos. Ia tidak mengayun penuh—hanya gerakan pergelangan tangan.

SWIIISSSHHH!

Gelombang tak terlihat melesat dari bilah Yue Que. Lima pemburu itu terpental ke belakang sebelum sempat menyentuhnya. Dua di antaranya menabrak pohon dan pingsan. Tiga lainnya terhuyung, memegangi dada mereka yang seperti dihantam balok kayu.

Gorak mengangkat alis. "Oh? Lumayan."

Ia mengeluarkan kapak besarnya, mengayunkannya ke bahu. Wanita bermata kuning mencabut belatinya.

"Anak ini punya trik menarik," kata Gorak. "Mungkin kita bisa menjualnya hidup-hidup. Pasar budak suka kultivator muda dengan kemampuan aneh."

Mereka berdua menyerang bersama.

Gorak dari depan, kapaknya mengayun ke bawah dengan kekuatan yang bisa membelah batu. Wanita bermata kuning dari samping, belatinya menari-nari mencari celah.

Xiao Chen melompat mundur, menghindari kapak. Tapi wanita itu sudah di sampingnya, belati mengarah ke leher.

TING!

Hui muncul entah dari mana, menubruk wanita itu. Rahang serigala hitam itu mengatup di lengan wanita tersebut, membuatnya menjerit dan menjatuhkan belati.

"HUI, LEPAS!" bentak Xiao Chen.

Tapi Gorak sudah mengayunkan kapaknya lagi. Xiao Chen mengangkat Yue Que untuk menangkis.

DUG!

Kapak dan pedang patah bertemu. Energi Chaos di lengan Xiao Chen meledak, menahan kekuatan kapak yang luar biasa. Tanah di bawah kakinya retak. Tapi ia tidak mundur.

Gorak terbelalak. "Kau... menahan seranganku?!"

Xiao Chen mendorong kapak itu ke samping, lalu membalas dengan tusukan cepat ke arah dada Gorak. Pria raksasa itu menghindar, tapi ujung Yue Que yang patah masih menggores lengannya.

Darah mengalir. Tapi lebih dari itu, Energi Chaos dari pedang Xiao Chen merembes ke dalam luka itu. Gorak meraung kesakitan, memegangi lengannya yang tiba-tiba terasa seperti terbakar dari dalam.

"Apa yang kau lakukan padaku?!"

Xiao Chen tidak menjawab. Ia menatap para pemburu yang tersisa. "Pergi. Sekarang. Atau aku tidak akan menahan diri lagi."

Wanita bermata kuning—yang kini lengannya berdarah digigit Hui—menatap Xiao Chen dengan campuran takut dan marah. "Kau... apa kau sebenarnya?"

"Aku adalah seseorang yang tidak ingin diganggu. Bawa pemimpinmu dan pergi. Jangan pernah kembali ke hutan ini."

Gorak, masih memegangi lengannya yang terasa panas, menggeram. "Ini belum selesai, bocah. Aku akan kembali. Dengan lebih banyak orang. Kau akan menyesal telah melukaiku."

Mereka mundur, menyeret rekan-rekan mereka yang pingsan. Dalam hitungan menit, mereka menghilang di balik pepohonan.

Xiao Chen menghela napas panjang. Lengannya gemetar. Enam retakan itu belum cukup untuk pertarungan seberat tadi. Ia hampir kehabisan Energi Chaos.

Hui mendekatinya, menjilati tangannya. Ada darah di mulut serigala itu—darah wanita bermata kuning.

"Kau baik-baik saja?" tanya Xiao Chen.

Hui menggeram pelan, seolah berkata, "Tentu saja."

"Mereka akan kembali," kata Yue Que. "Dan kali ini dengan lebih banyak orang. Kau harus pergi dari sini."

Xiao Chen mengangguk. Ia menatap ke arah utara—ke arah yang lebih jauh dari Sekte Langit Pedang, lebih jauh dari Benua Timur Liar.

"Aku tahu. Kita berangkat sekarang."

Ia mengemasi barang-barangnya yang sedikit, lalu bersama Hui, ia melangkah keluar dari hutan pinus. Di atasnya, awan pengawas masih berputar, menyaksikan semuanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!