Dijodohkan dan bertunangan sejak putih abu membuat Naka dan Shanum menyembunyikan hubungan keduanya dari orang lain termasuk teman-temannya. Terlebih, baik Naka ataupun Shanum tak pernah ada di daftar putih masing-masing.
Tapi siapa menyangka, diantara usaha keduanya, perasaan cinta justru hadir mengisi setiap ruang hati satu sama lain. Siapakah yang akan duluan menyatakan cintanya?
Say, love you too....
Katakan, aku juga cinta kamu...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 Sheyna feat. Naka vs Shanum
Shanum resah tentu saja. Foto yang diposting bersama Sheyna itu begitu mencolok jika lebih diteliti lagi, untung saja otak teman-temannya sedang dipenuhi oleh tugas yang dibebankan Naka dan---terlalu sibuknya mereka memperhatikan subjek di dalamnya sampai lupa jika itu adalah halaman belakang rumahnya yang sedikit blur. Lagipula dapat darimana Naka foto yang diam-diam diambil olehnya?
Shanum mele nguh, sudah pasti Sheyna! Lancang, mengotak-ngatik ponselnya tanpa ijin.
"Kenapa sih?" tanya Frizka melihat gelagat resah Shanum yang berkali-kali tak nyaman duduk, meniup rambut bagian depannya dan melirik ponsel panik sekaligus khawatir. Di depan sana, teman-temannya masih ada yang bermain voli bebas setelah jam pelajaran olahraga itu hampir berakhir.
"Engga. Ngga apa-apa...cuma---gue mau ke toilet dulu deh sekalian ganti baju." Shanum bergegas beranjak dari duduknya. Naka, jawaban dari pertanyaannya kemarin Naka jawab dengan aksinya saat ini.
"Eh bareng Num! Ajak Mima dulu bentar!" Frizka ikut beranjak.
Benar, Naka tak banyak bicara melainkan aksi. Namun aksinya kali ini bikin shock terapi untuk Shanum, tanpa aba-aba terlebih dahulu.
Pesannya hanya centang biru saja, tanda jika Naka membacanya tapi tak menggubris apapun, hish! Shanum sudah turun dari motor mang Dadang lalu membuka pintu pagar.
"Sheyyy!" teriaknya.
Wajahnya keruh dengan langkah yang terhentak di lantai, ia temukan adiknya itu sedang rebahan di sofa sambil menaikan level AC ruangan dengan seragam putih biru yang masih membalut tubuhnya, "duhh enaknya, sejuk...di luar panas banget sumpah." Bocah itu memejamkan matanya.
"Kamu buka-buka ponsel aku? Lancang banget ambil foto dari galeri tanpa seijin aku?!" ia menjatuhkan tasnya begitu saja di sofa lain, nafasnya naik turun cukup dibuat kesal oleh lancangnya Sheyna.
Alih-alih merasa bersalah Sheyna justru mendelik melirik kakaknya itu, "lah, aku mah peniru ulung...siapa coba yang awalnya curi-curi moto tanpa ijin yang punya punggung sama pan tat? Itu punggung bang Naka sama pan tat aku loh by the way! Daripada mubazir juga fotonya jadi aku sama bang Naka sama-sama posting, biar kita kompakan."
Shanum menaikan kedua alisnya, *heh*! Dan *yang bener aja*!
Ia akui kekompakan adik dan tunangannya itu patut dikasih piala, yang memasang pembaruan sama...Dan yeah! Sama, sama-sama kurang ajar.
Kembali dengan santainya Sheyna memejamkan matanya sambil menikmati hembusan hawa segar dan dingin dari AC, "ngga bisa jawab kan? Jadi wajar aja aku ambil terus aku kasih liat ke bang Naka juga...untung bang Naka baik loh, akhirnya kasih ijin punggungnya difoto terus disimpen di hape kak Sha buat koleksi..."
Alis Shanum mengernyit, kenapa jadi terbalik begini posisinya, jadi semua ini salahnya, begitu?
"Coba kalo ngga diijinin terus bang Naka ngga terima punggungnya di foto-foto begitu buat konsumsi fantasi liar pribadi kak Sha, dia udah lapor polisi..."
"Apa?! Fantasi liar? Fantasi liar di angle bagian mananya? pan tat kamu maksudnya?" Shanum menarik bantal sofa dan menjatuhkannya di atas wajah Sheyna, "lebay banget?! Yang ada tuh kamu lancang buka-buka privasi aku...terus main kirim itu ke Naka..."
Sheyna bangkit, "lah emang kenapa. Bang Naka berhak tau dong, kalo punggung dia di foto-foto sama calon istrinya sendiri...aku bilang aja sekalian, segitu ngga maunya bang Naka difoto bagian depan ya, sampe kak Sha harus moto bagian belakangnya? Kenapa ngga bagian bawahnya sekalian pas lagi telan jank?"
Shanum semakin membulatkan matanya, "kamu bilang begitu?!" Sheyna mengangguk.
*Sini kamuuu*!
"Bundaaaa!" teriak Sheyna saat mendapati Shanum semakin geram padanya, dan sudah siap menguliti adiknya itu, "malu-maluinnn!"
Shanum masih duduk di sofa menonton acara selepas magrib bersama ayah, sementara Sheyna masih berada di ruang makan bersama bunda setelah tadi siang keduanya sempat bertengkar dan berhasil dilerai bunda.
Intinya, bunda menegur keduanya tentang ijin dan privasi! Titik. Lalu keduanya bersalaman bermaafan, meski kemudian tidak benar-benar akur sebab keduanya memang sudah seperti Tom and Jerry.
Tentang Naka, ia tak paham sebab sebelumnya keduanya telah sepakat untuk menutupi semuanya dari publik. Tentang Naka, ia tak paham dengan isi hati cowok itu...apakah yang dirasakannya saat ini----dirasakan pula oleh Naka? Debaran itu, rasa gugup dan nervous itu. Ia begitu membingungkan....
Tentang ragu, Naka memang definisi keraguannya, sikapnya...sorot matanya, dan tentu saja sifatnya. Shanum tak mau mengambil resiko bertepuk sebelah tangan, mencintai sendiri dan pertama....sementara Naka, hanya nampak abu-abu ...
Tok...tok..tok...
Permisi...
Lamunannya yang menonton acara berita nasional tapi membayangkan wajah Naka dibuyarkan oleh bunda yang tiba-tiba sudah berjalan dari arah pintu depan, "Sha, ada temen tuh di depan..."
"Dari tadi orang permisi ngga denger, bayangin kebun sawit presiden kok ya sampe budeg begitu?!" cibir Sheyna.
Ayah terkekeh, "temen siapa, laki perempuan?"
"Juna, ketua MPK sekolahnya Shanum." Jawab bunda sambil melengos ke belakang, mungkin nama Juna memang sudah tak asing bagi keluarga Shanum, sebab...mereka bukan tak paham kegiatan Shanum, siap saja teman-teman putrinya di sekolah.
"Suruh di dalam aja." Pinta ayah, "Shey...temenin kakaknya."
As Always...Sheyna menjadi guci bocah botak yang menemani Shanum jika kedatangan tamu terkhusus itu lelaki. Itu selalu terjadi sejak Shanum bertunangan dengan Naka, demi menjaga tidak timbulnya fitnah.
"Ashiap ayah!"
Ada pelototan yang diberikan Shanum pada Shey, makin di atas awan saja adiknya itu jadi tangan kanan ayah dan bestie Naka.
"Jangan macam-macam." Shanum mewanti-wanti.
"Juna?"
Senyum lebar nan ramah menjadi pemandangan pertama wajah yang telah lusuh ini, "Hay, kebetulan sambil lewat barusan..."
"Kak Juna, hayyy!" seruan heboh itu muncul dari belakang badan Shanum membuat Juna terkekeh renyah, "Hay Shey."
"Masuk Jun..baru balik les ya?"
Arjuna masuk dan duduk sejenak di kursi ruang tamu. Memang benar tempatnya les melewati jalanan rumah Shanum, dan ia sering mampir untuk sekedar rehat dan bertemu Shanum, lihat saja celananya yang masih memakai seragam abu meski jaket bomber itu hanya membalut badan yang terlapisi t shirt saja.
Juna mengangguk, "biasa lah. Jadwal les."
Di sekolah, Arjuna juga terbilang cukup pintar untuk ukuran seorang yang memiliki jabatan keorganisasian...sama halnya seperti Naka, ia adalah anak tunggal dan cukup ambisius, entah karena tuntutan orangtua atau memang dirinya sendiri yang memiliki sifat begitu, sungguh perpaduan sempurna. Itu kenapa, ia selalu merasa jika Mainaka adalah saingan mutlak yang harus ada di bawah posisinya.
"Ngga kejauhan ya kak tempat lesnya, semalem ini masih di jalan?" tanya Shey digelengi Juna, "udah biasa Shey..."
"Rumah dimana kak?" tanya nya lagi membuat Shanum menaikan alisnya, harus ia akui jika Shey memiliki jiwa HRD, cocok buat ditempatkan di salah satu kantor milik om Ganesha.
"Di Anggrek Regency."
"Wah lumayan jauh ya...kenapa ngga milih tempat les yang deket kak...kaya bang Naka, di GO-block, padahal itu juga bagus loh...lulusannya banyak yang masuk PTN."
Shanum terdiam seketika, melirik sejenak Shey dan memelototinya begitupun suasana yang mendadak kaku.
"Oh, kenal sama Mainaka? Pernah kesini memangnya?" tanya Juna, Shanum sudah memejamkan matanya, bahkan tangannya sudah mencubit-cubit sang adik untuk stop berbicara.
Jengkel sekali, ingin rasanya Shanum menggeprek kepala Sheyna sebab di sekolah antara dirinya dan Naka adalah dua orang asing yang bersebrangan dan tak pernah benar-benar dekat.
Sheyna mendesis, dan menepis tangan Shanum, santai aja kelesss....
"Tau aja sih. Soalnya kalo temen-temen kak Shanum ke rumah seringnya ngobrolin temen lain...nah kak Naka ini sering jadi bahan obrolan, ketos ya kalo ngga salah..." jelas Sheyna.
Masuk akal, hanya saja---Shanum merasa jika Arjuna tidak akan sepercaya itu pada ucapan Sheyna. Seperti----oh kalian sering ngomongin Naka ya?! Seberapa sering, ngomongin apa?
Arjuna memaksakan senyumnya dan mengangguk, "by the way aku ketua MPK loh...kamu tau kan, kalo Shanum itu----"
"Sekertarisnya, tau." Angguk Sheyna. Ada senyum bangga dari Arjuna setelah itu. Bukan---bukan Sheyna yang menjadi guci botak diantara dirinya dan Juna, melainkan dirinya diantara Sheyna dan Juna.
Mainaka
Di luar motor siapa? Juna?
Namun sayangnya, Shanum tak sedang memegang ponselnya.
.
.
.
.
klo keblabasan ya bablas num,,😄
bablas angin e trz kembung,,🤣🤣