NovelToon NovelToon
Immortal Legacy

Immortal Legacy

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Iblis / Tamat
Popularitas:135.2k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Di Era Keruntuhan Surga, langit terbelah dan hujan darah mengubah dunia fana menjadi neraka. Para dewa telah kehilangan keseimbangan, melepaskan Bencana yang meruntuhkan sekte-sekte agung dan melahirkan Yao Aberasi pembawa maut.

Zeng Niu adalah seorang bocah desa dengan akar spiritual sampah. Ia tidak memiliki guru yang bijaksana, tidak ada klan besar yang melindunginya, dan takdir tidak memberinya keajaiban. Ketika hujan darah membasahi desanya dan mengubah segalanya menjadi monster buas, Zeng Niu harus menyaksikan seluruh penduduk desa, termasuk orang tuanya, dikoyak hingga tak bersisa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4: Peta Menuju Kehidupan

Tujuh hari berlalu sejak Zeng Niu meninggalkan puing-puing Desa Daun Kering.

Selama tujuh hari itu, ia hidup tak lebih dari seekor tikus tanah. Ia tidur di dalam rongga kayu beracun untuk menyembunyikan bau tubuhnya, memakan akar rumput pahit yang membuat lidahnya mati rasa, dan minum dari embun daun yang tak terkena noda darah. Luka di tulang rusuknya mulai menyatu berkat terobosan awalnya, namun rasa sakit yang terus menemaninya di setiap langkah.

Hutan Kematian tidak memiliki siang dan malam yang jelas; langit selalu tertutup kabut kelabu dan awan merah berkarat.

Zeng Niu menghentikan langkahnya. Telinganya yang semakin tajam menangkap suara derak dahan patah dari arah utara, disusul oleh kilatan cahaya biru redup dan suara ledakan tumpul.

Teknik kultivator.

Alih-alih berlari mencari bantuan, Zeng Niu segera merunduk. Ia melumuri wajahnya dengan lumpur hitam dari rawa terdekat, lalu memanjat sebuah pohon beringin mati dengan keheningan seorang pemburu. Ia memeluk dahan yang tebal, menyembunyikan dirinya di balik dedaunan layu, dan menatap ke bawah.

Di lahan terbuka yang jaraknya puluhan tombak, tiga sosok berpakaian compang-camping sedang berlari terbirit-birit. Mereka adalah kultivator fana di tahap Pengumpulan Qi awal. Jubah sekte mereka sudah robek dan kotor, menandakan mereka adalah sisa-sisa pengembara dari sekte yang telah hancur.

Di belakang mereka, pepohonan bertumbangan. Seekor monster merangsek maju.

Zeng Niu menahan napas. Itu adalah Manusia Terkoyak monster Tingkat Brutal. Wujudnya adalah seorang pria tua yang tubuhnya telah terbelah dari pangkal paha hingga ke dada, namun ususnya yang menghitam menjulur keluar seperti tentakel, mengikat tubuh bagian atas dan bawahnya agar tetap menyatu. Makhluk itu memancarkan Qi kacau yang memualkan.

"Kakak Seperguruan Zhao! Qi-ku sudah habis! Tolong aku!" teriak kultivator termuda, seorang pemuda belasan tahun yang kakinya pincang terkena racun.

Kultivator tertua, Zhao, menoleh ke belakang dengan mata merah panik. Manusia Terkoyak itu membuka mulutnya yang cacat dan tiba-tiba menyemburkan bilah angin tajam yang terbentuk dari Qi liar sisa-sisa teknik Pedang Angin yang ia kuasai semasa hidup.

Bilah angin itu melesat. Zhao tahu ia tidak bisa menghindarinya.

Tanpa ragu sedetik pun, Zhao mencengkeram kerah baju adik seperguruannya itu dan melemparkannya ke belakang, tepat ke arah bilah angin dan monster tersebut.

"Maafkan aku, Junior! Pengorbananmu akan kuingat dalam Dao ku!" teriak Zhao munafik, menggunakan momentum tolakan itu untuk melesat pergi bersama satu rekannya yang lain.

"Kakak Zhao—TIDAAAKKK!"

Bilah angin memotong satu lengan pemuda itu, dan sebelum ia jatuh ke tanah, tentakel usus Manusia Terkoyak melilit tubuhnya. Suara kunyahan tulang yang basah dan jeritan melengking bergema di hutan. Sang monster berhenti mengejar Zhao, memilih untuk menikmati "umpan" yang disajikan kepadanya.

Di atas pohon, ekspresi Zeng Niu sedingin es. Tidak ada rasa iba, tidak ada keterkejutan. Inilah dunia kultivasi, batinnya. Persaudaraan, moralitas, dan Dao Surgawi hanyalah omong kosong ketika maut mengintai. Manusia bisa lebih buas dari Yao Aberasi.

Ia tidak bertindak pahlawan. Ia menunggu dengan sabar. Setengah jam berlalu, jeritan pemuda itu telah lama berhenti. Manusia Terkoyak itu kini duduk berjongkok, mengunyah sisa-sisa daging dengan suara menjijikkan.

Namun, Zeng Niu menyadari sesuatu. Monster itu terluka parah. Pertarungannya melawan kelompok Zhao rupanya meninggalkan lubang hangus di dadanya, dan Qi kacau di sekelilingnya melemah drastis karena sibuk mencerna mangsa.

Ini kesempatanku, pikir Zeng Niu. Ia membutuhkan sumber daya jika ingin bertahan hidup. Mengandalkan akar rumput tidak akan membawanya ke mana-mana.

Zeng Niu mengamati sekeliling. Monster itu berada tepat di bawah dahan kayu lapuk raksasa yang menggantung di pohon seberang, yang ditahan oleh beberapa julur akar gantung tua. Kecerdikannya segera merangkai sebuah rencana pembunuhan.

Dengan langkah sepelan hantu, Zeng Niu merayap turun dari pohonnya, mengitari area, dan memanjat pohon seberang. Ia mengeluarkan belati berburu milik ayahnya. Tanpa suara, ia mulai menggergaji akar gantung yang menahan dahan raksasa itu, menyisakan sedikit serat agar tidak langsung putus.

Ia memungut sebuah batu tajam. Menghitung arah angin, ia melempar batu itu ke semak-semak di sisi kiri monster.

Kresek!

Manusia Terkoyak itu menoleh tajam, tentakel ususnya bergerak mengancam. Tepat ketika monster itu bergerak tepat di bawah titik buta dahan, Zeng Niu menendang sisa akar penahan dengan seluruh tenaga Penempatan Tubuhnya.

KRAAAK! BUMMMM!

Dahan raksasa seberat ratusan kati itu runtuh menimpa punggung Manusia Terkoyak. Terdengar suara tulang belakang yang patah dengan keras. Monster itu meraung marah, tubuhnya terjepit ke tanah.

Ia belum mati. Monster Tingkat Brutal memiliki vitalitas mengerikan. Tentakel ususnya melecut liar ke segala arah, menghancurkan bebatuan di sekitarnya.

Zeng Niu tidak membuang momentum. Ia melompat turun dari pohon seperti burung pemangsa. Ia tidak menargetkan kepala, melainkan lubang hangus di dada monster itu tempat di mana jantung dan sisa Dantiannya berada.

Dengan berat tubuhnya dan cengkeraman maut, Zeng Niu menancapkan belati besinya ke dalam luka hangus itu, memutarnya dengan kejam.

Salah satu tentakel monster itu melecut dan menggores pipi Zeng Niu, meninggalkan sayatan dalam yang langsung menghitam karena racun. Rasa perih yang membakar menyengat wajahnya, namun Zeng Niu tak berkedip. Ia menahan rasa sakit itu dan menekan belatinya lebih dalam hingga menembus "Inti" di dalam tubuh makhluk itu.

Monster itu kejang hebat, lalu memuntahkan cairan hitam sebelum akhirnya terdiam kaku.

Napas Zeng Niu memburu. Ia segera mundur, menutupi luka di pipinya dengan abu kayu bakar dari tanah untuk menghentikan pendarahan. Jantungnya berdebar liar. Sedikit saja ia terlambat, tentakel itu akan menembus tengkoraknya. Ia mengandalkan taktik, kesabaran, dan sedikit keberuntungan karena monster itu sudah terluka oleh kultivator lain.

Tanpa membuang waktu, ia mendekati mayat pemuda yang dijadikan umpan tadi. Ia menggeledah pakaiannya yang bersimbah darah. Ia menemukan sebuah kantong kulit biasa bukan kantong ruang dewa, hanya kantong kain kasar.

Di dalamnya terdapat sebuah pil seukuran kedelai yang memancarkan aroma herbal tipis Pil Pengumpulan Qi Tingkat Rendah. Di samping pil itu, ada sebuah gulungan peta kulit domba yang berlumur darah, serta sebuah plakat perunggu bertuliskan dua aksara kuno: JIANNAN.

Zeng Niu membuka peta tersebut. Di tengah lanskap dunia yang telah ditandai dengan berbagai zona merah (Zona Bencana) dan tengkorak (Sarang Yao), terdapat satu titik di utara yang dilingkari dengan tinta emas: Akademi Jiannan. Formasi Pelindung Era Kuno masih utuh. Pendaftaran murid baru dibuka saat Bulan Darah mencapai zenit.

Mata Zeng Niu menyipit. Tempat berlindung. Di dunia yang hancur ini, sebuah tempat dengan formasi pelindung kuno adalah surga.

Ia kembali ke mayat monster. Dengan belatinya, ia mengorek Dantian makhluk itu dan menemukan gumpalan daging berurat ungu yang merupakan inti dari Qi kacaunya.

Ia mengambil Pil Pengumpulan Qi dari kantong, menelannya, dan tanpa ragu menyusulnya dengan menelan gumpalan inti monster tersebut secara bersamaan.

Jika ada master kultivasi yang melihat ini, mereka akan berteriak gila. Mencampurkan Qi murni dari pil dengan Qi kacau dari monster adalah bunuh diri. Namun bagi Zeng Niu, ini adalah satu-satunya cara menyeimbangkan racun dan obat di dalam tubuhnya yang fana.

Rasa sakit yang ribuan kali lebih dahsyat dari sebelumnya meledak. Zeng Niu menggigit sepotong kayu hingga giginya berdarah. Tubuhnya bergulung di atas tanah berlumpur, otot-ototnya sobek dan sembuh kembali secara instan di bawah benturan dua energi ekstrem tersebut. Tulang-tulangnya bergemeretak, warnanya perlahan berubah menjadi sedikit keabu-abuan, sekeras batu karang.

Penderitaan itu berlangsung selama dua jam penuh. Ketika ia membuka matanya, sebuah cahaya buas yang dingin melintas di pupilnya.

Luka di wajahnya telah menutup, meninggalkan bekas luka tipis. Napasnya kini membawa tekanan yang berat.

Penempatan Tubuh Tahap 2.

Zeng Niu berdiri, menatap ke arah utara di mana Akademi Jiannan berada. Ia memungut plakat perunggu berlumur darah itu dan mengikatnya di pinggang.

"Kultivator ortodoks menginjak sesamanya demi Surga," gumamnya pelan kepada tumpukan mayat di sekitarnya. "Aku akan menginjak Surga demi diriku sendiri."

Ia melangkah pergi, menjadi bayangan yang menyatu dengan kegelapan Hutan Kematian.

1
j
bagus
Indah Hidayat
aneh..keluar dr kota akan dikejar oleh si Li yg sakti...tujuan masuk kota tsb kan utk menghindari si Li.
Indah Hidayat
artinya si mc hrsnya mudah balik ke benua utara...
Indah Hidayat
si mc sendiri masuknya ya...ke 2 temannya yg lucu ditinggal?
Indah Hidayat
si mc cerdik
Indah Hidayat
si mc malah jatuh cinta dgn anaknya asura...sang oedang bisa badmood
Indah Hidayat
kalau si mc gara2 pedangnya jadi membenci si asura zhao xuan padahal ia nanti akan cinta dgn anaknya si zhao xuan...
Indah Hidayat
ada lucunya si gendut
Predi Siswanto
makin lama MC nya makin bodoh dan letoy aja kebanyakan ngocok kali
Predi Siswanto
tu kan minum darah satu kolam hampir nggak ada hasil malah cari mati
Predi Siswanto
habis darah satu kolam cuman naik satu tingkat itu namanya sampah pemboros sumberdaya
Predi Siswanto
hahaha mau naik satu tahap kayak mau mati aja🤣
Predi Siswanto
baru mencapai tingkat dua kultivasi Uda setengah mati kapan mau jadi imortal nya
YaN Nie
Okee Gass Okee Gass
Markinyo
gmn kbr pemilik penginapan? kok diem sj ank buahnya g ada kbr?
Ahmad Gatot
keputusan yang nekat.....🤣🤣🤣🤣
Ahmad Gatot
kenapa ya setiap kali zheng niu bertempur,untuk numbangin musuhnya selalu mengorbankan pertahanan dirinya,apa ga ada cara lain selain menyiksa diri sendiri.
Ahmad Gatot
🤣🤣🤣😋😋🌹
Ahmad Gatot
sifatnya mirip dengan zhao xuan...
Ahmad Gatot
ternyata gurunya mo yin mengikuti secara diam",untuk memastikan kedua murid anehnya....🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!