NovelToon NovelToon
Sekolah Hantu

Sekolah Hantu

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Hantu / Sistem
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: I'ts Roomie

SMA Nusantara bukan sekadar tempat menuntut ilmu. Ia adalah mesin raksasa yang memangsa jiwa. Di balik kemegahan arsitekturnya, tersimpan eksperimen gelap "Proyek Nusantara" yang telah mengorbankan ribuan siswa sejak tahun 1985. Setiap detak lonceng adalah tanda maut dan setiap koridor adalah penjara bagi mereka yang tak pernah kembali ke rumah.

Arga, seorang remaja dengan kemampuan Indigo yang ekstrem, terpaksa memasuki neraka ini demi mencari kakaknya yang hilang. Berbekal tangan perak yang menjadi kunci sekaligus kutukannya, Arga bersama Lintang dan Rian harus mengungkap konspirasi berdarah Sang Kepala Sekolah, Bramantyo.

Di dunia di mana batas antara realitas dan alam Barzakh kian menipis, mampukah Arga mematahkan sumpah hitam pendiri sekolah sebelum fajar terakhir ditelan kegelapan abadi?

Since: 10-04-2026

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I'ts Roomie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29: Terbakar

Aula Utama SMA Nusantara malam ini tidak lagi menyerupai ruangan sekolah. Langit-langitnya seolah menghilang, digantikan oleh pusaran awan hitam yang statis, di mana ribuan lilin melayang tanpa sumbu, memberikan cahaya kuning temaram yang jatuh seperti air mata ke lantai marmer.

Di tengah ruangan, sebuah panggung megah berdiri, dan di sana Sang Arsitek menunggu. Namun, sosok itu kini tidak lagi berupa bayangan kabur.

Ia mengenakan jubah beludru hitam dengan masker perak yang menutupi seluruh wajahnya, memegang tongkat konduktor yang memancarkan pendar radioaktif.

Arga melangkah masuk, langkah kakinya bergema di keheningan yang menyesakkan. Di belakangnya, Lintang memapah Raka yang kian melemah.

Begitu mereka melewati ambang pintu, pintu besar Aula tertutup dengan dentuman yang memicu getaran di ulu hati.

"Kalian datang tepat waktu untuk gerakan kedua," suara Sang Arsitek tidak lagi keluar dari pengeras suara, melainkan bergema langsung dari udara di sekitar mereka.

"Arga, kau telah menghancurkan piano cadanganku. Tapi kau lupa satu hal: simfoni ini tidak tertulis di dalam kayu atau logam. Ia tertulis di dalam darah."

Sang Arsitek mengangkat tongkatnya. Tiba-tiba, lembaran-lembaran kertas yang tadi ditemukan Arga di Ruang Musik Partitur Nyanyian Kematian, mulai terbang keluar dari balik seragam Arga.

Lembaran itu melayang ke udara, membesar hingga seukuran layar raksasa, mengelilingi Arga seperti tembok kertas yang tak tertembus.

Not-not balok di atas kertas itu mulai bergerak. Mereka bukan lagi simbol musik biasa; mereka berubah menjadi serangga-serangga hitam kecil yang merayap keluar dari kertas dan mulai memenuhi lantai Aula.

"Ini adalah komposisi yang dibuat oleh ibumu, Arga," ujar Sang Arsitek dengan nada mengejek.

"Hanya saja, aku telah melakukan sedikit... aransemen ulang. Jika melodi ini selesai dimainkan, setiap jiwa yang pernah terdaftar di SMA Nusantara akan ditarik ke dalam The Core untuk menjadi satu kesadaran kolektif yang abadi. Termasuk kakakmu. Termasuk temanmu."

Arga merasakan tekanan udara meningkat. Ia mencoba memanggil kekuatan peraknya, namun sisik di tangannya justru berdenyut kesakitan.

Not-not hitam yang merayap di lantai mulai merambat naik ke kakinya, mengunci gerakannya.

"Lintang! Lari ke arah panggung bawah! Cari tuas pemutus transmisi!" teriak Arga.

"Aku tidak akan meninggalkanmu!" balas Lintang, namun sebuah gelombang suara dari panggung mementalkannya hingga ke sudut ruangan bersama Raka.

Arga kini sendirian di tengah lingkaran partitur. Suara musik mulai terdengar dari kekosongan, suara biola yang sumbang dan pekikan flute yang terdengar seperti jeritan wanita. Ini adalah Nyanyian Kematian.

Setiap nadanya dirancang untuk menghancurkan integritas seluler subjek. Arga merasakan kulitnya mulai retak, dan cairan perak di nadinya mendidih, mencoba melawan frekuensi yang menghantamnya.

"Gunakan... harmonikanya... Arga..." suara Raka terdengar sayu dari kejauhan.

Arga meraih harmonika perak di lehernya. Namun, begitu ia menyentuhnya, not-not hitam di partitur raksasa itu berubah menjadi lirik yang tertulis dengan darah.

Lirik itu berisi dosa-dosa masa lalu keluarga Widya, tentang bagaimana kakek mereka pernah bersekutu dengan Sang Arsitek demi kekayaan, yang berakhir dengan kutukan pada keturunannya.

"Kau melihatnya sekarang?" Sang Arsitek tertawa. "Kekuatanmu bukan berkat, Arga.

Itu adalah utang darah. Ibumu mencoba membayar utang itu dengan mengurung dirinya, tapi itu tidak akan pernah cukup."

Arga terdiam. Beban sejarah itu terasa lebih berat daripada mutasi di tubuhnya. Melodi kematian semakin kencang, dan penglihatan Arga mulai menggelap.

Ia melihat bayangan dirinya sendiri di dalam partitur itu, sosok monster yang akhirnya tunduk dan duduk di kursi konduktor menggantikan Sang Arsitek.

Jangan dengarkan kebohongannya.

Suara Saraswati kembali berbisik, namun kali ini terasa lebih dekat, seolah ia memeluk bahu Arga dari belakang.

Musik tidak memiliki masa lalu, Arga. Musik adalah tentang apa yang kau rasakan saat ini. Ubah nadanya. Jangan ikuti notasinya.

Arga menarik napas dalam, membiarkan paru-parunya yang telah termutasi menyerap udara yang penuh energi radioaktif itu. Ia tidak meniup harmonikanya untuk memainkan lagu ibunya kali ini.

Ia memegang harmonika itu di depan mulutnya, namun ia mulai berteriak, sebuah teriakan Indigo murni yang ia gabungkan dengan energi perak dari nadinya.

Suara teriakan Arga memecah harmoni Nyanyian Kematian. Ia tidak lagi mencoba mengikuti irama; ia menghancurkannya dengan disonansi yang lebih kuat.

PRANG!

Salah satu partitur raksasa itu robek. Arga merentangkan sayap logam hitam-peraknya dan menerjang tembok kertas itu.

Serangga-serangga hitam di lantai terbakar saat bersentuhan dengan aura Arga yang kini berwarna putih menyilaukan.

"Aransemenmu... payah!" geram Arga.

Ia melesat ke arah panggung, cakarnya memanjang dan memancarkan cahaya anti-materi. Sang Arsitek mencoba menahan dengan menciptakan dinding suara.

Namun Arga menembusnya dengan putaran sayapnya. Arga mendarat di atas panggung, tepat di depan sosok bermasker itu.

Sang Arsitek mengangkat tongkat konduktornya untuk menusuk dada Arga, namun Arga menangkap tongkat itu dengan tangan kirinya.

Energi perak dan hitam beradu di antara mereka, menciptakan percikan listrik yang membakar tirai panggung.

"Kakekku mungkin berhutang padamu," Arga berkata dengan suara yang dalam dan berwibawa, "tapi aku datang untuk menyatakan bangkrut!"

Arga menghantamkan harmonikanya ke arah masker perak Sang Arsitek. Hantaman itu tidak hanya bersifat fisik.

Getaran dari harmonika perak itu menghancurkan frekuensi perlindungan Sang Arsitek. Masker itu retak dan jatuh ke lantai, menyingkap apa yang ada di baliknya.

Di balik masker itu, tidak ada wajah manusia. Hanya ada sebuah lubang hitam yang berisi jutaan wajah kecil yang terus menangis, jiwa-jiwa yang telah ia konsumsi selama bertahun-tahun.

"Kau bukan manusia, kau bukan hantu," Arga menyadari dengan ngeri. "Kau adalah lubang hitam emosional yang diciptakan oleh sekolah ini."

"Aku adalah SMA Nusantara!" raung sosok itu.

Ia melepaskan ledakan energi gelap yang melempar Arga kembali ke tengah Aula. Partitur-partitur yang tersisa kembali menyatu, kali ini membentuk sebuah pusaran besar yang mulai menyedot segala sesuatu di ruangan itu, termasuk Lintang dan Raka.

"Lintang! Pegangan!" Arga mencoba terbang mengejar mereka, namun Nyanyian Kematian kini mencapai puncaknya.

Nada terakhir dari simfoni itu mulai dimainkan, sebuah nada yang begitu rendah hingga menyebabkan jantung siapa pun yang mendengarnya berhenti berdetak.

Arga merasakan jantungnya melambat. Ia jatuh berlutut. Dalam keputusasaan, ia melihat Partitur Nyanyian Kematian itu melayang di atasnya.

Di bagian paling bawah kertas tersebut, terdapat sebuah baris kosong yang belum tertulis. Itu adalah tempat untuk nada penutup.

Dengan darah peraknya yang mengucur dari luka di tangannya, Arga menuliskan satu simbol besar di baris kosong tersebut, simbol Fermata, tanda dalam musik untuk menghentikan waktu atau memperpanjang nada selamanya.

Seketika, seluruh Aula membeku. Pusaran partitur berhenti berputar. Sang Arsitek mematung di atas panggung.

"Waktunya istirahat," bisik Arga.

Ia menggunakan sisa kekuatannya untuk menarik Lintang dan Raka keluar dari jangkauan pusaran yang membeku itu.

Namun, ia tahu ini hanya penundaan sementara. Fermata itu hanya akan bertahan selama Arga tetap berada di ruangan ini untuk menjaga frekuensinya.

"Pergilah lewat pintu belakang Aula!" perintah Arga pada Lintang.

"Itu menuju ke Sektor Bawah Tanah yang sesungguhnya. Aku akan menyusul setelah aku memastikan simfoni ini benar-benar mati."

"Arga, jangan lakukan itu!" Raka mencoba memprotes, namun Lintang menariknya menjauh. Lintang tahu, di titik ini, Arga bukan lagi sekadar seorang adik. Ia adalah penjaga gerbang antara hidup dan mati.

Begitu mereka keluar, Arga berdiri menghadap Sang Arsitek yang masih membeku. Partitur Nyanyian Kematian itu perlahan mulai terbakar dengan api biru. Arga tahu, untuk mengakhiri Nyanyian Kematian, ia harus menghancurkan konduktornya.

Namun, saat api biru itu mulai melalap panggung, Arga mendengar suara baru dari bawah lantai Aula. Sebuah suara dentuman mesin yang sangat besar, jauh lebih besar dari Menara Jam atau Lab Kimia.

1
Xiao Juan
next udh vote
rimaa~~~°
lanjut dongg
cintanya ningning
jadi tu jahat atau baik ya?
papi junkyung: yg mana ka?
total 1 replies
Xiao Juan
lanjutt lagi
rimaa~~~°
lanjut lagi thor
Cleo
masi harus berjuang lagi di pintu berikutnya wkwk, semangat arga💪
Cleo
lanjut lagi dong, up 2 tor sehari hehe, maap ngelunjak🤭🙏
papi junkyung
keren mom ceritanya
Sartika Monik
mana lagi lanjutannya,,duh padahal lagi penasaran banget bun haha🤭
cintanya ningning
lanjuttt
yeol
lagi dungg tor, tadi update di fb langsung ke sini haha
Fimela Angelia
duh masi gantung banget ni
Koo Eun Tak
next thor
Cleo
lanjut💪
Cleo
widih kata katanya bagus, resonansi indigo mutlak/Drool/
Fimela Angelia
cepetan update huhu/Sob//Sob/
Fimela Angelia
ini ya tangan perak yang dimaksud di blurb nya
Xiao Juan
lanjutinn author semangat kutunggu crazy up mu
Xiao Juan
fantasi banget hahaha keren keren tor🤭
Koo Eun Tak
lanjut lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!